Residu Kulit Kacang

Residu Kulit Kacang

RITUAL DI ATAS BANGKU KAYU

Aroma uap air yang lembap dan bau kacang yang mulai bertunas adalah aroma pertama yang menyapa indra penciumanku setiap pagi. Dapur itu kecil, dindingnya menghitam oleh jelaga tungku, namun di sanalah aku menghabiskan separuh masa kecilku. Aku, Maya, seorang anak perempuan yang sudah tahu arti lelah sebelum tahu arti bermain.

Aku duduk di atas bangku kayu tua yang permukaannya sudah halus karena terlalu sering diduduki. Di depanku, baskom-baskom besar berisi calon toge berderet seperti barisan tentara putih yang pucat. Tanganku yang kecil, yang seharusnya memegang pensil warna, justru terampil memilah kulit kacang hijau yang keras. Satu per satu, aku bersihkan hingga batang toge itu tampak bersih dan layak jual.

Ibu ada di sampingku. Wajahnya adalah peta penderitaan yang tak pernah ia keluhkan. Rambutnya diikat asal, dan matanya selalu sembab. Kami tidak bicara. Suara di dapur itu hanya diisi oleh gesekan air dan denting baskom plastik. Bagi kami, bicara adalah kemewahan yang bisa membuang tenaga.

"May," suara Ibu memecah kesunyian. "Nanti kalau Ayah datang, jangan tanya dia sudah makan atau belum. Diam saja."

Aku hanya mengangguk. Aku tahu aturannya. Ayah adalah tamu di rumah ini, tamu yang sering membawa badai.

Pagi itu, saat matahari baru saja mengintip dari celah ventilasi, suara deru motor Ayah terdengar. Jantungku berdegup kencang. Itu bukan deru motor yang aku rindukan. Itu suara motor yang penuh amarah. Ayah melangkah masuk, sepatunya meninggalkan jejak tanah di lantai dapur yang baru saja aku pel lantai.

"Kamu menelepon dia?!" Ayah langsung berteriak. Tidak ada salam. Tidak ada pelukan.

Ibu berhenti memetik toge. Bahunya kaku. "Aku tidak punya pulsa untuk menelepon siapa-siapa, Mas."

"Bohong! Dia menangis padaku! Dia bilang kamu mengancam akan mendatangi rumahnya!" Ayah melempar sebuah ponsel ke atas meja kayu. Ponsel itu retak, sama seperti suasana di rumah ini.

Aku melihat tangan Ayah melayang. Kejadian itu seperti gerakan lambat (slow motion). Plak! Suara tamparan itu menggema, lebih keras dari suara guntur. Tubuh Ibu terjerembap, kepalanya membentur pinggiran baskom toge. Hasil kerja keras kami pagi itu berserakan. Putihnya toge kini bercampur dengan air mata dan noda darah kecil dari bibir Ibu.

Aku tidak berteriak. Aku hanya diam terpaku, jemariku masih memegang sebutir kulit kacang hijau. Aku melihat air mataku sendiri jatuh ke dalam air rendaman, menciptakan riak kecil yang tenang namun dalam. Di detik itu, aku belajar satu hal: Cinta laki-laki bisa membunuh ibumu, dan diam adalah satu-satunya perisai yang aku punya.

Ibu tidak membalas pukulan itu. Dia bahkan tidak menyentuh pipinya yang memerah. Dengan gerakan yang sangat lambat, dia hanya memperbaiki letak duduknya di lantai semen, lalu mulai memunguti toge-toge yang berserakan. Ayah mendengus, menatap kami seolah kami adalah tumpukan sampah yang menghalangi jalannya, lalu melenggang pergi begitu saja. Deru motornya menjauh, meninggalkan keheningan yang jauh lebih menyakitkan daripada teriakan tadi.

Aku turun dari bangku kayu, mendekat ke arah Ibu. Aku ingin memeluknya, tapi di rumah ini, pelukan adalah sesuatu yang asing. Kami tidak dididik untuk saling menyentuh secara emosional. Jadi, aku hanya ikut berlutut di sampingnya, memunguti toge satu per satu.

"May," bisik Ibu tanpa menatapku. "Lihat Ibu."

Aku menoleh. Mata Ibu yang biasanya redup kini terlihat sangat tajam, seolah sedang menanamkan sesuatu ke dalam ingatanku.

"Laki-laki bisa pergi kapan saja mereka mau, tapi perutmu tidak bisa menunggu. Belajarlah. Lihat bagaimana Ibu melakukan

Ini."

Hari itu, Ibu tidak hanya mengajariku memetik kulit kacang. Dia mengajariku cara "menghidupkan" sesuatu dari ketiadaan. Dia menunjukkan padaku karung-karung kacang hijau kering yang keras dan kusam.

"Kacang ini seperti kita, May," ujar Ibu sambil merendam kacang itu ke dalam tong besar. "Dia harus tenggelam dulu dalam air dingin, dikurung di tempat gelap tanpa cahaya, dan ditekan oleh beban yang berat. Baru setelah itu dia bisa bertunas. Kalau dia tidak kuat menahan Sesak, dia akan busuk. Tapi kalau dia kuat, dia akan jadi toge yang dicari orang untuk makan."

Aku memperhatikan tangan Ibu yang pecah-pecah. Dia menyiram kacang-kacang itu secara rutin, setiap beberapa jam sekali. Dia mengajariku suhu air yang pas, bagaimana cara menutupinya dengan kain basah agar kelembapannya terjaga, dan bagaimana cara menggoyang keranjangnya agar tunasnya tumbuh lurus dan gemuk.

Tanpa sadar, aku sedang melihat bayangan masa depanku sendiri. Aku sedang belajar bahwa untuk bertahan hidup, aku harus siap dikurung dalam kegelapan dan ditekan oleh beban hidup yang tidak masuk akal.

Malamnya, saat seisi rumah sudah sunyi, aku sering terbangun mendengar suara isakan halus dari kamar Ibu. Aku tahu Ibu sedang menangis, tapi anehnya, keesokan harinya dia akan bangun pukul empat subuh, sudah berada di depan tungku, sudah menyiapkan toge-toge itu untuk dibawa ke pasar.

Ketangguhan Ibu adalah pelajaran pertamaku tentang pengkhianatan. Aku melihat bagaimana dia menjual perhiasannya satu per satu demi menutupi kekurangan uang belanja yang tidak diberikan Ayah karena uangnya habis untuk "perempuan itu". Aku melihat bagaimana Ibu tetap memasak makanan kesukaan Ayah saat Ayah pulang, hanya untuk menerima cacian di meja makan.

Aku mencatat semuanya. Setiap gerakan tangan Ibu saat mencuci piring, cara dia mengucek pakaian dengan papan kayu, hingga cara dia menyembunyikan uang di bawah kaleng kerupuk. Aku menyerap semua itu seperti spons. Aku menjadi replika kecil dari Ibuku.

Hingga tiba saatnya perdamaian itu benar-benar runtuh.

Si selingkuhan itu menelepon lagi. Kali ini bukan sekadar aduan, tapi ancaman bahwa dia sedang mengandung anak Ayah. Malam itu, untuk pertama kalinya aku melihat Ibu berhenti melawan dengan diam. Dia tidak berteriak, dia hanya mengambil sebuah tas kain besar, memasukkan beberapa lembar pakaiannya, lalu menatapku dan Bayu yang sedang meringkuk di pojok ruangan.

"Ibu tidak bisa di sini lagi, May. Ayahmu... dia sudah membawa orang lain masuk terlalu jauh."

Air mata Ibu jatuh tepat di atas kepalaku. Bau keringat dan aroma kacang hijau dari tubuh Ibu adalah hal terakhir yang aku ingat sebelum dia menghilang di balik kegelapan malam, melarikan diri tanpa pamit pada Ayah, kembali ke pelukan orang tuanya di desa seberang.

Dia pergi, meninggalkanku dengan tanggung jawab yang tidak pernah aku minta. Ayah yang marah besar karena merasa "ditinggalkan" oleh istrinya sendiri, akhirnya memutuskan untuk membuang kami ke rumah Nenek ibunya sendiri yang keras hati.

"Kalian tinggal di rumah Nenek. Ayah mau urus urusan Ayah dulu," ucapnya singkat sambil melempar tas pakaian kami ke bagasi mobil tua itu.

Itulah saat terakhir aku melihat rumah yang berbau toge itu dalam keadaan utuh. Perjalanan menuju rumah Nenek adalah perjalanan menuju neraka yang baru, di mana aku tidak lagi hanya memetik kulit kacang, tapi memetik sisa-sisa harga diri yang dihancurkan oleh paman dan nenekku sendiri.

Malam keberangkatan itu terasa sangat panjang. Langit seolah ikut berduka, gelap tanpa satu pun bintang yang berani menampakkan diri. Ayah bergerak dengan kasar, menyeret koper tua yang kancingnya sudah hampir lepas. Suara tarikan koper di atas lantai semen itu terdengar seperti jeritan panjang yang memilukan.

Aku dan Bayu berdiri di ambang pintu dapur, tempat yang biasanya penuh dengan aroma toge, namun kini hanya menyisakan bau debu dan kehampaan. Bayu, yang biasanya lebih tegar sebagai kakak laki-laki, hanya bisa menggenggam tanganku erat-erat. Genggamannya basah oleh keringat dingin. Aku bisa merasakan getaran di tangannya, sebuah ketakutan yang sama besarnya dengan apa yang kurasakan, namun ia berusaha menyembunyikannya di balik wajah datarnya.

"Ayo cepat! Jangan seperti patung!" bentak Ayah. Suaranya memecah keheningan malam, terdengar begitu asing dan jahat.

Aku menatap baskom-baskom toge yang masih terendam air. Besok, toge-toge itu akan memanjang, tapi tidak akan ada tangan Ibu yang memanennya. Mereka akan membusuk di sana, berlendir, dan akhirnya dibuang begitu saja. Sama seperti kami. Kami adalah toge-toge yang belum sempat tumbuh sempurna, namun sudah dicabut paksa dari akarnya.

Saat aku melangkah masuk ke dalam mobil tua Ayah, bau parfum murahan parfum yang aku tahu bukan milik Ibu menyeruak dari kursi depan. Aku mual. Rasa muak itu naik ke tenggorokanku, namun aku telan kembali. Aku duduk di kursi belakang bersama Bayu, di antara tumpukan kardus berisi pakaian kami yang berantakan.

Mobil mulai melaju. Aku melihat rumah kami perlahan mengecil dari kaca belakang. Lampu teras yang kuning redup itu perlahan hilang ditelan kegelapan jalanan. Di situlah aku menyadari satu hal yang menghancurkan hatiku: Ibu benar-benar pergi. Dia tidak akan muncul di balik tikungan jalan untuk menghentikan mobil ini. Dia tidak akan mengejar kami sambil menangis. Dia telah menyerah pada luka yang diberikan Ayah, dan secara tidak langsung, dia juga menyerah pada kami.

"Kenapa Ibu tidak membawa kita, Kak?" bisikku pelan, hampir tidak terdengar oleh deru mesin mobil yang berisik.

Bayu tidak menjawab. Dia hanya menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan hutan karet yang kami lewati. Tapi aku melihat setitik air mata jatuh ke pangkuannya. Di detik itu, aku berhenti menjadi anak-anak. Aku sadar bahwa satu-satunya orang yang bisa aku andalkan di dunia ini adalah diriku sendiri.

Perjalanan menuju rumah Nenek memakan waktu dua jam, tapi bagiku itu terasa seperti selamanya. Sepanjang jalan, Ayah tidak berhenti mengumpat. Dia menyalahkan Ibu, menyebutnya wanita tidak tahu diuntung, menyalahkan keadaan, bahkan sesekali menyalahkan kami karena dianggap beban.

"Kalian di sana jangan merepotkan Nenek. Jangan manja. Paman kalian itu tidak suka anak-anak yang malas," ancam Ayah tanpa menoleh sedikit pun.

Aku memejamkan mata, mencoba mengingat kembali cara Ibu mencuci kain toge. Aku menyimpan ingatan itu kuat-kuat di dalam kepalaku, seperti seseorang yang sedang menyimpan bekal terakhir sebelum memasuki padang pasir yang tandus. Aku harus ingat cara memasak, aku harus ingat cara membersihkan rumah, aku harus ingat cara bertahan hidup. Karena aku tahu, di rumah Nenek nanti, aku bukan lagi cucu kesayangan. Aku adalah sisa-sisa dari sebuah kegagalan yang disebut "keluarga".

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah panggung tua yang dikelilingi pohon-pohon mangga besar yang rimbun. Suasana di sana sangat sepi, hanya terdengar suara jangkrik yang saling bersahutan. Pintu depan terbuka, menampakkan sosok Nenek yang berdiri dengan tangan bersedekap di dada. Di belakangnya, Paman berdiri dengan wajah masam, seolah kehadiran kami adalah wabah yang akan merusak ketenangan hidupnya.

"Sudah sampai?" suara Nenek dingin, sedingin udara malam itu.

Ayah turun, menurunkan barang-barang kami dengan kasar ke atas tanah. "Ini mereka, Bu. Saya titip dulu. Saya harus kembali ke kota, ada urusan mendesak."

Urusan mendesak. Aku tahu dia ingin kembali ke pelukan selingkuhannya yang sedang mengandung. Dia lebih memilih benih yang baru daripada kami yang sudah tumbuh di depannya.

Aku dan Bayu turun dari mobil dengan gemetar. Tanah di bawah kakiku terasa tidak stabil. Aku menatap Nenek, berharap ada sedikit belas kasihan di matanya, tapi yang kutemukan hanyalah tatapan menilai menghitung berapa banyak beras yang akan habis untuk memberi makan kami berdua.

"Bawa masuk barang-barangnya. Besok subuh sudah harus bangun. Di sini tidak ada orang yang bangun siang," ujar Nenek singkat lalu berbalik masuk ke dalam.

Ayah bahkan tidak memeluk kami untuk terakhir kalinya. Dia langsung masuk ke mobil, memutar arah, dan pergi meninggalkan debu yang beterbangan. Kami berdiri di sana, dua anak manusia yang ditinggalkan oleh semua orang yang seharusnya mencintai kami.

Aku menarik napas panjang. Bau udara di sini berbeda. Tidak ada aroma toge. Hanya ada bau tanah kering dan kayu tua. Aku menggenggam tangan Bayu lebih erat lagi.

"Ayo, Kak," ajakku. "Kita harus masuk."

Malam itu, di bawah atap rumah Nenek, aku tidak bisa tidur. Aku berbaring di atas kasur tipis yang berbau apek, mendengarkan suara napas Bayu yang gelisah di sampingku. Aku menatap langit-langit kayu yang dipenuhi sarang laba-laba. Di dalam hatiku, aku membuat sebuah janji yang sangat keras: Aku akan bekerja. Aku akan mencari uang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjakku lagi.

Aku akan menjadi lebih kuat dari toge Ibu. Jika toge harus ditekan beban berat untuk bertunas, maka aku akan menggunakan seluruh beban hidup ini untuk tumbuh menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi dipatahkan oleh tamparan Ayah atau pengabaian Ibu.

Masa kecilku secara resmi berakhir malam itu. Di usia sembilan tahun, aku bukan lagi Maya yang ceria. Aku adalah Maya yang sedang bersiap untuk perang.

Terpopuler

Comments

Ummu Shafira

Ummu Shafira

bagus ceritanya, semoga banyak yang mampir

2026-02-17

0

Sri Jumiati

Sri Jumiati

semangat thor .suka

2026-02-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!