Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Hari-hari setelah insiden kamera pengintai dan terbongkarnya kebusukan Putri serta Kinan, mengubah dinamika di dalam Mansion Aditama menjadi sebuah bongkahan es raksasa.
Mansion mewah bergaya Eropa klasik itu kini terasa tak lebih dari sebuah mausoleum megah yang kehilangan nyawanya. Udara di setiap lorongnya terasa pekat, dingin, dan menyesakkan. Para pelayan yang menyadari ketegangan tak biasa antara majikan mereka pun mulai bekerja dan berjalan berjingkat-jingkat, menundukkan kepala sedalam mungkin, takut menjadi pelampiasan amarah tak kasat mata yang menggantung di udara.
Jika sebelumnya Putra bersikap kasar, arogan, dan sering meledak-ledak mencari kesalahan Citra, kini pria itu menggunakan taktik yang jauh lebih menguras mental: pengabaian mutlak.
Ego Putra yang memar parah akibat merasa disudutkan oleh kecerdasan istrinya sendiri, membuatnya membangun tembok es yang sangat tebal. Bagi Putra, mengakui bahwa Citra memiliki akal yang cerdik sama saja dengan mengakui kekalahannya secara mutlak. Sebagai kompensasi atas egonya yang terluka, ia memutuskan untuk mencoret eksistensi Citra dari pandangannya.
Sejak malam interogasi itu, Putra tidak pernah lagi menatap mata Citra barang sedetik pun.
Pria itu sengaja berangkat ke kantor jauh lebih pagi sebelum matahari terbit, dan pulang sangat larut malam saat seluruh rumah sudah terlelap. Ia menenggelamkan dirinya dalam tumpukan dokumen, inspeksi proyek, dan rapat tanpa henti hanya demi menghindari interaksi sekecil apa pun dengan istrinya. Ketika Putra berada di rumah dan tak sengaja berpapasan, ia menganggap Citra tidak lebih dari sekadar perabotan mati atau bayangan transparan yang menempel di dinding. Jika ia membutuhkan sesuatu, seperti kopi hitam atau kemeja bersih, ia akan menyuruh pelayan lain atau Bibi untuk menyampaikannya pada Citra, padahal Citra berdiri lurus hanya berjarak dua meter darinya.
Di meja makan, Putra akan duduk dalam keheningan yang mencekik. Denting sendok dan garpu perak yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian. Ia mengunyah makanan buatan Citra tanpa satu patah kata pun komentar tidak memuji kelezatannya, tapi juga tak lagi menghina seperti dulu. Ia hanya makan layaknya robot, membersihkan mulutnya dengan serbet, lalu beranjak pergi begitu saja.
Di dalam kamar utama, batas imajiner di atas kasur king size itu kini terasa seperti jurang pemisah tak berdasar yang dipenuhi duri. Putra selalu mandi dalam diam, lalu membaringkan tubuhnya di ujung paling kanan, memunggungi istrinya seolah Citra membawa virus menular yang mematikan.
Putri dan Kinan yang sedang menjalani hukuman kurungan ketat dari ayah mereka pun tak kalah menyebalkan. Mereka tak berani lagi melakukan sabotase fisik atau menyusun fitnah murahan, namun tatapan membunuh dan dengusan sinis selalu mengiringi setiap langkah Citra saat melewati mereka di ruang keluarga.
Bagi wanita biasa, diabaikan secara total oleh suami dan dibenci oleh keluarga pasangan di dalam rumah sebesar ini pasti akan membawa mereka pada depresi yang mendalam. Keheningan yang sengaja diciptakan sering kali jauh lebih menyiksa dan membunuh mental daripada makian yang paling kasar sekalipun.
Dan sebagai manusia biasa yang memiliki hati serta perasaan, batin Citra tentu saja merasa lelah.
Malam-malam yang panjang terasa semakin menyiksa. Saat ia menatap punggung lebar suaminya yang memunggunginya dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu tidur temaram, rasa sepi yang luar biasa besar menekan dadanya hingga ia sulit menarik napas. Tinggal di bawah atap yang sama dengan orang-orang yang membencinya, dikelilingi barang-barang mewah miliaran rupiah, nyatanya membuat Citra merasa menjadi manusia paling miskin dan paling sendirian di dunia.
Terkadang, ketika pertahanannya runtuh di tengah malam buta, setitik air mata lolos dari sudut matanya yang lelah, jatuh membasahi sarung bantal sutranya dalam diam. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar isakannya tak terdengar oleh pria yang sedang tertidur di sebelahnya. Bagaimanapun juga, di balik tameng ketenangannya, ia hanyalah seorang wanita muda biasa yang merindukan kehangatan sebuah keluarga, bukan penjara berlapis emas yang menahan napasnya setiap hari.
Namun, Citra menolak untuk hancur.
Jika Putra berpikir siksaan mental berupa silent treatment ini akan membuat Citra menyerah, berlutut, dan memohon perhatiannya sambil menangis, pria itu salah besar. Citra sadar betul bahwa di medan perang tanpa suara ini, ia tidak punya kemewahan untuk meratapi nasib berkepanjangan. Ia hanya bisa bertahan. Dan bertahan bagi Citra bukanlah meringkuk menangis di pojokan kamar mandi meratapi nasib malangnya.
Bertahan bagi Citra adalah merawat kewarasannya dengan logika.
Setiap kali tatapan kosong Putra mulai menggerogoti kewarasannya, Citra akan menutup mata dan memanggil wajah ibunya yang sedang tersenyum damai di rumah kontrakan mereka. Ia akan merapalkan mantra di dalam hatinya, mengingat atap rumah ibunya yang kini tak lagi bocor saat hujan deras turun, serta obat-obatan ibunya yang selalu terbeli tepat waktu berkat pengorbanannya menelan luka di sini. Logika itu kembali menguatkan kakinya yang nyaris goyah.
Lebih dari itu, Citra menjadikan pengabaian Putra sebagai ruang bebasnya. Karena Putra tak lagi memedulikannya, Citra tak perlu lagi berpura-pura menjadi pelayan yang ketakutan. Ia melakukan pekerjaan rumahnya dengan jauh lebih efisien, menghabiskan waktu luangnya membaca buku di perpustakaan Pak Aditama untuk menambah wawasan, atau sekadar duduk di taman belakang menikmati secangkir teh chamomile sendirian sambil memandangi langit sore.
Suatu sore, saat rumah sedang benar-benar sepi karena Putra belum pulang dan adik-adik iparnya sedang tidur siang untuk membunuh kebosanan hukuman mereka, Citra duduk bersila di pinggir kasurnya. Ia membuka resleting bagian paling dalam dari koper lusuhnya.
Di sana, di bawah tumpukan baju tua yang tak pernah lagi ia pakai, tersembunyi sebuah amplop cokelat tebal. Amplop itu berisi uang tunai sisa pemberian Putra waktu itu, ditambah sedikit uang hasil kerjanya dulu yang masih ia simpan rapat-rapat. Jemari Citra mengusap amplop itu dengan lembut, menghitung kembali lembaran uang di dalamnya dalam hati. Ia sudah memperhitungkan segalanya dengan sangat teliti. Ia sudah meriset biaya sewa rumah sederhana di pinggiran kota yang jauh dari jangkauan keluarga Aditama, menghitung modal untuk membuka usaha catering kecil-kecilan, dan menyiapkan dana darurat untuk hidupnya dan ibunya.
Sedikit lagi, batin Citra menyemangati dirinya sendiri, menekan amplop itu ke dadanya. Tahan sedikit lagi, Citra. Biarkan pria angkuh itu merasa menang dengan kebisuan dan egonya. Saat tabungan ini sudah cukup untuk menjamin hidup Ibu setahun ke depan di tempat yang aman, aku akan meninggalkan rumah neraka ini dan menceraikannya tanpa menoleh lagi.
Citra memasukkan kembali amplop itu, menutup kopernya, dan menguncinya rapat. Ia bangkit berdiri, menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Wajahnya mungkin terlihat pucat tanpa riasan, tapi sorot matanya menyala oleh tekad menyala yang tak akan pernah bisa dipadamkan oleh bongkahan es sebesar apa pun.
Biarlah Putra membeku dan mati rasa dalam egonya sendiri. Citra akan terus bertahan hidup, menyusun jalan pelariannya dalam diam, satu hari demi satu hari, hingga tiba waktunya ia menghancurkan sangkar ini.
Mau lanjut? Silakan komen terlebih dahulu 🙏🥰
ga sadar diri, semogaa kamu bucin sama citra untuk sekarang nikmati saja rasa bersalah mu sampai cinta kembali ke pelukan mu
sorry" to say cit ga yakin deh bakal lama apa lagi move on putra terlalu keren untuk di lupakan 🤭
......