Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 3: Kontrak Hitam
Setelah kontrak ditandatangani, Arsen menyimpan dokumen itu ke dalam brankas pribadinya dengan gerakan yang sangat hati-hati seolah kontrak itu adalah harta paling berharga yang pernah ia miliki. Aluna memerhatikan punggung lebar pria itu dengan perasaan campur aduk takut, bingung, dan ada sedikit sesuatu yang tidak bisa ia definisikan.
Penyesalan? Mungkin.
Atau mungkin sesuatu yang lebih rumit dari itu.
"Dira akan mengantarmu ke ruanganmu," ucap Arsen tanpa berbalik. Suaranya kembali dingin dan profesional, seolah momen intim beberapa menit yang lalu tidak pernah terjadi. "Kamu akan bekerja di ruangan sebelah ruang kerjaku. Selalu dekat. Selalu dalam jangkauanku."
Aluna menelan ludah.
"Baik," jawabnya pelan, nyaris berbisik.
Pintu ruang kerja terbuka, dan Dira masuk dengan langkah profesional. Wanita itu menatap Aluna dengan tatapan yang sulit dibaca ada sedikit iri, sedikit curiga, dan banyak rasa tidak suka.
"Ikut saya," ucap Dira kaku.
Aluna mengangguk dan mengikuti Dira keluar dari ruang kerja Arsen. Saat pintu tertutup di belakangnya, ia merasakan sedikit lega seolah bisa bernapas kembali setelah tenggelam terlalu lama di bawah air.
Tetapi kelegaan itu tidak bertahan lama.
Dira membawanya ke ruangan di sebelah ruang kerja Arsen sebuah ruangan yang jauh lebih kecil tetapi tetap mewah dengan meja kerja minimalis, rak buku, sofa dua dudukan, dan jendela besar yang menghadap ke kota. Yang membuat Aluna tidak nyaman adalah: dinding yang memisahkan ruangannya dengan ruang kerja Arsen adalah kaca transparan.
Kaca satu arah.
Arsen bisa melihatnya kapan saja, tetapi ia tidak bisa melihat Arsen.
"Ini ruang kerja Anda," ucap Dira dengan nada yang terdengar sinis. "Laptop, alat tulis, dan semua keperluan sudah disiapkan. Jadwal harian Pak Arsen akan saya kirim setiap pagi pukul 06.00 WIB ke email Anda. Tugas Anda adalah memastikan semua jadwal berjalan lancar, menyiapkan dokumen yang dibutuhkan, menemani Pak Arsen ke setiap meeting, dan... melakukan apa pun yang Pak Arsen perintahkan."
Dira menekankan kata terakhir dengan tatapan tajam.
Aluna mengangguk pelan.
"Saya... saya mengerti."
"Satu lagi," Dira melanjutkan sambil menyerahkan sebuah smartphone baru yang masih terbungkus rapi. "Ini ponsel khusus untuk pekerjaan Anda. Pak Arsen sudah menginstal semua aplikasi yang diperlukan. Anda wajib membawanya ke mana pun Anda pergi. Selalu. Jangan pernah dimatikan."
Aluna menerima ponsel itu dengan perasaan aneh. Ada sesuatu yang tidak beres dengan semua ini.
"Kenapa... kenapa harus ponsel khusus?" tanyanya hati-hati.
Dira tersenyum tipis senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Karena Pak Arsen perlu tahu di mana Anda berada. Setiap saat."
Jantung Aluna berdetak tidak nyaman.
"Maksudnya... ada pelacak di ponsel ini?"
"GPS tracking, tepatnya," jawab Dira enteng, seolah itu adalah hal yang sangat normal. "Pak Arsen adalah orang yang sangat... protektif terhadap asetnya. Dan sekarang, Anda adalah salah satu asetnya."
Aset.
Kata itu terasa seperti tamparan.
Aluna bukan manusia di mata mereka. Ia hanya... aset. Properti. Barang yang harus dijaga.
"Oh, dan satu hal lagi," Dira mengeluarkan sebuah kartu akses dari sakunya. "Ini kartu akses khusus Anda. Berlaku untuk semua area di gedung ini, termasuk lantai parkir khusus dan lift eksekutif. Jangan sampai hilang. Kalau hilang, dendanya 50 juta rupiah."
"A...apa? Lima puluh juta hanya untuk kartu?"
Dira mengangkat bahu.
"Kartu ini menggunakan teknologi enkripsi tingkat tinggi. Mahal membuatnya." Ia menatap Aluna dengan pandangan meremehkan. "Anda sekarang bekerja di Mahendra Property Group, Nona Aluna. Semua yang berkaitan dengan Pak Arsen adalah mahal dan eksklusif. Termasuk Anda."
Setelah mengatakan itu, Dira berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Aluna sendirian di ruangan barunya.
Aluna menatap sekeliling dengan perasaan sesak. Ruangan ini indah, mewah, tetapi terasa seperti sangkar emas. Ia berjalan menuju jendela besar dan menatap keluar kota Jakarta terbentang luas di bawahnya, orang-orang bergerak seperti semut kecil, bebas menjalani hidup mereka.
Sementara ia...
Ia terjebak.
Ponsel barunya bergetar. Aluna menatap layarnya dan mendapati sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah tersimpan otomatis dengan nama "Arsen Mahendra".
Biasakan diri dengan ruanganmu. Satu jam lagi kita ada meeting dengan klien. Berpakaian rapi. Jangan membuat malu.
Singkat. Memerintah. Tanpa salam atau basa-basi.
Aluna menghela napas panjang dan duduk di kursi kerjanya. Ia membuka laptop yang sudah menyala dan menemukan bahwa semua file sudah tertata rapi jadwal Arsen untuk sebulan ke depan, profil klien-klien penting, dokumen proyek, dan... folder dengan namanya sendiri.
Dengan ragu, ia membuka folder itu.
Di dalamnya ada dokumen-dokumen tentang dirinya fotokopi KTP, KK, transkrip nilai kuliah, bahkan foto-foto dirinya yang sepertinya diambil dari media sosialnya.
Aluna terbelalak.
Kapan Arsen mengumpulkan semua data ini? Mereka baru bertemu kemarin!
Dengan tangan gemetar, ia terus menggulir file-file itu dan menemukan sebuah dokumen berjudul "Background Check - Aluna Pradipta".
Isinya mencakup semua aspek hidupnya alamat rumah, nama anggota keluarga, pekerjaan ibu dan kakaknya, bahkan riwayat keuangan keluarganya yang pas-pasan. Ada juga informasi tentang teman-temannya, nilai-nilai kuliahnya, bahkan dosen-dosen yang mengajarnya.
Ini... ini sudah melewati batas.
Ini adalah pelanggaran privasi yang serius.
Aluna bangkit dari kursinya, amarah mulai mengalir di nadinya. Ia melangkah keluar dari ruangannya dan berjalan cepat menuju ruang kerja Arsen. Tanpa mengetuk, ia membuka pintu dengan kasar.
Arsen sedang duduk di meja kerjanya, membaca sebuah dokumen dengan kacamata baca yang bertengger di hidungnya membuat penampilannya sedikit lebih lembut, tetapi tidak mengurangi aura berbahayanya sama sekali.
Ia mengangkat pandangan saat Aluna masuk tanpa permisi.
"Tidak biasa mengetuk?" tanyanya dingin.
"Anda melakukan background check terhadap saya?" tanya Aluna langsung pada intinya, suaranya bergetar karena marah. "Anda mengumpulkan semua data pribadi saya tanpa izin?"
Arsen melepas kacamata bacanya dengan gerakan lambat, meletakkannya di meja.
"Ya," jawabnya blak-blakan. "Aku perlu tahu siapa yang bekerja untukku."
"Tapi ini... ini melanggar privasi saya! Anda tidak punya hak--"
"Aku punya semua hak," potong Arsen dengan suara yang tiba-tiba menajam. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan mengelilingi meja, mendekat ke arah Aluna. "Kamu sudah menandatangani kontrak, Aluna. Kamu sudah menyerahkan dirimu padaku. Itu artinya aku berhak tahu segalanya tentangmu."
Aluna mundur selangkah, tetapi Arsen terus mendekat.
"Aku tahu kamu anak kedua dari dua bersaudara. Ayahmu meninggal tiga tahun lalu karena serangan jantung. Ibumu menjual kue untuk menghidupi keluarga. Kakakmu, Rara, bekerja sebagai admin di sebuah klinik kecil dengan gaji pas-pasan. Kalian tinggal di rumah kontrakan di daerah Tangerang."
Setiap kata yang keluar dari mulut Arsen terasa seperti pukulan. Aluna merasakan dadanya sesak.
"Kamu juga punya teman dekat bernama Dimas mahasiswa teknik sipil yang sering mengajakmu belajar bersama," lanjut Arsen, dan ada sesuatu yang berubah di matanya saat menyebut nama Dimas. Sesuatu yang gelap. "Dia menyukaimu. Sudah setahun ini ia mencoba mendekatimu, tetapi kamu selalu menolaknya dengan halus."
Aluna menelan ludah. Bagaimana Arsen tahu semua itu?
"Mulai sekarang," Arsen sudah sangat dekat sekarang, hanya berjarak sejengkal, "kamu tidak akan berhubungan lagi dengan Dimas. Atau pria mana pun."
"Anda tidak bisa mengatur--"
"Aku bisa." Suaranya seperti baja. "Baca lagi kontrakmu, Aluna. Pasal 12. Kamu tidak boleh menjalin hubungan dengan siapa pun tanpa persetujuanku. Dan aku... tidak akan pernah memberikan persetujuan itu."
Aluna menatapnya dengan mata berkaca-kaca, campuran marah dan frustasi.
"Kenapa Anda melakukan ini? Kenapa Anda begitu mengontrol saya?"
Untuk sesaat, ekspresi Arsen melembut sangat tipis, hampir tidak terlihat.
"Karena aku tidak bisa kehilangan lagi," bisiknya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Aluna.
Aluna mengernyit.
"Kehilangan? Apa maksud--"
"Kembali ke ruanganmu," potong Arsen tiba-tiba, suaranya kembali dingin. "Dan ganti pakaianmu. Ada dress dan sepatu di lemari ruanganmu. Pakai itu untuk meeting nanti."
"Tapi saya sudah berpakaian rapi--"
"Yang kuberikan," ucap Arsen dengan nada final. "Hanya pakai apa yang kuberikan, Aluna. Pakaian, sepatu, tas. Semuanya. Aku tidak suka asisten pribadi ku terlihat... murahan."
Kata terakhir itu menampar Aluna tepat di harga dirinya.
"Saya tidak murahan," balasnya dengan suara bergetar.
Arsen menatapnya lama, lalu melangkah lebih dekat lagi terlalu dekat. Tangannya terangkat, jemarinya menyentuh dagu Aluna, mengangkatnya sehingga mata mereka bertemu.
"Aku tahu," gumamnya lembut, kontras dengan perlakuannya yang dingin. "Kamu jauh dari murahan, Aluna Pradipta. Kamu... berharga. Dan aku akan memastikan semua orang tahu itu."
Sentuhan itu sentuhan lembut di dagunya membuat jantung Aluna berdebar dengan cara yang salah. Cara yang membingungkan.
"Sekarang," Arsen melepaskan sentuhannya dan mundur, "kembali ke ruanganmu dan ganti pakaian. Lima belas menit. Jangan terlambat."
Aluna tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, meninggalkan Arsen yang menatap kepergiannya dengan tatapan gelap yang penuh... kepemilikan.
Di ruangannya, Aluna membuka lemari yang tertanam di dinding dan terbelalak.
Di dalam lemari itu tergantung lebih dari sepuluh setelan dress bermerek Chanel, Dior, Valentino semua dengan ukuran yang pas untuknya. Di rak bawah, ada deretan sepatu hak tinggi dari berbagai merek mewah. Tas-tas designer tergeletak rapi di rak khusus.
Aluna mengambil salah satu dress sebuah dress midi berwarna navy blue dengan potongan elegan dan menatapnya dengan perasaan tidak percaya.
Ini semua pasti senilai ratusan juta rupiah.
Kapan Arsen menyiapkan semua ini? Dan bagaimana ia tahu ukurannya dengan tepat?
Pertanyaan itu membuat bulu kuduknya berdiri.
Dengan tangan gemetar, Aluna mengganti pakaiannya. Dress itu pas sempurna di tubuhnya terlalu sempurna. Seolah dijahit khusus untuknya. Ia juga mengganti sepatunya dengan heels navy yang senada, meski ia tidak terbiasa berjalan dengan sepatu setinggi itu.
Saat bercermin, Aluna hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Ia terlihat... mahal. Elegan. Seperti wanita-wanita kaya yang sering ia lihat di majalah.
Tetapi di balik penampilan itu, ia tetap merasa seperti dirinya sendiri seorang mahasiswa biasa yang terjebak dalam dunia yang bukan miliknya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Arsen.
Waktunya habis. Keluar sekarang.
Aluna menarik napas dalam dan melangkah keluar dari ruangannya.
Arsen sudah berdiri di depan lift, mengenakan jas hitam sempurna dengan dasi abu-abu gelap. Saat melihat Aluna, matanya menelusuri tubuhnya dari atas ke bawah perlahan, menilai setiap detail.
"Lebih baik," komentarnya singkat.
Mereka masuk ke dalam lift bersama. Ruang sempit itu terasa semakin sempit dengan kehadiran Arsen yang dominan. Aluna berdiri di sudut, berusaha menjaga jarak, tetapi Arsen melangkah lebih dekat terlalu dekat.
"Mulai sekarang," ucapnya pelan, "kamu akan selalu berada di sisiku. Di setiap meeting, setiap acara, setiap makan malam bisnis. Kamu akan duduk di sebelahku, berjalan di sampingku, dan..." ia berhenti sejenak, menatap Aluna dengan tatapan yang membuat napasnya tercekat, "Menjadi milikku di mata semua orang."
"Saya bukan milik siapa-siapa," bisik Aluna, tetapi suaranya tidak sekuat yang ia inginkan.
Arsen tersenyum tipis senyum yang berbahaya.
"Kita lihat saja berapa lama kamu bisa bertahan dengan keyakinan itu."
Lift berhenti di lantai parkir basement. Pintu terbuka, dan Arsen melangkah keluar. Aluna mengikutinya dengan kaki yang terasa berat.
Di parkiran, sebuah Bentley hitam mengkilap sudah menunggu. Seorang sopir berdiri di samping pintu belakang, siap membukakan pintu untuk mereka.
Arsen masuk terlebih dahulu, dan Aluna mengikuti. Interior mobil itu lebih mewah daripada yang pernah ia bayangkan kulit asli, kayu mahoni, dan teknologi tercanggih.
Saat mobil melaju, Arsen mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya kotak perhiasan berwarna hitam dengan logo sebuah merek mewah.
"Ini untukmu," ucapnya sambil membuka kotak itu.
Di dalamnya, sebuah jam tangan wanita berkilauan Cartier, dengan berlian kecil menghiasi bezelnya.
Aluna menggeleng cepat.
"Saya tidak bisa menerima--"
"Ini bukan hadiah," potong Arsen. "Ini... tanda."
Sebelum Aluna bisa protes, Arsen sudah meraih pergelangan tangannya pegangannya kuat tetapi tidak menyakiti dan memasangkan jam tangan itu di pergelangan tangannya.
Sentuhan jemari Arsen di kulitnya membuat Aluna tersentak. Arus listrik seolah mengalir dari titik sentuhan itu, merambat ke seluruh tubuhnya.
"Sempurna," gumam Arsen sambil menatap jam tangan itu di pergelangan Aluna. Tangannya tidak melepaskan pergelangan Aluna, jempolnya malah mengelus kulit lembut di sana dengan gerakan yang sangat... intim.
"Pak Arsen..." Aluna mencoba menarik tangannya, tetapi genggaman Arsen menguat.
"Arsen," koreksinya. "Panggil aku Arsen saat kita berdua saja."
"A...Arsen," Aluna terpaksa mengikuti. "Tolong lepaskan tangan saya."
Arsen menatapnya lama, sesuatu bergelora di mata kelamnya. Lalu perlahan, ia melepaskan pergelangan Aluna tetapi tidak sebelum mengusapnya sekali lagi, seperti menandai.
"Jangan pernah lepas jam tangan itu," ucapnya pelan. "Itu penanda bahwa kamu... di bawah perlindunganku."
Atau lebih tepatnya, penanda kepemilikan.
Aluna menatap jam tangan di pergelangan tangannya indah, mahal, tetapi terasa seperti belenggu emas.
Dan saat itu ia menyadari, ia baru saja masuk ke dalam sangkar yang dikunci oleh Arsen Mahendra sendiri.
Dan pria itu... tidak akan pernah memberikan kuncinya.