NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Dari Dendam

Lahir Kembali Dari Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 17: Perjalanan Menuju Matahari Barat

Suasana di ibu kota masih bergejolak setelah penangkapan dramatis Menteri Valois. Namun, bagi Elara Lane, kemenangan di Balai Sidang hanyalah permulaan dari badai yang lebih besar. Surat misterius yang ia temukan di bawah kursi Valois terus menghantui pikirannya. “Fokuslah pada Sang Kaisar yang asli di Barat.” Kalimat itu bukan sekadar gertakan; itu adalah pengakuan bahwa selama ini mereka hanya memotong dahan, sementara akar pohon beracun itu tertanam jauh di wilayah Barat yang liar.

Wilayah Barat dikenal sebagai tanah yang tidak tersentuh oleh hukum kekaisaran sepenuhnya. Di sana, kadipaten-kadipaten kecil berkuasa dengan tradisi kuno, dan pegunungan granit yang menjulang tinggi menjadi benteng alami bagi siapa pun yang ingin bersembunyi.

"Kita tidak bisa menunggu titah resmi dari kaisar untuk bergerak ke Barat," ucap Alaric saat mereka berada di dalam kereta kuda rahasia menuju kediaman Ravenhurst. "Valois akan tutup mulut, tapi jaringan intelijennya akan segera menghapus semua jejak di ibu kota. Kita harus memburu pemimpin mereka sebelum mereka sempat menata ulang barisan."

Elara menatap ke luar jendela, melihat bayangan pohon-pohon yang melesat cepat. "Alaric, di kehidupan sebelumnya, aku ingat ada desas-desus tentang 'Pangeran yang Hilang' dari wilayah Barat. Seseorang yang seharusnya menjadi pewaris takhta sebelum kaisar saat ini naik. Apakah menurutmu dia adalah pemimpin Solis Invicta?"

Alaric terdiam sejenak, rahangnya mengeras. "Grand Duke Valerius von Solis. Dia adalah paman Kaisar yang dinyatakan tewas dalam kebakaran hebat dua puluh tahun lalu. Jika dia masih hidup, dia memiliki klaim darah yang lebih kuat atas takhta ini daripada siapa pun. Dan dia memiliki alasan untuk membenci garis keturunan kaisar saat ini."

Persiapan di Perbatasan

Setelah menempuh perjalanan dua hari yang melelahkan, mereka sampai di Benteng Iron-Hold, pintu gerbang menuju wilayah Barat sekaligus markas utama pasukan elit Ravenhurst. Udara di sini jauh lebih tajam dan dingin dibandingkan ibu kota. Aroma salju abadi dan minyak senjata memenuhi setiap sudut benteng.

Elara turun dari kereta dan langsung disambut oleh tatapan hormat dari para ksatria. Mereka sudah mendengar tentang keberanian putri Marquess Lane yang menjatuhkan menteri korup di istana. Bagi para prajurit ini, Elara bukan lagi sekadar calon istri Grand Duke, melainkan seorang pemimpin yang patut diperhitungkan.

"Nona Elara, Tuan Besar," Kael menyambut mereka dengan wajah serius. "Tim pengintai kami di perbatasan melaporkan adanya aktivitas yang tidak biasa di Lembah Obsidian. Cahaya emas sering terlihat menyala di puncak gunung saat malam hari, dan beberapa penduduk desa menghilang."

"Lembah Obsidian..." Elara bergumam. Ia teringat akan sebuah peta kuno yang pernah ia lihat di perpustakaan ayahnya. "Itu adalah lokasi kuil matahari kuno. Jika Valerius benar-benar di sana, dia sedang mencoba mengaktifkan kembali sihir pemanggilan yang telah dilarang selama berabad-abad."

Malam itu, di ruang strategi benteng, Elara dan Alaric merencanakan penyerbuan. Elara tidak ingin hanya duduk diam di balik tembok benteng. Ia mengenakan zirah perak ringan yang dibuat khusus untuknya, dengan jubah biru tua yang melambangkan kehormatan keluarga Lane.

"Kau akan tetap bersamaku, Elara," Alaric menegaskan sambil memasangkan pelindung lengan pada Elara. "Aku tidak akan membiarkanmu berada di luar jangkauan pandanganku. Wilayah Barat bukan hanya tentang pedang, tapi juga tentang ilusi dan sihir hitam."

"Aku tahu, Alaric. Aku sudah membawa cukup banyak bubuk pemurni dan ramuan penangkal ilusi," Elara tersenyum tipis, mencoba menenangkan kekhawatiran pria itu. "Lagipula, aku memiliki 'Penjaga' bersamaku." Ia melirik ke arah sepuluh ksatria perunggu yang ia bawa dari pelabuhan, yang kini berdiri membeku seperti patung di halaman benteng, menunggu perintah darah Lane.

Memasuki Lembah Obsidian

Keesokan fajar, pasukan kecil yang terdiri dari Alaric, Elara, Kael, dan lima puluh ksatria bayangan bergerak memasuki Lembah Obsidian. Lembah itu dikelilingi oleh dinding batu hitam yang menjulang tinggi, membuat cahaya matahari sulit menembus hingga ke dasar lembah. Suasana terasa sangat mencekam; tidak ada suara binatang, hanya angin yang melolong di antara celah-celah batu.

Saat mereka masuk lebih dalam, kabut berwarna emas mulai merayap di permukaan tanah.

"Jangan hirup kabut itu!" teriak Elara sambil segera menyebarkan bubuk penawar ke udara. "Itu adalah debu emas alkimia. Jika terhirup, kalian akan mengalami halusinasi tentang ketakutan terdalam kalian!"

Alaric segera menarik penutup wajahnya. "Formasi rapat! Jangan biarkan siapa pun terpisah!"

Tiba-tiba, suara tawa yang bergema keluar dari dinding-dinding lembah. Suara itu bukan milik Julian atau Valois. Itu adalah suara yang berat, berwibawa, dan penuh dengan aura kegelapan.

"Jadi, inilah pasangan yang telah menghancurkan pion-pionku?" suara itu bergema. "Alaric von Ravenhurst, keturunan dari pengkhianat yang mencuri takhtaku. Dan Elara Lane, kunci yang seharusnya sudah lama berada di tanganku."

Sesosok pria muncul dari balik kabut di puncak bukit batu. Ia mengenakan jubah emas yang berkilau, dengan mahkota dari tulang yang menghiasi kepalanya. Wajahnya tampak awet muda, namun matanya adalah lubang hitam tanpa cahaya.

Valerius von Solis. Sang Kaisar Barat.

"Kau telah mengambil banyak hal dariku, Valerius," Alaric menghunus Duskbringer, pedang hitamnya kini mengeluarkan aura yang sangat kuat, bereaksi terhadap kehadiran musuh bebuyutannya. "Termasuk nyawa ayahku."

"Ayahmu memilih pihak yang salah, Nak," Valerius tersenyum sinis. "Sama seperti Elara yang memilih untuk melawan takdirnya sendiri. Elara, kau pikir kau kembali dari kematian karena kehendak Tuhan? Tidak. Kaulah yang memanggil jiwamu sendiri melalui dendam, dan akulah yang memberikan jalan melalui celah sihir yang kubuat."

Elara tersentak. "Apa katamu?"

"Dendammu begitu besar di kehidupan lalu hingga ia menciptakan retakan di alam baka. Aku hanya perlu sedikit mendorong agar jiwamu kembali ke tubuh mudamu. Mengapa? Karena hanya jiwa yang sudah pernah melewati kematian yang bisa menyentuh 'Cawan Keabadian' tanpa terbakar menjadi abu. Aku butuh kau untuk mengambilkan cawan itu untukku."

Pernyataan itu membuat Elara merasa seolah seluruh dunianya runtuh. Jadi, keberadaannya di sini, kesempatan keduanya, semuanya telah diperhitungkan oleh pria ini?

"Jangan dengarkan dia, Elara!" seru Alaric. "Dia hanya mencoba mematahkan semangatmu!"

"Aku tidak peduli siapa yang membawaku kembali!" Elara berteriak balik, matanya memancarkan api tekad yang lebih panas dari sebelumnya. "Jika kau yang membawaku kembali, maka itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu. Karena aku kembali bukan untuk menjadi kuncimu, tapi untuk menjadi algojomu!"

Pertempuran di Puncak Lembah

Valerius melambaikan tangannya, dan dari dalam tanah Obsidian, muncul ribuan prajurit kerangka yang dilapisi emas. Ini adalah pasukan Aurum Dead, prajurit yang tidak bisa mati kecuali inti emas di dada mereka dihancurkan.

"Serang!" Alaric memimpin penyerbuan.

Pertempuran pecah dengan sangat dahsyat. Alaric bergerak seperti badai kematian, pedangnya membelah zirah emas dan menghancurkan inti energi prajurit kerangka. Kael dan ksatria bayangan lainnya bertarung dengan gigih, namun jumlah musuh seolah tak terbatas.

Elara menggunakan relik Lane-nya untuk memperkuat para Ksatria Perunggu. Sepuluh ksatria kuno itu menjadi ujung tombak yang tak tertembus, menghancurkan barisan musuh dengan kekuatan fisik yang luar biasa. Di tengah kekacauan, Elara melihat Valerius mulai merapalkan mantra besar di puncak bukit. Langit di atas lembah mulai berputar, membentuk pusaran energi emas yang mengerikan.

"Dia mencoba memanggil Cawan itu dari dimensi lain!" Elara menyadari. "Alaric, kita harus menghentikannya sekarang atau seluruh wilayah Barat akan lenyap dalam ledakan energi!"

Alaric menatap Elara, lalu ke arah Valerius. "Kael! Jaga Nona Elara! Aku akan naik ke sana!"

"Tidak, Alaric! Kita harus naik bersama!" Elara berlari mengejar Alaric.

Mereka berdua mendaki dinding batu yang curam di bawah hujan panah emas. Setiap langkah adalah perjuangan melawan tekanan sihir yang semakin berat. Saat mereka mencapai puncak, Valerius sudah berdiri di depan altar batu yang mengeluarkan cahaya menyilaukan.

"Terlambat!" Valerius berteriak. "Cawan itu sudah merasakan kehadiranmu, Elara! Darahmu... jiwamu yang bangkit dari maut... berikan padaku!"

Valerius melepaskan gelombang energi hitam ke arah Elara. Alaric melompat di depan Elara, menggunakan Duskbringer untuk menahan serangan itu. Namun, kekuatan Valerius terlalu besar. Alaric terlempar ke tepi jurang, pedangnya terlepas dari genggamannya.

"Alaric!" Elara berteriak.

Valerius mendekati Elara, tangannya yang bercahaya emas menjangkau leher Elara. "Sekarang, berikan jiwamu padaku, dan aku akan menjadikanmu ratu di dunia yang baru."

Elara menatap Valerius dengan senyum tipis yang mematikan. "Kau lupa satu hal, Valerius. Aku adalah seorang Lane. Dan keluarga Lane tidak pernah memberikan apa pun secara gratis."

Elara tidak menghindar. Sebaliknya, ia membiarkan tangan Valerius menyentuh lehernya. Namun, di saat yang sama, Elara menusukkan belati obsidian-nya yang telah dilumuri dengan darahnya sendiri dan bubuk penawar tingkat tinggi langsung ke inti emas di dada Valerius.

Ledakan energi putih murni keluar dari titik tusukan tersebut. Darah Elara, yang telah melewati kematian dan kebangkitan, bertindak sebagai racun bagi sihir hitam Valerius yang mencoba mengendalikan kehidupan.

"TIDAK! INI TIDAK MUNGKIN!" Valerius menjerit saat tubuh emasnya mulai retak dan hancur.

Seluruh Lembah Obsidian bergetar hebat. Pusaran energi di langit meledak, namun bukannya menghancurkan lembah, energi itu terserap kembali ke dalam belati Elara. Valerius von Solis lenyap, berubah menjadi debu hitam yang tertiup angin.

Sisa-Sisa Badai

Keheningan kembali menyelimuti Lembah Obsidian. Prajurit-prajurit kerangka emas itu jatuh berantakan ke tanah saat tuan mereka musnah. Alaric merangkak naik dari tepi jurang, napasnya tersengal, dan segera menghampiri Elara yang terduduk lemas di depan altar.

Elara menatap tangannya yang memegang belati. Belati itu kini bersinar dengan cahaya perak yang lembut—sisa energi dari Cawan yang sempat terpanggil.

"Sudah berakhir?" tanya Alaric sambil memeluk Elara erat.

"Pemimpin mereka sudah tiada," jawab Elara pelan. "Tapi rahasia tentang kebangkitanku... itu masih menjadi misteri. Apakah aku benar-benar kembali karena dia, atau karena sesuatu yang lain?"

Alaric mencium kening Elara. "Tidak peduli siapa yang membawamu kembali, Elara. Yang penting adalah apa yang kau lakukan dengan kesempatan ini. Dan hari ini, kau telah menyelamatkan kekaisaran."

Namun, di antara debu hitam sisa tubuh Valerius, Elara melihat sebuah cincin perak kecil yang tidak hancur. Ia memungutnya dan melihat ukiran di dalamnya: "Matahari akan selalu terbit, selama ada kegelapan untuk dilawan."

Elara menyadari bahwa Solis Invicta mungkin hanyalah satu dari banyak faksi yang menginginkan kekuatan kuno keluarganya. Perjalanan panjang mereka di wilayah Barat baru saja dimulai, dan masih banyak rahasia yang terkubur di bawah pegunungan granit itu.

1
Tamyst G
Semangattt
Kustri
pemuda cantik?
qu membayangkan opa"😂
Kustri
alaric jg terlahir kembali
Kustri
tulisan'a rapi, enak dibaca
lanjuuut
Tamyst G: Terimakasih atas supportnya kak
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔
Tamyst G: ini konsep alternate timeline, jadi 2024 versi dunia yang berbeda🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!