Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 26
Tiba-tiba ponsel di saku jas Jay bergetar—getarannya pendek namun intens, seperti denyut ancaman. Ia segera mengangkatnya. Nama Drew terpampang di layar.
Drew masih berjaga di luar mansion utama bersama beberapa penembak jitu yang telah Jay siagakan sejak awal. Suaranya terdengar tegang.
“Tuan Jay, situasi di apartemen Anda tidak aman. Terjadi bentrokan. Banyak pengawal terlatih sudah mengepung gedung. Dan… salah satu dari mereka memakai lencana keluarga O’Connor.”
Jay terdiam sejenak.
Lencana itu bukan simbol biasa. Itu lambang komando langsung Jackman.
Artinya jelas—ini bukan kebetulan. Ini perintah.
Perintah untuk mengambil sesuatu.
Atau seseorang.
Jay perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya mengunci sang ayah—tatapan dingin yang tidak lagi menyimpan hormat, hanya bara kebencian yang selama ini ia tahan.
Lalu ia menoleh pada Helena… dan Zavier.
“Jika sesuatu terjadi pada Anna,” suara Jay rendah, namun setiap katanya seperti peluru yang ditembakkan perlahan, “aku pastikan kalian semua tidak akan melihat hari esok.”
Keheningan membeku di ruangan itu.
Zavier hampir tertawa, tapi ada sesuatu di mata Jay yang membuat tenggorokannya terasa kering. Itu bukan ancaman kosong. Itu janji.
“Kau… menantang Ayah?” ujar Zavier, mencoba memancing, meski nadanya sedikit bergetar.
Ia dan Helena tahu betul apa yang sedang terjadi. Utusan yang menyamar sebagai suruhan Jackman telah sampai di apartemen—untuk menculik Anna. Gadis yang selama ini Jay sembunyikan rapat-rapat dari keluarga.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” sindir Zavier lagi. “Apa kau benar-benar putus asa? Sudah kubilang, cinta itu kelemahan. Tapi kau tetap memilih bermain dengan perasaan.”
Dalam satu langkah cepat, Jay maju dan mencengkeram kerah kemeja Zavier hingga tubuh pria itu tersentak ke depan.
“Jika sesuatu terjadi pada Anna,” geram Jay, napasnya panas membakar, “kalian semua akan mati di tanganku.”
“Ada apa ini?!” bentak Jackman. “Beraninya kau menantang ayahmu sendiri! Orang yang membesarkanmu! Mendidikmu sampai berada di posisi ini!”
“Mendidik?” Jay tertawa tanpa humor. “Atau menjadikanku anjing penjaga kerajaanmu?”
Ia mendorong Zavier hingga hampir terjatuh.
“Kalau begitu berikan saja seluruh kekuasaan itu pada anak pengecutmu ini. Aku tidak membutuhkannya.”
Mata Jackman membelalak penuh murka. Dalam satu gerakan cepat, ia meraih gelas kristal di meja dan melemparkannya.
Bug!
Pyarr!
Gelas itu menghantam pelipis Jay dan pecah. Pecahannya berhamburan di lantai marmer. Garis darah mengalir tipis dari pelipisnya, kontras dengan tatapan matanya yang semakin gelap.
Zavier nyaris tersenyum puas.
Umpan telah dimakan.
Perangkap telah tertutup.
“Saat kau berani menantang ayahmu sendiri,” suara Jackman berubah dingin dan mematikan, “jangan harap kau bisa keluar dari mansion ini. Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi hidup-hidup?”
Jackman melangkah maju.
“Mansion ini dipenuhi pengawalku. Mereka siap menembakmu kapan saja. Meski kau anakku, jangan kira aku tak akan mampu melakukannya.”
Jay menyeka darah di pelipisnya dengan ibu jari, lalu tersenyum tipis.
“Aku juga membawa banyak pengawal kemari,” ucapnya tenang. “Para penembak jitu sudah membidik ke arah mansion ini sejak tadi.”
Wajah Jackman, Helena, dan Zavier berubah.
Detik berikutnya, beberapa pengawal yang berjaga di dalam ruangan mendadak membeku. Titik-titik merah kecil muncul di dada, di kepala, di pelipis mereka.
Laser bidikan.
Satu gerakan salah— dan malam ini akan berubah menjadi pembantaian.
Titik-titik merah itu bergetar tipis di dada para pengawal.
Satu detik.
Dua detik.
Tanpa menunggu para pengawal Jackman bergerak lebih dulu, Jay sudah mengambil keputusan sejak ia melangkahkan kaki ke mansion malam ini.
Ia datang bukan untuk berdamai.
Ia datang untuk memutus rantai.
Sejak awal, rencana itu sudah matang di kepalanya. Sniper ditempatkan. Jalur keluar dipetakan. Titik ledakan dihitung. Jay tahu, begitu peluru pertama ditembakkan, tidak akan ada jalan kembali.
Dan ia menerimanya.
Jay sudah mantap melepaskan diri dari kungkungan Jackman—dari bayang-bayang ayah yang selama ini mengikatnya dengan nama keluarga, kekuasaan, dan darah.
Meski artinya satu hal:
Perburuan.
Mulai malam ini, ia bukan lagi putra pewaris. Ia akan menjadi target. Diburu oleh jaringan intelijen, tentara bayaran, dan para pembunuh bayangan yang setia pada Jackman.
Meski ke depan hidupnya akan jauh lebih sulit—
Karena ia memilih bermusuhan dengan ayahnya sendiri.
Seorang pria yang kekuasaannya menjalar ke setengah dunia. Yang namanya cukup untuk membuat pemerintah menunduk dan pasar saham bergetar. Yang sekali memberi perintah, negara-negara kecil bisa runtuh tanpa perlu perang terbuka.
Namun bagi Jay…
Lebih baik hidup sebagai buronan dengan kehendak bebas—
Daripada menjadi anjing terlatih di dalam sangkar emas.
Suara tembakan kembali menggema di halaman. Jay mengangkat senjatanya, tatapannya dingin dan pasti.
“Malam ini,” gumamnya lirih, “aku bukan lagi putramu.”
Jay mengambil pistolnya yang ia sembunyikan di belakang pinggangnya, para penjaga luput tidak memeriksa Jay lebih dulu saat masuk ke dalam mansion, ia pun menodong kannya ke arah jackman, ia mulai menarik pelatuk.
Dan perang keluarga itu resmi dimulai.
Lalu—
Dor!
Pyar!
Tembakan pertama melesat dari jendela memecah keheningan.
Kaca jendela mansion utama meledak dari luar. Salah satu pengawal Jackman roboh sebelum sempat menarik pelatuk. Tubuhnya menghantam lantai marmer dengan bunyi berat. Darah kental langsung mengalir di lantai.
Dan dalam hitungan napas, neraka pun pecah.
Rentetan peluru bersahutan. Suara tembakan menggema, memantul di dinding tinggi mansion. Lampu gantung kristal bergoyang liar. Asap mesiu mulai memenuhi udara.
“Lindungi Tuan!” teriak salah satu pengawal Jackman.
Para pria bersenjata segera membentuk barikade di depan Jackman, Helena, dan Zavier. Sementara dari luar, sniper Jay mengeksekusi target satu per satu—cepat, presisi, tanpa ragu.
Jay tak lagi berdiri diam.
Ia meraih pistol yang tersembunyi di balik jasnya.
Dor! Dor!
“Ak!”
Dua pengawal yang mencoba mendekat tersungkur dengan tembakan tepat di bahu dan paha. Ia tidak membuang waktu untuk membunuh tanpa perlu—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, akan ia lumpuhkan.
“Aku harus pergi sekarang,” gumamnya pelan.
Anna.
Nama itu berdentum di kepalanya lebih keras daripada suara peluru.
Ia berbalik menuju pintu keluar aula utama, namun lima pengawal bersenjata lengkap sudah menghadangnya. Senjata otomatis mereka terangkat bersamaan.
“Maaf, Tuan Jay,” salah satu dari mereka berkata dingin. “Perintah langsung dari Tuan Jackman. Anda tidak boleh keluar.”
Jay menyeringai tipis, darah masih mengalir di pelipisnya.
“Kalau begitu,” ucapnya lirih, “jangan salahkan aku.”
Ia menjatuhkan tubuhnya ke samping tepat saat peluru dimuntahkan ke arahnya. Lantai marmer retak terkena tembakan. Jay berguling, membalas dengan tiga tembakan cepat.
Satu roboh.
Dua.
Tiga.
Yang tersisa mencoba mundur mencari perlindungan, tapi suara tembakan dari luar kembali terdengar. Kaca di sisi kanan aula pecah—sniper Jay menembak dari sudut berbeda.
Kekacauan total.
Di tengah baku tembak itu, Jay berlari menerobos lorong panjang mansion. Alarm darurat mulai meraung, lampu merah berkedip-kedip di sepanjang dinding.
Namun di ujung lorong—
Belasan pengawal tambahan sudah menunggunya.
Jackman tidak pernah setengah-setengah.
“Kalian benar-benar ingin mati demi dia?” tanya Jay dingin.
Tak ada jawaban. Hanya suara kokangan senjata.
Rentetan peluru kembali dilepaskan.
Jay bersembunyi di balik pilar besar, napasnya berat namun matanya tetap fokus. Ia menekan ear-piece kecil di telinganya.
“Drew.”
“Saya dengar, Tuan.”
“Siapkan mobil di gerbang timur. Ledakkan pengalihan di sisi barat. Sekarang.”
“Baik.”
Beberapa detik kemudian—
BOOM!
Ledakan besar mengguncang sisi barat mansion. Dinding bergetar. Beberapa pengawal teralihkan, refleks menoleh ke arah sumber suara.
Kesempatan itu cukup.
Jay melesat keluar dari perlindungan, menembak sambil bergerak. Ia menabrak salah satu pengawal hingga terjatuh, merebut senapan pria itu, lalu menghantamkan gagangnya ke wajah pengawal lain.
Lorong berubah menjadi medan perang.
Tubuh-tubuh bergelimpangan.
Darah mengalir di atas lantai mahal yang dulu menjadi simbol kejayaan keluarga.
Akhirnya, Jay menerobos pintu samping menuju halaman belakang mansion.
Udara malam menerpa wajahnya yang berlumur darah.
Namun perjuangan belum selesai.
Puluhan pengawal masih berjaga di halaman, lampu sorot menyilaukan menyapu tubuhnya. Senapan-senapan kembali terangkat.
Dari menara penjagaan, beberapa sniper Jackman mulai membidiknya.
Jay berdiri tegak di tengah halaman, senjata di tangan, napas memburu.
Jika ia terlambat—
Anna akan dibawa pergi.
Dan malam ini, bukan hanya mansion yang akan runtuh.
Tapi seluruh dinasti.
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....