Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Intrik Politik Besar
Fajar belum sepenuhnya terbit, tapi istana sudah dipenuhi aktivitas.
Pelayan berlarian dengan cepat, membawa dokumen dan persiapan untuk rapat mingguan Raja.
Arvella duduk di pangkuan Liora, matanya merah bersinar, mencondongkan tubuh ke arah koridor utama, membaca energi setiap orang yang lewat.
Bayi itu merasakan ketegangan yang berbeda dari biasanya; ada niat tersembunyi yang mencoba merangkai konflik di balik senyum ramah bangsawan dan pejabat tinggi istana.
Kael berdiri di dekat pintu, matanya biru menyorot tajam, memperhatikan Arvella dengan kagum.
“Arvella… sepertinya ini lebih serius dari yang biasanya kita hadapi,” bisiknya pelan, suaranya hanya terdengar untuk bayi itu.
Bayi itu mencondongkan tubuh, tangan kecilnya menunjuk ke arah seorang bangsawan yang tampak terlalu tenang—energi yang dipancarkan berbeda, penuh perhitungan dan ambisi tersembunyi.
Di ruang rapat Raja, meja besar sudah dipenuhi dokumen dan gulungan peta kerajaan.
Beberapa pejabat dan bangsawan mulai berdiskusi, suara mereka terdengar sopan, tapi Arvella membaca ketegangan di antara mereka.
Ia mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, tangannya menunjuk Kael—tanda bahwa kehadirannya akan dibutuhkan untuk mencegah intrik berkembang menjadi masalah besar.
Seorang bangsawan muda mencoba menyisipkan komentar yang bisa memancing opini negatif terhadap Raja.
Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk Kael lagi.
Kael melangkah cepat, mengalihkan perhatian dengan sopan, menenangkan semua pihak, dan memastikan komentar itu tidak menjadi permulaan perselisihan nyata.
Bayi itu menggeliat puas, matanya bersinar—bahwa insting dan strategi mereka bekerja selaras.
Namun, intrik sesungguhnya baru mulai.
Seorang pejabat tinggi mulai membocorkan informasi palsu tentang kondisi politik tetangga kerajaan.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, membaca ketidakjujuran itu, dan menepuk kain Liora untuk memberi tanda bahwa Kael harus segera bertindak.
Kael melangkah ke arah pejabat tersebut, matanya biru bersinar menatap tajam, dan dengan sopan tapi tegas menegaskan bahwa menyebarkan gosip bisa menimbulkan kekacauan serius.
Bayi itu mencondongkan tubuh, tangan kecilnya menunjuk Kael lagi—menandakan bahwa tindakan cepat sangat penting untuk menjaga stabilitas.
Saat diskusi semakin intens, Arvella membaca energi tersembunyi di sudut ruangan.
Seorang bangsawan diam-diam mencoba menyusupkan catatan rahasia yang bisa memprovokasi konflik internal.
Bayi itu mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, menepuk kain Liora untuk memberi sinyal bahwa Kael harus berhati-hati.
Kael segera bergerak, mengambil catatan itu tanpa membuat kegaduhan, dan menyerahkannya kepada Liora untuk diamankan.
Seiring waktu berlalu, Arvella mulai merasakan pola intrik yang lebih besar.
Ia mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, tangannya menunjuk ke arah beberapa pejabat yang tampak bekerja sama diam-diam, menyusun rencana untuk mengambil keuntungan dari ketegangan yang ada.
Kael mengikuti setiap isyarat, matanya biru bersinar, siap menghentikan setiap ancaman sebelum muncul.
Di luar rapat, lorong istana penuh dengan bayangan dan suara langkah cepat.
Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk ke arah Kael, memberi isyarat bahwa ada ancaman baru di lorong belakang.
Kael melangkah perlahan, matanya biru menyorot tajam, siap menghadapi siapa pun yang mencoba mencuri dokumen atau menyebarkan intrik.
Bayi itu menggeliat puas, matanya bersinar—bahwa keamanan istana dijaga, bahkan di sisi fisik dan sosial sekaligus.
Tiba-tiba, seorang bangsawan licik muncul dari bayangan, mencoba mengambil dokumen penting yang baru saja diamankan.
Kael bergerak cepat, menahan bangsawan itu dengan sigap, matanya biru menatap tajam.
“Langkahmu terlalu berani,” bisiknya tegas.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, menepuk kain—memberi sinyal bahwa Kael melakukan tindakan yang tepat.
Intrik semakin kompleks ketika berita palsu mulai tersebar ke bagian lain istana.
Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk ke arah seorang pelayan muda yang tampak bingung, mencoba mengatur informasi dengan benar.
Kael segera mendekat, membantu pelayan itu menyusun dokumen, sambil tetap mengawasi arah intrik politik yang berkembang.
Saat malam tiba, rapat berakhir, namun ketegangan tetap terasa di udara.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, tangan kecilnya menunjuk ke arah lorong gelap yang mengarah ke ruang rahasia istana.
Ia membaca energi tersembunyi, menyadari ada konspirasi yang lebih besar dan berpotensi membahayakan kerajaan.
Kael berdiri di sampingnya, matanya biru bersinar, siap menghadapi apapun yang mungkin terjadi besok.