"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untuk Pertama Kali
"Kalo kamu ngantuk, tidur saja." Ucap Dimas menghampiri Naina yang masih duduk di depan meja rias.
"Mas juga." Jawab Naina, gadis itu terlihat risih dengan baju yang saat ini ia kenakan, Dimas berkali-kali melihat tangan Naina yang membetulkan bagian yang menyangkut di pundaknya jatuh kesamping, hal itu membuat Naina semakin gugup.
"Maaf, Mas. Semua baju di lemari bentuk nya seperti ini semua. Bahkan ada yang hanya berbentuk jaring-jaring." Ucap Naina yang membuat Dimas sedikit menyunggingkan bibir. "Lucu dan polos."
"Kalau kamu tidak nyaman, besok kita beli yang agak tertutup."
"Aku takut Mas bepikir kalau aku mau menggoda dengan pakaian seperti ini."
Dimas terkekeh. "Sepertinya pihak hotel sangat mempersiapkan semua ini."
Dimas berjalan ke kasur dan merebahkan diri. Diikuti oleh Naina yang kemudian berjalan pelan ke kasur dan ikut merebahkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut. Ia mencoba memejamkan mata dan berusaha untuk tidur, tapi terasa sulit.
Naina yang sama sekali tidak pernah dekat dengan laki-laki apalagi pacaran kini harus tidur satu ranjang dengan lawan jenis tentulah bukan suatu hal yang mudah.
Jantungnya berdetak kencang, dan tampak sekali ia gelisah membuat Dimas merasakannya.
"Apa kamu gugup?" Tanya Dimas
Naina mengangguk. Kini ia membelakangi pria itu.
"Aku juga..." Sambung Dimas.
"Aku belum pernah," ucap Naina membuat Dimas yang sebagai lelaki normal tentulah semakin bergejolak tapi ia berusaha menyembunyikannya.
Dimas terlihat menelan saliva, "tidurlah... kamu pasti capek."
Naina tidak menjawab, ia hanya hening.
Entah berapa lama mereka saling diam dan tidak ada sentuhan sama sekali dimalam itu. Hingga hari pun berganti siang.
***
Naina membuka mata pelan, siluet mentari terlihat masuk melalui cela jendela yang tirainya sedikit terbuka.
Ia meraba tubuhnya yang ternyata masih mengenakan pakaian sama seperti semalam. Naina mendengus. Ada perasaan lega sekaligus bingung. "Tidak terjadi apa-apa." Ia melihat kesamping yang ternyata Dimas tidak ada disana. Naina segera beranjak, ia merapikan sprei kasur dan melipat selimut.
Kemudian sosok yang sekarang tidak asing muncul di hadapannya.
"Sepertinya kamu sangat capek, tidurmu nyenyak sekali." Ucap Dimas sedikit menggoda Naina.
Naina tersipu, matanya melirik jam kecil yang ada di atas nakas sebelah kasur, menunjukan pukul sembilan. "bisa-bisanya aku bangun jam segini." Batin Naina.
"Mandi, kemudian kita sarapan."
Naina mengangguk, kemudian melangkah ke kamar mandi. Baru bangun tidur membuatnya sedikit linglung. Ia masuk ke kamar mandi dan segera melepas semua pakaian dan segera mengguyur tubuhnya dengan air mancur. Tanpa sadar, tirai yang kemarin membuat mereka sama-sama kikuk lupa di tutup.
Pemandangan dari dalam kamar mandi membuat Dimas seketika mematung, matanya seolah enggan beranjak sedetik pun dari pemandangan itu. Ia sangat menikmati detik demi detik hal yang ada di dalam sana. Semua terlihat jelas, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dimas seperti membara, imajinasinya berjalan liar. Membayangkan seandainya dia pun ikut serta di dalam sana, berdua dengan Naina dibawah air yang mengalir. Pikiran liar seorang lelaki.
Namun seketika lamunan itu memudar dengan suara ketukan pintu yang membuat Dimas tersentak kaget.
Dimas segera menutup tirai kamar mandi itu membuat Naina pun ikut kaget dengan gerakan Dimas yang tiba-tiba.
Seketika Naina terdiam. Dan segera mengambil handuknya.
"A-apa itu tadi?" Tanya Naina yang baru menyadari kalau sedari tadi ia lupa menutup tirai. Lantas ia langsung memakai handuk.
Wajah Naina memerah. Ia mengintip dari balik pintu kamar mandi. Terlihat Dimas membukakan pintu, karena pelayan hotel datang membawakan sarapan.Melihat itu, Naina kembali masuk ke kamar mandi, ia mengatur nafasnya serta berusaha menenangkan diri.
"Aaah! Semoga saja dia tidak melihat." Batin Naina berteriak.
Sementara itu...
"Gak apa-apa Mas, nanti aku saja yang membawanya ke dalam." Ucap Dimas pada pelayan hotel, seperti tidak mengizinkan pelayan itu masuk.
Pelayan hotel itu tersenyum, "Baik, Pak."
*
Setelah pelayan hotel keluar, Naina ikut keluar dari kamar mandi. Ia menuju lemari baju dan mencari baju yang sekira tidak terlalu terbuka. Berkali-kali yang ia dapatkan tetap lah bermodel satu jari dengan bagian paha yang tentu saja telihat jelas.
Naina mendengus. "Apa mereka pikir aku suka dengan pakaian seperti ini? Semua bajunya seperti kekurangan bahan." Ucap Naina sembari mendengus.
Lalu Dimas datang, ia menyodorkan sebuah kotak hitam berpita merah muda pada Naina.
"Pakai ini. Ini baru saja aku pesan buat kamu, karena aku tau kamu risih dengan semua pakaian yang ada di dalam lemari itu."
Naina menatap Dimas dan mengambil pemberian Dimas. Seketika ia memalingkan wajah, karena teringat akan tirai kamar mandi tadi.
"Te-terimakasih, Mas." Ucap Naina tanpa melihat ke arah pria itu.
"Iya." Jawab Dimas, "Aku tunggu di balkon. Kita makan sama-sama."
Naina mengangguk. Melihat Dimas beranjak, ia segera membuka kotak pemberian Dimas. Ternyata isinya adalah sebuah gaun. Gaun simpel, berwarna merah muda.
Naina seperti berbunga-bunga, ia sangat senang akan pemberian itu, dan segera mengenakannya.
Setelah semua selesai, Naina beranjak menemui Dimas yang sudah menunggu di balkon, siap dengan segala hidangan untuk mereka makan bersama.
***
"Kita masih ada enam hari di sini. Nikmati saja semua yang ada. Jangan malu dan jangan gak enakan." Ucap Dimas disela suapannya. Ia seperti mengerti akan kegelisahan yang ada di hati Naina.
"Iya, Mas. Aku hanya belum terbiasa dengan semua ini. Makanan, pakaian, dan tempat ini benar-benar baru pertama kali aku rasakan."
"Apalagi gaun ini. Ini sangat bagus. Aku yakin harganya pun pasti sangat mahal. Makanan ini juga. Aku baru tau kalau makan pun bisa pakai pisau." Ucap Naina begitu polos.
Dimas terkekeh. "Semoga kamu suka."
"Suka sekali."
Setelah makan dan mengobrol singkat, Dimas memutuskan untuk berkeliling kota mengajak Naina. Hal itu untuk mengusir kecanggungan diantara mereka, dan setidaknya agar sedikit lebih akrab.
"Aku mau kesana." Ucap Naina, saat mereka melewati taman kota. Sore hari ini membuat taman itu sudah ramai dikunjungi banyak orang. Orang tua-muda, anak-anak, balita bahkan muda mudi yang mungkin saja masih usia sekolah, khas dengan pakaian kekinian yang sedang tren.
Dimas diam sesaat, taman ini yang dulu sering ia kunjungi bersama Sarah, sekarang ia berkunjung bersama gadis lain.
Naina turun dari mobil, tapi Dimas masih berdiam diri. "Mas?" Panggilan Naina membuyarkan lamunan Dimas.
"Iya?"
"Ayo!"
Dimas segera beranjak. Mereka berjalan berdampingan menyusuri taman.
"Ramai, ya... Kota ternyata seramai ini." Ucap Naina. Tapi Dimas hanya diam, pria itu seperti berjalan dengan tatapan kosong. Naina yang menyadari itu terlihat kebingungan.
"Apa mas Dimas gak suka ya, aku ajakin kesini?" Benak Naina.
"Mas?" Panggil Naina, berkali-kali tapi Dimas masih dalam lamunannya.
"Mas? Mas Dimas?!" Kali ini Naina melambaikan tangannya di depan wajah Dimas membuat pria itu tersadar.
"I-iya? Kenapa?"
"Apa Mas tidakk suka disini?"
"Ah! Enggak, kok."
"Mas kenapa dari tadi ngelamun?"
"Mungkin terbawa suasana ramai aja."
"Yasudah kalau begitu Mas tunggu di bangku sana saja. Aku mau jajan sebentar." Naina menunjuk sebuah bangku di tepi danau. Yang lagi-lagi membuat Dimas harus berperang dengan kenangan masa lalu. Bangku taman yang dulu sering ia dan Sarah duduki sambil berbagi cerita.
"Iya," Dimas berjalan pelan, sementara Naina menghampiri penjual balon terbang dan membelinya dengan jumlah yang sangat banyak.
"Makasih ya, Neng sudah diborong." Ucap penjual balon.
Naina tersenyum lebar, "Sama-sama, Pak."
Naina kemudian berlalu, dan membagikan balon itu pada anak-anak yang ada disana.
Naina terlihat senang, banyak anak-anak yang mengerubunginya. Tawanya terlihat lepas, sesekali ia menggoda anak-anak itu dengan berlari pelan.
Dimas tersenyum memperhatikan Naina.
"Dia gadis yang baik. Sedangkan aku, aku hanyalah pria pengecut yang terjebak dalam cinta masa lalu. Bahkan sampai saat ini, aku merasa Sarah masih ada di dekatku. Dan perasaanku sama sekali tidak berubah. Masih sama... masih cinta..."
"Perasaan ini entah akan jadi seperti apa kedepannya. Apakah aku bisa mencintai Naina dan bersikap selayaknya seorang suami? Entahlah..."
*
"Mas..." Panggil Naina sembari memberikan sebuah balon berbentuk bebek berwarna kuning kepada Dimas.
Dimas diam menatap Naina.
"Karena tadi pagi Mas sudah kasih aku hadiah. Aku juga mau kasih hadiah."
Dimas tersenyum kecil. Ia tidak menghiraukan sama sekali balon yang di sodorkan Naina membuat gadis itu kemudian mengikatkan balon itu ke kursi taman.
Naina ikut duduk di sebelah Dimas. Mereka hanya diam dengan tatapan tertuju pada danau yang ada di depan mereka.
"Aku perhatikan dari tadi mas hanya diam." Ucap Naina berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa canggung.
"Apa Mas tidak nyaman berada disini?"
"Entahlah Naina. Aku rasa kamu tidak perlu tau. Lagi pula, bukan urusanmu juga." Jawaban Dimas terdengar sedikit ketus, membuat Naina memalingkan wajah.
Mereka saling diam. Sikap Dimas berubah dingin. Naina jelas merasakan, pria itu sangat berbeda. "Apa aku berbuat salah?" Batin Naina.
Seketika hujan turun, membuat para pengunjung taman berlarian, seolah enggan air hujan membasahi mereka.
Naina bangkit dari bangku taman, ia menutupi kepalanya dengan tangan.
"Mas, ayo!" Naina memanggil Dimas yang masih berdiam diri.
"Mas!" Panggil Naina lagi, yang kemudian menarik tangan Dimas, menuntun pria itu berlari menuju mobil.
Sesampai di mobil, Naina terlihat mengusap kedua telapak tangan dan meniupnya agar merasa hangat. Hujan membuat mereka berdua basah kuyup.
"Maaf," ucap Dimas memperhatikan Naina.
"Tidak apa-apa, Mas. Kita pulang saja."
"Iya."
Selama perjalanan pulang menuju hotel, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Naina dan Dimas. Keduanya hening, membiarkan suara hujan beradu mengenai atap mobil.
***
Dimas terlelap lebih cepat malam ini. Sejak dari taman, pria itu hening membuat Naina dipenuhi dengan tanda tanya tapi enggan untuk menanyakan. Hingga ia pun mengikuti suasanya ini, dan hanya bisa menatap Dimas dalam diam.