"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berani kepada Sang Raja
“Bai Ruoxue!”
Nama itu disebutkan dengan nada yang tidak menyisakan ruang untuk salah paham.
Pintu terbuka bersamaan dengan suara dingin itu, seakan sengaja ingin menegaskan siapa yang berkuasa di ruangan tersebut. Udara di sekitarnya seolah ikut menegang. Bai Ruoxue yang semula duduk dengan punggung tegak perlahan berdiri, matanya mengangkat tanpa tergesa, namun hatinya bergetar oleh kejutan yang belum sempat ia cerna.
Dua sosok memasuki ruangan.
Yang pertama adalah pria itu. Pria yang memerintahkannya datang ke tempat ini tanpa penjelasan. Tatapannya tajam, wajahnya dingin, seolah dunia ini tidak pernah memberinya alasan untuk bersikap lembut. Kehadirannya saja sudah cukup membuat seseorang merasa bersalah, meski tidak tahu apa dosanya.
Dan di sampingnya—wanita itu.
Selir Mei.
Wanita yang beberapa saat lalu dengan sengaja mengusik ketenangannya, yang datang membawa senyum licik dan kata-kata bermata dua. Kini ia tampak berbeda. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca, langkahnya dibuat ragu seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
“Lihatlah, Yang Mulia,” suara itu terdengar lembut, terlalu lembut hingga terasa palsu. “Dia bahkan tidak memberi salam pada Anda…”
Kata-kata itu meluncur pelan, disertai isak yang tertahan. Selir Mei menunduk sedikit, seakan takut menatap langsung pria di sampingnya. Sebuah gerakan kecil, penuh perhitungan.
“Dan lalu—ah!”
Ia tiba-tiba memegangi tangan kanannya. Kulit di sana tampak memerah, bekas tekanan yang belum lama terjadi. Gerakannya tidak terburu-buru, justru dibuat lambat agar semua mata memperhatikannya.
“Saya tidak masalah dengan ini,” lanjutnya, suaranya bergetar. “Tapi… kalau sudah menyangkut pelayan saya…”
Air matanya jatuh.
Tangisan itu pecah perlahan, tertata rapi, seolah ia sudah berlatih berkali-kali untuk momen ini.
Bai Ruoxue menatap pemandangan itu dengan dada yang terasa sesak. Ada rasa muak yang naik perlahan, bercampur lelah yang belum sempat ia buang sejak pagi. Akting yang sempurna. Begitu meyakinkan hingga orang yang melihatnya mungkin akan langsung memihak tanpa berpikir dua kali.
Cih.
Ia menahan diri agar tidak mendecak keras.
“Bai Ruoxue!”
Suara pria itu kembali terdengar, lebih keras, lebih tajam. Tidak ada emosi lain di dalamnya selain perintah.
“Sekarang jelaskan.”
Bai Ruoxue tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak segera berbicara. Matanya justru tertuju pada Selir Mei yang kini berdiri di belakang pria itu, bersandar lemah seolah tubuhnya hampir roboh. Namun di balik tirai air mata itu, Bai Ruoxue menangkap sesuatu.
Senyum kecil.
Tipis. Cepat. Penuh kemenangan.
Itu cukup.
Pandangan Bai Ruoxue akhirnya beralih ke pria di hadapannya. Pria yang kini berdiri begitu dekat, seolah ingin menekannya dengan kehadiran semata. Pria yang wajahnya tak menunjukkan keraguan sedikit pun, seakan kebenaran sudah ditentukan bahkan sebelum ia diberi kesempatan bicara.
“Dia menggangguku terlebih dahulu,” ucap Bai Ruoxue akhirnya. Suaranya tenang, meski jantungnya berdetak keras. “Seharusnya kau menyelidikinya. Bukan langsung menuduhku.”
Keheningan jatuh seketika.
“Bai Ruoxue! Be—beraninya kau berbicara tidak sopan kepada Yang Mulia?!”
Pekikan Selir Mei terdengar dramatis, terlalu cepat, terlalu berlebihan. Ia melangkah sedikit ke depan, seolah ingin melindungi pria itu dari kata-kata Bai Ruoxue yang dianggap lancang.
Namun pria itu mengangkat tangannya.
Satu gerakan sederhana, namun cukup untuk membuat Selir Mei terdiam. Suara tangisnya tertahan di tenggorokan, tubuhnya membeku.
Pria itu melangkah mendekat.
Setiap langkahnya terasa berat, menekan, seolah lantai istana sendiri tunduk padanya. Tatapannya semakin tajam ketika berhenti tepat di hadapan Bai Ruoxue. Jarak mereka begitu dekat hingga Bai Ruoxue bisa merasakan dinginnya aura pria itu, menusuk kulit, merambat hingga ke tulang.
“Kau bahkan tidak memiliki tata krama?” tanyanya pelan, namun setiap kata terasa seperti hukuman.
Bai Ruoxue tidak menunduk. Tidak juga mundur. Ia membalas tatapan itu dengan mata yang sama kerasnya, meski di baliknya ada kebingungan dan kelelahan yang luar biasa.
“Dan sekarang,” lanjut pria itu, suaranya semakin rendah, “kau tidak sopan denganku?”
Di belakangnya, Selir Mei tersenyum.
Senyum penuh kemenangan.
Dalam benaknya, hukuman sudah menunggu. Cambukan. Lutut yang dipaksa menyentuh lantai dingin berjam-jam. Penghinaan di depan banyak orang. Semua kemungkinan itu berputar cepat, membuat jantungnya berdebar oleh antisipasi yang manis.
Yang Mulia pasti akan menghukummu dengan berat! batinnya berteriak puas.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Pria itu berbalik.
Tanpa kemarahan yang meledak, tanpa teriakan, tanpa emosi yang bisa dibaca. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah tenang, seolah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil yang tak layak mendapat perhatian lebih.
Saat tangannya hampir menyentuh ambang pintu, ia berhenti.
“Hukum dia menulis aturan tata krama kerajaan,” ucapnya datar. “Seratus lembar.”
Ia menoleh sedikit, cukup untuk memastikan semua orang mendengarnya.
“Setelah itu, berikan padaku.”
Lalu, satu kalimat terakhir yang jatuh seperti palu.
“Tidak boleh ada yang menemuinya.”
Apa?
Selir Mei membeku.
Hanya menulis?
Bukan cambuk? Bukan berlutut? Bukan hukuman fisik yang mempermalukan?
Keterkejutan itu begitu nyata hingga senyumnya memudar seketika. Ia tidak menyangka hukuman itu akan… seringan ini. Terlalu ringan untuk kesalahan sebesar itu. Terlalu lembut untuk seseorang yang berani menentang Yang Mulia secara langsung.
Pria itu pergi.
Benar-benar pergi, meninggalkan ruangan dalam keheningan yang canggung.
Setelah itu, Selir Mei mendekat ke Bai Ruoxue. Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi suara bergetar. Yang tersisa hanyalah nada rendah penuh ancaman.
“Meskipun kali ini Yang Mulia masih lembut padamu,” bisiknya. “Ini baru awal.”
Ia tersenyum miring.
“Jangan senang dulu.”
Lalu ia pergi, gaunnya menyapu lantai dengan anggun, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
“Nona…” suara Shuang Shuang terdengar pelan, penuh kekhawatiran.
Namun sebelum pelayan itu bisa mendekat, seorang pengawal memberi isyarat tegas. Shuang Shuang terpaksa berhenti, menatap Bai Ruoxue dengan mata cemas sebelum akhirnya mundur dan pergi.
Pintu kembali tertutup.
Bai Ruoxue berdiri sendirian.
Tubuhnya terasa berat. Kepalanya berdenyut pelan. Ia menatap ruangan itu dengan pandangan kosong, seolah baru sekarang semua kejadian hari ini menghantamnya bersamaan.
Ia datang ke sini tanpa penjelasan.
Tiba-tiba berada di dunia yang asing.
Tiba-tiba dimasukkan ke tempat bernama Istana Dingin—nama yang terasa pas dengan kesepian dan kehampaan yang menyelimutinya.
Tiba-tiba bermusuhan dengan seorang wanita bernama Selir Mei, tanpa tahu apa kesalahannya.
Dan kini, ia dihukum menulis aturan tata krama kerajaan hanya karena dianggap tidak sopan.
Semua terjadi terlalu cepat.
Terlalu tiba-tiba.
Tidak ada waktu untuk bersiap. Tidak ada kesempatan untuk memahami.
Hari ini benar-benar melelahkan.
Semua orang menyerangnya, menuduhnya, menghakiminya—sementara ia sendiri bahkan tidak tahu aturan apa yang sedang ia langgar.
Dan yang paling menyiksa dari semuanya adalah satu kenyataan sederhana yang terus menghantui pikirannya.
Ia tidak tahu apa-apa.
Tidak tentang istana ini.
Tidak tentang pria dingin itu.
Tidak tentang Selir Mei.
Tidak tentang Bai Ruoxue yang sebenarnya.
Ia hanya berdiri di tengah badai yang bukan miliknya, mencoba bertahan tanpa peta, tanpa perlindungan, dan tanpa jawaban.
Dan kelelahan itu akhirnya merambat pelan, menekan dadanya, membuat napasnya terasa berat.
Hari ini baru permulaan.
Dan entah apa yang menunggunya setelah ini.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi