NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Perjodohan / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:59.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Beberapa saat kemudian, seorang perawat keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah lebih tenang.

“Mas Alvar, kondisinya sudah stabil. Reaksi alerginya juga mulai mereda.”

Alvar menghela napas panjang, seolah beban di dadanya sedikit terangkat.

“Terima kasih. Kapan dia boleh pulang?”

“Nanti sore, kalau tidak ada reaksi lanjutan. Untuk sementara biarkan Nona Kiara istirahat dulu.”

Alvar mengangguk.

“Baik.”

Dia melangkah keluar ruang pemeriksaan, berdiri di lorong puskesmas. Di sana, beberapa perawat yang lalu-lalang berbisik pelan, tapi cukup jelas terdengar.

“Itu istrinya Dok Alvar ya? Dari kota katanya…”

“Pantes pakaiannya begitu, beda sama orang di sini.”

Alvar menoleh, tatapannya tajam, dingin, dan penuh peringatan. Dua perawat itu langsung terdiam, saling pandang, lalu pura-pura sibuk dengan tugas masing-masing. Alvar tak mengatakan sepatah kata pun tetapi tatapannya sudah lebih dari cukup.

Tak lama, seorang dokter perempuan menghampiri. Rambutnya dikuncir rapi, wajahnya dewasa dan tenang.

“Var.”

Alvar menoleh.

“Dokter Hesti.” Sapanya dengan sopan, lebih menghargai Hesti saja di sana sebagai dokter.

Hesti tersenyum tipis.

“Lama nggak ketemu.”

Mereka berdiri berhadapan, ada jeda canggung yang tak perlu dijelaskan. Teman SMA. Mantan kekasih, dan kz,enangan lama yang tak pernah benar-benar dibicarakan lagi.

“Bagaimana kondisinya?” tanya Hesti, profesional.

“Sudah lebih baik. Alerginya berat, tapi tertangani cepat,” jawab Alvar.

Hesti mengangguk. Lalu, seolah ragu, ia bertanya, “Itu … istrimu ya? Yang katanya dari kota.”

Alvar menatap lurus ke depan. “Iya, Kiara istriku.”

Hesti terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil. “Selamat ya.”

Dia mengulurkan tangan, Alvar baru saja hendak menjabat,

“Dok! Ruang dua! Ibu hamil perdarahan!”

Wajah Hesti langsung berubah tegang. Tanpa menunggu jawaban, ia menarik kembali tangannya dan bergegas pergi.

“Aku harus ke sana dulu.”

Alvar mengangguk singkat, menatap punggung Hesti yang menjauh. Tak ada rasa lama yang tersisa, yang ada hanya satu pikiran yang memenuhi kepalanya sekarang.

Dia kembali ke ruang pemeriksaan. Kiara terbaring dengan infus terpasang, wajahnya masih pucat tapi napasnya sudah teratur. Alvar berdiri di samping ranjang, menatap gadis itu lama.

Sore itu, Kiara akhirnya diperbolehkan pulang. Seorang perawat membantu melepaskan infus dari punggung tangannya. Kiara meringis pelan, lalu menarik napas lega saat jarum itu benar-benar terlepas.

Di depan pintu ruang perawatan, Alvar berdiri tegak, tangan dimasukkan ke saku celananya. Wajahnya tetap dingin, sulit ditebak.

Tak lama, Dokter Hesti kembali datang. Senyum hangat terukir di wajahnya saat menyapa Alvar. Keduanya berbincang singkat, jarak mereka terlalu dekat untuk sekadar relasi dokter dan keluarga pasien.

Tatapan Kiara mengeras.

“Var, obat alerginya harus ditebus sekarang. Biar nanti diminum di rumah,” ujar Hesti.

Alvar mengangguk. “Tunggu di sini,” katanya singkat pada Kiara.

Tanpa banyak bicara, Alvar dan Hesti pergi bersama meninggalkan ruangan. Kiara menatap punggung mereka hingga menghilang di balik lorong puskesmas. Dadanya terasa aneh, bukan sesak karena alergi, melainkan sesuatu yang tak ingin ia akui.

Seorang perawat yang sedari tadi membereskan alat medis tiba-tiba tersenyum kecil.

“Nona Kiara tahu nggak, Dokter Hesti sama Mas Alvar itu cocok banget.”

Kiara tetap diam.

“Dulu mereka pacaran, lho,” lanjut perawat itu, nada suaranya bersemangat.

“Putus karena Dokter Hesti dijodohkan. Padahal Mas Alvar waktu itu cinta mati sama Dokter Hesti. Sampai sekarang juga kelihatan masih—”

“Cukup,” potong Kiara tajam.

Dia menoleh, menatap perawat itu tanpa senyum.

“Aku nggak tanya, dan aku juga nggak tertarik mendengar kehidupan orang lain.”

Perawat itu terdiam, wajahnya merengut. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia keluar dari ruangan sambil bergumam pelan, “Dasar wanita kota … sombong dan kasar.”

Kiara menghela napas kesal, lalu memalingkan wajah ke jendela. Saat itulah langkah kaki terdengar mendekat.

Alvar kembali dengan kantong obat di tangannya. Dia berhenti tepat di ambang pintu. Alisnya mengerut saat menangkap sisa gumaman perawat yang berlalu pergi dan ekspresi kesal di wajah Kiara.

Kiara langsung turun dari ranjang dan melangkah keluar ruangan tanpa menoleh, tanpa sepatah kata pun pada Alvar. Langkahnya cepat, dagunya terangkat, seolah puskesmas kecil itu tak layak menahannya lebih lama.

Alvar menyusul di belakang, wajahnya mengeras.

Saat mereka melewati koridor, beberapa perawat yang berdiri di dekat meja administrasi kembali berbisik, kali ini tanpa terlalu menurunkan suara.

“Kasihan ya Mas Alvar…”

“Istrinya galak dan sombong.”

“Iya, beda banget sama Dokter Hesti. Cantik, lembut, dan sopan.”

Kiara mendengarnya dengan jelas. Bibirnya melengkung tipis, sinis. Ia terus melangkah tanpa menoleh, seolah kata-kata itu tak lebih dari debu di udara.

Namun, Alvar berhenti, dia berbalik, menatap dua perawat itu dengan sorot mata dingin yang membuat senyum di wajah mereka langsung menghilang.

“Jaga ucapan kalian,” ucap Alvar rendah, tegas.

“Dia istri saya.”

Kedua perawat itu terdiam, saling pandang, lalu menunduk. Tak ada satu pun yang berani membalas.

Dari ujung koridor, Dokter Hesti menyaksikan kejadian itu. Tangannya yang memegang map mengendur sedikit. Ada sesuatu di wajah Alvar yang belum pernah ia lihat sebelumnya, protektif, dan penuh keyakinan.

Alvar kembali melangkah menyusul Kiara, tanpa tahu bahwa sikapnya barusan tak hanya membungkam gosip, tapi juga menutup satu pintu masa lalu.

Di dalam mobil, suasana membeku.

Kiara duduk menyandar ke jendela, menatap keluar tanpa minat. Alvar menyalakan mesin, lalu melirik sekilas ke arah istrinya.

“Kamu nggak perlu bersikap seperti itu,” ucapnya akhirnya.

Kiara terkekeh pelan, tanpa menoleh.

“Seperti apa?”

“Sikapmu barusan terlalu kasar—”

“Mereka yang mulai lebih dulu,” potong Kiara dingin.

“Orang kampung memang cuma tahu bergosip. Suka ikut campur urusan orang lain.”

Alvar mengerem sedikit lebih keras dari yang diperlukan. Ia menoleh tajam ke arah Kiara.

“Jaga ucapanmu, Kiara.”

Wanita itu akhirnya menoleh, menatap Alvar dengan mata menantang.

“Kenapa? Tersinggung?”

Alvar menghela napas panjang, berusaha menahan emosi.

“Ini tempat tinggalku. Mereka orang-orang yang setiap hari hidup berdampingan denganku.”

“Dan aku bukan bagian dari mereka,” sahut Kiara cepat.

“Aku nggak minta tinggal di desa ini. Aku cuma dipaksa.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang Kiara sadari.

Alvar kembali menatap jalan, rahangnya mengeras.

“Tapi sekarang kamu istriku. Suka atau tidak, kamu di sini atas namaku.”

"Kalau aku boleh memilih, aku tidak mau jadi istri kamu. Aku nggak suka kamu dan nggak mau tinggal di sini. Sepertinya memang kita harus bercerai, karena sejak awal pernikahan ini sudah salah," cetus Kiara dengan kesal. Alvar menggenggam setir dengan erat. Diam nya sudah menjelaskan betapa kesal Alvar terhadap ucapan Kiara. Meksipun pernikahan ini diawali tanpa cinta tetapi Alvar menghargai pernikahan itu.

1
hasatsk
setelah di simak,, seru juga ceritanya
Ni'mah azzahrah Zahrah
Kiara yg enak, aku yg tegang thor
Lilis Yuanita
aduh keringetan😄😄
Gadis misterius
Ini nanti darius yg jd duri liht dech krn klu setiap hr bertmu bklan ada rs nyaman
Eva Karmita
orang yang kalem ternyata bisa agresif juga ya 😅😅
biby
POV alvar : siapa sih.. ganggu aja, g tau apa org lg berusaha baikan
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng
Aisyah Alfatih: sabar ya kak 🤭 kasih bonus deh nanti bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta juga cemburu ahir nya keluar dri hti alvar yg berahir dgn ciuman yg mungkin awal dri kebahagiaan kalian ,
Ika Wahyuni
wah itu pasti mamanya Kiara yg datang disaat tidak tepat 🤭
iza
up lgi thor
Naufal Affiq
dengar kan omongan orang tua mu kiara,jangan dengar cakap orang belum tentu benar
Nar Sih
hamil di luar nikah kok bangga ,🤣
Naufal Affiq
kau tau lala,pembantu lebuh tinggi lagi di banding kan kau,yang gak ada harga diri,yang hamil di luar nikah,bangga banget kamu,gaya manusia gak berpendidikan kalau ngomong
Teh Euis Tea
yeyyy nganggu aj deh yg ketuk pintu🤭
Ariany Sudjana
betul kata ibumu Kyara, kalau kamu bercerai dengan dokter Alvar, dimana lagi kamu akan menemukan suami seperti dokter Alvar? sudahlah lupakan semua masa lalu kalian, mulai dengan lembaran baru, dan jangan kasih celah buat Darius masuk Kyara, juga Hesty jufa jangan pak dokter Alvar
Wiwi Sukaesih
ahh ganggu aj sgla ad iklan ngetok pintu🤭
Resa05
up kayak gini terus yah min
dyah EkaPratiwi
maaf ya pak dr diganggu sebentar
iqha_24
Ternyata Alvar agresif juga, kira orangnya pendiam malu2 🤭
Lilis Yuanita
mmh...🤭🤭
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!