NovelToon NovelToon
Jodoh Sang Letnan

Jodoh Sang Letnan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:35k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022

Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.

Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.

Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?

Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Sayap Yang Sama Patah

     ​Sore itu, langit Bandung seolah ikut merasakan kegalauan yang menyelimuti hati Syafina. Awan kelabu menggantung rendah, menciptakan suasana temaram yang membuat siapa pun ingin segera pulang dan bergelung di balik selimut.

     Namun, sore itu Syafina terlihat sedang bicara serius pada Dalfas.

​"Pokoknya kamu ikut, Alf! Jangan banyak tanya!" tegas Syafina sambil menarik tangan Dalfas menuju motor sport hitam milik adiknya itu.

     ​Dalfas mengernyit, tangannya masih memegang helm. "Siap, sesuai perintah Papa," ucapnya semangat.

     ​Mau tidak mau, Dalfas menurut. Ia paham betul perintah Dallas, papa mereka yang sangat protektif. Selama Dalfas belum berangkat ke Magelang untuk pendaftaran Akmil, tugas utamanya adalah menjaga Syafina.

     Dallas tidak ingin anak gadisnya yang lembut dan baru lulus mondok itu salah pergaulan atau didekati pria yang tidak jelas asal-usulnya.

     ​Motor pun melaju, membelah kemacetan sore yang riuh. Sepanjang jalan, jantung Syafina berpacu lebih kencang dari putaran mesin motor Dalfas. Ada rasa senang, takut, dan cemas yang bercampur menjadi satu. Ini adalah kali pertama ia akan "janjian" bertemu dengan seorang pria secara khusus.

     ​Sesampainya di kedai bakso yang dijanjikan, Dalfas memarkirkan motornya dengan rapi. Syafina turun, merapikan sedikit hijab hijau sagenya yang terkena angin jalanan.

    ​"Alf, kamu tunggu di parkiran saja, ya? Sebentar kok," pinta Syafina dengan nada memohon.

     ​Dalfas langsung menggeleng tegas. Sorot matanya berubah serius, persis seperti tatapan Dallas saat sedang menjalankan tugas militer. "Tidak bisa. Aku harus temani Kak Fina sesuai janji aku pada Papa. Memangnya Kakak mau ketemu siapa?"

     ​Syafina menggigit bibir bawahnya. Ia tahu tidak bisa berbohong pada kembarannya. Mereka memiliki ikatan batin yang kuat. Akhirnya, dengan helaan napas berat, ia memutuskan untuk jujur meski tidak sepenuhnya.

     ​"Aku janjian sama cowok yang tempo hari meminjamkan ponsel, Alf. Ingat kan, yang di pujasera?"

​Mata Dalfas membulat. "Kak Fina janjian sama cowok? Jadi benar dugaan aku semalam saat Kakak senyum-senyum lihat HP? Kak Fina nggak ingat peringatan Papa?"

     ​"Ingat Alf. Justru itu aku ajak, kamu," sahut Syafina cepat. "Aku punya hutang untuk bayar bakso tempo hari. Jangan curiga dulu, dan tolong, jangan lapor Papa kalau aku nemui cowok itu. Waktu itu dia maksa bayarin, tapi aku menganggapnya hutang. Jadi sore ini aku harus melunasi hutang itu."

     ​Dalfas terdiam sejenak. Ia melihat gurat kecemasan yang tulus di wajah kakaknya. Sebagai saudara kembar, ia tahu Syafina bukanlah tipe gadis yang suka bermain-main. Ia pun luluh. "Oke, aku temani. Tapi aku akan tetap di samping Kak Fina. Kalau dia macam-macam, dia harus berurusan denganku."

     ​Syafina mengangguk pasrah. Rencananya, ia akan mengenalkan Dalfas sebagai saudara kembarnya agar tidak ada salah paham. Ia pun melangkah masuk ke dalam kedai, diikuti Dalfas yang berjalan dengan dada tegap layaknya seorang pengawal pribadi yang posesif.

     ​Sementara itu, di sudut kedai yang agak tersembunyi, seorang pria dengan bahu tegap dan tatapan mata yang tajam sedang menatap ke arah pintu masuk. Dia Erlaga. Ia sudah berada di sana lima belas menit yang lalu.

Hatinya yang semula berdebar penuh harap, seketika terasa seperti dihantam gada besar saat melihat sosok yang sangat ia kenal masuk ke dalam kedai.

     ​Syafina datang. Namun, dia tidak datang sendiri.

     ​Di sampingnya, berjalan seorang pria muda bertubuh atletis dengan aura yang sangat protektif. Lagi-lagi pria yang sama yang Erlaga lihat membonceng Syafina di tukang martabak Mang Uhuy kemarin lusa. Pria yang membuat Erlaga merasa "patah" sebelum sempat berjuang.

     ​Erlaga mencengkeram pinggiran meja kayu kedai bakso itu hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sesak itu kembali menyerang. "Kenapa Syafina harus datang bersama pacarnya?" batinnya perih.

     ​Baginya, kehadiran pria muda itu adalah jawaban paling tegas atas segala pertanyaannya. Syafina tidak menganggap pertemuan mereka spesial. Syafina mungkin hanya ingin membayar hutang dan segera mengakhiri urusan di antara mereka dengan menghadirkan kekasihnya sebagai pembatas.

     ​Erlaga bangkit. Ia tidak sanggup duduk di sana dan melihat Syafina memperkenalkan pria itu sebagai kekasihnya. Sebagai seorang prajurit, ia lebih baik menghadapi peluru di medan perang daripada harus menelan kenyataan pahit ini di depan matanya sendiri.

     ​Dengan gerakan cepat, Erlaga berdiri. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah benda berbentuk segi empat sebesar kotak sabun batangan yang dibungkus kertas krep coklat sederhana.

     Kotak itu dibuka dengan gerakan cepat, lalu benda di dalam kotak itu ia ambil separuh. Entah benda apa dan apa tujuannya. Setelah itu, Erlaga kembali membungkus benda yang tertinggal di dalamnya rapi seperti tadi.

     Erlaga memasukkan kembali benda separuh yang tadi ia ambil dari kotak itu, ke dalam saku kemejanya. Lalu ia melangkahkan kakinya menghampiri seorang pelayan, kemudian memberikan kotak itu.

     ​"Mbak, tolong berikan ini pada gadis berbaju hijau sage yang baru masuk itu. Katakan padanya... orang yang menunggunya harus pergi mendadak," ucap Erlaga dengan suara rendah yang terdengar bergetar.

     ​"Baik, Mas," jawab pelayan itu bingung.

     ​Tanpa menoleh lagi, Erlaga melangkah keluar lewat pintu samping. Ia masuk ke dalam mobil navy-nya, menyalakan mesin dengan tangan yang sedikit gemetar. Air mata hampir saja jatuh, namun ia segera mengusapnya dengan kasar.

     ​"Syafina... kenapa kamu sekejam ini, Dik? Kenapa harus datang bersama dia?" gumamnya seraya memutar kemudi, meninggalkan parkiran dengan perasaan hancur yang tak terlukiskan.

     ​Syafina dan Dalfas masih celingukan di tengah kedai yang mulai ramai. Syafina berkali-kali memeriksa layar ponselnya, namun tidak ada pesan baru dari Erlaga.

     ​"Mana orangnya, Kak? Katanya janjian?" tanya Dalfas mulai tidak sabar.

     ​"Sebentar, Alf. Mungkin dia lagi di jalan," jawab Syafina, meski hatinya mulai dirayapi rasa cemas.

     ​Beberapa saat kemudian, seorang pelayan menghampiri mereka. "Mbak, maaf, ini ada titipan dari seseorang."

     ​Syafina menoleh cepat. "Iya.Titipan? Dari siapa, Mbak?"

     ​"Saya tidak tahu namanya, tapi dia sempat duduk di pojok sana. Katanya dia harus segera pergi karena urusan mendadak," ujar pelayan itu sambil menyodorkan kotak mungil dibalut kertas coklat.

     ​Syafina menerima benda itu dengan tangan gemetar. Kecewa seketika menyergap hatinya. "Orangnya sudah pergi, Mbak?"

     ​"Baru saja, Mbak. Tadi lewat pintu samping."

     ​Syafina segera berlari keluar menuju parkiran, mengabaikan Dalfas yang memanggilnya dengan bingung. Begitu sampai di depan jalan raya, ia melihat sebuah mobil berwarna navy baru saja bergerak keluar dan meluncur menjauh. Ia mengenali wajah pengemudinya melalui kaca mobil yang sedikit terbuka.

     ​"Kak Laga...." desisnya berat.

     ​Ada rasa perih yang menusuk ulu hatinya. Mengapa Erlaga pergi begitu saja? Mengapa ia tidak mau menunggunya meski hanya semenit? Syafina merasa dipermainkan. Ia sudah mengumpulkan keberanian, sudah membawa Dalfas agar tidak ada fitnah, tapi pria itu justru melarikan diri darinya.

     ​Dalfas menghampiri kakaknya, menatap wajah Syafina yang mendadak pias dan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kenapa, Kak? Siapa di dalam mobil itu? Lalu janjian bayar hutang baksonya nggak jadi?"

     ​Syafina tidak menjawab. Ia menunduk, menatap kotak di tangannya dengan perasaan campur aduk. Rasa sedih, marah, dan tidak berdaya menjadi satu. Ia merasa sangat bodoh karena telah menaruh harapan pada pria yang baru ditemuinya beberapa kali.

     ​"Dia bahkan nggak mau bicara sama aku, Alf. Dia cuma titip ini lewat pelayan," ujar Syafina dengan suara parau.

     Dalfas menatap Syafina yang terlihat sedih dan bengong. Dalfas ikut sedih, dan hal yang seperti inilah yang tidak diharapkan dirinya dan sang Papa. Untuk itu kenapa sang papa selalu melarang Syafina tidak boleh pacaran sebelum usianya benar-benar matang, dan mengutusnya menjadi pengawal pribadi Syafina.

Maafin Author ya, sebab dari kemarin bingung banget mau up bab lima. Sebab idenya mundur maju. Semoga kalian tidak merajuk. 🙏🙏

1
Esther
gak ada capeknya Laga....habis latihan langsung ngerjain istri😄
Lina Zascia Amandia: Lagi hangat2nya pengantin baru, heheh....
total 1 replies
Ayudya
lanjut kak
Ikaaa1605
Kiw kiw😅
Nice1808
romantis bnget🤣🤣lanjut thor
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
sabar shafina. erlaga juga kangen kamu
Kasandra Kasandra
lanjut
Nar Sih
sabarr ya fina,tiga hri gk lama kok ,pasti nanti stlh suami mu pulang puas,,in deh lepas rinduu
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
Patrick Khan
ahhhh apa q aja yg di tinggal suamik kerja luar kota malah seneng gk karuan🤣🤣🤣🤣
Patrick Khan: hahaha.. iya kak
total 4 replies
Nice1808
sabar fina cuma 3 hari ntar laga pulang rindu nya menggebu2😃😃😃
Ayudya
sabar Fina hanya 3 hari ntar kalau Uda pulang peluk yg erat jangan lepaskan🤣🤣🤣🤣🤣
Eva Tigan
persiapkan diri ..jiwa dan raga saja Syafina..ini Pak Kapten pulang pasti rindunya menggebu gebu,harus siap segera digempur entah sampai berapa Ronde..😄
Eva Tigan: yup benar.. kekuatan prajurit pasti ekstra kuat di darat ,laut dan udara ..bahkan di atas ranjang sekalipun 😄
total 2 replies
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
shafina, semangat tunjukkan prestasimu yaa
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semangat yaw😊
Nar Sih
sabarr fina ,jgn dgr kata ibu,,persit yg lain nya ,💪
Nar Sih
semagatt fina 💪jdi ibu persit 👍
Esther
dimana2 ya kalau yang senior itu selalu sok berkuasa.
Esther
Memakai seragam persit pertama kali....semangat Fina
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪 double up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!