NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Bahu Arsy bergetar. Kata-kata yang selama ini ia pendam akhirnya tumpah begitu saja.

“Semua ini karena Arsy, Yah,” lanjutnya dengan suara penuh rasa bersalah. “Masalah Arsy dengan Radit dan semua kekacauan itu, Arsy nggak bisa jaga diri sendiri, malah bikin Ayah jatuh sakit.”

Pak Rahman menatapnya lama. Lalu dengan sisa tenaganya, ia menggeleng pelan.

“Jangan bicara begitu, nak.” katanya lemah tapi tegas. “Dengerin Ayah…”

Arsy mendongak, matanya merah dan basah.

“Ini bukan salah kamu,” lanjut Pak Rahman. "Yang salah itu Radit karena ia sudah menyia-nyiakan perempuan sebaik kamu." Pinta pak Rahman yang membuat Arsy menggeleng kecil.

“Tapi Ayah—”

“Arsy,” potong Pak Rahman pelan. Tangannya mencengkeram tangan Arsy sedikit lebih erat. “Jangan menyalahkan dirimu sendiri atas kesalahan orang lain. Itu terlalu berat untuk kamu tanggung.” Air mata Arsy kembali jatuh. Ia menunduk dan menempelkan keningnya ke punggung tangan ayahnya. “Ayah nggak mau kamu hidup dengan rasa bersalah,” lanjut Pak Rahman dengan napas terengah. “Hidup kamu sudah cukup berat tanpa itu.”

Suasana hening sejenak menyelimuti mereka. Hanya suara mesin monitor jantung dan napas Pak Rahman yang terdengar pelan.

“Arsy…” panggil Pak Rahman lagi.

“Iya, Yah?” jawab Arsy cepat.

“Kamu harus belajar mengikhlaskan apa yang sudah berlalu.” Kalimat itu membuat Arsy terdiam. “Tidak semua hal bisa kita perbaiki,” lanjut Pak Rahman perlahan. “Ada yang hanya bisa kita lepaskan.”

Arsy mengangkat kepalanya.

“Tapi Arsy belum siap, Yah…” jawab Arsy yang membuat pak Rahman tersenyum tipis.

“Bukan soal Radit saja,” katanya pelan. “Ayah ingin kamu mulai memikirkan hidupmu ke depan. Masa depanmu.”

Hati Arsy mencelos.

“Yah, jangan ngomong begitu,” katanya cepat, nada suaranya meninggi karena panik. “Ayah pasti sembuh. Ayah masih akan lama di sini. Arsy masih butuh Ayah.”

Pak Rahman menatapnya dengan mata yang sarat makna. Ada kasih sayang, ketenangan, dan ada sesuatu yang membuat dada Arsy semakin sesak.

“Setiap manusia pasti akan berpulang kepada Penciptanya, Nak,” ucap Pak Rahman lirih. “Tidak ada yang abadi di dunia ini.”

“Jangan ngomong begitu ayah,” Arsy menggeleng keras, air matanya jatuh tanpa henti. “Arsy nggak mau dengar itu. Ayah jangan ngomong kayak gitu.”

Pak Rahman menggenggam tangan Arsy lebih erat, meski tenaganya terbatas.

“Dengerin Ayah,” katanya lembut. “Bukan berarti Ayah akan pergi sekarang. Tapi Ayah ingin kamu kuat. Mandiri. Bahagia. Bahkan kalau suatu hari nanti Ayah sudah tidak bisa berdiri di sampingmu lagi.”

Tangis Arsy pecah. Ia menutup wajahnya dengan tangannya yang bebas, sementara bahunya terguncang.

“Ayah nggak adil,” isaknya. “Ayah ngomong gini ketika Arsy belum siap sama sekali.” pinta Arsy yang membuat pak Rahman tersenyum kecil.

“Justru karena kamu belum siap, Ayah harus bilang ke kamu.”

Beberapa saat berlalu sampai tangis Arsy sedikit mereda. Ia mengusap wajahnya perlahan, lalu kembali menatap ayahnya.

"Kemarin malam, saat kamu tertidur, ayah telah bertemu dengan Syakil. Kami berdua ngobrol banyak hal tentang kamu. Pemuda itu sangat sopan. Cara bicaranya tenang dan matanya terlihat jujur.”

Arsy terdiam, jemarinya kembali mencengkeram tangan ayahnya.

“Dia benar-benar peduli sama kamu, nak.” kata Pak Rahman dengan pelan. “Dan ayah bisa melihat itu.”

Arsy menelan ludahnya dengan berat.

“Menurut Ayah,” lanjut Pak Rahman dengan suara lemah tapi pasti, “Syakil adalah laki-laki yang sangat baik dan cocok untuk jadi pasangan hidupmu.”

Arsy terkejut. Matanya membelalak sedikit ketika mendengar perkataan ayahnya.

“Ayah, Ayah salah paham.” kata Arsy dengan gugup dan membuat ayahnya mengernyit bingung.

“Salah paham bagaimana?” tanya pak Rahman yang membuat Arsy menarik napas dalam-dalam.

“Syakil itu cuma teman sekolah Arsy, ayah.” ucapnya pelan. “Tidak lebih.”

Pak Rahman menatap putrinya beberapa detik. Lalu, alih-alih membantah atau terlihat kecewa, sebuah senyum kecil justru terukir di wajahnya. Senyum yang tenang, penuh pengertian, dan sama sekali tidak terkejut.

“Ayah tahu,” ucapnya pelan dan membuat Arsy mengernyit.

“Ayah tahu?”

Pak Rahman mengangguk kecil.

“Ayah tahu kamu menganggap Syakil hanya sebagai teman.” Nada suaranya tidak menghakimi. Tidak pula memaksa. Justru terdengar seolah ia sudah lama memahami itu. “Tapi…” Pak Rahman menarik napas perlahan, dadanya naik turun dengan susah payah. “Ayah juga tahu sesuatu yang mungkin belum kamu sadari.”

Arsy menatap ayahnya dengan penuh tanya. Jemarinya yang sejak tadi menggenggam tangan Pak Rahman sedikit mengencang.

“Apa maksud Ayah?” tanyanya lirih.

Pak Rahman menoleh ke arah jendela sebentar, lalu kembali menatap Arsy. Sorot matanya terlihat lembut, tapi ada kesungguhan di sana.

“Selain bercerita banyak tentang kamu,” lanjutnya perlahan, “Syakil juga mengatakan sesuatu pada Ayah.”

Jantung Arsy berdegup lebih cepat tanpa ia sadari.

“Dia bilang,” Pak Rahman berhenti sejenak, seolah memilih kata yang tepat. “Dia bilang pada ayah kalau dia sangat mencintaimu, Arsy.”

Arsy merasakan dunia seakan berhenti berputar.

“Apa?” suara Arsy terdengar lebih tinggi dari yang ia maksud. Matanya membelalak, sementara napasnya tercekat.

“Ayah… apa Ayah yakin?” tanya Arsy yang membuat pak Rahman mengangguk kecil.

“Sangat yakin.”

Arsy menggeleng pelan, wajahnya dipenuhi keterkejutan dan ketidakpercayaan.

“Nggak mungkin,” gumamnya. “Syakil nggak pernah bilang apa-apa ke Arsy. Dia nggak pernah—”

“Tidak semua laki-laki pandai mengucapkan perasaannya, nak.” potong Pak Rahman dengan lembut. “Ada yang memilih mencintai dalam diam.”

Arsy terdiam. Kepalanya terasa penuh. Potongan-potongan kejadian kecil yang dulu tak pernah ia pikirkan kini berkelebat di benaknya. Cara Syakil selalu ada tanpa diminta. Tatapan laki laki yang terlalu lama saat melihatnya. Serta perhatian yang tidak pernah berhenti laki laki itu berikan padanya.

“Tapi itu tetap tidak berarti apa-apa, Yah,” ucap Arsy akhirnya, suaranya memelan. “Arsy nggak merasakan hal yang sama.”

Pak Rahman tersenyum tipis.

“Ayah tidak meminta kamu mencintainya sekarang, nak.” jawab pak Rahman yang membuat Arsy menatap ayahnya lagi.

“Yang Ayah minta,” Pak Rahman menarik napas panjang, lalu mengucapkannya perlahan, seolah setiap kata memiliki bobot yang berat. “Jika suatu hari nanti Ayah dipanggil menghadap Pencipta, Ayah ingin kamu menerima pinangan Syakil.”

Kata-kata itu menghantam Arsy lebih keras dari apa pun sebelumnya.

“Tidak,” Arsy tanpa sadar menggeleng keras. “Ayah, jangan bicara seperti itu. Dan Arsy tidak bisa—”

“Dengerin ayah dulu,” potong Pak Rahman cepat, meski suaranya tetap lembut. Tangannya menggenggam tangan Arsy lebih erat. “Jangan menolak sebelum kamu benar-benar mendengarnya.”

Arsy terdiam. Dadanya naik turun tak beraturan.

“Ayah tidak memaksamu menikah tanpa perasaan,” lanjut Pak Rahman. “Ayah hanya ingin kamu memberi kesempatan.”

“Kesempatan untuk apa?” suara Arsy bergetar.

“Untuk memulai hidupmu kembali,” jawab Pak Rahman pelan. “Untuk membuka hatimu lagi.”

Arsy menunduk. Air matanya kembali menggenang di pelupuk matanya.

1
Greta Ela🦋🌺
Ada ya laki2 gila kayak gini
Greta Ela🦋🌺
Itulah karma
Greta Ela🦋🌺
Dari pada kau udah buat bapak orang kena serangan jantung
Greta Ela🦋🌺
Si Radit stres
Greta Ela🦋🌺
Syukurlah sang ayah gak kenapa napa
Nonà_syaa.
Jdi ke inget nnek ku yg sdh ga ada ,
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Greta Ela🦋🌺
Hayo looo minta maaf pun tak akan bisa menghapus rasa sakit itu
Greta Ela🦋🌺
Udahlah Radit terima lah kenyataan itu
Greta Ela🦋🌺
Karma kau ini Radit
Greta Ela🦋🌺
Nah Radittt mampusss loee
Greta Ela🦋🌺
Ada apakah ini?
Greta Ela🦋🌺
Iya wajar sih Arsy takut begini
Nabila Bilqis
lagi tegang²nya💪😍
Nabila Bilqis
lanjut thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: iya kak siap terima kasih udah mampir ya kak😍🙏
total 2 replies
Nonà_syaa.
Up lgi kk😍
vita
bagus
Greta Ela🦋🌺
Nah kan langsung direstuin
Greta Ela🦋🌺
Pak tolongggg jangan pergii
Lihat anakmu pak😭
Greta Ela🦋🌺
Kamu nyalahin diri sendiri mulu lah Arsy
Kami lah nyalahin si Radit
Greta Ela🦋🌺
Ayahnya kapan bangun sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!