Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenekatan Caela datang ke rumah
Caela menatap pantulan dirinya di cermin, wajahnya yang putih bersih tampak begitu bersinar begitu ia menggunakan hijab berwarna hitam, warna gamis abaya yang ia pakai sengaja berwarna senada dengan dengan hijab yang ia pakai.
Dirasa penampilan sudah cukup bagus, Caela langsung keluar kamar dan turun ke bawah untuk sarapan. Di meja makan beberapa cucu dari mertuanya sudah duduk manis di kusinya dengan dua pasang suami istrinya. Mereka adalah ipar Caela yang menginap di rumah.
"Wah tante cantik sekali, memangnya tante mau kemana?" tanya si kecil yang berusia tujuh tahun itu melihat penampilan Caela yang terlihat sangat cantik.
Caela tersenyum lebar, lalu mencium pipi keponakannya dengan gemas, mereka memang cukup dekat karena Rei memang cukup sering menginap di rumah oma dan opanya.
"Tante akan pergi ke rumah suami tante doang, REI mau ikut?" tanya Caela.
Rei menggeleng, "bunda sama ayah hari ini sudah janji sama Rei untuk ajak Rei berenang di hotel,"
"Wah benarkah?"
Rei mengangguk antusias.
"Sebenarnya kakak tidak janji dengan Rei, memang Reinya saja yang memaksa kakak dan ayahnya mengajaknya perhi berenang di hotel," sambung bunda dari Rei.
Mendengar itu Rei cemberut, membuat Caela tertawa gemas dan mencolek dagu Rei, menggodanya agar berhenti merajuk.
"Oh iya sayang, hari ini kamu jadi pergi ke rumah suamimu itu?"
Dari arah ruang keluarga muncul Sarah, mertua dari Caela sembari menggendong cucunya yang masih bayi itu ke meja makan.
Caela mengangguk, "Jadi dong ma, hari ini kan ulang tahun mas Farhan, jadi aku memang sengaja ingin memberikan suprise kepada mas Farhan," jawab Caela dengan riangnya, lalu Caela menghampir mama mertuanya dan duduk tepat di sebelahnya.
"Malam ini mama jadi merayakan ulang tahun mas Farhan?" tanya Caela penasaran.
Sarah menggeleng, "Tidak ada yang akan merayakannya, kalian saja yang rayakan, lagi pula Farhan sudah tua, tidak etis sekali jika dirayakan seperti anak-anak,"
"Jangan seperti anak kecil dong mama, kan bisa pesta seperti ulang tahun perusahaan,"
Sarah tertawa, "tetap saja, Farhan tidak akan suka jika mama dan papa merayakan ulang tahunnya, mungkin Farhan hanya akan merayakan ulang tahunnya kecil-kecilan bersama kamu dan anak-anaknya,"
"Apakah Helena akan ikut ma?" tanya Caela penasaran.
Sarah menggeleng, "Farhan tidak akan mungkin membawa Helena di acara ulang tahunnya, dia hanya akan membawa orang yang dicintai dan disayanginya, kamu dan anak-anak," jawab Sarah membuat Caela tersenyum senang.
"Kamu tidak perlu cemburu dengan Helena, kamu jauh di atas dia, Farhan pun terbukti hanya mencintai kamu, kan!"
"Benar, kamu tidak perlu cemburu dengan wanita seperti Helena," sambung yang lainnya setuju.
Caela tersenyum. Lihat! Bahkan Helena sudah kalah sebelum ia menyatakan siap untuk bertarung. Tidak ada seorang pun yang mendukung hubungan Farhan dan Helena, dan sudah pasti sebentar lagi Helena akan segera diceraikan oleh Farhan.
"Aku tidak mungkin kak cemburu dengan Helena, aku tahu mas Farhan hanya mencintaiku," uajr Helena dengan percaya dirinya yang sangat tinggi.
***
Sepanjang jalan Caela tidak berhenti tersenyum karena ia sungguh tidak sabar memberikan suprise kepada suaminya, ia bahkan sudah menyiapkan hadiah spesial untuk Farhan, Caela juga sengaja membeli cake dengan desain paling bagus dan elegant, acara ulang tahun suaminya tidak boleh biasa-biasa saja. Harus mewah agar Farhan semakin terkesan dengan Caela.
Sebenarnya ini masih terlalu pagi untuk memberikan suprise kepada Farhan, karena masih jam sepuluh pagi, sedangkan Farhan memberitahunya jika ia akan pulang ke rumahnya dulu sekitar jam dua belas siang, barulah ia akan ke rumah orang tuanya untuk menjemput Caela merayakan ulang tahun Farhan di sebuah restoran terbaik.
"Pak kenapa lampu merahnya lama sekali?" tanya Caela melihat ke depan karena sejak tadi mobil yang ia naiki berhenti terlalu lama.
"Maaf non, sepertinya terjadi kecelakaan di depan, mungkin sebentar lagi akan kembali normal," jawab sang sopir. Caela sengaja memakai supir pribadi mama mertuanya karena mama mertuanya sendiri yang meminta agar Caela tidak berangkat mengendarai mobil sendiri. Semua demi kenyamanan Caela.
Caela mengangguk paham, ia tidak protes lagi. Kini kedua matanya sibuk menatap layar ponsel yang menampilkan room chat dirinya dan juga Farhan, Caela jadi senyum-senyum sendiri, entah karena hormon kehamilan atau bukan, rasanya ia semakin menyukai Farhan. Bahkan rasanya sangat hampa jika tidak bertemu Farhan dalam sehari itu.
"Mama tidak sabar kamu lahir, pasti setelah kamu lahir kita akan menjadi keluarga yang sangat bahagia, kamu akan memiliki tiga kakak sekaligus yang akan menjaga dan melindungi kamu, mama yakin jika kamu tidak akan kekurangan kasih sayang, karena semua orang akan menyayangimu, baby," ucap Caela mengajak janin di dalam perutnya berbicara.
Ponsel miliknya berdering sedikit nyaring, pertanda ada telpon masuk. Nama 'my husband' tertulis jelas di layar ponselnya. Caela cepat-cepat mengangkat telponnya, tidak akan membiarkan suaminya menunggu terlalu lama.
"Assalamu'alaikum, mas,"
"Waalaikumsalam, sepertinya mas bisa pulang lebih cepat karena meetingnya selesai lebih awal, jadi kemungkinan, mas akan menjemput kamu sekitar jam sebelas, karena sekarang mas sudah akan pulang, kamu siap-siap ya!" suara Farhan terdengar begitu lembut dan juga sayang, membuat senyum Caela semakin lebar.
"Baik mas, aku siap-siap dari sekarang, kamu hati-hati ya di jalannya, jangan kebut-kebutan!" peringat Caela yang mendapatkan tanggapan ketawa dari Farhan.
"Sebegitu khawatir ya?" goda Farhan.
"Apaan sih mas, sudah ya aku siap-siap dulu, assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Caela langsung mematikan sambungan telponnya, lalu menaruhnya di tas kecil miliknya.
"Pak ini kita bisa cari jalan lain saja gak?" tanya Caela.
Pak sopir mengangguk, "Ada non, kita mau putar balik saja?"
Caela mengangguk. Mendapatkan persetujuan dari majikannya, pak sopir langsung putar balik mobil untuk lewat jalan lain, karena kemungkinan macetnya akan sedikit lama.
Jantung Caela berdetak cepat begitu ia sudah sampai di depan gerbang rumah suaminya,pak sopir membuka jendela mobilnya dan berbincang sebentar dengan seorang satpam, satpam itu terlihat mengangguk, sebelum akhirnya ia membuka gerbang dan mempersilakan mobil Caela masuk.
Jantung Caela semakin berdetak cepat begitu halaman rumah sudah terlihat jelas di depan matanya, Caela memejamkan matanya sebentar untuk menenangkan jantungnya yang sibuk berdetak.
"Maaf mas, aku melanggar janjiku dan tidak menuruti perintahmu, aku sengaja melakukan ini untuk memberikan kejutan untukmu juga memperkenalkan diri kepada anak-anak, aku sangat yakin mereka akan langsung luluh begitu aku datang dengan niat merayakan ulang tahun papanya," batin Caela dengan kepercayaannya yang sangat tinggi.