NovelToon NovelToon
Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: asep sigma

Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SOFT LAUNCH

Senin pagi, kantor LokalMart terasa berbeda.

Tidak ada yang berubah secara fisik. Meja masih yang sama, komputer masih yang sama, ruangan masih yang sama. Tapi ada energi yang berbeda di udara.

Hari ini soft launch.

Arief duduk di depan komputernya sejak jam tujuh pagi, mengecek server untuk kesepuluh kalinya. Rian duduk di sampingnya, monitor menampilkan dashboard analytics yang masih kosong karena belum ada traffic.

Dina berdiri di dekat whiteboard, menulis timeline posting social media untuk hari ini.

Rajendra duduk di mejanya, laptop terbuka, email client di satu tab, platform LokalMart di tab lain.

Jam delapan pagi, Dina bicara.

"Oke, guys. Ini dia. Gue mau publish posting pertama di Facebook dan Twitter sekarang. Ready?"

Semua orang mengangguk.

Dina menekan tombol publish.

Posting muncul di Facebook page LokalMart.

"LokalMart resmi hadir! Marketplace untuk produk lokal Indonesia. Batik dari Solo, tas kulit dari Bandung, kopi dari Toraja. Semua dengan sistem COD dan tracking real-time. Cek website kami sekarang: lokalmart.co.id"

Posting yang sama muncul di Twitter.

Dina duduk, menatap layar laptopnya.

"Sekarang kita tunggu."

Sepuluh menit pertama, tidak ada yang terjadi.

Analytics masih menunjukkan nol visitor.

Lima belas menit, satu visitor masuk. Tapi langsung keluar lagi setelah lima detik.

Dua puluh menit, tiga visitor. Dua keluar cepat, satu bertahan dua menit, browsing beberapa produk, tapi tidak checkout.

Arief menatap analytics dengan wajah tegang.

"Ini normal kan? Hari pertama emang slow?"

Dina mengangguk.

"Normal. Orang butuh waktu untuk aware, untuk trust, untuk decide. Gak mungkin langsung rame di hari pertama."

Rajendra tidak bicara, hanya menatap layar, mengamati setiap pergerakan kecil di analytics.

Jam sembilan pagi, visitor sudah naik jadi lima belas. Beberapa mulai add produk ke cart, tapi belum ada yang checkout.

Jam sepuluh, dua puluh lima visitor. Satu checkout pertama masuk.

Arief berdiri dari kursinya.

"Ada order! Ada yang checkout!"

Semua orang berkumpul di komputer Arief, melihat dashboard seller.

Order pertama: Batik tulis dari Solo, harga tiga ratus lima puluh ribu, metode pembayaran COD, alamat pengiriman di Jakarta Selatan.

Dina tersenyum lebar.

"Ini dia. Order pertama kita."

Rajendra merasakan sesuatu hangat di dadanya.

Bukan karena uangnya. Tiga ratus lima puluh ribu bukan angka besar.

Tapi karena ini bukti. Bukti bahwa ada orang di luar sana yang percaya dengan platform yang mereka bangun. Orang yang mau coba, mau ambil risiko belanja online di platform baru yang bahkan belum punya review.

"Kita harus deliver perfect," kata Rajendra. "Ini customer pertama kita. Experiencenya harus sempurna. Rian, langsung generate tracking number. Arief, notify seller untuk prepare barang. Dina, follow up customer via SMS, kasih tahu estimasi pengiriman."

Mereka semua bergerak cepat, executing masing-masing task.

Dalam dua puluh menit, seller sudah ternotifikasi, tracking number sudah di-generate, SMS sudah dikirim ke customer.

Rajendra menelepon Bambang.

"Pak Bambang, ada order pertama masuk. Lokasi pick up di Solo. Bisa diatur?"

"Bisa. Tapi Solo itu di luar coverage area saya. Saya harus koordinasi dengan partner lokal di Solo. Butuh waktu satu hari untuk arrange."

"Oke. Tolong diusahakan secepat mungkin. Ini order pertama kita. Harus perfect."

"Saya paham. Saya atur sekarang."

Sambungan terputus.

Jam dua belas siang, total visitor sudah lima puluh. Total order tiga.

Tidak banyak, tapi untuk hari pertama soft launch dengan audience terbatas, ini bagus.

Dina melihat analytics lebih detail.

"Conversion rate tiga persen. Lumayan. Industry standard sekitar satu sampai dua persen. Kita di atas average."

"Dari mana traffic-nya?" tanya Rajendra.

"Mayoritas dari Facebook. Beberapa dari Twitter. Sedikit dari direct traffic, mungkin teman-teman kita yang langsung ketik URL."

"Bounce rate?"

"Empat puluh persen. Artinya enam puluh persen visitor explore lebih dari satu page. Itu good sign."

Rajendra mengangguk, mencatat mental semua angka ini.

Mereka makan siang di kantor, pesan nasi goreng dari warung sebelah, makan sambil tetap monitor analytics.

Jam tiga sore, order keempat masuk. Kopi dari Toraja, dua kilogram, pembayaran transfer bank.

Jam empat, order kelima. Tas kulit dari Bandung, empat ratus ribu, COD.

Jam lima sore, total order hari pertama: tujuh order.

Total GMV: dua juta lima ratus ribu rupiah.

Arief meregangkan tangan ke atas, menguap lebar.

"Hari pertama sukses. Tujuh order. Gak jelek."

Dina menutup laptopnya.

"Besok kita push lebih agresif. Gue udah siapin konten untuk posting besok pagi. Dan gue udah contact beberapa micro influencer yang mau promote LokalMart, fee-nya murah."

"Berapa?" tanya Rajendra.

"Seratus ribu per posting. Reach sekitar lima ribu followers. Gue target lima influencer. Total budget lima ratus ribu."

"Oke. Go ahead."

Dina tersenyum.

"Siap, bos."

Rian mulai shutdown komputernya.

"Gue pulang duluan ya. Besok gue dateng pagi lagi buat monitor server."

"Oke. Hati-hati di jalan."

Rian pergi. Arief menyusul sepuluh menit kemudian.

Tinggal Rajendra dan Dina di kantor.

Dina packing laptopnya, tapi tidak langsung pergi. Dia duduk di kursi, menatap Rajendra.

"Lu oke?" tanyanya pelan.

"Oke. Kenapa?"

"Lu keliatan tegang dari tadi pagi. Bukan tegang karena launch, tapi tegang karena hal lain."

Rajendra menatapnya, lalu tersenyum tipis.

"Lu terlalu perhatian."

"Gue tim lu. Kalau lu ada masalah, itu masalah kita juga. Mau cerita?"

Rajendra diam sebentar, mempertimbangkan.

Lalu dia bicara, pelan.

"Rabu besok gue ada sidang pengadilan. Tentang warisan kakek gue. Kalau gue kalah, gue kehilangan semua warisan itu. Kalau gue menang, keluarga gue akan lebih benci gue."

Dina mendengarkan tanpa memotong.

"Dan gue punya perasaan, mereka gak akan diam aja. Mereka pasti planning sesuatu. Gue cuma belum tahu apa."

"Lu takut?"

Rajendra berpikir sebentar.

"Enggak. Gue gak takut sama mereka. Gue cuma... lelah. Lelah harus terus waspada. Terus mikir apa yang mereka rencanain. Terus siap-siap buat defend."

Dina mengangguk pelan.

"Gue ngerti. Tapi lu gak sendirian, bos. Lu punya kita. Arief, Rian, gue, Pak Bambang, Pak Anton, Pak Hartono. Banyak orang yang support lu. Jangan lupa itu."

Rajendra menatapnya, merasakan sesuatu hangat lagi di dada.

"Thanks, Din."

"Jangan thanks. Kita tim. Tim saling support."

Dina berdiri, memasukkan laptop ke tas.

"Sekarang lu pulang, istirahat yang bener. Besok kita lanjut lagi. Rabu lu fokus ke sidang. Kamis kita evaluasi hasil launch minggu pertama. One step at a time."

"Lu bener."

"Emang."

Dina tersenyum, lalu keluar kantor.

Rajendra duduk sendirian beberapa menit lagi, menatap layar laptop yang menampilkan dashboard analytics.

Tujuh order.

Dua juta lima ratus ribu GMV.

Angka kecil kalau dibandingkan dengan target besar mereka.

Tapi ini baru hari pertama.

Dan setiap journey besar dimulai dengan langkah kecil.

Rajendra menutup laptop, mematikan lampu kantor, mengunci pintu, lalu turun tangga.

Jakarta sore sudah mulai gelap, lampu-lampu kota mulai menyala, suara traffic mulai mereda sedikit.

Rajendra berjalan ke halte bus, tangan di saku jaket, pikiran sudah di besok.

Besok monitoring hari kedua launch. Lusa sidang pengadilan.

Dua hal besar dalam dua hari berturut-turut.

Ponselnya bergetar, pesan dari Hartono.

"Rajendra, saya sudah terima konfirmasi dari Dr. Sutanto dan ahli grafologi. Mereka akan hadir Rabu besok. Dokumen-dokumen sudah lengkap. Kita siap. Jangan stress. Istirahat yang cukup."

Rajendra mengetik balasan.

"Terima kasih, Pak. Saya siap."

Bus datang lima menit kemudian, cukup sepi untuk jam segini.

Rajendra duduk di pojok belakang, menatap jendela, melihat Jakarta yang bergerak di luar.

Besok adalah hari kedua launch. Rabu adalah hari pengadilan. Dan setelah itu, entah apa yang akan terjadi.

Tapi apapun yang datang, dia sudah siap.

Atau setidaknya, dia berusaha siap.

Di apartemen kecil di kawasan Kemang, Jessica duduk di sofa dengan ponsel di tangan, menatap pesan dari Dera yang masuk satu jam lalu.

"Rabu besok, setelah sidang, kita execute plan. Sudah tidak bisa mundur lagi. Kamu siap?"

Jessica menatap pesan itu lama, jarinya gemetar di atas keyboard.

Dia belum balas.

Belum bisa balas.

Karena dia tidak tahu apakah dia siap atau tidak.

Sebagian dari dirinya bilang ini salah. Ini terlalu jauh. Ini akan hancurkan Rajendra yang dulu pernah dia anggap sayang.

Tapi sebagian lain bilang ini perlu. Ini satu-satunya cara untuk survive. Untuk tidak kehilangan semua yang dia punya.

Jessica menutup mata, menarik napas dalam.

Lalu dia mengetik balasan.

"Aku siap."

Pesan terkirim.

Tidak ada jalan mundur lagi.

Di rumah keluarga Baskara, Ririn duduk sendirian di kamar tidurnya, menatap foto lama di meja rias.

Foto keluarga waktu Rajendra masih kecil. Waktu semuanya masih baik-baik saja. Waktu mereka masih tertawa bersama.

Ririn menyentuh wajah Rajendra di foto itu dengan jari yang gemetar.

"Maafkan Mama," bisiknya pelan, air mata turun di pipi. "Mama tidak tahu harus bagaimana lagi."

Tidak ada yang menjawab.

Hanya keheningan kamar yang besar dan kosong.

Ririn menaruh foto itu kembali, lalu berbaring di kasur, menatap langit-langit gelap.

Rabu besok adalah hari yang akan mengubah segalanya.

Entah ke arah yang lebih baik atau lebih buruk.

Dia hanya bisa berdoa supaya keluarganya tidak benar-benar hancur selamanya.

Tapi di dalam hatinya, dia tahu doa itu mungkin sudah terlambat.

[ END OF BAB 22 ]

1
aidios
ror
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!