NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Udara di dalam kamar utama terasa membeku saat Putra menutup pintu kayu jati itu di belakang punggungnya. Bunyi klik dari kunci yang terputar terdengar nyaring di tengah keheningan.

Di sudut ruangan, Citra sedang duduk di depan meja riasnya. Gadis itu baru saja selesai menyisir rambut panjangnya dan mengoleskan pelembap malam di wajahnya. Gerakannya sangat tenang, seolah rumah ini tidak baru saja dilanda badai besar siang tadi. Ia menatap pantulan suaminya dari cermin tanpa berbalik.

Putra melangkah mendekat dengan rahang mengeras dan napas yang sedikit memburu. Ketakutan akan terbongkarnya rahasia malam mabuknya membuat adrenalin pria itu berpacu liar, meski ia berusaha keras menutupinya dengan topeng arogansi.

"Di mana kameranya?" tembak Putra tanpa basa-basi. Suaranya rendah, mengancam, dan menuntut.

Citra memutar tubuhnya perlahan. Ia menunjuk ke arah sudut rak buku pajangan yang menempel di dinding seberang tempat tidurnya. Di sela-sela buku tebal bersampul kulit, terdapat sebuah lensa bundar yang sangat kecil, nyaris seukuran kancing kemeja, berkamuflase sempurna dengan warna kayu.

Mata Putra menatap titik itu dengan kilat kemarahan. Titik itu memiliki sudut pandang yang mencakup seluruh area kasur, lemari, hingga lantai tempatnya terkapar malam itu. Perut Putra seketika terasa mual.

"Serahkan ponselmu. Sekarang," perintah Putra, menadahkan tangan kanannya tepat di depan wajah Citra. Matanya menatap tajam, menelanjangi setiap inci ekspresi istrinya. "Saya tidak mengizinkan ada aktivitas perekaman tersembunyi di dalam kamar saya tanpa persetujuan saya."

Alih-alih protes, mempertahankan privasinya, atau berdebat panjang lebar, Citra justru mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja rias. Ia membuka kunci layarnya dengan tenang, membuka aplikasi bawaan kamera pengintai tersebut, lalu meletakkan ponsel itu di atas telapak tangan Putra yang terbuka.

"Silakan diperiksa, Mas," ucap Citra lugas, tanpa nada gemetar sedikit pun.

Putra segera menarik ponsel itu. Jemarinya bergerak cepat dan kasar, menggulir layar untuk memeriksa menu riwayat rekaman atau playback. Jantungnya berdebar kencang, bersiap menghadapi skenario terburuk jika melihat dirinya sendiri menangis memanggil nama Laura di layar itu. Jika rekaman itu ada, ia bersumpah akan membanting ponsel ini hingga hancur berkeping-keping.

Namun, saat Putra menggulir tanggal rekaman ke belakang, dahinya mulai berkerut dalam.

Rekaman hari ini, yang memperlihatkan Putri dan Kinan masuk ke kamar, tersimpan rapi. Rekaman kemarin saat Citra membersihkan kamar juga ada. Namun, ketika Putra menekan tanggal kejadian malam mabuknya, layar itu menunjukkan keterangan: 'No Data Available'.

Putra mencoba tanggal sebelumnya, dan hasilnya sama. Riwayat rekaman di aplikasi itu baru benar-benar dimulai pada keesokan pagi setelah malam di mana Putra pulang dalam keadaan mabuk.

Putra mendongak, menatap Citra dengan tatapan penuh selidik dan kecurigaan yang pekat. "Di mana rekaman sebelum hari Selasa? Apa kamu menghapusnya untuk memeras saya?!"

Citra menatap suaminya dengan wajah sedatar pualam, meski di dalam kepalanya ia tertawa geli melihat kepanikan luar biasa dari CEO sombong di hadapannya ini.

"Saya baru membeli kamera itu dan memasangnya pada Selasa pagi, Mas Putra. Tepat setelah Mas berangkat ke kantor," jawab Citra lancar, suaranya sangat stabil. "Uang tabungan saya baru cukup untuk membelinya hari itu. Jadi, secara logis, kamera itu memang tidak memiliki data rekaman apa pun sebelum hari Selasa siang."

Fakta itu sebenarnya adalah sebuah alibi yang sempurna. Malam itu, Citra menyadari kelemahan Putra, dan esok paginya ia langsung memasang kamera itu sebagai langkah antisipasi untuk memperkuat posisinya di rumah ini. Ia tidak perlu merekam racauan Putra, karena nama 'Laura' sudah tersimpan sangat aman di dalam memori otaknya, sebuah brankas yang tak akan pernah bisa direbut atau dihancurkan oleh Putra.

Putra terus mengotak-atik ponsel itu, memeriksa folder sampah, galeri tersembunyi, hingga pengaturan penyimpanan cloud. Namun hasilnya nihil. Tidak ada rekaman dirinya yang sedang mabuk. Tidak ada audio dirinya yang memanggil nama Laura. Tidak ada bukti apa pun yang bisa digunakan Citra untuk menjatuhkannya. Murni hanya ada bukti kejahatan Putri dan Kinan.

Gelombang kelegaan yang luar biasa besar seketika menyapu dada Putra, mengusir ketakutan yang sejak tadi mencekik lehernya. Otot-otot bahunya yang kaku perlahan mengendur.

Namun, seiring dengan hilangnya rasa panik, ego Putra kembali menuntut validasi. Pria itu menyadari bahwa ia baru saja terlihat sangat bodoh dan panik di depan istrinya karena sesuatu yang bahkan tidak ada. Citra yang sedari tadi hanya duduk diam memperhatikannya kini terlihat seperti seorang hakim yang sedang menatap pesakitan yang kebingungan.

"Lain kali..." Putra mengembalikan ponsel itu ke atas meja rias dengan kasar, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya yang berserakan. "Jangan pernah memasang alat seperti ini di wilayah saya tanpa izin. Kamu pikir saya ini kriminal yang harus kamu awasi dua puluh empat jam?!"

"Saya tidak mengawasi Mas Putra," balas Citra, membalas tatapan Putra tanpa berkedip. "Saya mengawasi koper dan sisa harga diri saya. Dan terbukti, jika saya tidak memasangnya, hari ini saya pasti sudah Mas usir ke jalanan dengan tuduhan sebagai pencuri, kan?"

Pertanyaan retoris itu menampar Putra tepat di wajah. Pria itu terbungkam. Kata-katanya tertahan di tenggorokan.

Apa yang diucapkan Citra adalah kebenaran mutlak. Jika saja rekaman itu tidak ada, Putra tahu persis ia akan menjadi orang pertama yang berteriak menyuruh Citra angkat kaki dari Mansion Aditama siang tadi.

Melihat Citra yang duduk begitu tenang, rasional, dan tak tersentuh, membuat Putra merasa sangat tidak nyaman. Kekuasaannya di dalam kamar ini seolah telah dilucuti perlahan-lahan. Ia tidak bisa membentak wanita ini karena Citra tidak melakukan kesalahan apa pun, justru wanita inilah yang menyelamatkan muka keluarga dari kebodohan Putri dan Kinan.

Terjebak dalam keheningan yang luar biasa canggung dan ego yang memar, Putra akhirnya mendengus kasar. Ia membalikkan badan, tak sanggup lagi berlama-lama berada di bawah tatapan Citra yang seolah bisa menembus segala kemunafikannya.

"Saya mau tidur di ruang kerja malam ini. Jangan berani mengganggu saya," ucap Putra ketus sebagai alasan terakhir untuk melarikan diri.

Ia melangkah cepat menuju pintu, membukanya, dan membantingnya tertutup di belakangnya, meninggalkan Citra sendirian di dalam kamar utama.

Tepat saat pintu itu tertutup rapat, senyum tipis akhirnya terukir di bibir Citra. Matanya menatap pintu kayu jati itu dengan sorot meremehkan. Pria yang di luar sana dipuja sebagai pemimpin jenius, nyatanya tak lebih dari seorang pengecut yang lari terbirit-birit saat egonya sendiri terpojok.

Malam ini, Citra akan tidur dengan sangat nyenyak, menguasai seluruh kasur king size itu tanpa perlu berbagi dengan sang tuan besar.

Lanjut lagi gk nih? 😁

1
Emily
kok berhenti thour
Reni Anjarwani
lanjut bagus ceritanya
Emily
wah ceritanya sangat2 keren ...lanjut thour
Emily
wkwkwk..si putri dan Kinan seperti anjing liar yg dipukul habis habisan...kata katamu thour bikin aku ngakak🤣
Emily
aku pada mu citra ... hancurkan dua iblis betina kemudian di iblis jantan putra
Emily
makin seru...thour
Emily
ayo Morgan berikan perhatian mu. biar di putra kepanasan
Emily
yeah keren citra
Emily
nah gitu citra ..biarkan si putra dgn ego dan gengsinya u
yg penting uangnya lancar
Emily
keluarga gila ..mertua emang gak lihat apa matanya pucek anak orang hampiri mati dirumahnya
Emily
kok cuma SE x namparnya pak Adhitama seharus 10x...emangnya klo anak orang mati di rumah kalian kalian mau tanggung jawab
Emily
bukan cuma keluarga putra yg gak ada otak emaknya si citra juga gak ada otak..masak iya gak bisa lihat anak dinikahi orang kaya msih aja kumal
Emily
ya citra bodoh kok bertahan dgn laki arogan...walau gak kaya tapi kan citra kerja
Emily
minggat aja dari rumah citra...abaikan amanat bpakmu itukan cuma alasan emakmu yg mata duitan
Emily
CK .putra macam dah paling suci x dirimu 😝
Junaida Salfariana02
lanjut thor
va
keren
Novi Kuswarini
thor buruan.... g sabar ini wkwkwkwkwkwkkwkkkk
va
update dong
partini
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!