NovelToon NovelToon
Adzadina Maisyaroh

Adzadina Maisyaroh

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Angst / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Saudara palsu / Cintapertama / Tamat
Popularitas:386.6k
Nilai: 5
Nama Author: Penapianoh

Pesantren Al-Insyirah, pesantren yang terkenal dengan satu hal, hal yang cukup unik. dimana para santriwati yang sudah lulus biasanya langsung akan dilamar oleh Putra-putra tokoh agama yang terkemuka, selain itu ada juga anak dari para ustadz dan ustadzah yang mengajar, serta pembesar agama lainnya.
Ya, dia adalah Adzadina Maisyaroh teman-temannya sudah dilamar semua, hanya tersisa dirinya lah yang belum mendapatkan pinangan. gadis itu yatim piatu, sudah beberapa kali gagal mendapatkan pinangan hanya karena ia seorang yatim piatu. sampai akhirnya ia di kejutkan dengan lamaran dari kyai tempatnya belajar, melamar nya untuk sang putra yang masih kuliah sambil bekerja di Madinah.
tetapi kabarnya putra sang kyai itu berwajah buruk, pernah mengalami kecelakaan parah hingga membuat wajahnya cacat. namun Adza tidak mempermasalahkan yang penting ada tempat nya bernaung, dan selama setengah tahun mereka tidak pernah dipertemukan setelah menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ADZADINA

Adza menatap ponselnya dan tidak ada suara dentingan atau deringan sama sekali padahal ini sudah malam.

Bukankah sudah seharusnya Azka menghubunginya? Tetapi kenapa tidak ada sama sekali?

Merenung di kasurnya, hanya adza sendiri yang membawa ponselnya ke dalam kamar itupun karena izin dari Kyai dan Ustadzah makanya dia bisa melakukannya.

Adza menghela napas dan mengambil cermin kecil, dia merasa wajahnya bukanlah jelek.

Kenapa orang-orang harus memandang nasabnya untuk menjalani sebuah hubungan? Adza mengakui sejak kematian orang tuanya dia sangat ingin mendapatkan keluarga pengganti, hanya saja sejauh ini dia tidak yakin apakah akan ada yang sungguh-sungguh menerimanya sebagai seorang keluarga?

"Seorang wanita belum tentu bisa mendapatkan jodoh yang sesuai dengan keinginannya, sementara laki-laki bisa melamar yang manapun dia mau."

"Mungkin seperti itu sudah tanggapan yang dirasakan Gus padaku. Apakah hanya karena demi mengangkat nama baik keluarga dan kasihan padaku makanya dia melamarku? Lalu apakah setelah ini pernikahan kami akan menjadi sebuah pernikahan sandiwara?"

Adza menatap ke arah jendela dan menahan airmatanya.

Andaikan saja orang tuanya masih ada dan dia punya tempat bersandar terakhir di dalam keluarga, dia tidak ingin berharap untuk mendapatkan sebuah keluarga. Namun, tidak ada yang tersisa dari orang tuanya. Semuanya hanyalah tinggal kenangan dan dia hanya seorang diri sekarang.

Adza mengusap air matanya dan berbaring, dia tak tahu apakah akan bahagia atau sedih karena semua ini. Karena sudah hampir tengah malam dan sama sekali tidak ada pesan yang masuk ke dalam ponselnya.

Adza memutuskan untuk tidur saja, karena dia enggan untuk begadang hanya untuk menunggu pesan dari pria yang belum mahramnya.

...***...

"Meena ..." panggil sebuah suara lirih di seberang sana membuat Ameena mengerutkan dahinya.

"Ya, Mas? Kenapa menghubungi Meena malam-malam begini?"

Terdengar suara berat di seberang sana seperti sedang menarik napas.

"Mas belum percaya diri jadi mas menitipkan sesuatu untuk kamu dan harap kamu berikan padanya besok, bisa?"

"Hah? Apa?"

"Mas sudah mengirimkannya bersama dengan oleh-oleh dari sini yang dititip oleh Ummi. Di dalam tumpukan kurma dan juga air zam-zam ada sebuah kotak dan kamu bisa memberikannya padanya. Boleh kan, Mas minta tolong?"

"Emm, baiklah. Kapan sampainya?"

"Besok siang, nanti Mas kabari lagi."

"Okelah, kalau begitu aku akan sampaikan. Mas harus baik-baik di sana sampai hari pernikahan. Tetaplah hubungi dia, karena dia pasti menunggu."

"Emm, ya," balasnya ragu membuat adiknya itu menarik napas.

...***...

Adza bangun dengan suasana hati yang masih sama, terasa masam.

Dia sudah menerima lamaran dari pria yang ada di luar negeri sana tapi sama sekali tak ada pesan apapun yang masuk ke dalam ponselnya.

Membuatnya tak yakin yang melamarnya itu sungguh-sungguh atau tidak.

Adza menghela napas, tapi tak lama karena dia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia akan shalat tahajud dan subuh berjamaah di masjid, sudah jam tiga pagi dan saatnya kembali memulai kegiatan.

Sampai menjelang siang ketika Adza sedang istirahat pun dia tidak menemukan pesan apapun. Tetapi dia sama sekali tidak mau bertanya pada keluarga Kyai karena nanti dia malah terkesan seperti orang yang berharap.

Dibalik kata sibuk yang mungkin di alami Azka sedikit banyak Adza juga mulai tidak percaya pada hubungan mereka karena tak ada apapun yang dilakukan Azka.

Meletakkan ponselnya ke meja, Adza memutuskan untuk makan dan sengaja menjauh dari semua orang termasuk Intan karena dia sedang ingin menenangkan hatinya sendiri.

Hari ini dia kembali memakan bakso dengan saus dan cabai yang lumayan banyak biar bisa menyalurkan rasa kesal di dalam hatinya dengan makanan yang pedas. Dia juga sengaja memesan porsi yang lumayan besar karena setelah ini tidak ada lagi pelajaran yang akan dia lakukan sebab ini hari Sabtu di mana mereka sedikit longgar.

Setelah semuanya selesai dan dia kenyang, Adza memutuskan untuk kembali ke biliknya. Disana dia hanya tidur berdua dengan intan karena dia sengaja memesan kamar yang tidak digabung. Sejak kepergian orang tuanya dia selalu merasa tidak nyaman berada di tempat yang ramai karena ada luka besar yang menganga makanya dia meminta pada Kyai agar bisa memberikannya satu kamar dan dia ditemani oleh intan di kamar itu.

"Eh, apa itu?" Adza mengerutkan dahinya melihat sebuah kotak di dekat pintu kamarnya.

Dia menatap ke arah kanan kiri, tak ada siapapun dan ketika dia mendekat dia bisa membaca resinya hingga tahu kalau itu adalah paket kiriman dari Saudi Arabia tepatnya Madinah dan ada namanya disana.

"Dari Gus Azka? Eh, iya ada namanya. Azka Bukhori?Apakah ini adalah paket untukku?" adza tanpa sadar mulai tersenyum lalu dia membawa masuk paket itu dan meletakkannya di atas ranjang.

Paket itu cukup besar dan mungkin ada sekitar tiga kilogram beratnya. Dia memperhatikan paket yang dipenuhi dengan lakban dan juga bubble wrap itu, sebelum mulai mengambil gunting dan membukanya perlahan-lahan.

Dia tidak tahu kalau ternyata ada pengiriman seperti ini yang bisa dilakukan dari luar negeri dan dia juga tidak tahu siapa yang sudah meletakkan paket ini di depan pintu kamarnya.

Tetapi karena ada namanya makanya dia percaya diri kalau itu memang paket untuknya. Tentang kenapa paket ini bisa sampai padanya dia bisa bertanya pada keluarga Kyai nantinya.

"Wah ... Isinya banyak sekali," gumam Adza dengan senyuman bahagia di wajahnya.

Dia mengambil sebuah surat yang ada disana dan membacanya dengan tatapan serius.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ukhty Adzadina Maisyaroh. Saya dengan percaya diri mengantarkan paket ini kepada Ukhty ketika orang tua saya baru saja menanyakan tentang pendapat Ukhty tentang lamaran yang saya berikan. Paket ini datang dan sampai pada Ukhty saat Ukhty sudah mengatakan keputusan. Tetapi apapun keputusan Ukhty saat itu saya hanya menganggapnya sebagai sebuah hadiah dan kalaupun ukhti tidak menerima saya anggap saja ini adalah sebuah tanda kalau kita berteman.

Semoga Ukhty menyukai paket yang saya berikan. Saya belum bisa pulang saat ini dan jikalau kita memang berjodoh saya sudah siapkan tempat untuk kita menikah di Masjidil Nabawi. Jika Ukhty berkenan, saya tunggu Ukhty datang kesini dengan keluarga saya untuk membicarakan tentang selengkapnya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh?"

Adza diam dengan dadanya yang entah mengapa menjadi hangat.

Dia yang semula tidak percaya diri dengan hubungannya dan Azka nyatanya malah mendapatkan semua ini. Mengejutkan! Tetapi juga membuatnya bahagia karena dia bisa mendapatkan semua ini dari pria yang merupakan calon suaminya.

Menatap isi dari paketan itu dia bisa menemukan satu buah botol isi dua liter air zamzam, satu kotak makanan Al-baik chicken yang terkenal di Arab Saudi, kurma ajwa, sebuah abaya hitam dan juga putih dengan hijab dan juga cadarnya, beberapa aksesoris dari permata dan mutiara lalu yang terakhir ada alat sholat yang lengkap beserta Al-Qur'an putih dan juga tasbih.

Adza tersenyum dengan mata berkaca-kaca melihat bingkisan itu.

"Astaghfirullah, MasyaAllah. Ini bukan lagi paket tanda perkenalan, tapi ini sudah seperti kotak mahar. Ya Allah ...hamba sudah suudzon pada Gus Azka. Nyatanya dia tidak seperti yang hamba pikirkan."

1
Nada Afa
o RW seng yang sabar selalu akan mendapatkan yang terbaik😍😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
bumil lagi sensi
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ilmu tak didasari dengan iman. akan sia sia. walau dari keturunan kyai sekali pun
Nifatul Masruro Hikari Masaru
penasaran sama orang yang membuat propaganda
Nifatul Masruro Hikari Masaru
faiz cepat sadar ya
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Udahlah faiz jangan ganggu rumah tangga adikmu
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yakin? jangan terlalu yakin nanti jatuhnya sakit
Nifatul Masruro Hikari Masaru
udah faiz move on dong
Naufal hanifah
ceritanya bagus,menarik /Good//Good/
panjul man09
thor kasih jelas dong ,panggilan untuk Rini , ustadzah tau ummi atau ning atau ibu .
Siti Saodah
jangan kau anggap remeh azda Rangga Fernandes,tunggu saja pembalasan nya
Siti Saodah
wuih thebes azda menghadapi musuh dengan santai keteen
Siti Saodah
baru nyadar Azka kalo punya istri SE hebat itu
Siti Saodah
mau nya di ajakin nengok afe di dalam perut🤣🤣
Siti Saodah
si Faiz udah mengarah ke saikopat
Siti Saodah
hanya karna salah paham sampai tega menyakiti orang yang telah merawat mu dari kecil
Siti Saodah
gak usah nunggu besok Abi bilang saja sekarang apa yang mau di bahas
Siti Saodah
kaya nya azda hamil deh
Siti Saodah
lagian lbrahim sodara bukan pacar bukan kenapa harus ribet ngurusin rumah tangga irang
Siti Saodah
apa jangan jangan Emang si Faiz bukan saudara kandung Azka ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!