NovelToon NovelToon
Istri Jenderal Yang Mencuri Hatinya

Istri Jenderal Yang Mencuri Hatinya

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 5
Nama Author: ICHA Lauren

Aku membuka mata di sebuah ranjang berkelambu mewah, dikelilingi aroma parfum bunga yang asing.
Cermin di depanku memantulkan sosok wanita bertubuh besar, dengan tatapan garang dan senyum sinis—sosok yang di dunia ini dikenal sebagai Nyonya Jenderal, istri resmi lelaki berkuasa di tanah jajahan.

Sayangnya, dia juga adalah wanita yang paling dibenci semua orang. Suaminya tak pernah menatapnya dengan cinta. Anak kembarnya menghindar setiap kali dia mendekat. Para pelayan gemetar bila dipanggil.

Menurut cerita di novel yang pernah kubaca, hidup wanita ini berakhir tragis: ditinggalkan, dikhianati, dan mati sendirian.
Tapi aku… tidak akan membiarkan itu terjadi.

Aku akan mengubah tubuh gendut ini menjadi langsing dan memesona.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gagal Dipermalukan

Ruangan seketika hening setelah sindiran Nateya kepada Amara. Elias, yang merasa situasi akan semakin runyam, segera bertindak cepat. Ia menarik kursi di samping Julian, lalu dengan nada tegas menegur,

“Sudahlah, Seruni. Tidak perlu repot menyuruh Amara. Aku bisa duduk di sini, dan aku bisa mengambil makanan sendiri tanpa bantuan siapa pun.”

Nateya menoleh sekilas, senyumnya tipis dan penuh makna. “Baiklah, kalau begitu, terserah Jenderal saja,” balasnya dengan nada datar.

Dengan tenang, Nateya mulai mengambilkan makanan untuk Anelis dan Julian: nasi liwet, sedikit lodeh, lalu beberapa potong sate kambing yang sudah dipotong kecil agar mudah dimakan. Tangannya terampil, seakan sudah terbiasa melayani anak kecil.

Melihat momen itu, Amara segera mencari celah. Ia bangkit dari kursinya dengan langkah gemulai.

Dengan wajah manis yang dibuat-buat, ia mengambil sendok saji dan mulai menyendokkan lauk-pauk ke piring Nateya.

“Kak Seruni, cepatlah makan,” tutur Amara selembut mungkin, tetapi cukup keras agar seluruh ruangan mendengar.

“Biar aku saja yang membantu Anelis dan Julian. Biasanha Kak Seruni gampang naik darah kalau lapar. Semua makanan sudah disiapkan Mama khusus untuk Kak Seruni supaya lebih tenang.”

Beberapa tamu melirik, ada yang tersenyum samar, ada pula yang berbisik pelan. Cornelia tampak menahan senyum puas, jelas menganggap Amara berhasil menyindir.

Namun, Nateya hanya melirik piring itu, lalu dengan gerakan anggun menggesernya menjauh. Senyumnya tidak hilang, meski sorot matanya tajam menusuk.

“Ah, sejak kapan adikku yang manis ini begitu perhatian?” sindirnya halus.

"Sayangnya, perhatianmu bisa berdampak buruk bagi kesehatanku, Amara. Sebagai adik yang baik seharusnya kau tahu, kalau aku tidak boleh makan terlalu banyak, apalagi makanan manis.”

Ia berhenti sejenak, menatap Amara dari ujung kepala hingga kaki, lalu menambahkan dengan suara dingin.

“Semua makanan ini bisa membuatku sakit bahkan memperpendek usia. Dokter sendiri yang mengatakannya. Apa kau dan Tante Cornelia lupa, atau pura-pura tidak tahu?”

Suasana meja makan sontak menegang. Para tamu yang mendengar menahan napas, beberapa bahkan menundukkan kepala pura-pura sibuk dengan piring mereka.

Amara langsung pucat, tangannya bergetar. “Jangan salah paham, Kak… aku tidak bermaksud begitu.” katanya tergagap.

“Cukup!” suara berat Jenderal Adrian memotong tajam. Matanya menatap Amara dengan sorot penuh wibawa.

“Amara, duduklah kembali di kursimu. Tidak ada gunanya ribut soal hal sepele di meja makan. Aku ingin makan dengan tenang.”

“B-but, Papa….”

Amara mencoba membela diri, tetapi tatapan tajam sang ayah membuatnya tak bisa berkata lebih. Dengan kesal ia kembali duduk, meski dalam hati membara ingin membalas Seruni.

Cornelia menatap anak tirinya dengan geram, sementara Elias hanya bisa menarik napas panjang, mencoba menahan ledakan yang ia tahu bisa muncul kapan saja.

Nateya tersenyum samar, lalu ia mulai memilih makanan yang tidak berlemak. Ia hanya mengambil sepotong kroket daging, sedikit gudeg telur, dan potongan buah untuk pencuci mulut

Gerakannya sederhana, tetapi justru membuat beberapa kerabat terheran. Biasanya, Seruni dikenal rakus, tetapi kini i menahan diri, dan sama sekali tak tergoda dengan hidangan berlimpah.

Amara melirik ibunya dengan gelisah. Sorot matanya seperti memberi isyarat : Sekarang giliran Mama.

Cornelia yang sedari tadi menunggu, tersenyum licik. Ia segera berdiri dari kursinya dan menepuk kedua tangannya.

“Hadirin sekalian,” ucap Cornelia dengan suara nyaring beraksen Belanda. “Sebagai puncak acara malam ini, izinkan saya menyampaikan rasa syukur atas kesembuhan suami saya, Jenderal Adrian. Untuk itu, kami akan menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua tamu yang telah hadir.”

Perempuan paruh baya itu berhenti sejenak, senyumnya melebar. “Dan kali ini, kata sambutan akan diberikan oleh putri pertama kami, Seruni, dalam bahasa Belanda dan Inggris."

Seketika ruangan riuh dengan bisik-bisik. Semua mata tertuju pada Nateya. Ada yang tampak penasaran, ada pula yang menahan tawa kecil, seolah sudah membayangkan Seruni akan menjadi bahan tontonan memalukan.

Elias langsung menegang. Ia tahu betul Seruni tidak pernah bisa tampil di depan banyak orang tanpa gemetar. Apalagi, bahasa Inggrisnya, jangankan lancar, mengucapkan satu kalimat lengkap pun terbata-bata.

Tak ingin sang istri menjadi bahan cemooh, Elias bangkit cepat. Ia melangkah maju dan berkata kepada mertuanya.

“Papa, bolehkah saya saja yang mewakili Seruni? Kebetulan Seruni belum selesai makan, jadi—”

Belum sempat ia menutup kalimatnya, Nateya sudah berdiri. Gaun malamnya berkilau diterpa lampu kristal, wajahnya tegak tanpa ragu.

“Tidak perlu, Elias,” katanya lantang. “Aku sudah selesai. Aku akan memberikan sambutan sekarang.”

Ruangan seketika hening. Semua orang menatapnya.

Elias menahan napas, sementara Amara dan Cornelia saling melempar senyum penuh keyakinan bahwa Seruni akan mempermalukan dirinya sendiri.

Di luar dugaan, Nateya berjalan ke tengah ruangan dengan mantap. Tatapannya lurus, penuh wibawa.

Ia menunduk hormat kepada sang ayah, lalu mengangkat wajahnya, menyapu seluruh ruangandengan pandangan penuh percaya diri.

Dengan suara mantap dan intonasi jelas, ia mulai berbicara dalam bahasa Belanda.

Kerabat-kerabat Belanda saling berpandangan, terkejut. Mereka mengangguk-angguk, kagum mendengar kefasihan Nateya.

Nateya pun berhenti sejenak, menghela napas untuk mengambil jeda.

Amara yang duduk di kursinya mulai tersenyum miring. Sebentar lagi Seruni akan kehabisan kata-kata, ia pasti tak bisa berbahasa Inggris.

Namun, detik berikutnya, seluruh ruangan membeku ketika Nateya dengan mulus berganti bahasa Inggris. Ucapannya jelas, tegas, penuh kharisma.

“Ladies and gentlemen, tonight we are not only celebrating my father’s recovery, but also the strength of unity in our family. In hardship we learn patience, in sickness we learn gratitude, and in every trial, we learn love.”

Para tamu terdiam, beberapa bahkan bertepuk tangan kecil dengan takjub.

Elias terpaku di tempatnya, matanya melebar melihat penampilan Seruni. Begitu pula dengan Jenderal Adrian yang mengangguk bangga

Berbeda dengan reaksi semua orang, Cornelia dan Amara justru menegang di kursi. Wajah mereka memucat, jelas tak menyangka Seruni bisa tampil sedemikian lancar dan percaya diri.

1
Elisabet Sembiring
seharusnya tulis juga kata sambutan dalam bahasa Belanda. walau saya tak mengerti.🤭🤭
Elisabet Sembiring
menghalu yang seru.
semangat berkarya, author
celi amanda
Luar biasa diselipi dgn boso Londo 😁
celi amanda
Background author medis ya?
Katrina
keren
Dysha♡💕
sangat bagus ceritanya
Khoerun Nisa
pdhl aku brharap melihat nasib trahirnya sng temn dn mntan yg menghianatinya
Khoerun Nisa
apa kabar sahabat SM mntan nya yg mnhianatinya tor kaclep menghilang
Khoerun Nisa
knp di buat meninggal tor kasian SM ank2nya
ana kurniaaa
kurang ibu tiriny thor harusny di ceraikan lh ini malah sedih wkwk anak tiri diratukan anak kandung ditirikan sinting bapakny bukanny marah anakny dikhianati sm suami sm adik tiriny malah bimbang baru kli ini gw baca ceritany bapakny baik tpi kurang tegas
Agustine
love it😍
Rahayu
ini terinspirasi dari short drama China pasti, cuma tempat latar belakang ceritanya lebih ke pribumi sama Belanda
Dara Fitriani
bagus banget ceritanya
YANI AHMAD
ah iya, betul itu 🤣🤣🤣
Himawari
suka
Anre1201
Terima kasih Author 🙏🙏
Ceritanya sangat bagus 👍👍
Ini Novel pertama yang paling aku suka alur ceritanya ❤️❤️ layak dapat ⭐⭐⭐⭐⭐
Anre1201
Good Novel ❤️
Cerita nya sangat bagus ❤️👍
fe
semangat thor
Anre1201
Ternyata hukuman saat Belanda berkuasa di Nusantara lebih keras dari pada saat Indonesia sekarang ini 🤔🙄
imoe nawar
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!