NovelToon NovelToon
Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:21.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!

Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.

Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.


Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.

Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CLOSURE VALERIE DAN DEV

Sore itu, Dev pulang lebih awal dari kantor. Begitu masuk ke penthouse, dia langsung mencari Mayra yang sedang duduk di sofa dengan secangkir teh.

"Valerie datang ke kantormu?" tanya Dev tanpa basa-basi, wajahnya terlihat kesal. "Kenapa sih dia, tidak bisa berhenti mengganggu?"

Mayra menarik tangan Dev untuk duduk di sampingnya. "Duduklah dulu. Mari kita bicara dengan tenang."

Dev duduk, tapi postur tubuhnya tegang. "Apa yang dia mau kali ini?"

"Dia minta kesempatan untuk bertemu kamu. Sekali saja. Untuk closure yang benar, katanya," jelas Mayra dengan hati-hati.

"Tidak," jawab Dev langsung. "Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak mau ada hubungan apapun lagi dengannya. Kenapa dia tidak mengerti?"

"Dev, dengarkan dulu," kata Mayra sambil memegang tangan Dev. "Aku tidak bilang kamu harus bertemu dia. Aku hanya menyampaikan permintaannya. Keputusan sepenuhnya di tanganmu."

Dev mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Apa yang dia bilang lagi?"

Mayra menceritakan seluruh percakapannya dengan Valerie, bagaimana wanita itu terlihat hancur, permintaan maafnya, dan keinginannya untuk closure dengan Dev.

"Dia terlihat putus asa, Dev. Seperti orang yang benar-benar menyesal dan perlu menutup bab ini untuk bisa melanjutkan hidup," tambah Mayra.

"Aku tidak peduli," kata Dev dengan keras. "Dia punya sepuluh tahun untuk menyesal. Kenapa sekarang? Kenapa saat aku akhirnya bahagia dan akan menikah lagi?"

"Mungkin karena itulah," kata Mayra dengan pelan. "Mungkin melihat kamu bahagia membuat dia sadar apa yang dia buang. Dan sekarang dia perlu closure untuk bisa melanjutkan hidup juga."

Dev menatap Mayra dengan tatapan tidak percaya. "Kamu membelanya sekarang?"

"Bukan membela," klarifikasi Mayra cepat. "Aku hanya mencoba mengerti dari sisinya. Tapi sekali lagi, aku di pihakmu sepenuhnya. Kalau kamu bilang tidak, maka tidak. Aku akan kasih tahu Valerie bahwa kamu menolak dan dia harus berhenti menghubungi kita."

Dev terdiam lama, menatap tangan mereka yang bergandengan.

"Kamu ingat saat aku awalnya tidak setuju kamu mengunjungi Arman di rumah sakit?" tanya Dev tiba-tiba.

"Aku ingat," jawab Mayra.

"Tapi kamu tetap pergi. Dan kamu bilang kamu butuh itu untuk closure. Untuk bisa sepenuhnya melanjutkan hidup," lanjut Dev. "Dan aku membiarkan kamu pergi karena aku percaya itu yang terbaik untukmu."

Mayra mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini.

"Kamu pikir aku harus bertemu Valerie juga? Untuk closure?" tanya Dev dengan suara yang lebih tenang.

"Aku tidak tahu," jawab Mayra jujur. "Hanya kamu yang tahu apakah kamu butuh itu atau tidak. Tapi aku akan mendukung apapun keputusanmu."

Dev berdiri dan berjalan ke jendela, menatap pemandangan Jakarta dengan pikiran yang berkecamuk.

Mayra membiarkan dia berpikir, tidak mendesaknya.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Dev berbalik.

"Baiklah. Aku akan bertemu dia. Sekali. Dan kamu akan ikut," kata Dev dengan tegas.

"Aku?" tanya Mayra terkejut.

"Ya. Aku tidak akan bertemu mantan tunanganku sendirian. Kamu istriku. Kamu akan ada di sana. Tidak bisa ditawar," kata Dev dengan tegas.

Mayra berdiri dan menghampiri Dev. "Kalau itu yang kamu mau, aku akan ada di sana."

"Dan setelah pertemuan ini, Valerie harus benar-benar hilang dari hidup kita. Selamanya. Tidak ada permintaan kedua. Tidak ada kontak lagi. Ini kesempatan terakhirnya," tambah Dev.

"Baiklah, itu yang terbaik, "kata Mayra. "Kapan kamu mau bertemu dia?"

"Besok. Semakin cepat selesai semakin baik. Dan di tempat yang netral, bukan kantorku, bukan rumah kita. Mungkin di kafe," kata Dev sambil meraih ponselnya untuk mengecek jadwalnya.

"Aku akan atur," kata Mayra sambil juga meraih ponselnya.

***

Keesokan harinya, Mayra, Dev, dan Valerie bertemu di kafe yang tenang di kawasan block C. Pukul dua siang, saat kafe tidak terlalu ramai.

Valerie sudah duduk di meja pojok saat Mayra dan Dev tiba. Wanita itu berdiri dengan gugup saat melihat mereka.

"Dev, terima kasih sudah mau datang," kata Valerie dengan suara bergetar.

Dev tidak menjawab, hanya duduk dengan ekspresi yang sangat dingin. Mayra duduk di sampingnya, tangannya meraih tangan Dev di bawah meja sebagai dukungan.

"Kamu punya lima belas menit," kata Dev tanpa basa-basi. "Bicara."

Valerie duduk kembali dengan tangan gemetar. Dia menatap Dev dengan mata yang penuh penyesalan.

"Aku tahu kamu membenciku. Aku pantas dibenci. Apa yang aku lakukan padamu sepuluh tahun lalu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku," mulai Valerie dengan suara yang hampir berbisik.

"Lanjutkan," kata Dev dengan datar.

"Saat itu aku muda dan bodoh. Aku pikir uang dan status adalah segalanya. Jadi saat Richard, pria yang lebih kaya itu, mengejarku, aku meninggalkan kamu. Aku pikir aku membuat keputusan yang pintar," lanjut Valerie sambil air mata mulai mengalir.

"Tapi kamu salah," kata Dev dengan dingin.

"Sangat salah," setuju Valerie sambil mengangguk. "Richard ternyata playboy yang hanya mau aku sebagai istri pameran. Pernikahan kami hancur setelah tiga tahun. Dia selingkuh dengan puluhan wanita. Dan saat aku meminta cerai, aku bahkan hampir tidak ada apa-apa karena perjanjian pranikah yang aku tanda tangani dengan bodohnya."

Mayra merasakan sedikit simpati, meskipun dia tidak mau merasakannya.

"Dan sejak itu, hidupku hancur. Aku mencoba berbagai hubungan tapi tidak ada yang berhasil. Karena aku terus membandingkan semua orang dengan kamu. Dengan pria yang aku buang," kata Valerie sambil menatap Dev. "Dan saat aku dengar kamu akan menikah, benar-benar menikah dengan wanita yang kamu cintai, aku sadar aku sudah kehilangan kamu selamanya."

"Kamu kehilangan aku sejak sepuluh tahun lalu saat kamu memilih uang daripada aku," kata Dev.

"Aku tahu. Dan aku datang bukan untuk minta kamu kembali. Aku tahu itu tidak mungkin. Aku datang untuk minta maaf. Dengan tulus. Dan untuk bilang kamu pantas mendapat kebahagiaan ini. Dengan Mayra. Dia terlihat seperti wanita yang luar biasa. Dan aku harap kalian sangat bahagia bersama," kata Valerie sambil menghapus air matanya.

Dev menatap Valerie lama, lalu menghela napas.

"Terima kasih untuk permintaan maafmu. Aku menghargainya. Tapi aku tidak bisa bilang aku memaafkan kamu, karena aku tidak yakin aku bisa. Yang aku bisa bilang adalah, aku sudah melanjutkan hidup. Sepenuhnya. Dan aku harap kamu juga bisa," kata Dev dengan lebih lembut.

Valerie mengangguk sambil tersenyum sedih. "Itu yang akan aku coba lakukan."

Lalu Valerie menatap Mayra. "Mayra, terima kasih sudah mengizinkan ini. Kamu wanita yang lebih baik dariku. Jaga Dev dengan baik."

Mayra mengangguk. Tentu saja akan ku lakukan," jawab Mayra dengan lembut.

Valerie berdiri, mengambil tasnya. "Ini perpisahan terakhir kita. Aku berjanji tidak akan mengganggu lagi. Selamat untuk pernikahan kalian."

Lalu dia berjalan keluar dari kafe tanpa menoleh lagi.

Dev dan Mayra duduk dalam keheningan beberapa saat.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Mayra akhirnya.

"Ya," jawab Dev sambil menatap Mayra. "Anehnya, ya. Aku merasa lega. Seperti bab terakhir dari masa laluku akhirnya benar-benar tertutup."

Mayra tersenyum dan menggenggam tangan Dev lebih erat. "Sekarang kita bisa fokus sepenuhnya pada masa depan kita."

"Tepat sekali," kata Dev sebelum mencium tangan Mayra. "Tidak ada lagi gangguan. Tidak ada lagi drama dari masa lalu. Hanya kita berdua dan kehidupan yang akan kita bangun."

Dan saat mereka keluar dari kafe, Mayra merasa lebih ringan. Semua hantu masa lalu, dari Arman hingga Valerie, akhirnya benar-benar pergi.

Sekarang tidak ada yang menghalangi mereka untuk fokus pada pernikahan dan masa depan yang cerah.

Bersama.

*******

BERSAMBUNG

1
Siti Maryati
suka ceritanya ... banyak masalah langsung selesai jd ga berlarut" atau ber bab" selesainya.
pembelajaran juga .. komunikasi yg baik adalah solusi dr setiap masalah yg datang.
👍👍
Jaden Bowen
👍👍👍👍👍
falea sezi
bapaknya goblok ceraikan lah istri benalu
Siti Maryati
seneng baca ceritanya ... ringan, alur nya bagus, tertata
Siti Maryati
blm kebaca nih rintangan ke depan bya
arniya
mampir kak
Siti Maryati
enak alur ceritanya
Siti Maryati
👏👏👏👏
Ryn
lanjut thourr
Siti Maryati
aku juga siap .....
menunggu mu update lagi
Siti Maryati
Doble triple ya up nya
olyv
lanjut....
Siti Maryati
seru
Siti Maryati
ditunggu up nya ya
astr.id_est 🌻
😄😄 wahh karya baru lagi thor semangat terus ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!