Kepercayaan adalah tonggak dari sebuah hubungan. Mempercayai seseorang bukanlah kesalahan, namun mempercayai seseorang yang baru kita kenal itulah yang bisa menjadi sebuah kesalahan. Dan.. Inilah yang terjadi pada Nadien, hidupnya yang damai seketika berubah menjadi penuh tekanan dan rasa sakit. Jiwa dan raganya disakiti terus menerus oleh pria yang ia cintai, pria yang mulut nya berkata Cinta. Namun, terdapat dendam di balik itu semua.
Akankah Nadien mampu melewati ujian hidupnya dan membuat pria tersebut mencintainya? Ataukah, memilih menyerah dan pergi meninggalkan pria yang selama ini telah menyakitinya?
Penasaran..? Cuss langsung baca ceritanya, di cerita baru Author Dendam Dibalik Cinta Mu by. Miutami Rindu🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miutami Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Gio
Gavin terlihat tengah berbincang dengan para tamu, mereka adalah pengusaha-pengusaha sukses yang ada di negara ini. Nadien tidak tau harus melakukan apa, mengingat Gavin memintanya untuk diam, tidak boleh bicara kecuali untuk hal-hal penting saja.
Semua nampak sibuk berbincang, mengobrol saling bertukar cerita. Para istripun terlihat akrab satu sama lain, tak ada kecanggungan di antara mereka, mereka sudah selayak nya teman di sini.
Beberapa pelayan nampak sibuk menghidangkan aneka makanan, karna acara ini acara makan malam. Tentu begitu banyak makanan yang dihidangkan di meja bundar yang bisa berputar tersebut.
Beberapa menu makanan dan buah-buahan tersaji, tak lupa minuman dan yang lain nya juga nampak tersaji rapi.
"Baiklah, kita lanjutkan obrolan nya nanti. Sekarang mari kita nikmati acara makan malam nya terlebih dulu, " ujar Tuan Xander dengan pembawaan nya yang berwibawa.
Semua mengangguk setuju, kemudian mulai mengisi piring kosong masing-masing dengan menu yang di inginkan yang tersaji lengkap di atas meja.
Nadien hanya diam, saking banyak nya menu makanan di depan nya membuat Nadien bingung harus mengambil makanan apa.
"Kenapa kamu diam saja? Ambilah apa yang kamu mau," kata Nyonya Xander pada Nadien.
"Emm iya.." sahut Nadien tersenyum kikuk.
Lagi-lagi perlakuan Gavin membuat Nadien tergugu, pasalnya pria itu mengambilkan steak daging sapi yang nampak menggugah itu di piring nya. Juga beberapa potong sayuran di samping steak tersebut. Semua orang yang nampak sibuk tidak memperhatikan interaksi antara keduanya, refleks tatapan keduanya saling beradu.
"Makan. Jangan membuat ku malu di depan para kolega ku ! " Ucap Gavin dengan nada berbisik.
Nadien mengerjap, sadar jika yang Gavin lakukan saat ini hanya demi terlihat sempurna di depan semua orang. Apa yang Nadien harapkan tidak akan pernah terjadi.
Semua yang ada di meja nampak berbincang membahas proyek besar yang sedang mereka jalani. Mengingat ia tidak boleh mengatakan apapun oleh Gavin, Nadien hanya diam sesekali menikmati makanan di piring nya. Sungguh terasa membosankan bagi Nadien, namun ia berusaha mengalihkan kebosanan nya dengan menikmati makanan di meja yang rasa nya sangat enak menurutnya.
Selesai makan malam, para pelayan mulai membersihkan meja lalu menggantinya dengan makanan penutup. Ada beberapa aneka desert dan cake hingga beberapa sajian hotel berbintang lain nya.
"Gavin aku mau ketoilet," bisik Nadien.
"Hmm.." Sahutnya mengangguk singkat.
Nadien beranjak melempar senyum pada semua orang, kemudian berlalu dari sana. Setibanya di toilet perempuan, Nadien sedikit memperbaiki penampilan nya. Mencuci tangan nya, kemudian menatap pantulan dirinya di cermin.
"Ekhem," seorang wanita yang tiba-tiba ada di samping Nadien.
Nadien sempat terkejut, namun pada saat melihat orang di depan nya adalah salah satu wanita yang ada bersama nya di meja tadi membuat Nadien menampilkan senyumnya.
Wanita itu turut membasuh tangan nya dengan air, "Sepertinya kamu tidak suka bergaul yah?" Ujarnya.
Nadien menoleh tanpa bicara, "Aku perhatikan kamu tidak banyak bicara saat bersama kami tadi." Lanjutnya.
"Em, iya. Saya memang tidak bisa berbicara banyak, hanya sesekali bicara yang menurut saya penting saja. Maaf kalau itu menyinggung anda dan yang lain nya, tapi beginilah saya " Jawab Nadien sebaik mungkin.
"Begitukah?" Nadien mengangguk samar, "Kenalin aku Stevi, istri dari Jay Wijaya " sambungnya mengulurkan tangan nya.
Nadien menatap tangan itu beberapa saat, hingga akhirnya Nadien membalas uluran tangan tersebut. Perempuan ini terlihat masih muda dan sepertinya umur nya di atas Nadien.
"Nadien.."
Keduanya melempar senyum lalu saling melepaskan pegangan tangan mereka.
"Sepertinya kita akan sering bertemu, kebetulan Tuan Gavin dan suamiku bekerja sama. Bagaimana kalau kita berteman?" Ujar wanita yang usianya di atas Nadien.
"Emm saya--"
"Kamu mau gak gabung dengan grup arisanku? Kebetulan aku punya grup arisan yang isinya sosialita semua, bahkan ada beberapa aktris terkenal juga lho."
Sebenarnya Nadien ingin ikut bergabung, ia ingin bisa bersosialisasi dengan yang lain nya. Namun apalah daya, ia tidak bisa membantah Gavin. Dan, sudah bisa ia pastikan kalau Gavin tidak akan pernah mengizinkan nya memiliki teman.
"Emm, maaf tapi saya gak bisa. " Tolak Nadien halus.
"Kenapa? Kamu masuk dalam kriteria geng kami, dan kamu juga cocok bergabung bersama grup sosialita kami," Rayunya.
"Maafkan saya. Tapi saya sungguh tidak bisa bergabung dengan grup anda. Kita cukup saling mengenal saja ya," ucap Nadien tersenyum ramah.
Nadien berbalik, sedikit memperbaiki make-up di wajahnya. Dirasa cukup Nadien pamit lebih dulu,
"Saya sudah selesai, saya duluan ya."
Wanita itu mengangguk, namun setelah kepergian Nadien wajah nya berubah kesal. Terlihat sekali kalau ia tidak menyukai Nadien, dan yang ia lakukan barusan hanya berpura-pura saja supaya ia bisa lebih dekat dengan istri dari pengusaha besar yang cukup dominan tersebut. Untuk apalagi jika bukan demi perusahaan suaminya.
"Sombong sekali dia." Gumamnya sebal.
Sedang di luar Nadien nampak menghela nafasnya, Nadien tidak bermaksud menolak ajakan berteman dengan orang lain. Hanya saja tidak mungkin bagi Nadien bisa keluar dari penjara nya Gavin, pasalnya Gavin tidak akan membiarkan nya keluar dengan bebas.
Ahh, sudahlah memikirkan semua itu hanya membuat hatinya sesak saja. Lagi pula Nadien cukup lama berada dalam lingkungan seperti ini, ia pernah bekerja lama di sebuah perusahaan dan Nadien cukup tau jika wanita-wanita sosialita yang katanya berteman, itu semua hanya kedok untuk mencari muka dan terlihat baik demi reputasi saja.
Nadien melangkah meninggalkan toilet tersebut, namun dipertengahan ponselnya bergetar. Nadien yang tidak memperhatikan jalan, tanpa sengaja menabrak seseorang dari arah berlawanan.
"Akh..!" Ponsel Nadien terjatuh.
Pria di depan Nadien pun tak kalah apes, pakaian pria tersebut terkena tumpahan minuman nya sendiri. Nadien mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai dengan panik.
"Maaf, saya tidak sengaja." Ucap pria tersebut meminta maaf lebih dulu.
Nadien belum mengangkat pandangan nya, gadis itu malah sibuk pada ponselnya. Wajahnya terlihat cemas, Nadien takut jika ponsel pemberian Gavin tersebut itu rusak. Nadien gak mau kalau sampai Gavin memarahinya, mengingat ponsel yang di belikan Gavin ini harganya sangat mahal.
"Nadien..?"
Seketika pergerakan Nadien terhenti, perlahan wajah Nadien terangkat. Menatap pria tampan yang lebih tinggi darinya, mata Nadien memicing, memorinya berputar mengingat siapa pria di depan nya ini.
Wajahnya tampan, pakaian nya rapi sama seperti yang lain nya dan rambut klimis yang di tata rapi.
"Kamu Nadien kan?" Ucapnya lagi.
"Kamu-- Gio?" Kata Nadien saat ingatan wajah pria itu melintas di kepalanya.
Pria tersebut melebarkan senyumnya, "Ternyata kamu masih ingat aku " imbuhnya.
"Maaf tadi aku sempet blank. Ya ampun! Kemeja kamu--" pekiknya begitu melihat kemeja Gio basah di bagian perutnya.
"Ahh, It's oke Nad santai aja.." Ikut menatap kemeja nya yang basah.
"Maaf ya baju kamu jadi basah gara-gara aku jalan gak liat-liat tadi," merasa bersalah.
Nadien mengambil beberapa helai tissue yang tak jauh dari mereka berdua. Memberikan nya langsung pada Gio,
"Maaf ya, aku bener-bener gak sengaja."
"Iya gak papa. Aku juga salah kok tadi," timpal Gio.
"Tapi.. Kok kamu bisa ada di sini sih?" Tanya Nadien memperhatikan Gio yang tengah mengelap baju nya dengan tissue.
"Kamu sendiri, kenapa bisa ada disini?" Tanya Gio balik menatap wanita di depan nya.
"Aku ke sini karna nemenin suami ku," ceplos Nadien.
Astaga! Apa pantas Nadien menyebut Gavin suami, kenapa rasanya asing sekali menyebutkan kata suami yang keluar dari mulut nya? Tapi, memang benar Gavin suaminya, bukan?!
"Kamu udah nikah?" Nadien mengangguk tersenyum lembut.
"Kapan? Kenapa gak ngundang aku?" Tanya nya sedikit ngegas.
"Aku kehilangan kontak kamu, lagi pula pernikahan ku di lakukan sederhana jadi gak mengundang banyak tamu." Terang Nadien.
"Anak-anak yang lain juga gak di undang dong?" Nadien melipat bibirnya menggeleng kan kepalanya.
"Gak masalah sih, yang penting kamu dan suami kamu bahagia ? Walaupun sederhana, yang penting bermakna. Iyakan? " Berusaha memahami keputusan teman lamanya tersebut.
Wajah Nadien berubah pucat, namun sebisa mungkin ia sembunyikan dengan senyuman terbaiknya.
"Ya kamu bener."
Bahagia..? Mungkin yang Gio katakan sama dengan yang ia pikirkan saat akan melangkah ke pernikahan bersama Gavin dulu. Tapi ternyata, semua tak sesuai yang di harapkan. Nadien bahkan tak merasakan kebahagian itu setelah menikah dengan Gavin.
"Emm.. Selamat ya buat pernikahan kamu, maaf telat ngucapin nya " Gio mengulurkan tangan nya tersenyum tampan.
Ragu-ragu Nadien menerima uluran tangan Gio, "Makasih.." Ucapnya tersenyum getir.
"Btw, mau kado apa nih?" Candanya.
Nadien terkekeh, "Apaan sih, gak usah. Aku minta doanya aja," ujar Nadien lembut.
Walaupun mereka tidak terlalu dekat, tapi Gio pria yang baik dan humble memang cocok kalau di jadikan teman.
"Ekhem!!"
Deheman seseorang mengagetkan keduanya, pegangan tangan itu pun terlepas. Nadien dan Gio menatap ke arah sumber suara, yang ternyata berdiri sosok pria yang kadar ketampanan nya melebihi pria di depan Nadien saat ini. Siapa lagi kalau bukan Gavin Bagaskara?
Dua pria tampan itu saling beradu tatap, Gavin menatapnya dengan tatapan datar sedang Gio menatap dengan kening berkerut.
"Udah ketoilet nya?" Tanya Gavin mengalihkan pandangan nya menatap Nadien datar.
"Hm," Nadien menganggukan kepalanya.
Gavin yang tadi sempat menelpon Nadien karna gadis itu cukup lama di toilet. Namun, karna tidak kunjung mendapat jawaban Gavin pun menyusul Nadien. Takut jika Nadien pergi tanpa sepengetahuan nya, tapi ternyata gadis itu tengah berbincang bersama seorang pria yang tidak ia kenal.
Gio menoleh pada Nadien, "Apa dia suami kamu?" Tanya nya.
Nadien mengangguk, "Iyaa" sahutnya gugup melihat tatapan tak ramah suaminya.
Gio tersenyum lebar, "Senang bertemu dengan anda," Gio mengulurkan tangan nya pada Gavin.
Gavin menatap Gio datar, namun bukan nya menyambut uluran tangan Gio. Gavin malah meraih pergelangan Nadien, kemudian membawanya pergi menjauh dari tempat itu.
Nadien yang mendapat tarikan mendadak, menatap Gio dengan perasaan tak enak. Karna Gavin membawanya pergi begitu saja, namun Gio membalasnya dengan senyum simpul.
"Ternyata dia cukup posesif." Gumam Gio tersenyum menatap punggung dua insan yang semakin menjauh.
Beberapa detik kemudian Gio sadar telah melupakan sesuatu, "Astaga! Kenapa gue lupa nanya soal Sheryl ? " Menepuk kening nya sendiri.
...****************...
Maaf telat up nya, double up lagi nih. Jangan lupa Like, Vote, Komen and Give nya yaa🤗