Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terasi, api, dan air mata santri
Syra bukan tipe gadis yang mau menerima kekalahan dengan lapang dada. Setelah harga dirinya sedikit tergores oleh ejekan "buta huruf hijaiyah" dan insiden parkiran, ia memutuskan untuk melancarkan strategi baru: Penaklukan melalui perut. Ia pikir, jika ia bisa membuktikan kemampuannya di dapur, Umi dan Kyai akan membelanya, dan Arkan tidak akan punya alasan untuk memperlakukannya seperti anak kecil lagi.
"Syra, lo yakin? Gue ingetin ya, terakhir kali lo masak mie instan di apartemen, kita hampir panggil pemadam kebakaran karena pancinya bolong," suara Nabila Khairina di telepon terdengar sangat sangsi, diiringi suara bising jalanan Jakarta yang kontras dengan keheningan pesantren.
"Tenang aja, Nab! Di sini bumbunya lengkap banget, udah kayak supermarket organik. Gue tinggal campur-campur, kasih sedikit bumbu 'magic', kelar! Gue bakal bikin Nasi Goreng Gila Jakarta paling enak se-Jawa Timur," ucap Syra sambil mengikat rambutnya tinggi-tinggi dengan ikat rambut neon dan menyingsingkan lengan jaket denimnya hingga ke siku.
Di dapur pesantren yang luasnya hampir seluas lapangan futsal, Syra berdiri dengan angkuh. Para santriwati bagian dapur—yang biasanya memakai celemek rapi di atas baju kurung mereka—menatap Syra dengan ngeri. Syra mulai beraksi. Ia mengambil kuali raksasa dan menuangkan minyak goreng dalam jumlah yang cukup untuk menggoreng sebuah motor.
Masalahnya, Syra tidak mengenal takaran "secukupnya" dalam kamus pesantren. Baginya, makin banyak bumbu, makin kuat karakternya. Ia menemukan beberapa balok terasi udang di lemari. Tanpa dibakar atau dihancurkan terlebih dahulu, ia memasukkan tiga balok utuh ke dalam minyak panas. Bau menyengat langsung memenuhi ruangan.
"Mbak Syra, itu... nggak mau dihancurin dulu terasinya? Terus itu cabainya... yakin semuanya?" tanya seorang santriwati junior dengan suara bergetar melihat Syra memasukkan segenggam besar cabai rawit setan yang baru separuh halus.
"Sstt! Ini namanya resep Level Up. Gue ini sering nonton konten masak luar negeri, ini teknik infusing flavor!" jawab Syra sok tahu, meski matanya sendiri mulai berair karena uap cabai yang menusuk paru-paru.
Hasilnya? Sebuah bencana kuliner berskala nasional.
Saat jam makan malam tiba di aula besar, ratusan santri duduk rapi dengan piring masing-masing. Omar Rizky Hafiz adalah orang pertama yang menyuapkan satu sendok penuh ke mulutnya. Detik pertama, wajah Omar berubah dari sawo matang menjadi merah padam. Detik kedua, matanya melotot seolah ingin keluar dari kelopaknya.
"AIR! AIRRR! DEMI ALLAH, INI NASI GORENG APA LAHAR MERAPI?!" teriak Omar sambil mengibaskan tangannya di depan mulut yang terbuka lebar. Ia langsung menyambar teko air minum di dekatnya dan meminumnya langsung dari mulut teko sampai tumpah-tumpah ke bajunya.
Suasana aula mendadak ricuh. Suara batuk berjamaah terdengar di mana-mana. Para santri berlarian menuju keran wudhu hanya untuk mendinginkan lidah mereka.
Arkanza Farras Zavian yang baru saja masuk ke aula, berhenti mematung. Ia melihat para santrinya menderita. Ia mengambil sedikit nasi dari piring terdekat, mencicipinya sesendok kecil dengan ujung lidah, dan seketika itu juga rahangnya mengeras hingga otot lehernya menonjol. Arkan segera bangkit dan berjalan menuju dapur dengan langkah lebar yang mematikan, sarungnya berkibar ditiup angin kemarahan.
Di dapur, ia menemukan Syra sedang berdiri bangga, masih memegang sutil kayu besar.
"Syra Aliyah Farhana!" suara Arkan menggelegar, memantul di dinding dapur yang lembap.
"Apaan sih, Gus? Warnanya cakep kan? Merah merona, menggugah selera!"
Arkan menarik pergelangan tangan Syra, membawanya paksa ke ambang pintu aula agar ia bisa melihat kekacauan yang ia ciptakan. "Lihat itu! Anda hampir mengirim separuh santri saya ke puskesmas dengan racun yang Anda sebut makanan ini! Terasi mentah dan cabai sebanyak itu? Apa Anda mencoba melakukan percobaan pembunuhan?"
Syra terpaku melihat para santri yang malang. Rasa bersalah mulai menyelinap, tapi egonya masih terlalu tinggi untuk runtuh. "Ya elah, itu namanya tantangan spicy food! Mereka aja yang cengeng, biasanya makan sayur bening mulu sih!"
"Ini pesantren, Syra! Bukan panggung hiburan!" Arkan menatap Syra dengan tatapan paling tajam yang pernah Syra terima. "Buang semua nasinya. Dan sebagai gantinya, Anda yang akan mencuci semua piring kotor malam ini. Sendirian. Jangan ada yang berani membantu, atau saya hukum lebih berat lagi!"
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...