NovelToon NovelToon
Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Riichann

Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harapan Terwujud

Maerin berkata, "Saya tak menyesali pilihan yang telah saya ambil. Saya tak menyalahkan anda sama sekali. Hanya saja saya tak ingat lagi bagaimana cara mengekspresikan rasa bahagia. Ini bukan salah anda, jadi jangan menyalahkan diri anda. Anda adalah seorang raja dari sebuah kerajaan. Tanggung jawab sangat besar berada di pundak anda. Oleh sebab itu, saya tak ingin menambah beban yang anda pikul itu."

"Kau tak membebaniku sama sekali, jadi bisakah kau untuk kembali terbuka lagi padaku seperti dulu? Aku sangat-sangat merindukanmu. Bukan berarti aku tak menyukai versimu sekarang. Aku menyukai semua versimu. Hanya saja versimu sekarang ini sangat-sangat membuatku sedih ketika memikirkannya. Senyum yang selalu menghiasi wajahmu kini perlahan memudar." Ucap Theo.

Tangis Maerin pecah seketika mendengar ucapan Theo. Theo memeluknya erat sambil menenangkannya.

"Saya hanya ingin menjalani kehidupan biasa saja, bukan kehidupan penuh tekanan serta ketakutan seperti sekarang ini." Ucap Maerin saat dipelukan Theo.

"Jika itu kan bisa membuatmu bahagia, aku bisa melepaskan ini semua. Apapun akan kulakukan demi kebahagiaanmu." Kata Theo.

"Bagaimana mungkin anda mengatakan itu." Jawab Maerin.

"Sylvaine telah melahirkan seorang anak, kelak anak itu lah yang akan menjadi penerusku. Jadi jika aku turun tahta nanti atau sekarang hasilnya sama saja. Sylvaine jelas akan mengambil alih sementara kepemimpinan selagi menunggu bayinya tumbuh dewasa." Ucap Theo.

Maerin melepaskan diri dari pelukan Theo karena terkejut dengan apa yang diucapkannya. "Theo yang kukenal bukanlah seseorang yang tak bertanggung jawab seperti ini. Bagaimana bisa anda mengatakan hal tak bertanggung jawab seperti ini? Meskipun anda tak mencintai Ratu Sylvaine, setidaknya Pangeran Leopold adalah putra anda, darah daging anda. Bahkan sayapun menganggap Pangeran Leopold seperti putra saya sendiri. Saya sangat paham dan mengerti sebesar apa cinta anda itu pada saya. Tapi bukan begini cara, bukan tak bertanggung jawab seperti ini. Meskipun saya tak menyukai kehidupan di istana, namun bukan berarti saya ingin kabur atau melarikan diri. Saya sudah memilih ini, jadi saya harus bertanggung jawab dengan pilihan saya sampai akhir. Bukankah anda juga harus melakukan hal yang sama?" Kata Maerin.

Perkataan Maerin terasa sangat menampar dengan keras Theo. Ia tak bisa membantah ucapan Maerin, semua ucapannya benar. Dia hanya ingin memilih jalan pintas tanpa memikirkan resiko yang dipilihnya itu. Persis seperti terakhir kali ia memutuskan meninggalkan istana beberapa tahun lalu. Hampir saja ia melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Theo benar-benar introspeksi diri. Dalam hatinya bertekad kuat untuk tak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Ucapan Maerin sekaligus memberinya motivasi.

"Terima kasih, kau benar. Aku harus bertanggung jawab dengan pilihan yang kuambil sampai akhir." Kata Theo.

"Lagipula semenjak Pangeran Leopold lahir, saya sedikit merasakan kebahagiaan. Saya menantikan untuk menyaksikan tumbuh kembang beliau hingga dewasa." Ucap Maerin.

"Kau pun bisa bermain dan menghabiskan waktu dengannya. Lagipula putraku adalah putramu juga." Jawab Theo.

"Saya tak bisa melakukan itu, saya tak ingin membuat Ratu Sylvaine tak nyaman. Meskipun beliau mengijinkannya, tetap saja di dalam lubuk hatinya, beliau tetap merasakan tak nyaman. Saya cukup senang jika hanya bisa melihatnya dari kejauhan." Kata Maerin.

"Aku tak ingin memberikan harapan palsu, hanya saja aku akan tetap berusaha sekuat tenaga agar kita bisa memiliki anak kita sendiri." Ucap Theo.

"Saya juga menginginkan hal yang sama, namun sudah jelas yang memiliki masalah adalah saya. Mungkin kecil peluang saya untuk bisa kembali hamil." Maerin terlihat sedih mengatakan ini.

"Jangan menyalahkan dirimu seperti ini, harapan selalu ada. Jadi jangan pernah untuk sekalipun berhenti berharap. Aku meyakini suatu saat harapan ini pasti terwujud meskipun cepat atau membutuhkan waktu lama." Theo mengecup kening Maerin.

***

Theo bertanggung jawab sebagai ayah, ia mencurahkan cinta dan perhatian pada Leopold. Sylvaine pun melakukan hal yang sama untuk putranya itu. Sementara Maerin cukup puas dan senang hanya mengamati Leopold dari kejauhan, ia tak berani mendekati Leopold.

***

Tahun berganti tahun, Leopold tumbuh dengan limpahan cinta dari semua orang. Di sisi lain kesehatan Maerin semakin menurun, ia semakin mudah kelelahan dan lebih sering terbaring di atas ranjangnya. Dokter mengatakan tak ada yang salah pada tubuh Maerin. Theo pun mengusahakan segala cara untuk membuat Maerin kembali sehat. Ia tak pernah berhenti berusaha. Segala obat telah dikonsumsi Maerin. Maerin sendiri merasa pasrah dengan kondisinya.

***

Beberapa tahun berlalu, Leopold telah berusia tujuh tahun. Ia mulai mengikuti banyak kelas dan membuatnya hampir tak memiliki waktu untuk bermain. Sylvaine cukup keras dalam mendidik putranya itu. Melihat putra yang tak memiliki banyak kebebasan seperti anak-anak lain yang seusianya itu, Theo menambahkan jadwal selama satu atau dua jam pada putranya untuk bertemu dengannya. Theo melakukan itu bertujuan agar putranya bisa beristirahat dengan bebas di sela-sela padatnya jadwal Leopold.

"Salam, Baginda Raja. Saya datang untuk menghadap Baginda." Ucap Leopold dengan sopan saat mendatangi ruang kerja Theo.

"Kemarilah putraku." Theo membuka kedua tangannya.

Leopold berlari dan memeluk ayahnya, "Saya merindukan ayah. Bagaimana tadi salam saya?"

"Putra ayah mempraktekkan pelajaran etika dengan sangat sempurna. Ayah sempat terkejut dan bertanya-tanya 'Pangeran darimana tadi yang menyapaku dengan sangat beretika' ternyata putra ayah." Theo memuji Leopold.

"Hanya bersama ayah, Leo bisa merasa bebas. Saat bersama ibu, Leo tak bisa merasa bebas." Gerutu Leopold.

"Ibumu juga sangat menyayangimu, Leo. Hanya saja cara menunjukkan rasa sayangnya berbeda dengan cara ayah." Theo menjelaskan.

"Leo tahu kok." Ucap Theo.

Tiba-tiba Silas mengetuk pintu. Tok..tok..tokkk "Mohon ijin Baginda..."

Sebelum Silas selesai bicara, Theo memotongnya, "Langsung masuk saja, Silas."

"Nona Maerin tiba-tiba pingsan, dan dokter sekarang telah merawatnya." Ucap Silas.

Theo dengan segera menurunkan Leopold dari pangkuannya, "Leo, maafkan ayah. Apa kau bisa bermain sendirian untuk hari ini saja tanpa ayah? Atau kau ingin kembali ke kediamanmu saja untuk beristirahat?"

"Leo di sini saja, ayah." Jawab Leopold.

"Baiklah, ayah pergi dulu ya." Ucap Theo.

Melihat eskpresi khawatir dan gelisah ayahnya itu, diam-diam Leopold membuntuti ayahnya karena penasaran.

"Maerin? Sepertinya ibu tak pernah menceritakan tentangnya. Siapa dia?" Gumam Leopold.

Leopold mengikuti ayahnya hingga sampai di kediaman Maerin, "Istana siapa ini? Apa tempat tinggal 'Maerin' itu?" Gumamnya.

Saat pengawal dan pelayan melihat Leopold, mereka memberi salam tanpa bertanya apa-apa.

"Pengawal dan pelayan mengenalku, baguslah jadi aku tak perlu menyelinap." Gumam Leopold.

Saat melihat Theo memasuki sebuah kamar, Leopold bergegas mendekati pintu untuk mengintipnya. Ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya itu.

***

"Dokter bagaimana kondisi Maerin?" Tanya Theo dengan khawatir.

"Untuk sekarang beliau sudah baik-baik saja, dan sebenarnya saya juga ingin menyampaikan sesuatu terkait ini." Jawab dokter istana.

"Apa itu?" Theo gelisah.

"Nona Maerin hamil." Jawab dokter.

"Apa? Dokter yakin?" Theo Theo.

"Saya sudah memastikannya beberapa kali, dan benar nona Maerin hamil." Jawab dokter.

Theo langsung mencium Maerin yang terbaring dan berlinang air mata mendengar ucapan dokter.

"Kau dengar itu? Harapan kita terwujud. Akhirnya kau mengandung. Aku sangat mencintaimu, Maerin." Ucap Theo pada Maerin. Maerin hanya bisa menangis bahagia.

"Tapi dokter, apakah ini baik-baik saja untuk Maerin?" Tanya Theo pada dokter.

"Selama Nona Maerin berhati-hati dan tak banyak memikirkan hal-hal berat, kehamilan ini akan baik-baik saja." Ucap dokter.

"Tolong pantau terus kondisi Maerin, oh sebaiknya dokter tinggal di istana ini selama masa-masa kehamilan Maerin hingga bayi ini lahir." Kata Theo.

"Baik. Sesuai perintah anda, Baginda."

***

Leopold yang terkejut setelah mendengarkan pembicaraan mereka, berlari keluar menuju ruang kerja Sylvaine sambil menangis. Tanpa memedulikan etika, ia langsung masuk ruang kerja Sylvaine.

"Ibu...hiks..hiks" Ucap Leopold.

"Apa-apaan sikapmu itu, Leo!" Kata Sylvaine. "Jaga sikapmu, tak pantas seorang pangeran bersikap seperti itu."

"Ma..maafkan saya, ibu. hiks..hikss." Jawab Leopold sambil sesenggukkan.

"Katakan ada apa?" Tanya Sylvaine.

"Sa..saya melihat ayah..hiks.. sedang mencium dan sambil mengatakan cinta pada..hiks.. seorang wanita. Dan wanita itu sedang hamil...hiks. Ayah terlihat sangat bahagia. Wanita itu bernama Maerin, apa..hiks..apa ibu mengetahuinya?" Tanya Leopold.

Sylvaine sangat terkejut mendengar ucapan Leopold dan mengepalkan tangannya dengan erat.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!