Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE SPESIAL 1: Mahkota yang Ditanggalkan
Matahari pagi di Ibu Kota Aurora tidak lagi terasa membakar seperti saat perang berkecamuk. Cahayanya kini lembut, menyusup di antara tirai beludru kamar utama istana yang dibiarkan terbuka sedikit. Di dalam ruangan yang luas itu, tidak ada bunyi denting pedang atau laporan mendesak dari para jenderal. Yang ada hanyalah keheningan yang damai, hanya dipecahkan oleh suara napas teratur dari dua orang yang paling berkuasa di kekaisaran.
Elara Lane membuka matanya perlahan. Ia merasakan berat yang nyaman di pinggangnya. Lengan Alaric yang kekar melingkar di sana, memeluknya seolah-olah ia adalah harta paling berharga yang bisa hilang jika dilepaskan sedetik saja. Elara menatap langit-langit kamar yang diukir dengan motif bunga lili dan serigala, simbol persatuan keluarga mereka yang baru.
Ia merasa aneh. Selama bertahun-tahun, sejak ia terbangun kembali di kehidupan kedua ini, setiap pagi adalah perjuangan. Otaknya akan langsung bekerja memikirkan taktik, musuh yang harus dijatuhkan, atau racun yang harus dihindari. Namun pagi ini, pikirannya kosong. Hanya ada rasa hangat.
"Kau sudah bangun?" suara berat dan serak Alaric terdengar di dekat telinganya.
Elara tersenyum, berbalik dalam pelukan Alaric. Wajah sang Grand Duke tampak begitu berbeda saat tidur; garis-garis keras di dahinya menghilang, digantikan oleh ekspresi ketenangan yang hanya ditunjukkan pada Elara. Rambut hitamnya berantakan di atas bantal, dan matanya yang merah kini menatapnya dengan kelembutan yang bisa melelehkan es di Utara.
"Hanya memikirkan betapa sunyinya pagi ini, Alaric," bisik Elara, tangannya merayap menyentuh bekas luka di bahu Alaric. "Tidak ada pelayan yang menggedor pintu, tidak ada menteri yang berteriak tentang anggaran perang. Ini... terasa seperti mimpi."
Alaric menariknya lebih dekat, membenamkan wajahnya di leher Elara, menghirup aroma lavender yang selalu menjadi favoritnya. "Ini bukan mimpi, Elara. Ini adalah bayaran atas semua darah yang kita tumpahkan. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggunya hari ini."
Keputusan Sang Empress
Setelah beberapa saat yang panjang di bawah selimut, Elara akhirnya bangun. Namun, alih-alih mengenakan gaun Empress yang berat dengan korset yang menyiksa, ia memilih jubah sutra sederhana berwarna biru pucat. Ia berjalan menuju meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan dokumen.
Alaric, yang kini hanya mengenakan celana panjang hitam tanpa baju, berdiri di belakangnya. Ia melihat Elara mengambil sebuah stempel kerajaan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Alaric.
"Menanggalkan mahkotaku, untuk sementara," jawab Elara dengan nada tegas namun tenang. Ia menuliskan sebuah dekret pendek: Menyerahkan urusan harian administrasi kepada Dewan Menteri selama tiga puluh hari ke depan.
"Kau yakin?" Alaric mengangkat alisnya. "Para menteri itu bisa menjadi sangat liar jika tidak ada singa yang mengawasi mereka."
Elara berbalik, melingkarkan lengannya di leher Alaric. "Biarkan mereka. Jika mereka berani melakukan korupsi atau pengkhianatan, mereka tahu siapa yang akan kembali untuk memenggal kepala mereka. Tapi sekarang, aku bukan Empress-mu. Aku adalah Elara. Dan aku ingin melihat sisi dari Alaric yang tidak pernah kutemukan di medan perang."
Alaric tertegun, lalu sebuah senyum tipis—senyum yang benar-benar tulus—muncul di wajahnya. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita mulai dengan sesuatu yang sangat mendasar. Makan pagi. Tanpa pelayan."
Kekacauan di Dapur Istana
Dapur utama istana biasanya adalah tempat yang paling sibuk, tetapi atas perintah Alaric, semua koki dan pelayan diliburkan untuk beberapa jam. Suasana dapur yang luas dan megah itu kini sunyi, hanya ada deretan peralatan masak perak dan bahan-bahan segar yang tertata rapi.
Elara tertawa kecil melihat Alaric berdiri di depan kompor besar dengan ekspresi yang lebih serius daripada saat menghadapi pasukan Zandaria. Di tangannya ada sebuah celemek putih yang tampak terlalu kecil untuk tubuh raksasanya.
"Kau benar-benar ingin memasak, Alaric?" Elara menggoda sambil duduk di atas meja dapur, mengayunkan kakinya.
"Aku sering memasak saat berburu di hutan Utara," jawab Alaric penuh percaya diri. "Membuat sarapan untuk istriku seharusnya tidak lebih sulit daripada menguliti seekor rusa."
"Itu adalah perbandingan yang sangat romantis," sahut Elara sarkastik.
Kekacauan dimulai ketika Alaric mencoba memecahkan telur. Dengan kekuatannya yang luar biasa, telur pertama hancur total di tangannya, cangkangnya masuk ke dalam mangkuk. Ia menggeram pelan, mencoba lagi dengan telur kedua, namun kuning telurnya justru mendarat di atas celemeknya.
Elara meledak dalam tawa. Ia turun dari meja, berdiri di samping Alaric. "Kemarikan. Biar kutunjukkan. Kau harus melakukannya dengan perasaan, Alaric. Bukan dengan kemarahan."
Elara mengambil tangan Alaric, membimbingnya memegang telur dengan lembut. Dalam jarak sedekat itu, Alaric bisa mencium aroma rambut Elara. Ia tidak fokus pada telur itu, melainkan pada wajah Elara yang berseri-basi karena tawa. Baginya, melihat Elara tertawa seperti ini adalah kemenangan yang lebih besar daripada menaklukkan musuh mana pun.
"Lihat? Mudah, kan?" ucap Elara setelah telur itu mendarat sempurna di penggorengan.
Namun, perhatian Alaric teralih. Ia justru mengambil segenggam tepung dan meniupnya ke arah Elara. Puff! Wajah dan jubah biru Elara kini dipenuhi serbuk putih.
Elara ternganga. "Alaric von Ravenhurst! Kau baru saja menantang seorang Lane!"
Dalam sekejap, dapur istana berubah menjadi medan perang baru—perang tepung. Elara mengejar Alaric dengan mangkuk berisi adonan, sementara Alaric tertawa keras sambil menghindar di balik meja besar. Mereka saling mengejar, melupakan martabat mereka sebagai penguasa dunia. Pakaian mereka kotor, lantai menjadi licin, dan rambut mereka memutih karena tepung.
Akhirnya, Alaric berhasil menangkap Elara, mendekapnya dari belakang hingga mereka berdua jatuh terduduk di lantai dapur yang dingin namun bersih. Mereka terengah-engah, saling menatap, lalu tertawa bersama sampai air mata keluar.
Momen di Balik Debu Tepung
Tawa mereka perlahan mereda, menyisakan keheningan yang nyaman. Alaric menyeka tepung dari hidung Elara dengan ibu jarinya. Tatapannya menjadi sangat dalam dan intens.
"Aku tidak pernah membayangkan hari seperti ini akan datang," bisik Alaric. "Dulu, setiap malam aku hanya berpikir tentang bagaimana melindungimu agar kau tetap hidup sampai besok pagi. Aku tidak pernah berpikir tentang bagaimana rasanya... hanya bermain bersamamu."
Elara menyandarkan kepalanya di bahu Alaric. "Terima kasih telah bertahan bersamaku, Alaric. Melalui semua kegilaan ini. Melalui semua darah. Aku tahu aku bukan wanita yang mudah untuk dicintai. Aku penuh dengan luka dan kebencian."
Alaric memutar tubuh Elara agar menghadapnya sepenuhnya. Ia memegang wajah Elara dengan kedua tangannya. "Luka-lukamu adalah bagian dari kecantikanmu, Elara. Dan kebencianmu... itu adalah hal yang menyelamatkan kita. Tapi sekarang, biarkan aku yang memikul sisa kebencian itu. Kau hanya perlu menjadi Elara-ku."
Ia mencium Elara dengan lembut, sebuah ciuman yang tidak terburu-buru, penuh dengan janji dan pengabdian. Di dapur yang berantakan itu, di bawah cahaya matahari pagi yang menembus jendela, mereka menyadari bahwa mahkota yang mereka pakai mungkin memberikan kekuasaan, tetapi momen-momen seperti inilah yang memberikan kehidupan.
Fajar Kebebasan
Setelah berhasil membuat sarapan sederhana yang sedikit gosong namun terasa sangat lezat bagi mereka, mereka duduk di balkon kecil yang tersembunyi, menghadap ke taman rahasia istana. Mereka makan dari piring yang sama, saling menyuapi, dan berbicara tentang hal-hal yang tidak penting.
Elara menatap ke arah gerbang istana di kejauhan. "Besok, para menteri akan mulai mengeluh. Mereka akan merindukan perintah-perintahku yang tajam."
"Biarkan mereka merindukannya," sahut Alaric sambil meminum kopinya. "Karena selama tiga puluh hari ke depan, kau bukan milik mereka. Kau bukan milik rakyat. Kau adalah milikku. Dan aku berencana membawamu ke suatu tempat di mana tidak ada seorang pun yang bisa menemukan kita."
Elara tersenyum, menyandarkan tubuhnya ke pelukan Alaric. Mahkota Empress-nya terletak di meja rias di dalam kamar, diabaikan dan dingin. Namun di sini, di bawah hangatnya mentari pagi, Elara merasa lebih seperti seorang ratu daripada sebelumnya—karena ia akhirnya menjadi ratu atas hatinya sendiri.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔