NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Komedi / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Office Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 — RUANG TANPA KAMERA

Volt-Tech bukan lahir dari keberuntungan. Ia dibangun di atas pondasi kontrol.

Dan kontrol punya satu musuh alami yaitu emosi.

Dua hari setelah wawancara Alinea viral, sebuah surel masuk tepat pukul 07.12 pagi.

Subjek: Sesi Tinjauan Internal – Kehadiran Wajib.

Tanpa emoji. Tanpa basa-basi. Hanya satu baris instruksi tambahan.

Agenda: Klarifikasi terkait eksposur media terbaru dan potensi benturan kepentingan.

Alinea membaca baris itu dua kali.

"Conflict of interest," gumamnya pelan.

Sebuah bungkusan rapi untuk sebuah ancaman.

Alinea datang lebih awal hari itu.

Biasanya, lantai 15 masih sunyi sebelum pukul sembilan. Namun pagi ini, atmosfernya berbeda. Beberapa kepala divisi sudah berkumpul di pantry—suara mereka mendadak surut saat Alinea melintas.

Tatapan itu muncul lagi, sama seperti dua hari lalu. Tapi kali ini bukan kekaguman. Mereka sedang menghitung. Mereka sedang menilai.

Mereka sedang menunggu kapan ia akan tersungkur.

Alinea menegakkan bahu. Tatapannya lurus ke depan.

Jika mereka menginginkan drama, ia akan menyuguhkan sebuah pertunjukan yang presisi.

Ruang rapat utama Volt-Tech tidak pernah dibuka untuk urusan sepele. Ruangan itu adalah tempat eksekusi atau perayaan, dan pagi ini, aromanya lebih dekat ke yang pertama.

Meja oval dari kayu mahoni gelap mendominasi tengah ruangan, permukaannya memantulkan cahaya lampu plafon yang pucat. Di sepanjang dinding, layar LED raksasa menyala statis, menampilkan logo perusahaan yang terasa mengintimidasi. Kursi-kursi kulit hitam tersusun dengan simetri yang kaku—seperti barisan prajurit yang siap menyerang.

Di sisi kanan, Pak Hendra, Direktur Operasional, duduk dengan punggung tegak. Direktur HR berada di sebelahnya, jemarinya mengetuk meja dengan irama yang gelisah. Dua komisaris senior menempati ujung meja, sosok mereka lebih mirip hakim daripada rekan kerja.

Lalu ada Arsenio. Ia duduk di posisi paling depan. Ekspresinya tenang—jenis ketenangan yang berbahaya, seperti permukaan air sebelum badai.

Alinea masuk dengan langkah yang terukur. Alih-alih mengambil kursi di baris belakang Arsenio seperti layaknya bawahan, ia menarik kursi di sisi kiri meja. Ia duduk sejajar dengannya. Saling berhadapan.

Itu adalah keputusan kecil, sebuah pernyataan tanpa suara. Namun, di ruangan di mana setiap inci posisi menentukan hirarki, tindakan itu adalah sebuah provokasi. Beberapa alis terangkat, dan keheningan di ruangan itu mendadak terasa lebih berat.

Lampu di ruangan itu meredup secara otomatis, menyisakan cahaya biru pucat dari layar LED yang memantul di permukaan meja kayu gelap.

Slide pertama muncul. Sebuah grafik lonjakan exposure brand Volt-Tech melonjak tajam, hampir vertikal, sejak wawancara Alinea viral di media sosial.

“Seperti yang bisa kita lihat,” Pak Hendra membuka rapat, suaranya berat dan tanpa ekspresi, “publisitas meningkat drastis. Secara angka, ini kemenangan.”

Ia menekan remote. Slide berikutnya berganti secepat kilat.

Kali ini bukan grafik. Layar itu dipenuhi tangkapan layar komentar netizen. Kata-kata seperti nepotisme, hak istimewa, hingga spekulasi liar mengenai hubungan personal yang mempengaruhi keputusan besar bisnis di Volt-Tech terpampang nyata.

“Namun,” lanjut Hendra dengan nada yang sedikit lebih rendah, “peningkatan exposure ini juga memunculkan... pertanyaan.”

Pertanyaan. Satu kata yang dipilih dengan sangat hati-hati. Bukan tuduhan, bukan serangan terbuka.

Tapi semua orang di ruangan itu tahu ke mana arah pembicaraan ini bermuara. Mereka sedang menggali lubang.

Direktur HR menyambung dengan suara yang jauh lebih halus, jenis suara yang biasa digunakan untuk memecat seseorang tanpa membuat mereka marah. “Kami hanya ingin memastikan bahwa tidak ada keputusan strategis perusahaan yang... terdampak oleh hubungan personal tertentu.”

Ruangan mendadak hening. Udara terasa tipis.

Arsenio, yang sejak tadi hanya menyimak, kini menyilangkan jari-jarinya di atas meja. Posisinya sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang namanya ikut terseret dalam spekulasi tersebut.

“Semua keputusan yang diambil oleh divisi Alinea telah melalui board approval,” ujar Arsenio singkat.

Kalimat itu sangat formal. Aman. Benar-benar netral. Arsenio tidak membela Alinea sebagai individu tapi ia hanya membela prosedur perusahaan.

Pada detik itulah, Alinea menyadari sesuatu yang pahit.

Hari ini bukan tentang melindunginya dari serangan luar. Hari ini adalah ujian. Mereka tidak sedang membersihkan namanya melainkan mereka sedang menguji apakah ia adalah aset yang berharga atau beban yang harus segera dibuang.

Jantung Alinea berdetak lebih cepat, namun ritmenya bukan karena ketakutan. Itu adalah debar dari kemarahan yang mulai membeku.

Ia ingat malam-malam yang dihabiskan di kantor ini hingga lampu otomatis padam. Ia ingat jemarinya yang lecet menyusun ulang proposal rebranding dari nol. Ia juga ingat bagaimana ia berdiri di garis depan untuk meredam krisis klien bulan lalu, saat semua orang di meja ini memilih untuk bungkam.

Namun, hanya butuh satu wawancara singkat untuk menghapus seluruh rekam jejaknya.

Semua kerja keras itu menguap begitu saja, tertutup oleh narasi murahan yang mereka bangun.

Hanya karena ia terlihat berdiri di samping CEO. Karena ia seorang perempuan yang berani tampil di depan kamera. Karena ia menolak untuk bersembunyi di balik bayang-bayang lelaki yang memegang jabatan lebih tinggi.

Alinea mengalihkan pandangannya dari Arsenio, lalu menatap layar LED yang masih menampilkan spekulasi netizen.

Bagi orang-orang di ruangan ini, ia bukan lagi profesional berprestasi. Ia hanya sebuah "potensi skandal" yang harus dikelola.

Baiklah, batinnya tajam.

Jika mereka ingin menganggap ini sebagai permainan persepsi, maka ia akan memainkannya lebih baik dari siapapun di ruangan ini. Ia tidak akan membela diri dengan memohon belas kasihan tapi ia akan menyerang dengan logika yang tak terbantahkan.

Alinea menegakkan punggung, meletakkan kedua tangannya di atas meja—sejajar dengan tangan para direktur.

“Boleh saya bertanya?” Suaranya memecah keheningan, setenang permukaan danau, namun ada riak ketegasan di sana.

Seketika, semua mata di ruangan itu tertuju padanya. Saraf-saraf di udara seolah menegang.

“Apakah selama ini performa kerja saya menurun?” Alinea melempar umpan pertama.

“Tidak,” jawab Hendra cepat, nyaris refleks.

“Apakah ada laporan resmi mengenai penyalahgunaan wewenang yang saya lakukan?”

“Tidak ada.”

“Lalu, apakah ada bukti konkret bahwa keputusan strategis CEO berubah hanya karena intervensi saya?”

Hening.

Tidak ada jawaban. Bahkan suara detak jam di dinding pun seolah berhenti. Alinea mengangguk pelan, seolah sedang mencatat kekalahan mereka di kepalanya.

“Kalau begitu,” lanjutnya, “yang sedang kita bedah di meja ini bukan profesionalisme saya. Tapi asumsi orang luar.”

Nada suaranya tidak meninggi. Justru semakin rendah, semakin dalam, dan jauh lebih tajam. Ia tidak sedang membela diri tapi ia sedang menelanjangi pola pikir mereka.

Salah satu komisaris senior berdehem, mencoba mengembalikan otoritas yang mulai goyah. “Kamu masih junior, Alinea. Ada etika dan persepsi publik yang harus dijaga.”

Kalimat itu sengaja dijatuhkan seperti beban berat. Sebuah upaya untuk mengecilkan nyalinya. Untuk menempatkan Alinea kembali ke "kotaknya" sebagai bawahan yang harus patuh.

Di dalam dadanya, darahnya mendidih. Ada sesuatu yang bergejolak, mendesak ingin keluar dan menghancurkan formalitas kosong ini.

“Junior bukan berarti tidak kompeten,” jawab Alinea tanpa jeda. Tatapannya kini mengunci sang komisaris.

“Saya memimpin proyek yang menaikkan engagement perusahaan sebesar tiga puluh tujuh persen kuartal lalu. Saya melakukannya dengan data dan keringat, tanpa campur tangan hubungan personal mana pun.”

Ruangan itu mendadak mengeras. Alinea baru saja meletakkan fakta di atas meja, dan kali ini, fakta itu lebih berat daripada tuduhan mereka.

Lampu ruangan seolah meredup lebih dalam saat slide berikutnya muncul.

Layar LED itu kini menampilkan foto-foto yang tidak ada hubungannya dengan grafik. Foto di sebuah rooftop. Foto makan malam dengan pencahayaan temaram. Sudut pengambilannya jauh, sedikit buram, namun cukup jelas untuk mengenali siluet Alinea dan Arsenio.

Seseorang telah membantu mereka. Seseorang telah menunggu momen ini untuk menarik pelatuk.

“Ini bisa dianggap pelanggaran etika profesional yang serius,” ujar Hendra, suaranya kini terdengar lebih percaya diri, seolah baru saja menemukan kartu as.

Alinea menoleh ke arah Arsenio selama sepersekian detik. Pria itu tetap mematung. Wajahnya seperti pahatan batu—dingin, tak terbaca, dan sama sekali tidak memberikan sinyal bantuan.

Alinea sadar, foto itu bukan sekadar bukti. Itu adalah senjata yang sudah lama disiapkan di bawah meja.

“Jika makan malam setelah jam kantor dianggap sebagai pelanggaran etika,” Alinea memberikan senyum tipis—jenis senyum yang tidak sampai ke mata, namun cukup untuk membuat lawan bicaranya waspada.

“Saya ingin meminta daftar lengkap para direktur di ruangan ini yang tidak pernah makan malam dengan rekan kerja atau bawahan mereka. Saya ingin tahu standar ganda mana yang sedang kita gunakan hari ini.”

Suara derit kursi yang digeser paksa memecah keheningan. Salah satu petinggi di sana tampak gelisah, memperbaiki posisi duduknya dengan kasar.

Itu bukan jawaban yang mereka harapkan dari seorang "junior".

Mereka mengharapkan permintaan maaf atau wajah pucat pasi, namun Alinea justru baru saja menyeret mereka semua ke dalam lumpur yang sama.

“Cukup.”

Hanya satu kata dari Arsenio. Suaranya tidak keras, bahkan cenderung rendah, namun memiliki daya tekan yang sanggup membungkam seluruh ruangan dalam sekejap.

“Jika ada keberatan terhadap integritas dari setiap keputusan yang saya ambil, sampaikan langsung pada saya,” Arsenio meletakkan tangannya di atas meja, gerakannya perlahan namun pasti. “Jangan gunakan Alinea sebagai perantara.”

Seketika, kendali di ruangan itu berpindah. Udara yang tadinya menyesakkan bagi Alinea, kini berbalik mencekik mereka yang mencoba menyudutkannya.

Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Alinea tidak lagi terlihat seperti bawahan yang sedang dilindungi oleh atasannya. Ia berdiri tegak, matanya lurus tanpa sedikitpun keraguan.

Ia tidak tampak seperti korban yang diselamatkan. Ia terlihat seperti seorang partner.

Posisi duduknya yang sejajar, keberaniannya membalas argumen direksi, dan kini perlindungan terbuka dari Arsenio menciptakan gambaran yang jauh lebih berbahaya bagi musuh-musuhnya.

Bagi orang-orang di ruangan itu, Alinea bukan lagi sekadar ancaman bagi karier mereka—ia telah menjadi bagian dari pusat kekuatan itu sendiri. Dan ketidaknyamanan itu mulai menjalar di wajah-wajah yang tadi meremehkannya.

Komisaris senior itu condong ke depan, suaranya pelan namun penuh racun yang disamarkan.

“Publikasi bisa menjadi alat yang hebat, Alinea. Tapi ia juga bisa menjadi kelemahan yang mematikan.”

Maksudnya sangat jelas tanpa perlu dieja maka jika isu ini melebar, perusahaan akan mengumpankan Alinea ke serigala. Reputasinya akan dihancurkan lebih dulu sebagai tumbal untuk menyelamatkan wajah Volt-Tech.

Alinea merasakan getaran ketakutan itu merayap di tengkuknya. Ia bisa membayangkan headline berita besok pagi. Komentar-komentar jahat yang tanpa wajah. Analisis liar yang membedah setiap jengkal kehidupan pribadinya di media sosial.

Ia punya pilihan. Ia bisa mundur sekarang. Mengalah, memasang wajah menyesal, dan berjanji akan lebih "berhati-hati" di masa depan.

Namun, itu berarti mereka benar. Itu berarti ia mengakui bahwa keberadaannya di sini adalah sebuah kesalahan. Dan Alinea tidak akan memberikan kemenangan semudah itu kepada mereka.

“Kalau reputasi saya bisa runtuh hanya karena saya seorang perempuan yang memiliki akses ke ruangan ini,” katanya, suaranya rendah namun menggema di setiap sudut ruang rapat yang kedap suara itu.

“Maka masalahnya bukan terletak pada saya. Tapi pada sistem yang ternyata belum siap melihat seorang perempuan berdiri sejajar di meja ini.”

Sunyi.

Hening yang tercipta kali ini terasa berbeda. Berat dan menyesakkan.

Kalimat itu bukan lagi sebuah pembelaan diri di depan sidang internal.

Itu adalah sebuah deklarasi perang.

Rapat akhirnya ditutup tanpa keputusan jelas.

Dalam dunia korporat, ketidakpastian sering kali lebih berbahaya daripada hukuman mati. Itu artinya mereka sedang menunggu momen yang tepat untuk menyerang balik.

Koridor lantai 15 terasa lebih dingin dari biasanya saat mereka keluar.

Arsenio berjalan di sampingnya, langkahnya lebar dan terukur, sebelum akhirnya ia memecah kesunyian.

“Kamu tidak perlu menantang mereka secara terbuka seperti tadi, Alinea.”

Alinea berhenti mendadak. Ia menoleh, menatap Arsenio tepat di matanya. “Aku tidak sedang menantang. Aku hanya menjawab.”

“Kamu tahu tindakanmu tadi hanya akan memperbesar konflik,” suara Arsenio terdengar seperti peringatan, atau mungkin kekhawatiran yang disamarkan.

Alinea maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka.

“Bukannya kamu sangat memuja kontrol, Arsen?” tanyanya pelan, hampir berupa bisikan yang tajam.

“Sekarang kamu lihat sendiri... mereka tidak nyaman bukan karena aku lemah. Tapi karena aku adalah sesuatu yang tidak bisa kalian kontrol.”

Arsenio terdiam.

Untuk pertama kalinya, ketenangan yang biasanya ia kenakan seperti perisai tampak retak. Kalimat itu menghantamnya lebih dalam dari yang ia perlihatkan, meninggalkan keheningan yang jauh lebih berat daripada suasana di ruang rapat tadi.

Malamnya, ketenangan itu hancur.

Potongan informasi dari rapat internal siang tadi bocor dan muncul di sebuah forum bisnis anonim.

Judulnya brutal, dirancang untuk memancing amarah:

“Board Volt-Tech Terpecah: Skandal Kedekatan CEO dan Staf Junior?”

Narasi di kolom komentar langsung menjadi liar. Teori konspirasi bermunculan, investor mulai melayangkan pertanyaan tajam, dan kotak masuk surel perusahaan dibanjiri tuntutan klarifikasi.

Seseorang telah membocorkan apa yang terjadi di ruang rapat itu. Dan di industri sebesar ini, pengkhianatan tidak pernah terjadi karena kebetulan.

Alinea menatap layar ponselnya di tengah kegelapan ruangan. Ia membaca setiap baris kalimat yang menyudutkannya tanpa ekspresi.

“Ini bukan soal etika,” gumamnya pelan pada udara kosong. “Ini soal siapa yang memegang kendali atas kekuasaan.”

Arsenio berdiri di belakangnya. Bayangannya jatuh menimpa bahu Alinea, terasa berat namun entah mengapa memberikan sedikit perlindungan.

“Kamu takut?” tanya Arsenio. Suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan di luar.

Alinea menarik napas panjang. Ia memilih untuk jujur. “Takut.”

Hening menyelimuti mereka selama beberapa saat.

“Tapi,” lanjut Alinea, suaranya kini terdengar lebih kokoh, “aku jauh lebih takut jika aku harus mengecilkan diriku sendiri hanya supaya mereka merasa nyaman.”

Notifikasi surel baru masuk dengan bunyi denting yang terasa seperti vonis.

Subjek: Bukti Benturan Kepentingan.

Di dalamnya terlampir dokumen proyek bernilai ratusan miliar—salah satu proyek terbesar Volt-Tech tahun ini. Di sana, nama Alinea tercantum jelas sebagai pengusul konsep awal.

Dan di bagian paling bawah, tertera tanda tangan digital Arsenio sebagai pemberi keputusan final.

Narasinya sangat mudah diputarbalikkan karena Alinea mempengaruhi keputusan demi keuntungan tertentu. Atau yang lebih buruk, ia memanfaatkan kedekatan personal untuk melompati birokrasi perusahaan.

Arsenio menatap dokumen di layar itu cukup lama. Sorot matanya mendingin, seolah sedang membaca strategi perang lawan.

“Ada yang benar-benar ingin menjatuhkanmu, Alinea,” suaranya berat.

“Bukan hanya aku,” sahut Alinea pelan. Matanya tidak lepas dari dokumen yang kini menjadi senjata makan tuan itu. “Ini jebakan untukmu juga.”

Alinea menyadari betapa liat situasi ini. Jika ia jatuh, reputasi Arsenio sebagai CEO yang objektif akan ikut tercoreng. Namun, jika Arsenio membelanya terlalu keras, dewan komisaris akan punya alasan kuat untuk menuduhnya tidak profesional.

Siapa pun yang mengirim surel ini, mereka sedang memainkan permainan yang sangat cerdas. Licik, terukur, dan menyerang tepat di titik personal yang paling rapuh.

“Sekarang pertanyaannya,” Alinea menatapnya lurus, tidak membiarkan Arsenio memalingkan wajah sedikit pun. “Kamu mau mencoba mengontrol semuanya sendiri... atau kita hadapi ini bersama?”

Itu bukan pertanyaan romantis yang mengharap simpati. Itu adalah tawaran politik yang dingin.

Arsenio adalah pria yang terbiasa memegang kemudi sendirian. Ia ahli dalam mengatur narasi, mengunci setiap celah, dan memastikan tidak ada satu pun baut yang longgar di Volt-Tech. Namun, Alinea bukan sekadar celah dalam sistemnya.

Alinea adalah variabel. Dan di dunia Arsenio yang serba pasti, variabel adalah sesuatu yang paling sulit untuk dikontrol.

Hening sejenak. Arsenio seolah sedang menimbang seluruh kariernya di atas telapak tangan.

“Kita hadapi bersama,” jawabnya akhirnya. Suaranya rendah, namun mantap—sebuah janji yang mengikat.

Satu keputusan telah diambil. Satu garis tegas telah ditarik di antara mereka dan seluruh jajaran direksi.

Arsenio tahu, dan Alinea pun sadar bahwa Dewan Komisaris akan melihat ini bukan lagi sebagai hubungan atasan dan bawahan, melainkan sebuah deklarasi aliansi.

Perang internal di Volt-Tech resmi dimulai, dan kali ini, mereka tidak lagi bertempur di balik bayang-bayang.

Di luar gedung Volt-Tech, kota tetap berdenyut. Lampu-lampu pencakar langit menyala dingin, sementara media terus melempar umpan demi mendapatkan klik. Dunia tidak peduli pada badai yang sedang terbentuk di lantai 15.

Namun di dalam, loyalitas mulai retak.

Beberapa pihak melihat Alinea sebagai ancaman yang harus segera dipadamkan. Sebagian kecil lainnya, yang selama ini bungkam, mulai melihatnya sebagai simbol perubahan yang sudah lama mereka nantikan.

Satu hal kini menjadi pasti adalah Alinea bukan lagi sekadar bayangan di belakang CEO. Ia telah berdiri di garis depan, di bawah lampu sorot yang paling panas.

Jika mereka berpikir ia akan mundur hanya karena tekanan, maka mereka salah besar dalam membaca dirinya.

Mereka tidak tahu bahwa Alinea adalah jenis perempuan yang justru tumbuh dan menguat dalam tekanan.

Pertanyaannya kini bukan lagi tentang apakah Alinea cukup kuat untuk bertahan. Pertanyaannya telah bergeser menjadi sesuatu yang lebih gelap tetapi,siapa yang akan tumbang lebih dulu dalam permainan kontrol ini ?

Dewan Komisaris yang kaku?

Arsenio dengan segala ambisinya? Atau justru Alinea sendiri—karena ia terlalu percaya pada kekuatan yang belum sepenuhnya ia pahami ?

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!