Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kejutan
Dua minggu berlalu sejak hari-hari itu, dan aku mulai merasa tubuhku tidak lagi terasa seperti milikku sendiri. Awalnya hanya lelah biasa. Aku pikir itu karena kurang tidur, karena terlalu banyak pikiran, karena jarak yang diam-diam menggerogoti perasaanku. Tapi perlahan, lelah itu berubah menjadi sesuatu yang lebih mengganggu. Aku sering sakit-sakitan tanpa sebab yang jelas. Mual datang tiba-tiba, terutama di pagi hari. Napasku terasa pendek, dadaku seperti tertekan, seolah ada sesuatu yang mengganjal tapi tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
Mood-ku berantakan. Ada hari-hari ketika aku bangun dengan perasaan baik-baik saja, lalu beberapa jam kemudian aku ingin menangis tanpa alasan. Hal-hal kecil mudah memancing emosiku. Aku merasa sensitif, mudah tersinggung, lalu merasa bersalah setelahnya. Aku menyebutnya mood swing, mencoba meremehkannya, seolah dengan memberi nama, semuanya akan terasa lebih terkendali.
Aku mencoba mencari penjelasan yang paling masuk akal. Mungkin aku hanya akan datang bulan. Tubuhku memang tidak pernah benar-benar teratur. Siklusku sering berantakan sejak lama. Aku pernah telat dua bulan, tiga bulan, bahkan hampir empat bulan. Semua berlalu tanpa kejadian apa pun. Aku selalu menyalahkan hormon, berat badan, stres, atau gaya hidup yang tidak teratur. Jadi ketika tubuhku mulai memberi sinyal aneh, aku tidak langsung curiga.
Aku membeli dua botol Kiranti. Itu seperti kebiasaan lama yang terasa aman. Biasanya, setelah minum itu, tubuhku akan “kembali normal”. Besoknya atau lusa, darah akan datang, dan semua keluhan akan mereda. Aku juga membeli beberapa obat—obat yang katanya bisa membantu mempercepat datang bulan. Aku meminumnya dengan keyakinan setengah hati, berharap semuanya selesai tanpa perlu dipikirkan lebih jauh.
Tapi hari-hari berlalu, dan tidak ada yang berubah.
Justru sebaliknya. Asam lambungku mulai sering kambuh, terutama di pagi hari. Setiap bangun tidur, mual langsung menyerang. Aku muntah sebelum sempat mengisi perut. Kepalaku pusing, pandanganku berkunang-kunang, dan tubuhku terasa lemah. Malam hari pun tidak memberi istirahat yang layak. Aku sulit tidur nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, pikiranku berlarian ke mana-mana, seolah ada sesuatu yang ingin kuhadapi tapi aku terus menolaknya.
Untuk pertama kalinya, aku merasa takut tanpa tahu persis apa yang kutakuti.
Beberapa hari kemudian, dengan ragu yang masih kubungkus rapat, aku memutuskan membeli test pack. Keputusan itu tidak datang dengan mantap. Bahkan ada bagian dari diriku yang merasa itu berlebihan, nyaris konyol. Aku sering telat. Ini bukan hal baru. Aku sudah pernah melewati semua ini sebelumnya.
Pagi itu, aku menggunakan urin pertamaku. Tanganku gemetar saat membuka kemasan. Aku menatap alat kecil itu lama sebelum benar-benar menggunakannya. Dalam kepalaku, aku sudah menyiapkan hasil negatif. Aku bahkan membayangkan bagaimana aku akan tertawa kecil setelahnya, menertawakan kecemasanku sendiri.
Tapi beberapa detik kemudian, aku membeku.
Dua garis muncul perlahan. Satu jelas. Satu lagi samar—sangat samar, nyaris seperti bayangan, tapi cukup nyata untuk membuat jantungku berdegup kencang. Dadaku terasa sesak. Aku menatapnya berkali-kali, berharap mataku salah. Berharap itu hanya ilusi.
Dengan suara bergetar, aku berteriak memanggil temanku, Cici. Ia datang dengan wajah bingung. Aku menunjukkan alat itu padanya, tanganku masih gemetar. Aku bertanya, hampir memohon, apakah mungkin aku hamil.
Cici menatapnya lama. Ia mencoba tetap tenang. Ia bilang mungkin itu rusak. Mungkin salah baca. Mungkin hanya garis bayangan. Ia tidak langsung percaya, dan aku ingin mempercayainya.
Tapi kegelisahan di dadaku tidak mau pergi.
Aku memintanya memesankan Grab untuk membeli test pack lagi. Kali ini, aku menunggu dengan napas tertahan, seolah menunda detik-detik yang tidak ingin kuhadapi. Ketika hasilnya muncul, dunia rasanya berhenti bergerak. Dua garis itu muncul lagi. Kali ini lebih jelas. Tidak bisa disangkal.
Panik mengambil alih tubuhku. Tanganku dingin. Kepalaku penuh. Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku hanya tahu satu hal: aku butuh kepastian yang sebenarnya. Sore itu juga, aku memutuskan pergi ke dokter kandungan. Jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalku, tapi aku tidak peduli. Perjalanan terasa panjang dan sunyi. Aku menatap jalan tanpa benar-benar melihatnya.
Di ruang praktik itu, aku duduk dengan perasaan campur aduk. Takut, berharap, menolak, dan pasrah dalam waktu yang bersamaan. Ketika dokter memeriksa dan menatap layar, aku menahan napas. Penjelasannya terdengar tenang, profesional, nyaris datar. Ia bilang sudah terlihat jaringan. Ia bilang aku hamil.
Aku terdiam.
Kata itu menggantung di udara, berat dan nyata. Aku tidak menyangka semuanya terjadi secepat ini. Aku bingung. Aku takut. Aku merasa kosong. Ini belum pernah terjadi padaku sebelumnya. Tidak pernah, meski tubuhku sering tidak teratur.
Dalam perjalanan pulang, pikiranku berputar tanpa henti. Aku mencoba mengingat kembali. Mengulang kejadian-kejadian kecil yang mungkin selama ini kuabaikan. Dan di sanalah satu kenyataan muncul dengan jelas, menusuk tanpa ampun—aku dan Moses melakukannya tanpa pengaman.
Kesadaran itu datang terlambat.
Aku duduk sendirian malam itu, menatap gelap kamar, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Ada begitu banyak pertanyaan yang tidak langsung menemukan jawaban. Tentang masa depan. Tentang tanggung jawab. Tentang bagaimana aku harus memberi tahu Moses, yang kini berada jauh, terpisah oleh jarak yang sejak awal sudah terasa rapuh.
Aku menyadari satu hal yang paling menakutkan:
ini bukan lagi tentang aku saja.
Dan di tengah keheningan itu, aku merasa benar-benar sendirian—dengan tubuhku, dengan perasaanku, dan dengan kenyataan yang tidak pernah kuminta, tapi kini harus kuhadapi.