NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Bau amis darah yang menusuk dan aroma zat kimia yang menyengat menyambut Ana tepat pada saat tumit sepatunya menyentuh lantai laboratorium bawah tanah. Lantai baja dingin menusuk melalui sol sepatu flatnya, membuatnya menggigil bukan hanya karena rasa dingin fisik, tapi karena kesadaran akan apa yang mungkin saja ada di dalam ruangan yang gelap gulita itu. Udara di sini terasa lebih berat, membawa bagian kecil dari rahasia yang mengerikan yang terkurung di dalam ruangan ini.

Axel menekan sakelar di dinding, dan lampu sorot besar yang terpasang di langit-langit perlahan menyala, memancarkan cahaya putih kebiruan yang menerangi setiap sudut ruangan dengan jelas. Begitu sinar lampu itu menyala tepat di arah ruang isolasi yang terletak di bagian terdalam laboratorium, napas Ana seolah-olah macet di tengah kerongkongan.

Di balik kaca setebal sepuluh sentimeter yang terpoles dengan sangat halus itu, sosok seorang wanita sedang merayap di atas lantai. Gerakannya tidak seperti manusia biasa—patah-patah, tidak terkoordinasi dengan benar, seolah setiap otot di tubuhnya bekerja secara terpisah satu sama lain. Ia mengeluarkan suara geraman rendah yang terdengar seperti dengungan guntur yang jauh, getarannya bahkan bisa dirasakan melalui lantai hingga ke tulang-tulang Ana yang sudah mulai menggigil.

𝘠𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯... 𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘵𝘶?

Ana mundur beberapa langkah secara refleks, kaki-kakinya tidak lagi bisa dikendalikan oleh akal sehatnya. Punggungnya akhirnya menabrak meja yang terletak di dekat tangga, membuat beberapa alat laboratorium kecil yang berada di atasnya bergetar dan mengeluarkan suara berdecit. Ia menatap dengan tatapan horor, terpesona pada urat-urat biru yang menonjol jelas di leher wanita itu, berdenyut liar dan tidak teratur seolah-olah ada sesuatu yang hidup dan merayap di bawah lapisan kulitnya.

"Dokter, Anda... Anda memelihara mayat hidup?"

"Apa ini zombi? Atau setan yang di kurung di sini? Aku harus pergi dari sini—aku tidak bisa berada di tempat yang sama dengan makhluk seperti itu!"

Tanpa berpikir dua kali, Ana berbalik dan bergegas menuju tangga yang menjadi satu-satunya jalan keluar dari ruangan bawah tanah yang mengerikan ini. Namun, sebelum ia bisa mencapai anak tangga pertama, Axel dengan sigap menghampirinya dan mencengkeram lengannya dengan kuat. Pegangannya begitu erat hingga Ana merasakan rasa sakit, membuatnya berhenti tiba-tiba dan mengerang pelan karena rasa sakit dan kejutan. Matanya yang penuh dengan ketakutan menatap ke arah Axel, dan ia melihat bahwa mata lelaki itu yang cekung penuh dengan intensitas yang memaksa dirinya untuk berhenti dan mendengarkan apa yang akan dikatakannya.

"Tenang, Ana! Lihat aku!"

"Dia bukan zombi. Dia bukan setan atau makhluk dari dunia lain yang kamu bayangkan. Dia adalah tunanganku, Lusy. Dia hanya... sakit."

"Sakit?"

Ia menunjuk ke arah ruang isolasi dengan tangan terus bergetar, matanya tidak bisa lagi berpaling dari sosok yang masih merayap di balik kaca. "Dokter, mana ada penyakit yang bisa membuat mata manusia menjadi sepenuhnya merah darah dan kuku-kuku jadi sehitam itu? Ini bukan penyakit—ini kutukan! Anda melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan... eksperimen gila yang telah menyalaurkan iblis ke dalam tubuhnya!"

Axel menarik napas panjang. Garis wajahnya yang sudah terlihat kurus menjadi lebih jelas, dan Ana bisa melihat bagaimana kedua tangannya menggenggam kedua lengannya dengan erat.

"Ini adalah mutasi seluler akibat kecelakaan laboratorium." Jelas Axel. Ia melepaskan lengan Ana dan melangkah beberapa langkah menuju ruang isolasi, namun tetap membalikkan badan agar bisa melihat wajah Ana.

"Kondisi yang sangat langka—bahkan belum pernah tercatat dalam buku-buku kedokteran manapun. Aku sedang berusaha menyembuhkannya. Dia masih manusia di dalam sana, Ana. Dia masih Lusy yang aku kenal. Dia hanya butuh perawatan medis yang tepat, bukan orang yang datang dengan air suci atau doa untuk mengusir setan yang tidak pernah ada. Kamu seorang perawat, bukan? Kamu telah merawat banyak pasien dengan kondisi yang tidak bisa dipahami oleh orang awam. Anggap saja ini sebagai kasus atrofi sistemik yang ekstrem dengan komplikasi yang belum pernah kamu temui sebelumnya. Aku membutuhkan keahlian medismu untuk menjaga kebersihan tubuhnya dan kondisinya, bukan untuk berdiri di sana dan menghakiminya seperti hakim yang sudah memiliki putusan sebelum mendengar kesaksiannya."

Ana menutup mulutnya dengan kedua tangannya, mencoba menahan suara histeria yang ingin keluar dari dalam dirinya. Ia mengatur napasnya yang sedang memburu dengan susah payah, menarik napas dalam-dalam beberapa kali hingga pernapasannya mulai kembali stabil. Ia perlahan melepaskan tangannya dari wajahnya dan melirik kembali ke arah ruang isolasi.

Lusy kini telah berhenti merayap. Ia merangkak perlahan ke arah kaca dan menempelkan wajahnya ke permukaan bening itu, membuat napasnya yang hangat meninggalkan bekas kabut yang keruh di atas kaca. Mata merah darahnya yang besar menatap langsung ke arah Ana dengan tatapan yang penuh dengan rasa lapar dan tidak mengenal diri, seolah-olah Ana bukanlah seorang wanita atau seorang perawat, melainkan hanya seonggok daging yang siap untuk disantap.

Namun, ketika Axel mendekati kaca dan membungkuk sedikit, ia mulai membisikkan kata-kata yang tidak bisa didengar oleh Ana. Meskipun tidak bisa menangkap apa yang dikatakannya, Ana bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Axel berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan bisa muncul di wajah pria yang tampak begitu dingin dan terkontrol. Perlahan, geraman yang keluar dari mulut Lusy mulai mereda, menjadi lebih lembut hingga akhirnya hilang sama sekali. Tubuhnya yang tadinya tegang mulai rileks, dan ia mulai merangkak ke arah sudut ruang isolasi di mana sebuah brankar kecil terletak.

Dua jam kemudian, setelah Axel melakukan serangkaian prosedur yang tidak bisa dipahami oleh Ana—dia menyuntikkan cairan merah pekat yang jelas bukan cairan infus biasa ke dalam saluran asupan yang terhubung ke ruang isolasi, kemudian memberikan dosis zat penenang dalam jumlah kecil melalui sistem pipa yang sama—transformasi mengerikan itu mulai surut dengan lambat. Ana yang selama itu berdiri di pojok ruangan dengan sapu lantai yang dipegang, akhirnya mulai mengendurkan genggamannya dan mendekat ke arah ruang isolasi dengan langkah ragu.

Di balik kaca yang sekarang sudah bersih kembali setelah bekas napas Lusy menghilang, sosok monster yang telah ia lihat sebelumnya seolah tidak pernah ada. Yang tersisa hanyalah seorang wanita muda dengan wajah porselen yang luar biasa cantik, meskipun tampak sangat rapuh dan lemah. Kulitnya yang tadinya tampak kusam dan penuh dengan urat-urat menonjol kini kembali menjadi halus dan bersih, dengan warna kulit yang cerah seperti anak-anak kecil.

Lusy tertidur dalam posisi meringkuk di atas brankar kecil itu, kepalanya tertumpu pada kedua tangan yang ditekuk di bawah pipinya. Bulu matanya yang panjang dan lentik sedikit basah oleh titik-titik air mata yang keluar perlahan-lahan saat ia tidur, meninggalkan jejak basah di pipinya yang lembut.

"Namanya Lusy?" Tanya Ana lirih.

"Ya. Dia seorang dosen di Australia. Sebelum semua ini terjadi, dia adalah orang paling lembut yang pernah kukenal—selalu siap membantu orang lain, bahkan jika itu membuat dirinya kesusahan."

Ana mendekat lebih jauh ke arah kaca, matanya menatap setiap detail wajah Lusy dengan cermat. Ia melihat bibirnya yang tipis, hidung yang mancung dengan bentuk yang sempurna, dan alis yang lentik yang sedikit terkunci karena ketegangan yang masih ada dalam tidurnya. Kulitnya yang mulus seperti sutra, jemarinya yang kecil dan lentik yang masih sedikit menggenggam seprai brankar, dan parasnya yang secara alamiah mencerminkan kesan kebaikan dan kelembutan.

Rasa takut yang selama ini mendominasi hati dan pikirannya perlahan terkikis oleh rasa iba yang menusuk hingga ke dalam jiwanya.

Ia melihat baju pasien putih yang dikenakan Lusy tampak kusam dan kotor oleh bekas keringat yang mengering dan sisa-sisa cairan yang tidak jelas asal-usulnya. Sebagai seorang perawat yang telah menghabiskan hampir sepuluh tahun karirnya merawat orang sakit, insting profesionalnya mulai muncul dan terusik melihat kondisi pasien yang begitu menderita namun tidak mendapatkan perawatan dasar seperti kebersihan tubuh.

"Dia sangat cantik." Gumam Ana hampir tidak terdengar.

"Kasihan sekali... di usia yang masih muda seperti ini harus terjebak dalam tubuh yang tidak bisa dikendalikan seperti itu. Seolah ada dua orang yang hidup dalam satu tubuh yang sama."

Ana perlahan berpaling dari kaca dan menatap Axel, yang kini masih berdiri dengan posisi yang sama, wajahnya tetap menghadap ke arah ruang isolasi. Di dalam mata pria itu yang cekung, ia bisa melihat kehancuran yang dalam—kehancuran bukan hanya karena kondisi tunangannya, tapi juga karena beban tanggung jawab yang harus ia pikul sendirian selama ini.

Ia menyadari bahwa meskipun uang satu miliar won yang ditawarkan kepadanya memang jumlah yang sangat besar dan bisa mengubah hidupnya secara total, penderitaan yang ia saksikan di dalam ruangan bawah tanah ini jauh lebih besar dari apa yang bisa dibayangkan oleh orang luar.

"Dokter. Berikan aku kunci atau kartu akses untuk ruang sterilisasi dan ruang isolasi ini. Aku akan mengganti pakaiannya dengan yang bersih dan menyeka tubuhnya dengan hati-hati. Jika dia benar-benar seorang 'Nona' di rumah ini dan bukan makhluk yang kamu kurung, maka dia tidak pantas tidur dalam keadaan kotor dan tidak nyaman seperti ini."

Axel perlahan memalingkan wajahnya dari ruang isolasi dan menatap Ana dengan rasa terkejut dan binar harapan yang tipis. Ia menganggukkan kepalanya dengan lambat, kemudian meraih sebuah kartu plastik kecil berwarna putih dari saku dalam jasnya. Ia mengulurkan tangannya untuk menyerahkan kartu itu kepada Ana, matanya tetap menatap wajahnya dengan tatapan penuh harapan dan peringatan sekaligus.

"Hati-hati. Jangan pernah mencoba masuk ke dalamnya sendirian jika dia belum benar-benar tenang dan dalam kondisi stabil seperti sekarang. Bahkan dengan dosis penenang yang cukup, dia masih bisa bereaksi dengan cara yang tidak bisa diprediksi jika merasa terancam atau terganggu."

Ana menerima kartu akses dengan tangan sudah tidak lagi gemetar. Ia menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia telah memahami peringatan itu.

Saat ia berjalan menuju pintu ruang sterilisasi untuk mengambil perlengkapan yang dibutuhkan, ia merasakan perubahan yang terjadi dalam dirinya. Ia tidak lagi melihat sosok monster yang mengerikan yang telah ia lihat beberapa jam yang lalu. Ia tidak lagi melihat sebuah kutukan atau hasil eksperimen gila yang salah arah. Yang ia lihat sekarang hanya seorang wanita yang sedang berjuang dengan segala kekuatannya untuk mempertahankan jiwanya yang masih manusia, seorang pasien yang sangat membutuhkan perawatan dan perhatian.

Perjanjian rahasia yang telah ia buat dengan Axel dan keluarga Bahng itu bukan lagi sekadar urusan uang atau cara untuk melarikan diri dari jeratan utangnya. Bagi Ana, ini telah menjadi sebuah misi untuk menjaga sisa-sisa kemanusiaan yang masih berdenyut kuat di dalam tubuh Lusy, yang terkurung di bawah tanah dalam ruangan yang tidak pernah melihat sinar matahari.

Setelah menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan dan membersihkan dirinya dengan cermat sesuai prosedur sterilisasi yang benar, Ana kembali ke depan pintu ruang isolasi. Ia menempelkan kartu akses pada pembaca yang terletak di samping pintu, dan dengan suara klik yang lembut, pintu baja yang tebal itu mulai terbuka perlahan.

Ana mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan semua keberanian yang ada dalam dirinya, kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan isolasi yang telah menjadi rumah bagi Lusy selama ini. Saat jarinya menyentuh kulit Lusy, ia merasakan getaran yang lembut dari denyut nadi yang masih ada di dalam tubuhnya—denyut nadi yang menjadi bukti bahwa di balik semua transformasi mengerikan itu, masih ada seorang manusia yang sedang berjuang untuk hidup.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!