NovelToon NovelToon
Saat Istriku Tak Bodoh Lagi

Saat Istriku Tak Bodoh Lagi

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Poligami / Selingkuh / Bullying dan Balas Dendam / Tamat
Popularitas:4.5M
Nilai: 4.7
Nama Author: Itha Sulfiana

Firman selama ini berhasil membuat Kalila, istrinya seperti orang bodoh yang mau saja dijadikan babu dan tunduk akan apapun yang diperintahkan olehnya.

Hingga suatu hari, pengkhianatan Firman terungkap dan membuat Kalila menjadi sosok yang benar-benar tak bisa Firman kenali.

Perempuan itu tak hanya mengejutkan Firman. Kalila juga membuat Firman beserta selingkuhan dan keluarganya benar-benar hancur tak bersisa.

Saat istri tak lagi menjadi bodoh, akankah Firman akhirnya sadar akan kesalahannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menginginkan Kalila

"Vi, ke sini!" panggil Firman begitu sampai di toko.

Pegawai wanita yang ia panggil tampak tersenyum senang. Kemudian, perempuan itu mengekor dibelakang Firman sambil merapikan rambutnya yang dibiarkan tergerai.

"Ada apa, Pak?" tanya Vivi. Dia dan Firman sudah sampai didalam ruangan pria itu.

"Tutup pintunya!" titah Firman. Dan, dengan senang hati Vivi segera melakukannya.

"Sudah, Pak."

"Sekarang, kemari! Saya lagi butuh kamu."

Vivi yang sudah sangat paham dengan permintaan Firman langsung melakukan tugasnya. Diciumnya bibir pria itu dengan posesif. Berusaha memberi kepuasan pribadi kepada pria yang tak segan-segan memberi banyak uang jika pelayanan Vivi benar-benar maksimal.

Adegan berlanjut semakin liar dan panas. Vivi dengan lihai mulai melucuti pakaian Firman lalu beralih membuka pakaiannya sendiri.

"Kamu memang yang terbaik, Vi!" puji Firman puas. Dia tersenyum senang ketika Vivi terus bergerak liar diatas tubuhnya tanpa terlihat lelah.

"Antara Vivi dan kedua istri Bapak, mana yang lebih hebat?"

"Kamu," jawab Firman dengan napas tersengal-sengal.

Brak!!

Suara pintu yang dipukul dengan keras sontak mengagetkan dua manusia yang sedang melakukan dosa besar itu.

"Pak, itu siapa?" tanya Vivi.

Belum sempat Firman menjawab, pintu kembali dipukul dengan suara yang semakin keras. Reflek, burung perkutut Firman yang semula berdiri tegak dengan gagah langsung berubah loyo.

"Firman!! Buka pintunya! Kamu pasti ada didalam, kan? Keluar atau saya dobrak pintunya!"

Glek!

Firman menelan ludahnya panik. Buru-buru, dia mendorong Vivi agar menyingkir dari atas tubuhnya hingga wanita itu harus jatuh terjengkang di lantai.

"Sakit, Pak," keluh Vivi sambil memegang bokongnya yang terasa sakit.

"Pakai pakaian kamu, Vi! Cepat! Ada Pak Glen!" titah Firman kepada perempuan yang masih belum mengenakan apa-apa itu.

Vivi mengangguk patuh. Buru-buru, ia memunguti pakaiannya kembali dan mengenakannya secara asal. Bahkan, rok dan blouse yang ia pakai tampak terbalik.

Brak!

Lagi, pintu itu mencoba didobrak dari arah luar. Firman pun segera membuka pintu sebelum pintunya benar-benar dirusak oleh anak buah Glen.

"Pak Glen!" sapa Firman dengan napas yang masih terengah-engah.

Glen menatap Firman dari atas ke bawah. Penampilan Firman benar-benar kacau. Kancing kemejanya bahkan belum dipasang. Belum lagi, resleting celananya juga belum dinaikkan.

"Pantas kamu lama sekali, Firman! Ternyata lagi 'main', ya?" Glen tersenyum mencibir kemudian masuk ke dalam ruangan Firman dan langsung duduk di kursi kerja milik Firman.

"Kenapa tidak duduk di sofa saja, Pak?" tanya Firman.

"Duduk di sofa yang mana? Yang itu?" Tangan Glen menunjuk ke arah sofa yang tadi digunakan Firman dan Vivi bermain.

"Disana ada bekas kamu. Saya jijik!" Glen bergidik ngeri. "Usir perempuan itu pergi! Saya mual mencium baunya. Amis sekali."

Firman langsung memberi kode kepada Vivi supaya lekas pergi. Perempuan itu pun berlari dengan cepat meninggalkan ruangan Firman dengan perasaan malu yang luar biasa.

"Sekarang, dimana uangku?" tanya Glen setelah Vivi berlalu.

"Ada. Tentu saja ada," jawab Firman. Gegas, dia memberi uang dua ratus juta untuk Glen yang kemarin sempat ia simpan didalam brangkasnya.

Glen pun balas tersenyum. Ia senang uangnya kembali. Diciumnya uang-uang itu sebelum meminta anak buahnya untuk menghitung jumlahnya dengan teliti.

"Utuh, Bos! Jumlahnya tepat dua ratus juta," lapor salah satu anak buah Glen begitu selesai menghitung uang milik sang atasan.

"Terima kasih atas kerjasamanya, Firman! Ternyata, kamu tidak berbohong!"

"Tentu saja, saya orang yang bisa dipercaya, Pak Glen!" ujar Firman memuji dirinya sendiri sambil tertawa cengengesan.

Apakah Glen merasa kagum atas tindakan pamer Firman!? Jelas tidak. Ia bahkan tidak peduli sama sekali dengan ucapan narsis Firman itu.

"Karena kita sudah tidak ada urusan apa-apa lagi, maka saya pergi dulu!" pamit Glen kemudian.

"Tunggu, Pak Glen!" tahan Firman.

"Kenapa?"

"Sa-saya mau pinjam uang. Apa boleh?" tanya Firman hati-hati.

"Pinjam uang?" Glen menatap Firman.

"I-iya, Pak," angguk Firman kemudian.

"Boleh saja. Tapi, saya butuh jaminan."

"Bagaimana kalau sertifikat toko saya ini saja yang jadi jaminannya?" tanya Firman pada pria licik dan jahat itu.

"Boleh. Memangnya, berapa yang mau kamu pinjam?"

"Lima ratus juta."

"Lima ratus juta bukan jumlah yang sedikit, Firman."

"Saya tahu. Tapi, saya benar-benar lagi butuh."

"Saya bisa saja meminjam uang sebanyak itu untuk kamu. Tapi, sertifikat toko ini saja belum cukup. Saya juga menginginkan BPKB mobil milik kamu sebagai jaminan."

"Baik, Pak Glen! Saya sepakat!" kata Firman bersemangat.

"Oke, Bunga tiga puluh persen dan wajib dilunasi dalam jangka waktu enam bulan."

Ya, Glen memang memiliki usaha lain yaitu menjadi seorang rentenir. Meski ia merupakan seorang pejabat pemerintahan, namun pria itu tetap berani menjalankan bisnis ilegal demi menambah pundi-pundi kekayaannya.

Toh, selama ini dia merasa aman-aman saja. Citranya tetap baik didalam instansi maupun di mata masyarakat meski usaha sampingannya memiliki resiko tinggi untuk membuatnya hancur dan jatuh.

"Pak Glen, kita kan sudah kenal lama. Saya juga sudah sangat sering membantu Pak Glen selama ini. Jadi, apa bisa saya meminta keringanan bunga sedikit saja?"

"Oke. Saya bisa kasih kamu bunga dua puluh lima persen saja."

"Yang benar, Pak?"

"Tapi, ada syaratnya!"

"Hah? Syarat lagi?" Tampang Firman terlihat mulai keruh. Apa Glen ingin meminta sertifikat lagi?

"Kemarin, saya melihat ada perempuan cantik yang keluar dari rumah kamu."

Firasat Firman mulai tak enak. Perempuan cantik? Apakah istri mudanya yang dimaksud oleh Glen?

"Siapa, Pak?" tanya Firman.

"Anak buah saya sempat mengambil fotonya kemarin. Ini dia," kata Glen sembari memperlihatkan foto seorang perempuan kepada Firman.

Uhuk!

Mendadak Firman tersedak ludahnya sendiri. Perempuan yang satu itu tak pernah terbersit dalam pikiran Firman.

"Kalila?" pekik Firman tanpa sadar.

"Oh, namanya Kalila? Nama yang bagus. Sebagus bodi orangnya. Tampangnya juga sangat menawan. Saya ingin tidur dengan dia, Firman. Dua malam saja."

Tubuh Firman seketika membeku. Bagaimana mungkin, dia merelakan istrinya sendiri disentuh oleh pria lain? Sungguh, Firman tak rela. Namun, saat ini dirinya juga tak punya solusi yang lain.

Uang hasil penjualan toko kemarin sudah sangat menipis. Selain untuk mengganti uang milik Glen, uang itu juga Firman gunakan untuk membayar biaya perawatan sang Ibu di rumah sakit yang tidaklah sedikit.

Padahal, Firman masih harus memutar otak untuk mencari pemasok yang baru untuk tokonya. Tentu saja, dia memerlukan dana yang besar demi menambah kembali barang-barang toko yang kini mulai membosankan di mata konsumen karena tak ada item yang baru dan menarik.

Penjualan akhir-akhir ini semakin menurun. Sejak pelanggan tetap pergi satu per satu, Firman benar-benar merasakan bagaimana merosotnya pemasukan di setiap cabang.

"Ta-tapi ini istri saya, Pak Glen. Tidak mungkin saya tega menjual istri saya sendiri kepada laki-laki lain."

"Ayolah, Firman! Hanya dua malam saja," bujuk Glen.

"Saya bisa carikan perempuan lain yang lebih cantik dibanding istri saya, Pak Glen. Saya..."

"Bunganya akan saya turunkan menjadi dua puluh persen saja, bagaimana? Plus, uang yang kamu terima nantinya akan full tanpa potongan apapun."

"Tapi, Pak..."

"Setuju atau tidak? Saya butuh jawaban cepat, Firman."

"Setuju!" jawab Firman yang langsung menjabat tangan Glen. "Kapan saya harus membawa istri saya ke hadapan Anda, Pak Glen?"

1
Novi Partusia
ceritanya bagus🙏
Rino Wengi
mampusssssd
Rino Wengi
di anjing istrinya mau dijual
Rino Wengi
si setan mau naik haji???? nggak takut kualat?
Rino Wengi
kesel banget sama Kalila... sudah dikhianati masih betah disitu.mending pulang kerumah kakaknya minta cerai
Rino Wengi
kenapa nggak cerai saja bego
Lucy
😄😄😄😄mantap kalila
Siska Eta
jangan jangan Lia punya pria lain ya
Siska Eta
mantap lawan terus ,puas aku baca
Siska Eta
keluarga iblis di otak mareka hanya untuk memanfaatkan harta orang
Siska Eta
belum sadar dia kalau istrinya tengah menjatuhkanya
Siska Eta
pastikan jatuh sampai titik terendah
Siska Eta
Kalau su banyak uang lupa diri
Siska Eta
Cinta tanpa restu keluarga ternyata lebih sakit
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙤𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙞𝙙𝙖𝙝2 𝙪𝙩𝙚𝙠𝙚 𝙜𝙚𝙨𝙚𝙧 𝙨𝙖𝙠 𝙖𝙣𝙖𝙠2 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙪2 𝙣𝙚 😭😭🤣🤣🤣
Melinda Corra Febrina
/Smile/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙞𝙗𝙪𝙠 𝙠𝙤𝙠 𝙠𝙚𝙢𝙥𝙡𝙤 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙠𝙖𝙧𝙢𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙮𝙧 𝙩𝙪𝙣𝙖𝙞 𝙡𝙞𝙖 𝙡𝙞𝙖 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙨𝙤𝙮𝙤 𝙜𝙚𝙨𝙚𝙧 𝙪𝙩𝙚𝙠𝙚 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙠𝙞, 𝙟𝙚𝙣𝙚𝙣𝙜𝙚 𝙬𝙤𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙜𝙞𝙝 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙞𝙣𝙩𝙚𝙧 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙨𝙩𝙞 𝙥𝙣𝙮 𝙘𝙞𝙧𝙘𝙡𝙚 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜2 𝙝𝙚𝙗𝙖𝙩 𝙮𝙜 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢 🤣🤣🤣𝙠𝙤𝙠 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙧𝙚𝙥 𝙙𝙞𝙥𝙚𝙧𝙚𝙨 🤣🤣🤣𝙙𝙪𝙣𝙜𝙪 𝙖𝙣𝙘𝙚𝙣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙞𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙪𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖 𝙤𝙩𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙪𝙙𝙝 𝙜𝙚𝙨𝙚𝙧 𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙮𝙖, 𝙙𝙞𝙖 𝙮𝙜 𝙣𝙮𝙞𝙠𝙨𝙖 𝙆𝙖𝙡𝙞𝙡𝙖 𝙚𝙝 𝙜𝙞𝙡𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙠𝙞𝙩 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙞𝙟𝙢𝙥𝙩 𝙙𝙞 𝙠𝙨𝙝 𝙨𝙪𝙧𝙥𝙧𝙞𝙨𝙚 𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖 𝙗𝙖𝙪 𝙩𝙖𝙣𝙖𝙝 𝙜𝙠 𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙜𝙠 𝙥𝙣𝙮 𝙤𝙩𝙖𝙠😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!