Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas Balik Yang Menyakitkan
Di stadion, peluit tanda dimulainya Quarter Ketiga baru saja berbunyi. Luca berdiri di tengah lapangan, namun pandangannya terkunci pada kursi kosong di sebelah Clara,dan menatap kesekitar, namun penampakan Greta nihil.
"Rasakan ini...!" teriakan Revelyn pecah.
bersamaan dengan ayunan pemukul baseball-nya yang membelah udara.
DUG!
Greta tidak sempat menghindar. Ia hanya bisa meringkuk, menyilangkan kedua lengannya di atas kepala. Pukulan pertama menghantam lengan bawahnya dengan telak. Rasa panas dan kebas menjalar seketika, namun Revelyn belum selesai. Ia mengayunkan logam dingin itu berkali-kali—ke arah bahu dan rusuk Greta.
Suara hantaman tumpul itu terdengar memuakkan di ruangan sesak itu. Greta menggigit bibirnya hingga berdarah, mencoba menahan jerit kesakitan, sementara Norah berdiri tak jauh dari sana, menonton pertunjukan itu dengan tawa kecil. Bagi Norah, melihat Greta yang meringkuk seperti tikus kecil di lantai adalah hiburan terbaiknya hari ini.
"HEEENTIKAAANN...!" teriak Greta dengan seluruh sisa napas di paru-parunya.
Suaranya menggelegar, menghantam dinding-dinding beton. Revelyn terhenti, napasnya memburu, sementara Norah tersentak kaget. Ia segera berlari ke arah pintu, membukanya sedikit untuk mengintip ke luar koridor, memastikan tidak ada orang yang mendengar. Setelah yakin aman, ia menutup kembali pintu itu dengan rapat.
Mata Norah menyapu ruangan dan terpaku pada sakelar lampu tua di dinding, tepat di sebelah Greta yang sedang merintih.
"Terlalu berisiko kalau lampunya menyala. Kalau ada yang tidak sengaja lewat dan melihat cahaya dari celah pintu, kita bisa ketahuan," gumam Norah dingin. Ia melangkah mendekati sakelar itu.
Greta, yang masih berusaha mengatur napas di tengah rasa sakit yang menghujam tubuhnya, melihat tangan Norah terangkat.
"Jangan... jangan matikan lampunya...!" rintih Greta dengan suara bergetar. Tangannya yang memar berusaha menggapai ke arah Norah. "Kumohon, Norah... jangan gelap..."
Norah menghentikan jemarinya tepat di depan sakelar. Ia menoleh perlahan, menatap mata Greta yang kini dipenuhi ketakutan murni. Bukannya iba, senyum Norah justru melebar lebih kejam dari sebelumnya.
"Oh?" Norah berbisik. "Jadi, si pemberani dengan rambut baru ini... ternyata punya kelemahan.
Jari Norah sudah menempel di atas sakelar, siap untuk menekan tombol itu ke bawah dan menenggelamkan Greta dalam kegelapan total bersama Revelyn yang masih memegang pemukul baseball.
"Jangan... jangan gelap, Norah... jangan gelap..." rintih Greta, suaranya parau karena rasa sakit dan ketakutan yang luar biasa. Dengan sisa tenaganya, ia merangkak dan mencengkeram kaki Norah, memohon seolah nyawanya bergantung pada secercah cahaya remang di ruangan itu.
Norah menunduk, menatap tangan Greta yang gemetar di sepatunya dengan tatapan jijik. "Lepaskan tangan kotormu dari aku, Greta," desisnya dingin.
Tanpa peringatan, Norah menyentakkan kakinya dengan kasar, menjulurkannya tepat ke arah wajah Greta.
PLAK!
Hantaman sepatu itu membuat kepala Greta terhentak ke belakang. Tubuhnya terhempas keras ke arah tumpukan barang-barang bekas meja kayu patah dan kursi besi berkarat yang menumpuk di pojok ruangan. Greta mengerang kesakitan saat punggungnya menabrak tumpukan itu, membuatnya terjepit di antara rongsokan yang dingin.
Norah menarik napas panjang, merapikan letak roknya, lalu menoleh ke arah sakelar lampu. Wajahnya tampak sangat puas melihat Greta yang sudah tak berdaya.
"Selamat tidur, Greta," ucap Norah pelan, hampir seperti bisikan pengantar tidur yang mengerikan.
TEK.
Norah menekan sakelar itu.
Seketika, cahaya kekuningan yang remang itu lenyap. Seluruh ruangan ditelan oleh kegelapan total yang pekat. Tidak ada cahaya matahari, tidak ada cahaya lampu koridor hanya hitam yang menyesakkan.
Dalam kegelapan yang pekat, napas Greta semakin memburu. Detak jantungnya bergemuruh di telinganya, menenggelamkan suara langkah kaki Revelyn. Rasa sakit di tubuhnya bercampur aduk dengan ketakutan yang tak terhingga.
(Kilas balik)
Ia mendapati dirinya berdiri di sebuah lorong panjang yang gelap gulita. Tidak ada suara, hanya keheningan mencekam yang menusuk indra pendengarannya. Lampu-lampu darurat yang berkedip-kedip di langit-langit hanya sesekali menerangi sekeliling, menciptakan bayangan-bayangan bergerak yang menyerupai monster.
Di setiap sudut, di setiap celah, ada bercak darah yang menghiasi dinding dan lantai. Warnanya merah pekat, mengering dan membentuk pola-pola mengerikan. Aroma amis yang memuakkan menusuk hidungnya, membuat perutnya mual. Langkah kakinya yang berat meninggalkan jejak basah di genangan cairan merah itu.
Ia berjalan terseok-seok, memegang erat-erat luka di perutnya yang terasa perih. Di sekelilingnya, tergeletak beberapa tubuh manusia. Siluetnya tidak jelas dalam remang, namun ia tahu itu adalah orang-orang yang tidak lagi bernapas. Ada yang tergeletak meringkuk di sudut, ada yang bersandar lemas di dinding, dengan mata terbuka lebar menatap kosong ke kegelapan. Wajah-wajah mereka membeku dalam ekspresi terkejut dan ketakutan.
Setiap langkah terasa berat, seolah ia sedang berjalan di atas arang panas. Kepalanya berdengung oleh bisikan-bisikan asing, dan ia bisa merasakan sentuhan dingin yang menjalar di punggungnya, seolah ada sesuatu yang tak terlihat mengamatinya Dari CCTV di ujung lorong.
Pintu besi di ujung lorong itu berderit memuakkan saat Greta mendorongnya dengan telapak tangan yang basah oleh cairan kental. Darah merah pekat melumuri jemarinya, meninggalkan bekas seretan yang mengerikan di permukaan pintu yang dingin. Ia berdiri di sana, terengah-engah, dengan tubuh yang gemetar hebat akibat trauma dan rasa sakit yang tak tertahankan.
CRAAAKKK!
Seketika, kegelapan yang tadinya mencekam itu meledak. Bukan oleh sinar matahari, melainkan oleh rentetan lampu sorot super terang yang menghujam langsung ke matanya. Cahaya itu begitu putih, begitu menyilaukan, hingga Greta terpaksa menyipitkan mata dengan pedih.
Di balik cahaya yang membutakan itu, berdiri barisan siluet gelap yang kokoh pasukan bersenjata lengkap dengan perlengkapan taktis hitam. Moncong senjata mereka terarah tepat ke arahnya. Cahaya lampu itu menyinari wajah Greta, menonjolkan setiap inci lukisan merah darah yang memercik di pipi, dahi, dan rambut pendeknya yang kini lepek dan berantakan.
Ia tampak seperti malaikat maut yang baru saja merangkak keluar dari neraka.
Dalam kegelapan total itu, Revelyn mengayunkan pemukul baseball-nya dengan tenaga penuh. Namun, tepat sebelum logam itu menghantam sasaran, ayunannya terhenti mendadak di udara. Revelyn tersentak, ia menarik-narik pemukulnya sekuat tenaga, namun benda itu seolah telah menyatu dengan kegelapan, tak bergerak sedikit pun.
Norah, yang hanya mengandalkan pendengaran, yakin bahwa Greta sudah tak bisa berkutik. Ia melangkah maju dengan napas memburu, mengangkat balok batu bata di tangannya tinggi-tinggi.
"Hadiah untukmu, tikus kecil!" teriak Norah penuh kebencian.
Ia menghujamkan batu bata itu ke arah bawah dengan seluruh tenaganya.
BRAAAKKK!
Suara hantaman keras terdengar, disusul suara benda-benda berat yang terhempas ke samping dengan sangat cepat. Di tengah keheningan yang mencekam itu, terdengar suara langkah kaki yang berlari dengan ritme konstan menjauhi ruangan, menuju pintu keluar.
Revelyn yang mulai merasa ada yang tidak beres, segera meraba-raba dinding dengan tangan gemetar hebat. Begitu jemarinya menemukan sakelar, ia menekannya dengan sekali sentak.
TEK!
Lampu remang-remang itu menyala kembali. Revelyn terbelalak, napasnya seolah berhenti di tenggorokan.
Greta sudah tidak ada di sana. Ruangan itu kosong, hanya menyisakan pintu yang terbuka lebar dan berayun pelan. Namun, pemandangan di sudut ruangan membuat Revelyn menjatuhkan pemukul baseball-nya hingga berdenting keras di lantai.
Norah tersungkur di tengah tumpukan barang bekas. Tubuhnya terjepit di antara meja-meja tua yang hancur, dan darah segar mulai mengalir deras dari kepalanya, membasahi lantai beton yang kotor. Ia tidak bergerak sedikit pun, pingsan dalam posisi yang sangat mengenaskan. Revelyn tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam beberapa detik kegelapan tadi, tapi yang ia lihat hanyalah Norah yang kini pingsan tak berdaya.
Greta berlari melintasi taman belakang sekolah dengan napas yang silih berganti dengan isakan tertahan. Kakinya yang gemetar terus dipaksa melangkah cepat menyusuri lorong-lorong sepi, hingga ia mencapai area toilet putri.
Di saat yang bersamaan, Clara yang baru saja turun dari lantai atas dengan wajah bingung karena tidak menemukan Greta di ruang guru tersentak melihat bayangan sahabatnya itu melintas cepat.
"Greta..!" teriak Clara dengan suara melengking, berusaha mengejar.
Greta tidak menoleh sedikit pun. Ia terus berlari masuk ke dalam toilet dan segera membanting pintu bilik, menguncinya dari dalam dengan suara klik yang tajam.
Clara segera menyusul masuk ke toilet, jantungnya berdegup kencang melihat suasana sunyi yang mencekam. Ia mendekati pintu bilik yang tertutup rapat. "Greta.. Gretaa kamu darimana? Kenapa kamu lari seperti itu?" tanya Clara sambil mengetuk-ngetuk pintu kayu itu dengan cemas.
"Tunggu sebentar Clara.." sahut Greta dari dalam. Suaranya terdengar datar, namun ada getaran dingin yang tidak pernah Clara dengar sebelumnya.
Clara menghela napas panjang. Meski hatinya dipenuhi ribuan pertanyaan, ia tahu Greta butuh waktu. Dengan raut muka yang sangat cemas, Clara memutuskan untuk keluar dari toilet sebentar. Ia berjalan bolak-balik di koridor, sebelum akhirnya terduduk lemas di lantai lorong yang dingin, menunggu Greta keluar.
Namun, baru beberapa saat ia duduk, pandangan Clara terpaku pada ujung lorong yang gelap.
Di sana, muncul dua siluet yang bergerak lambat. Revelyn tampak sedang merangkul Norah dengan susah payah. Tubuh Norah terkulai lemas, kepalanya tertunduk dengan rambut yang menutupi wajahnya, namun Clara bisa melihat dengan jelas noda merah pekat yang membasahi baju seragam Norah. Revelyn sendiri tampak pucat pasi, matanya liar ketakutan seolah baru saja melihat hantu.
Clara bangkit berdiri dengan perlahan, tangannya menutup mulut karena terkejut. Ia melihat ke arah pintu toilet tempat Greta berada, lalu kembali melihat ke arah Revelyn dan Norah yang semakin dekat.
Clara berlari kecil menghampiri mereka dengan mata membelalak. "Apa yang terjadi?! Revelyn, Norah kenapa?!" tanya Clara panik, suaranya bergetar melihat darah yang sudah mengering di pelipis Norah.
Revelyn menoleh dengan tatapan liar dan napas yang terengah-engah. Wajahnya yang biasanya sombong kini tampak hancur oleh rasa takut. "Jangan bertanya! Bantu aku bawa dia ke ruangan Ms. Alice di UKS sekarang!" bentaknya dengan suara serak.
Clara mematung sejenak. Pikirannya terbagi antara Norah yang sekarat di depannya dan Greta yang masih terkunci di dalam toilet. Ia menoleh ke arah pintu toilet, berharap Greta segera keluar sehingga ia tidak perlu meninggalkan sahabatnya itu sendirian.
"Greta... aku..." gumam Clara ragu.
"Clara! Bantu aku cepat!" Hentakan keras Revelyn mengejutkan Clara. Revelyn menarik lengan Clara dengan kasar, memaksa gadis itu untuk ikut menopang tubuh lemas Norah yang terasa sangat berat.
Karena tidak punya pilihan lain dan didorong rasa kemanusiaan melihat kondisi Norah yang mengerikan, Clara akhirnya mengangguk. Ia memapah sisi lain tubuh Norah, sementara matanya masih sempat melirik sekali lagi ke arah pintu toilet yang tetap tertutup rapat.
Mereka bertiga perlahan menjauh dari lorong toilet, berjalan tertatih-tatih menuju ruang UKS. Suasana lorong kembali sunyi, menyisakan kesunyian yang mencekam di depan pintu toilet putri.
Greta melangkah keluar dari toilet dengan gerakan yang sangat tenang, hampir menyerupai robot. Ia terus menunduk, fokus mengucek noda darah pada seragamnya menggunakan sapu tangan yang sudah dibasahi air. Wajahnya yang tadi pucat kini terlihat bersih, namun sorot matanya yang baru tetap terasa asing.
Langkah kakinya terhenti tepat di depan noda darah segar yang tertinggal di lantai jejak yang ditinggalkan Norah saat dipapah tadi. Greta menatap noda merah kecil itu dalam diam selama beberapa detik.
Perlahan, ia menggerakkan ujung sepatunya di atas noda itu. Ia menggeseknya dengan gerakan memutar, menghapus jejak tersebut hingga noda darah itu tersamar dan menyatu dengan debu lantai. Setelah memastikan jejak itu tidak lagi terlihat jelas, ia menarik napas panjang dan mulai berjalan kembali menuju arah stadion.
Suara gemuruh penonton terdengar semakin memekakkan telinga saat Greta mendekati pintu masuk tribun. Di dalam, suasana sedang berada di puncak ketegangan.
Skor Saat Ini 45 - 48, Jarvis High tertinggal tipis dari Northern High.
Luca tampak kelelahan. Keringat bercucuran deras, dan fokusnya mulai terpecah karena berkali-kali melirik ke arah kursi kosong tempat Greta seharusnya berada.
Saat Greta melangkah masuk ke area tribun dan berdiri di dekat pagar pembatas, suasana mendadak terasa aneh bagi mereka yang berada di barisan belakang. Greta berjalan menuju kursinya dengan dagu tegak, meski lengan bajunya masih terlihat sedikit basah bekas cucian tadi.
Ms. Alice baru saja keluar sebentar untuk mengambil perban tambahan di gudang medis, meninggalkan Norah dan Revelyn berdua saja di dalam ruangan yang beraroma obat-obatan tajam itu.
Norah, yang tadinya terbaring lemah, tiba-tiba mencengkeram sprei kasur dengan kuat. Matanya terbuka lebar, memancarkan amarah yang murni. Dengan gerakan kasar, ia berusaha bangkit duduk meskipun kepalanya terasa berdenyut hebat seperti dipukul martil.
"Norah! Jangan bangun dulu, kata Ms. Alice kamu harus.."
"DIAM!" bentak Norah, suaranya parau namun penuh penekanan. Ia memegangi pelipisnya yang terbalut kain kasa. "Sialan...! Berani-beraninya dia melakukan ini kepadaku?! Berani-beraninya tikus itu menyentuhku!"
Norah teringat sekilas bayangan di kegelapan gedung belakang betapa cepat dan dinginnya gerakan Greta saat itu. Rasa sakit di kepalanya tidak sebanding dengan rasa malu yang membakar dadanya. Ia merasa harga dirinya sebagai ratu sekolah telah diinjak-injak hingga hancur.
"Dia pikir dia siapa?!" Norah menggeram, kakinya turun dari ranjang dan menyentuh lantai yang dingin. Tubuhnya sempat terhuyung, namun ia menahan diri dengan mencengkeram tiang infus di sampingnya.
"Bantu aku, Rev. Sekarang!" perintah Norah sambil menatap tajam ke arah pintu. "Aku tidak akan membiarkan dia duduk manis menonton Luca seolah dia adalah pahlawan. Aku akan mempermalukannya di sana, di depan semua orang!"
oke lanjut thor.. seru ceita nya