Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 18. BCS
Malam hari cuaca mendung hujan turun sangat deras membuat udara terasa dingin. Suara petir menggelegar dan saling bersahutan. Kamar pengantin itu sepi tidak ada suara pembicaraan apapun.
Prasasti sedang berada diruang keluarga bersama papanya. Sedangkan Albi berada dikamar sendirian. Ia menerima panggilan telepon dari seseorang.
“Bagaimana rasanya merebut kekasih orang, apakah kamu merasa hebat. Semoga malam ini gagal melakukan malam pertama," ucap seseorang diseberang telepon.
"Siapa kamu, beraninya berkata seperti itu lewat telepon. Apakah nyalimu sebatas itu, atau memang pengecut yang beraninya dibalik ponsel. Dasar penipu," sahut Albi dengan nada marah.
Orang diseberang telepon menertawakan perkataan Albi. Mereka terlibat pembicaraan serius wajah Albi nampak sangat kesal dan marah.
“Coba saja kalau berani," Albi menantang orang tersebut kemudian menutup panggilan teleponnya.
"Pa, aku ngantuk. Aku ke kamar dulu ya,“ Prasasti beranjak pamit pergi ke kamar.
"Ingat, saran Papa. Jangan memaksakan diri dalam urusan mencintai," pesan Fabio.
Prasasti mengangguk kemudian berjalan ke kamar. Jantungnya berdegup sangat cepat dari sebelumnya saat membuka pintu. Prasasti melihat Albi hanya mengenakan celana pendeka padahal cuaca sangat dingin.
Albi tidak menyadari kalau Prasasti masuk, ia masih berkutat pada ponselnya dengan serius. Prasasti berjalan masuk ke dalam kamar mandi, barulah Albi menoleh mendengar suara pintu ditutup.
Beberapa saat kemudian Prasasti keluar memakai pakaian tidur dari bahan satin berwarna merah maroon. Albi menoleh tatapannya sangat tajam namun tak berkedip.
Prasasti memakai lotion sebelum tidur itu adalah kebiasaan rutin yang ia lakukan. Albi memperhatikan setiap pergerakan Prasasti yang kini sudah menjadi istrinya. Momen itu tidak ia lewatkan begitu saja.
Ada perasaan yang sulit untuk diungkapkan, Ada getir direlung hati yang ingin disampaikan namun bibir terasa kelu. Prasasti cuek ketika melewati Albi dan naik ke tempat tidur lalu merebahkan diri dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Albi tersadar dari lamunannya saat melihat Prasasti sudah terlelap. Ia segera pergi ke kamar mandi membersihkan tubuh dan memakai pakaian tidur dan merebahkan diri di kasur yang sama dengan Prasasti.
Baru akan terlelap Albi merasa ada yang memeluknya dari samping. Ia tertegun melihat wajah Prasasti dari dekat, bibirnya menyentuh pakaiannya sambil mengigau.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi," kata Prasasti dalam mimpinya.
Albi mengerutkan dahi, tangannya mengibas depan wajah Prasasti meyakinkan kalau sudah tidur. Setelah tidak ada pergerakan dari Prasasti, Albi mengangkat tangan Prasasti dan menjauh. Ia meletakkan guling sebagai pembatas.
Albi bergidik dipeluk Prasasti, bulu kuduknya berdiri, ada sesuatu dibawah sana bergerak membuatnya pusing. "Kok bisa begini sih," Albi merasa heran.
Albi merasa frustasi ketika area sensitifnya menunjukkan keaktifannya, di tempat tidur pakaian Prasasti tersingkap terlihat perutnya putih mulut membuat Albi semakin tak karuan.
Gejolak rasa yang segera harus dituntaskan, Albi pergi ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya sampai benar-benar merasa tenang. Cukup lama Albi berada dikamar mandi, setelah merasa lebih baik, ia keluar.
Albi berdiri didekat jendela menatap keluar. "Apakah aku harus melakukannya? Atau harus mengabaikannya?"
Dipikiran Albi ingin melawan perasaan itu. Ia tidak bisa melakukannya karena dihatinya tidak ada perasaan apapun tapi nalurinya sangat kuat.
Antara pro dan kontra kehidupan akan terus berubah tidak selalu sama, semua ada masanya dan waktu untuk membuat masa depan lebih baik.
Tidak ada kata-kata lagi saat ini yang dilakukan Albi. Di luar sana ada harapan menuju masa emas. Albi tidak ingin menyia-nyiakannya.
_____________
Pagi menjelang sinar matahari masuk kamar memberi kehangatan. Sepasang pengantin baru masih betah ditempat tidur saling berpelukan.
Albi dan Prasasti tidak menyadari apa yang terjadi dipagi hari itu. Albi membuka mata melihat didepannya Prasasti masih terpejam. Albi menikmati momen pagi dengan pemandangan indah didepannya.
Semakin lama semakin mempesona, wajah alami milik Prasasti membuatnya tidak beranjak sedikitpun. Tanpa ia sadari Prasasti mengeratkan pelukannya dan mencium bibir Albi.
Albi terkejut dengan sikap Prasasti, bibir Prasasti terasa kenyal dan lembut menyentuh bibirnya. Albi merasa sesuatu dibawah sana berdenyut membuatnya menginginkan lebih. Ia membalas ciuman Prasasti dengan lembut.
Ciuman dipagi hari membuat keduanya hanyut dalam hasrat, mata keduanya terpejam menikmati momen tersebut. Albi tidak mau kehilangan kesempatan, tanpa sadari keduanya sama-sama polos tanpa sehelai kain.
Albi melihat seluruh tubuh Prasasti membuatnya bergairah, ia mulai berselancar di area sensitif milik Prasasti. Entah dapat dorongan darimana adegan ranjang mereka lakukan begitu lancar.
Prasasti merasa sedang bermimpi masih memejamkan mata menikmati sentuhan yang Albi berikan. Desahan, lenguhan sampai menggelinjang, ada sesuatu yang Prasasti rasakan didalam tubuhnya seperti ingin keluar.
Satu hentakan membuat keduanya sama-sama melakukan pelepasan. Albi merasakan miliknya mengeluarkan sesuatu membuatnya mendesah kuat. Tangan Prasasti mencengkeram kuat pada seprey, barulah keduanya lemas.
Prasasti membuka matanya setelah merasakan rasa yang luar biasa nikmat. Ia melihat Albi berada diatasnya terkejut. Saat ingin berteriak Albi membungkam dengan mulutnya dengan melakukan ciuman lembut bukan dengan nafsunya.
Prasasti merasa sesuatu yang membuatnya menginginkan lebih dari sekedar ciuman, tubuhnya menggelinjang. Tanpa sadar tangannya memeluk tubuh Albi, untuk kesekian kalinya mereka melakukan pelepasan.
Albi jatuh menindih tubuh Prasasti sambil berbisik ditelinganya. "Apa kamu siap menjadi ibu dari anak kita?"
Prasasti terkejut mendengar perkataan Albi. Wajahnya tersipu, jantungnya berdegup cepat, perasannya tidak menentu. Prasasti seakan terjebak didalam pernikahan yang tidak diinginkannya.
Melihat Prasasti diam saja, Albi melepaskan area sensitifnya perlahan, Prasasti tertegun melihat kepemilikan Albi langsung menutup mata. Albi tersenyum lalu turun dan mencium area sensitif milik Prasasti.
Albi beranjak dari tempat tidur melangkah ke kamar mandi. Prasasti merasa sakit disekujur tubuhnya dan berusaha bangun tapi tenaganya sangat lemah.
“Kurang ajar dia bikin badanku sakit semua. Tapi tubuh itu sangat kuat dan seksi," gumam Prasasti mengingat adegan tadi.
Prasasti tidak habis pikir dengan kelakuan Albi, dengan beraninya membuatnya terpedaya dengan ucapannya. Prasasti merutuki dirinya yang sudah terjebak dalam pernikahan palsu.
Saat akan turun dari tempat tidur Prasasti merasakan kesakitan yang sangat luar biasa diarea sensitifnya. Ia menangis sambil memegang area sensitifnya. "Sakit banget, perih lagi,"
Albi keluar dari kamar mandi melihat Prasasti merasakan kesakitan menghampirinya dan membawa masuk ke dalam kamar mandi. Prasasti terkejut langsung menyembunyikan wajahnya didada Albi.
Prasasti dimasukkan ke dalam bathup dan mengisi dengan air hangat, Prasasti melihat sikap Albi merasa terharu.
"Terimakasih," katanya sambil berendam.
"Kalau sudah selesai panggil aku, jangan keluar sendiri nanti tambah sakit," pesan Albi kemudian berjalan keluar tanpa menutup pintu untuk memastikan kalau Prasasti tidak bertindak ceroboh.