NovelToon NovelToon
Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!

Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.

Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.


Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.

Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam panjang penuh drama

Setelah toast dari Bambang yang membuat suasana sedikit mencair--atau setidaknya membuat beberapa tamu lebih simpati pada Mayra---acara dilanjutkan dengan makan malam.

Pelayan mulai menghidangkan makanan, hidangan demi hidangan--mulai dari pembuka, sup, hidangan utama, penutup--semua hidangan mewah yang sudah dipesan berbulan-bulan sebelumnya untuk pernikahan yang seharusnya sangat berbeda dari ini.

Mayra dan Dev duduk di sofa pengantin di atas stage, makan dengan anggun meski Mayra hampir tidak bisa merasakan makanannya, perutnya terlalu mual karena nervous.

Di bawah stage, tamu-tamu makan sambil berbisik satu sama lain. Atmosfer masih sangat tegang, tapi setidaknya tidak sekacau seperti di gereja tadi.

"Kamu harus makan," kata Dev pelan sambil menyuapkan sepotong salmon ke piring Mayra. "Kamu tidak makan sejak kapan?"

"Sarapan pagi tadi... rasanya," jawab Mayra sambil memaksa diri menyuap makanan. "Aku tidak nafsu makan."

"Adrenalin," komentar Dev, pendek. "Tapi kamu perlu energi. Malam masih panjang."

Mayra menoleh menatap Dev. "Berapa lama lagi kita harus di sini?"

"Biasanya resepsi berlangsung 3-4 jam. Kita baru satu jam," jawab Dev sambil meminum wine-nya dengan tenang, seolah ini hanya acara bisnis biasa untuknya.

"Oh God," keluh Mayra pelan.

Dev tersenyum tipis. "Welcome to your new life, Mrs. Armando."

Nama itu--Mrs. Armando--masih terasa asing di telinga Mayra. Tapi juga... tidak sepenuhnya buruk.

Saat main course selesai dan dessert mulai dihidangkan, MC mengambil mic lagi.

"Ladies and gentlemen, sekarang saatnya untuk... games!"

Mayra dan Dev saling pandang. Games. Tentu saja ada games di resepsi pernikahan tradisional.

"Kita akan bermain 'How Well Do You Know Your Spouse'!" seru MC dengan antusiasme yang sedikit dipaksakan, pria ini clearly tidak nyaman dengan situasi tapi tetap profesional.

Beberapa tamu tertawa, tawa yang awkward karena semua orang tahu pengantin ini baru saja "menikah mendadak".

MC naik ke stage dengan dua papan kecil dan spidol. "Jadi peraturannya sederhana. Saya akan tanya pertanyaan tentang pasangan masing-masing. Tuan Dev dan Nyonya Mayra harus menulis jawaban di papan tanpa lihat jawaban pasangannya. Lalu kita lihat apakah jawabannya cocok!"

Mayra berbisik pada Dev. "Kita bahkan tidak kenal satu sama lain dengan baik. Ini akan jadi bencana."

"Atau kesempatan bagus untuk belajar," jawab Dev dengan senyum tipis yang menenangkan. "Ikuti saja."

MC memberikan papan dan spidol pada mereka. "Pertanyaan pertama untuk Tuan Dev: Apa makanan favorit istri Anda?"

Dev menatap Mayra sekilas, seperti sedang mengingat-ingat. Lalu dia menulis sesuatu di papannya.

Mayra juga menulis jawabannya sendiri: Pasta carbonara.

"Okay, perlihatkan!" seru MC.

Mereka berdua mengangkat papan.

Mayra: Pasta carbonara

Dev: Pasta carbonara

Beberapa tamu tertegun. "Oh! Mereka cocok!"

MC terlihat sedikit terkejut tapi tetap tersenyum. "Wow! Perfect match! Bagaimana Tuan Dev tahu?"

"Saya memperhatikan," jawab Dev dengan tenang sambil menatap Mayra. "Di pertemuan pertama kami, dia pesan pasta carbonara."

Mayra terkejut, dia bahkan tidak ingat detail itu. Tapi Dev benar. Saat mereka bertemu di The Goods Diner beberapa hari lalu, Mayra memang sempat pesan pasta carbonara sebelum Dev datang.

"Pertanyaan kedua untuk Nyonya Mayra: Apa pekerjaan suami Anda?"

Mayra menulis dengan yakin: CEO Armando Properties

Dev juga menulis: CEO Armando Properties

Mereka cocok lagi.

Beberapa tamu mulai terlihat lebih tertarik, drama berubah menjadi entertainment.

"Pertanyaan ketiga untuk Tuan Dev: Apa warna favorit istri Anda?"

Dev terdiam sebentar, ini yang dia tidak tahu. Dia menatap Mayra yang mengenakan gaun putih, tapi sekilas mengingat saat dia lihat Mayra di pertemuan pertama, wanita ini mengenakan blazer... biru? Navy blue?

Dev menulis: Navy blue.

Mayra menulis: Navy blue.

Cocok lagi!

MC tertawa. "Luar biasa! Kalian sangat kompak!"

Beberapa tamu bertepuk tangan, kali ini lebih tulus.

Di meja keluarga Prasetyo, Arman menatap dengan wajah yang semakin hancur. Mayra dan Dev terlihat... cocok. Natural. Seperti mereka memang sudah lama kenal.

"Pertanyaan terakhir," kata MC. "Ini pertanyaan untuk keduanya: Apa hal pertama yang menarik perhatian Anda dari pasangan Anda?"

Ini pertanyaan tricky. Mayra dan Dev saling pandang, bagaimana mereka menjawab ini tanpa mengungkap bahwa pernikahan mereka adalah kontrak?

Dev menulis terlebih dahulu: Keberaniannya.

Mayra berpikir sejenak, lalu menulis: Ketenangan dan kekuatannya.

Mereka mengangkat papan bersamaan.

Dev: Keberaniannya

Mayra: Ketenangan dan kekuatannya

MC membaca jawaban itu dengan senyum. "Meskipun tidak sama persis, tapi sangat sweet! Keberanian dan kekuatan, kualitas yang saling melengkapi!"

Beberapa tamu bersorak, suasana mulai mencair.

Tapi tidak semua orang senang.

Di meja keluarga pengantin wanita, Siska berbisik keras pada Bambang. "Ini semua sandiwara! Mayra bahkan tidak kenal pria itu!"

Bambang hanya diam dengan wajah lelah.

Dan di meja sebelah, Zakia akhirnya mengangkat kepalanya, menatap Mayra dan Dev di stage dengan tatapan yang penuh... iri? Penyesalan?

Setelah games selesai, MC melanjutkan dengan program berikutnya. "Dan sekarang... saatnya untuk bouquet toss!"

Mayra terkejut. "Aku harus lempar bouquet?"

"Tradisi," bisik Dev. "Lakukan saja. Semakin cepat kita ikuti semua program, semakin cepat kita bisa pulang."

Mayra berdiri dengan bouquet di tangan, bouquet mawar putih dan baby's breath yang indah. MC meminta semua wanita single berkumpul di dance floor.

Tapi hanya sedikit yang maju, kebanyakan tamu wanita merasa awkward dengan situasinya. Akhirnya hanya ada sekitar 7-8 wanita yang berdiri di belakang Mayra, termasuk... Zakia.

Mayra tertegun melihat kakak tirinya itu berdiri di sana dengan wajah yang masih sembab, makeup rusak, tapi entah kenapa tetap ikut tradisi ini.

"Ready ladies?" tanya MC.

Mayra berbalik membelakangi mereka, mengangkat bouquet tinggi-tinggi, lalu melemparnya ke belakang dengan kuat.

Bouquet melayang di udara dan jatuh tepat di tangan Dina, sahabat Mayra yang berdiri di barisan paling belakang.

"AH!" teriak Dina dengan terkejut sambil menangkap bouquet. Lalu dia tertawa riang yang membuat suasana sedikit lebih ringan.

Dina berlari menghampiri stage dan memeluk Mayra dengan erat. "May! Oh my God! Aku tidak percaya semua ini benar-benar terjadi! Kamu okay?!"

Mayra memeluk balik sahabatnya. "Aku okay, Din. Aku janji akan menjelaskan semuanya nanti."

"Kamu harus!" bisik Dina sambil melepaskan pelukan. "Tapi jujur... Dev Armando itu pilihan yang lebih baik. Good for you, girl."

Mayra tidak bisa menahan senyum kecil.

Setelah Dina kembali ke mejanya, MC melanjutkan. "Dan sekarang... untuk sambutan penutup dari mempelai pria, Tuan Dev Armando!"

Dev berdiri dan mengambil mic dari MC. Semua mata tertuju padanya--pria yang tinggi, berwibawa, dan memancarkan aura kekuasaan.

Dev menatap seluruh tamu dengan tatapan yang tenang tapi tegas.

"Terima kasih kepada semua yang sudah datang hari ini," kata Dev dengan suara yang dalam dan jelas. "Saya tahu hari ini... tidak sesuai ekspektasi kebanyakan orang."

Beberapa tamu tertawa kecil.

"Tapi hidup tidak selalu sesuai rencana," lanjut Dev. "Dan terkadang, perubahan yang tidak terduga membawa kita pada jalan yang lebih baik."

Dia menatap Mayra dengan tatapan yang membuat jantung wanita itu berdetak sedikit lebih cepat.

"Mayra Andini Kusumo--sekarang Mayra Armando--adalah wanita yang luar biasa. Kuat, berani, dan tidak takut untuk mengambil keputusan sulit demi kebahagiaannya sendiri," kata Dev dengan nada yang penuh penghargaan. "Saya beruntung bisa menjadi orang yang dia pilih untuk memulai chapter baru dalam hidupnya."

Mayra merasakan matanya mulai berkaca-kaca. Kata-kata Dev terdengar sangat tulus, meskipun mereka berdua tahu ini semua adalah kontrak.

"Kepada keluarga Kusumo," Dev berbalik menatap Bambang. "Terima kasih sudah mempercayakan putri Anda pada saya. Saya berjanji akan menjaganya dengan baik."

Bambang mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

Lalu Dev menatap ke arah meja keluarga Prasetyo--di mana Pak Hendra, Nyonya Dewi, dan Arman duduk dengan wajah yang campur aduk antara marah, kecewa, dan terpukul.

"Dan kepada keluarga Prasetyo," kata Dev dengan nada yang lebih dingin. "Saya harap kalian belajar dari hari ini. Bahwa tindakan punya konsekuensi. Dan bahwa tidak semua wanita akan diam saat dikhianati."

Arman menundukkan kepalanya semakin dalam, pria itu terlihat seperti akan menangis lagi.

Dev mengangkat gelas wine-nya. "Untuk perubahan. Untuk keberanian. Dan untuk masa depan yang lebih baik."

"Cheers!" beberapa tamu mengikuti, kali ini dengan lebih tulus.

Setelah Dev duduk kembali, MC menutup acara. "Sekali lagi, terima kasih kepada semua tamu yang sudah hadir. Hati-hati di jalan, semuanya!"

Musik latar mulai mengalun lagi, ini tanda bahwa resepsi sudah berakhir dan tamu-tamu boleh pulang.

Sebagian besar tamu langsung bergegas keluar mereka sudah cukup dengan drama hari ini. Tapi beberapa orang menghampiri stage untuk memberikan ucapan selamat, meskipun dengan tatapan yang masih penuh tanda tanya.

"Selamat ya, Mayra, Dev. Semoga bahagia," kata salah satu tante dari pihak Kusumo dengan senyum yang dipaksakan.

"Terima kasih, Tante," jawab Mayra sopan.

Beberapa tamu lain juga datang--kebanyakan hanya formalitas, tapi ada juga yang genuinely terlihat kagum dengan keberanian Mayra.

"Kamu keren banget, May," bisik salah satu teman SMA Mayra. "Aku tidak akan pernah punya nyali seperti kamu."

"Terima kasih," jawab Mayra dengan senyum tipis.

Saat sebagian besar tamu sudah pergi, Bambang akhirnya menghampiri stage. Wajahnya terlihat sangat lelah, seperti pria yang sudah mengalami terlalu banyak shock dalam satu hari.

"Mayra," panggilnya pelan.

Mayra turun dari stage dan memeluk ayahnya. "Pa..."

"Papa tidak mengerti semua yang terjadi hari ini," kata Bambang dengan suara bergetar. "Tapi Papa percaya kamu punya alasan. Kamu selalu jadi anak yang bijak."

"Aku punya alasan, Pa. Aku janji akan menjelaskan semuanya nanti. Tapi sekarang... aku hanya butuh Papa percaya padaku," bisik Mayra.

Bambang memeluk putrinya dengan erat. "Papa selalu percaya padamu, sayang. Selalu."

Dev berdiri di samping mereka dengan hormat, memberi mereka ruang untuk moment bapak-anak ini.

Setelah beberapa saat, Bambang melepaskan pelukan dan menatap Dev. "Tuan Armando..."

"Dev, Pak. Panggil saya Dev," kata Dev dengan sopan.

"Dev," Bambang menarik napas dalam. "Saya tidak tahu Anda dengan baik. Tapi putri saya memilih Anda. Jadi saya harap... Anda benar-benar akan menjaganya."

"Saya berjanji, Pak Bambang," jawab Dev dengan tegas sambil menatap mata Bambang. "Mayra akan aman bersama saya."

Bambang mengangguk perlahan, lalu dia berbalik dan berjalan keluar dari ballroom dengan langkah yang sangat lelah. Siska mengikutinya dari belakang sambil melirik Mayra dengan tatapan tajam, jelas wanita itu sangat marah.

Tapi Mayra tidak peduli.

Sekarang yang tersisa di ballroom hanya beberapa orang: Mayra, Dev, wedding organizer yang sedang koordinasi dengan tim beres-beres, dan...

Keluarga Prasetyo yang masih duduk di meja mereka.

Pak Hendra akhirnya berdiri dan berjalan menghampiri Dev. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras--pria ini jelas menahan amarah yang sangat besar.

"Dev," kata Pak Hendra dengan suara rendah tapi penuh ancaman. "Apa yang kau lakukan hari ini... ini pengkhianatan pada keluarga."

Dev menatap kakaknya dengan tatapan dingin. "Pengkhianatan? Kau mau bicara soal pengkhianatan, Hendra? Sementara putramu tidur dengan kakak tiri tunangannya?"

Pak Hendra tersentak. "Arman membuat kesalahan! Tapi itu bukan alasan untuk kau--"

"Untuk apa? Menikahi wanita yang dikhianati putramu?" potong Dev dengan nada yang sangat tenang tapi menusuk. "Mayra berhak mendapat seseorang yang lebih baik dari Arman. Dan kebetulan, dia memilih saya."

"Kau melakukan ini untuk mempermalukan keluarga kita!" tuduh Pak Hendra.

"Tidak," jawab Dev. "Keluarga kalian yang mempermalukan diri sendiri dengan membesarkan anak yang tidak punya integritas."

Nyonya Puspita yang ikut menghampiri langsung menangis mendengar kata-kata itu. "Dev, bagaimana bisa kau bicara seperti itu tentang keponakanmu sendiri?"

"Karena dia biang kerok nya itu, Puspita" jawab Dev tanpa ragu. "Dan kalian tahu itu."

Di belakang mereka, Arman akhirnya berdiri dan berjalan menghampiri dengan langkah gontai. Wajahnya berantakan--mata merah, sembab, makeup pengantinnya hampir luntur karena air mata.

"Paman..." suara Arman bergetar. "Kenapa? Kenapa lakukan ini? Kau... kau tahu aku mencintai Mayra."

Dev tertawa, tawa sinis yang membuat Arman tersentak.

"Kau mencintainya? Dengan tidur dengan kakak tirinya di belakangnya?" kata Dev dengan nada yang sangat dingin. "Itu bukan cinta, Arman. Itu pengkhianatan."

"Aku salah! Aku tahu aku salah! Tapi aku minta maaf! Aku akan--"

"Terlambat," potong Mayra—ini pertama kalinya dia bicara sejak konfrontasi ini dimulai.

Semua mata tertuju padanya.

Mayra melangkah maju, berdiri di samping Dev dengan kepala tegak. "Kamu sudah membuat pilihanmu, Arman. Kamu pilih berselingkuh dengan Zakia sambil tetap mau menikahiku. Kamu pilih untuk berbohong padaku selama berbulan-bulan. Dan sekarang aku membuat pilihanku."

Arman menatap Mayra dengan tatapan putus asa. "May... kumohon... beri aku kesempatan kedua.. aku benar-benar menyesal..."

"Tidak," jawab Mayra dengan tegas. "Aku tidak akan memberikan kesempatan kedua pada orang yang sudah mengkhianatiku. Aku berhak mendapatkan yang lebih baik. Dan aku menemukannya."

Dia menatap Dev--dan untuk pertama kalinya, tatapan itu bukan acting. Ada sesuatu yang tulus di sana.

Arman mengikuti tatapan Mayra dan melihat cara Mayra menatap pamannya sendiri. Sesuatu patah di dalam dirinya.

"Kau... kau benar-benar memilih dia?" bisik Arman.

"Ya," jawab Mayra tanpa ragu. "Aku memilih Dev."

Arman mundur beberapa langkah, wajahnya hancur total. Lalu tanpa kata-kata lagi, dia berbalik dan berlari keluar dari ballroom-&meninggalkan keluarganya yang masih berdiri di sana.

Nyonya Puspita menangis semakin keras. "Lihat apa yang kalian lakukan! Kalian menghancurkan anakku!"

"Dia menghancurkan dirinya sendiri," kata Dev datar.

Pak Hendra menatap adiknya dengan tatapan yang penuh kekecewaan dan amarah. "Aku tidak akan melupakan ini, Dev. Kau sudah memilih untuk melawan keluarga sendiri."

"Aku sudah tidak menganggap kalian sebagai keluarga sejak lama, Hendra," jawab Dev. "Hari ini hanya membuat itu official."

Dengan itu, Pak Hendra dan Nyonya Puspita berbalik dan keluar dari ballroom dengan langkah cepat--meninggalkan Mayra dan Dev sendirian di ballroom yang besar dan sepi.

Hening.

Mayra merasakan seluruh adrenalin yang menahannya selama ini tiba-tiba menghilang. Lututnya melemas, tangannya gemetar.

Dev langsung menangkap Mayra sebelum wanita itu jatuh.

"Hei, hei... pelan- pelan..." kata Dev sambil menopang Mayra. "Kamu baik- baik saja?"

"Aku..." Mayra merasakan matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tidak tahu. Aku... aku baru saja..."

"Kamu baru saja melewati hari paling gila dalam hidupmu," potong Dev dengan lembut. "Dan kamu luar biasa kuat."

Air mata akhirnya mengalir di pipi Mayra semua emosi yang dia tahan seharian akhirnya meledak.

Dev menarik Mayra ke dalam pelukan--pelukan yang hangat, kuat, dan aman.

"Menangislah," bisik Dev. "Kamu sudah kuat seharian. Sekarang boleh lemah sebentar."

Dan Mayra menangis. Menangis untuk pernikahan yang hancur. Untuk pengkhianatan Arman dan zakia. Untuk kehidupan lamanya yang berakhir. Untuk ketidakpastian masa depannya.

Tapi di dalam pelukan Dev, dia juga merasakan sesuatu yang lain.

Harapan.

Bahwa mungkin, hanya mungkin, keputusan gilanya hari ini akan membawanya ke tempat yang lebih baik.

****

Bersambung....

1
arniya
mampir kak
Siti Maryati
enak alur ceritanya
Siti Maryati
👏👏👏👏
Ryn
lanjut thourr
Siti Maryati
aku juga siap .....
menunggu mu update lagi
Siti Maryati
Doble triple ya up nya
olyv
lanjut....
Siti Maryati
seru
Siti Maryati
ditunggu up nya ya
astr.id_est 🌻
😄😄 wahh karya baru lagi thor semangat terus ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!