Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tantangan Baru
Kehidupan yang tenang sering kali diuji oleh rasa iba yang salah tempat. Setelah bertahun-tahun hidup dalam keterpurukan, Bayu akhirnya mulai menunjukkan taringnya kembali. Dengan pinjaman modal dariku, ia berhasil membangun bisnis katering yang cukup sukses. Sari pun turut membantu dengan gigih. Aku bangga melihat kakakku bangkit, namun aku tidak menyangka bahwa kesuksesan itu akan membangkitkan sisi "pemaaf" dalam dirinya yang justru membahayakan kedamaian rumah kami.
Suatu sore, sebuah mobil berhenti di depan pagar. Bayu turun, namun ia tidak sendirian. Ia memapah seorang pria tua yang tampak kumal dan sakit-sakitan. Pria itu adalah Paman kedua adik dari Paman tertua yang dulu juga ikut mengom pori pengusiran kami dan paling rajin menyindir kemiskinan Ayah.
"May, lihat siapa yang Abang temukan di terminal," ujar Bayu dengan wajah penuh belas kasihan saat aku keluar ke teras. "Paman diusir oleh anak-anaknya sendiri. Dia terlunta-lunta, May. Abang nggak tega."
Darahku seolah berhenti mengalir. Trauma masa kecilku bukan hanya soal pengusiran fisik, tapi juga tentang lidah tajam pria ini yang dulu menyebutku "anak pembawa sial" karena orang tuaku jatuh miskin. Kini, melihatnya berdiri di depan pintu rumah yang kubangun dengan tetesan keringat, aku merasa rumah ini sedang dicemari.
"Bawa dia keluar dari sini, Bang," kataku dengan suara dingin yang menusuk.
Bayu tertegun. "May, dia ini sudah tua. Dia sakit. Apa salahnya kita beri tumpangan beberapa hari? Kita kan sudah sukses, sudah punya rumah besar. Mana rasa kemanusiaanmu?".
"Kemanusiaan?" aku melangkah maju, menatap Paman yang hanya bisa menunduk malu namun masih membawa aroma keserakahan masa lalu. "Di mana kemanusiaannya saat dia menertawakan Ayah yang sedang sakit keras? Di mana rasa saudaranya saat dia menolak memberikan pinjaman lima ribu perak saja untuk ongkos kita ke kota dulu?"
"Itu masa lalu, May!" seru Bayu. "Jangan jadi orang pendendam. Ingat, rumah ini lunas karena berkat Tuhan. Jangan sampai Tuhan mencabutnya karena kamu sombong!"
Kalimat Bayu seperti tamparan. Ia menggunakan agama dan moralitas untuk memojokkanku, padahal akulah yang melunasi seluruh cicilan di atas tanah ini. Mas Aris keluar dari rumah, mencoba menengahi. Namun kali ini, aku tidak ingin berkompromi. Bagiku, pemaafan tidak berarti harus berbagi ruang dengan pengkhianat.
"Bang Bayu," kataku sambil menunjuk ke arah jalanan. "Kalau Abang merasa kasihan, silakan sewakan dia kontrakan dengan uang Abang. Bayar pengobatannya dari hasil bisnismu. Tapi jangan pernah bawa dia melampaui pagar rumah ini. Rumah ini adalah tempat suci yang kubayar dengan harga diri. Tidak ada tempat bagi orang yang pernah menginjak-injak harga diri kita di sini."
Suasana menjadi sangat tegang. Sari mencoba bicara namun aku membungkamnya dengan tatapan tajam. Paman tua itu gemetar, mungkin sadar bahwa gadis kecil yang dulu ia hina kini telah menjadi singa yang menjaga istananya.
Bayu akhirnya mengalah dengan wajah merah padam. Ia membawa Paman itu pergi, entah ke mana. Namun, konflik ini meninggalkan keretakan baru antara aku dan kakakku. Bayu menganggapku keras hati, sementara aku menganggapnya pelupa. Ia lupa bahwa pemaafan tanpa batas hanya akan mengundang parasit baru untuk datang.
Malam itu, aku duduk sendirian di taman belakang. Aku merenung, apakah aku memang sudah berubah menjadi orang yang sombong? Namun, setiap kali aku mengingat perihnya kuku-kukuku saat mengupas bawang demi bertahan hidup, aku tahu jawabannya. Aku tidak sombong aku hanya sedang menjaga batasan. Cicilan rumah ini sudah lunas, dan aku berhak menentukan siapa yang layak menghirup udara di dalamnya.
Kerennnn