Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1: Sarapan Dingin dan Harga Diri yang Terinjak
Bau bawang putih yang ditumis di wajan gosong itu menyeruak ke seluruh penjuru ruangan 3x4 meter yang mereka sebut "rumah".
Kara Anindita menghela napas panjang, menyeka keringat yang mulai membasahi dahi. Jam dinding plastik berbentuk karakter katak di atas kulkas berbunyi tik-tok dengan irama yang menyebalkan, menunjukkan pukul setengah enam pagi. Di kehidupan lalunya—kehidupan di mana nama belakangnya masih memiliki kuasa untuk membuat manajer bank gemetar—jam segini Kara masih bergulung selimut sutra Mulberry, menunggu pelayan mengetuk pintu membawakan Earl Grey tea hangat.
Tapi sekarang? Realita menamparnya lewat suara desis minyak goreng curah.
"Sabar, Kara. Sabar. Ini demi cinta. Ingat? Cinta yang tulus dan sederhana," gumamnya pada diri sendiri, seperti mantra pengusir setan.
Tangannya yang dulu lentik dan rutin di-manicure tiap minggu, kini sibuk mengaduk nasi kemarin sore agar jadi nasi goreng layak makan. Ada sedikit kapalan di jari telunjuknya bekas memegang pisau tumpul yang belum sempat diasah.
Ceklek.
Pintu kamar tidur terbuka. Rio Pratama keluar dengan wajah bantal, rambut acak-acakan, dan kaos oblong yang sudah melar di bagian leher. Suami yang dulu Kara perjuangkan mati-matian di depan ayahnya itu kini berdiri di sana sambil menggaruk perut.
"Pagi, Mas," sapa Kara, berusaha terdengar ceria, meski punggungnya pegal luar biasa karena kasur busa mereka sudah kempes di tengah.
Rio tidak menjawab. Dia berjalan melewati Kara begitu saja menuju dispenser, menuang air ke gelas, lalu meminumnya sekali teguk. "Kamu liat dasi biru aku nggak? Yang motif garis?"
Bukan "Pagi juga, Sayang". Bukan pelukan hangat. Tapi pertanyaan soal dasi.
"Ada di gantungan belakang pintu, Mas. Udah aku setrika tadi malem," jawab Kara sambil mematikan kompor.
Rio mendengus, lalu masuk lagi ke kamar tanpa bilang terima kasih.
Kara menatap punggung suaminya dengan tatapan nanar. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menimpanya. Dulu, waktu masih pacaran (dan Kara menyamar jadi mahasiswa beasiswa miskin), Rio pernah bilang, "Nanti kalau kita nikah, aku nggak akan biarin tangan kamu kasar. Aku bakal jadi raja yang melayani ratunya."
Bullshit.
Omong kosong macam apa itu? Tiga tahun menikah, jangankan jadi ratu, Kara merasa posisinya lebih rendah daripada asisten rumah tangga di mansion orang tuanya. Setidaknya ART di rumah ayahnya digaji UMR plus bonus tahunan dan dapat jatah skincare. Kara? Digaji dengan omelan.
Kara menyendok nasi goreng ke piring, lalu meletakkannya di meja makan kecil yang taplaknya sudah ada noda kecap yang susah hilang.
Rio keluar lagi, kali ini sudah rapi dengan kemeja kerja. Dia duduk, menyuap nasi goreng itu, mengunyahnya pelan, lalu keningnya berkerut.
"Kecapnya kebanyakan," komentar Rio datar.
Kara yang sedang menuangkan teh hangat, terdiam. Tangannya menggenggam gagang teko erat-erat hingga buku jarinya memutih. Aku bangun jam lima, nyiapin gizi buat kamu biar nggak pingsan di kantor, dan komentar pertamamu cuma soal kecap?
"Maaf," hanya itu yang keluar dari mulut Kara. Kata sakti yang belakangan ini jadi tamengnya supaya tidak meledak.
"Lain kali dicicipin dulu lah, Ra. Kamu kan di rumah seharian, masa masak ginian doang nggak becus?" Rio meletakkan sendoknya dengan agak kasar, menimbulkan bunyi klontang yang nyaring di piring beling murah itu. "Udah ah, aku makan di kantin kantor aja nanti."
Rio berdiri, menyambar tas kerjanya.
"Mas..." panggil Kara pelan. "Uang belanja mingguan abis. Gas juga abis."
Rio berhenti di ambang pintu. Dia berbalik, menatap Kara dengan tatapan yang membuat Kara merasa sangat kecil. Tatapan seorang majikan pada pengemis yang meminta sedekah.
"Perasaan baru tiga hari lalu aku kasih seratus ribu?"
"Seratus ribu itu buat beli beras, minyak, sabun cuci, sama lauk, Mas. Harga cabe lagi naik..." Kara mencoba menjelaskan, tapi suaranya bergetar.
Rio merogoh dompetnya, mengeluarkan dua lembar uang lima puluh ribuan lecek, lalu meletakkannya di atas meja rak sepatu. Bukan memberikannya ke tangan Kara, tapi meletakkannya begitu saja. Seperti memberi upah tukang parkir.
"Dihemat-hemat lah. Jangan boros. Kamu tuh nggak tau nyari duit itu susahnya kayak apa."
Setelah kalimat menyakitkan itu, Rio keluar. Suara motor matic-nya menderu, lalu menghilang di tikungan gang.
Tinggallah Kara sendiri di ruang tamu sempit itu.
Kara menatap dua lembar uang biru di atas meja. Matanya memanas. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh satu tetes.
"Aku nggak tau susahnya nyari duit?" Kara tertawa getir, tawa yang terdengar menyedihkan di ruangan kosong itu.
Dia berjalan ke arah tumpukan beras di pojok dapur. Tangannya merogoh ke dalam karung beras, mencari sesuatu di sana. Jari-jarinya menyentuh benda pipih yang dingin. Sebuah iPhone 15 Pro Max—benda termahal di rumah ini yang keberadaannya tidak diketahui Rio.
Kara menyalakannya. Ada satu notifikasi email masuk dari Private Banking BCA Prioritas.
Yth. Nona Kara Anindita, dana dividen triwulan sebesar Rp 2.500.000.000 telah masuk ke rekening Anda.
Kara menatap angka nol yang berderet di layar HP mahalnya, lalu melirik uang seratus ribu lecek di atas meja rak sepatu.
Kontras itu begitu nyata, sampai rasanya ingin muntah.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏