NovelToon NovelToon
Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: asep sigma

Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JARING LABA-LABA

Rabu pagi, Rajendra, Dina, Arief, dan Rian duduk di ruang meeting kecil di kantor LokalMart bersama Bambang.

Bambang membawa map coklat tebal berisi dokumen rute pengiriman, pricing structure, dan SLA untuk setiap area di Jabodetabek.

"Jadi begini," kata Bambang sambil membuka map. "Saya sudah mapping semua area Jabodetabek jadi lima zona. Zona satu Jakarta Pusat, zona dua Jakarta Selatan dan Timur, zona tiga Jakarta Barat dan Utara, zona empat Bogor dan Depok, zona lima Tangerang dan Bekasi."

Dia menunjuk ke peta yang sudah dilaminasi, ada garis-garis berwarna yang membagi wilayah.

"Setiap zona punya lead time berbeda. Zona satu dan dua bisa same day delivery kalau order masuk sebelum jam dua belas siang. Zona tiga sampai lima next day delivery."

Rajendra mengangguk, mencatat di laptopnya.

"Biaya pengiriman per zona berapa?"

"Flat rate. Lima belas ribu untuk zona satu dan dua. Dua puluh ribu untuk zona tiga sampai lima. Itu sudah include asuransi barang sampai lima ratus ribu."

"Kalau COD?"

"Tambah lima ribu per transaksi. Itu untuk cover risiko dan operational cost kurir yang harus handle cash."

Dina mengangkat tangan.

"Pak Bambang, kalau misalnya ada buyer yang gak bayar waktu barang sampai, prosedurnya gimana?"

"Barang dibawa balik ke gudang. Seller bisa pilih mau kirim ulang atau cancel order. Tapi biaya kirim pertama tetap kena ke seller, bukan ke kami."

"Berarti seller yang rugi?"

"Iya. Tapi itu risiko bisnis. Makanya sistem konfirmasi dobel yang Rajendra bilang waktu itu penting. Biar buyer yang order beneran serius."

Rajendra menambahkan.

"Kita akan implement sistem rating juga. Buyer yang sering cancel atau gak bayar COD akan kena rating jelek. Kalau rating terlalu jelek, mereka gak bisa pake COD lagi. Harus transfer dulu."

Bambang mengangguk setuju.

"Bagus. Itu protect seller dan protect kami juga."

Meeting berlanjut selama dua jam, membahas detail teknis seperti packaging standard, labeling, tracking number format, dan prosedur komplain.

Jam dua belas siang, mereka selesai. Bambang bersiap pulang.

"Oh ya," kata Bambang sebelum keluar. "Saya sudah rekrut tiga kurir tambahan. Jadi total saya punya lima kurir sekarang. Kapasitas maksimal per hari sekitar lima puluh paket. Kalau lebih dari itu, harus ada lead time lebih panjang."

"Lima puluh paket cukup untuk sekarang," kata Rajendra. "Target kita bulan pertama paling dua puluh transaksi per hari."

"Oke. Kalau butuh scale up, kasih tahu saya dua minggu sebelumnya biar saya bisa rekrut kurir lagi."

Mereka berjabat tangan, Bambang pergi.

Setelah Bambang keluar, Arief meregangkan tangan.

"Meeting yang produktif. Logistik udah clear. Platform udah ready. Marketing udah ready. Tinggal launch."

"Belum," kata Rajendra. "Masih ada satu hal."

"Apa?"

"Legal structure. Kita harus pastikan semua kontrak dengan seller, dengan logistik partner, dengan investor, semuanya legal proof. Kalau ada masalah nanti, kita harus punya dokumentasi lengkap."

Dina mengerutkan dahi.

"Lu takut ada yang bakal sue kita?"

"Gak takut. Cuma hati-hati. Better safe than sorry."

Rian bertanya.

"Lu punya lawyer?"

"Belum. Tapi Pak Hartono mungkin bisa recommend."

Rajendra meraih ponselnya, menelepon Hartono.

Nada sambung berbunyi dua kali, lalu Hartono mengangkat.

"Rajendra, ada apa?"

"Pak Hartono, saya butuh rekomendasi lawyer untuk startup saya. Yang bisa handle kontrak bisnis, employment agreement, investor agreement. Bapak kenal?"

"Kenal. Ada teman saya, namanya Ibu Ratna Sari. Dia spesialis corporate law. Biasanya handle startup dan SME. Fee-nya reasonable. Mau saya introduce?"

"Mau, Pak. Terima kasih."

"Oke. Nanti saya kirim kontaknya via SMS. Oh ya, sekalian update. Ahli grafologi sudah submit laporan resmi ke pengadilan. Dr. Sutanto juga sudah confirm hadir di sidang dua minggu lagi. Kita siap tempur."

Rajendra tersenyum kecil.

"Bagus. Saya siap juga."

"Jangan terlalu confident. Daniel Kusuma pengacara yang licik. Dia pasti punya strategi lain. Kita harus tetap waspada."

"Saya paham."

Sambungan terputus.

Dina menatap Rajendra dengan tatapan penasaran.

"Sidang dua minggu lagi? Lu gak bilang."

"Gak penting. Cuma formalitas."

"Formalitas yang bisa bikin lu dapet warisan miliaran atau kehilangan semuanya. Itu bukan gak penting."

Rajendra menatapnya.

"Lu khawatir?"

"Ya. Lu tim lead kami. Kalau lu ada masalah, kami juga kena impact."

"Gue gak akan ada masalah. Trust me."

Dina diam, tapi matanya masih menatap Rajendra dengan tatapan khawatir.

Di kafe kecil di kawasan Kemang, Dera duduk di meja pojok dengan Jessica di seberangnya.

Kafe sepi, cuma ada beberapa orang, musik jazz pelan di latar belakang.

Jessica terlihat nervous, tangannya gemetar sedikit saat menyeruput latte-nya.

"Jadi?" tanya Jessica pelan. "Lu mau ngomong apa?"

Dera menatapnya dengan tatapan serius.

"Kita harus move sekarang. Sebelum Rajendra expose hubungan kita."

"Tapi dia belum expose. Mungkin dia cuma bluffing."

"Atau mungkin dia lagi ngumpulin bukti. Kita gak bisa tunggu sampai dia siap. Kita harus strike duluan."

Jessica menatapnya dengan mata melebar.

"Strike gimana?"

Dera mendekat, bicara dengan suara lebih pelan.

"Ayah sudah setuju untuk jebak Rajendra dengan kasus pidana. Penggelapan dana investor."

Jessica terdiam, wajahnya pucat.

"Dera, itu... itu terlalu jauh. Itu bisa hancurin hidupnya."

"Dia udah hancurin hidup kita duluan, Jess. Dia keluar dari keluarga, bikin Ayah stress sampai sakit jantung, sekarang dia mau rebut warisan Kakek sepenuhnya. Kalau dia menang di pengadilan, kita semua gak dapet apa-apa."

"Tapi kita masih dapet sepuluh persen masing-masing. Itu udah banyak."

"Sepuluh persen itu receh kalau dibanding enam puluh persen yang dia pegang. Dan kalau dia pegang mayoritas saham, dia bisa pecat Ayah, dia bisa ganti semua manajemen, dia bisa bikin kita semua jadi gak punya apa-apa di perusahaan itu."

Jessica diam, tangannya makin gemetar.

Dera meraih tangan Jessica, menggenggamnya erat.

"Dengar, Jess. Kita udah terlanjur basah. Kita udah punya hubungan selama bertahun-tahun di belakang Rajendra. Kalau dia expose itu, reputasi kita hancur. Kita gak akan bisa kerja di mana-mana. Tapi kalau kita gerak duluan, kita yang kontrol narasi. Kita yang menang."

Jessica menatap Dera dengan mata berkaca-kaca.

"Caranya gimana?"

Dera tersenyum tipis.

"Rajendra baru dapet funding lima ratus juta dari Richard Tanuwijaya. Uang itu akan masuk pertengahan Agustus. Kita cuma perlu bikin seolah-olah Rajendra udah pakai sebagian uang itu untuk kepentingan pribadi sebelum uang itu resmi masuk ke rekening perusahaan."

"Tapi uang belum masuk. Gimana kita bisa bikin jejak palsu?"

"Kita bikin invoice palsu. Transfer bank palsu. Dokumen palsu yang seolah-olah Rajendra udah dapet advance payment dari investor tapi dia pakai untuk beli barang pribadi, bukan untuk operational perusahaan."

Jessica menggeleng cepat.

"Itu pemalsuan dokumen. Itu illegal. Kalau ketahuan, kita yang masuk penjara."

"Gak akan ketahuan kalau kita hati-hati. Lagipula, kita gak perlu sampai ke pengadilan. Kita cuma perlu bikin investigasi berjalan. Selama investigasi jalan, aset Rajendra akan dibekukan. Dan selama asetnya dibekukan, dia gak bisa pakai saham warisan Kakek. Ayah tetap kontrol perusahaan."

Jessica diam lama, wajahnya berubah-ubah antara takut dan tergoda.

Dera tahu Jessica sedang berperang dengan hati nuraninya.

Dan Dera tahu cara memenangkan perang itu.

"Jess," kata Dera lembut. "Kita udah planning ini dari lama. Sejak sebelum Rajendra kenal sama lu. Kita planning supaya setelah Rajendra kontrol perusahaan, kita bisa ambil alih dari belakang. Tapi sekarang dia udah keluar dari keluarga. Dia udah gak bisa dikontrol lagi. Ini satu-satunya cara supaya plan kita tetap jalan."

Jessica menatapnya, air mata mulai turun di pipi.

"Tapi dia... dia pernah sayang sama aku. Dia pernah percaya sama aku."

"Dan sekarang dia udah gak percaya lagi. Dia udah blokir nomor lu. Dia udah bilang ke lu, 'kita gak ada urusan lagi'. Buat dia, lu udah gak ada. Jadi kenapa lu masih peduli sama dia?"

Jessica menghapus air matanya, menarik napas dalam.

Lalu dia mengangguk pelan.

"Oke. Aku ikut. Tapi kalau ini gagal, kalau kita ketahuan, aku gak mau sendirian. Lu harus tanggung jawab juga."

Dera tersenyum, menggenggam tangan Jessica lebih erat.

"Kita tanggung jawab bareng. Seperti biasa."

Malam itu, Rajendra duduk di kamar kosnya dengan laptop terbuka.

Email dari Ibu Ratna Sari, lawyer yang di-refer Hartono, sudah masuk sore tadi.

Pak Rajendra,

Terima kasih sudah kontak saya. Pak Hartono sudah cerita sedikit tentang startup Anda. Saya tertarik untuk bantu.

Untuk konsultasi awal, saya tidak charge. Kita bisa meeting untuk discuss scope of work dan fee structure. Apakah Kamis besok jam dua siang Anda bisa?

Salam,

Ratna Sari, S.H., M.H

.

Rajendra mengetik balasan.

Bu Ratna,

Terima kasih atas responsnya. Kamis jam dua siang saya bisa. Lokasi meeting di mana?

Salam,

Rajendra Baskara

Email terkirim.

Rajendra menutup laptop, lalu berbaring di kasur, menatap langit-langit.

Semuanya berjalan sesuai rencana sejauh ini.

Tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

Terlalu smooth.

Terlalu lancar.

Di kehidupan pertamanya, setiap kali dia merasa aman, saat itulah musuh bergerak.

Dan sekarang dia punya perasaan yang sama.

Perasaan ada sesuatu yang sedang direncanakan di balik punggungnya.

Sesuatu yang belum dia lihat.

Ponselnya bergetar, pesan dari Anton.

"Rajendra, jangan lupa networking event Sabtu besok. Jam tiga sore di Hotel Mulia. Dress code semi formal. Ini good opportunity. Datang ya."

Rajendra mengetik balasan.

"Siap, Pak. Saya datang."

Sabtu.

Empat hari lagi.

Rajendra menutup mata, mencoba tidur.

Tapi pikiran tidak bisa berhenti.

Ada sesuatu yang salah.

Dia bisa merasakannya.

Seperti angin sebelum badai.

Tenang tapi mengancam.

Dan dia harus siap.

Apapun yang datang.

[ END OF BAB 18 ]

1
aidios
ror
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!