NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: tamat
Genre:CEO / Romantis / Berondong / Tamat
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Dua hari berlalu dengan perkembangan medis yang luar biasa.

Berkat pengawasan ketat Dokter Yudha dan ketelatenan Pratama dalam menjaga mental istrinya, Luna akhirnya diperbolehkan pulang.

Meskipun langkahnya masih tertatih dan balutan perban masih menempel di bawah dadanya, binar kebahagiaan terpancar dari wajahnya karena bisa kembali ke rumah. Namun, suasana sukacita itu mendadak menguap saat mobil mereka memasuki halaman rumah.

Di teras, berdiri seorang wanita dengan penampilan modis namun tampak gelisah.

Juwita.

Mantan istri Pratama yang dulu meninggalkannya karena menganggap Pratama tidak punya masa depan sebagai penjual soto.

"Mas, akhirnya kamu pulang," sapa Juwita dengan suara yang sengaja dibuat bergetar.

Pratama segera memasang badan di depan Luna, melindunginya.

"Juwita? Untuk apa kamu ke sini lagi? Hubungan kita sudah selesai sejak lama."

Tanpa malu di hadapan Luna dan Papa Jati yang baru turun dari mobil belakang, Juwita melangkah maju dan memegang lengan Pratama.

"Mas, aku hamil. Aku menyesal telah meninggalkanmu. Aku mau kita rujuk demi anak ini."

Dunia seolah berhenti sejenak. Luna tertegun, tangannya yang memegang lengan Pratama sedikit bergetar. Namun, Pratama tidak menunjukkan wajah bimbang sedikit pun.

"Hamil?" Pratama menggelengkan kepalanya dengan tawa sinis yang getir.

"Juwita, jangan mengada-ada. Selama kita menikah dulu, kamu bahkan tidak pernah mau melakukan kewajibanmu sebagai istri. Kamu selalu menolakku dengan alasan jijik pada bau soto yang menempel di badanku. Dan sekarang, setelah bertahun-tahun berpisah, kamu datang dan mengatakan hamil anakku? Itu mustahil."

Luna yang berada di samping Pratama juga menggelengkan kepalanya.

Ia tidak percaya ada wanita seserakah itu yang muncul kembali saat mantan suaminya sudah hidup sukses dan bahagia.

Melihat Pratama yang begitu keras, Juwita tiba-tiba bersimpuh di depan Luna.

Ia menangis histeris sambil memegang ujung baju Luna.

"Luna, aku mohon. Tolong lepaskan Mas Pratama untukku. Dia ayah dari bayi ini! Kamu masih muda, kamu kaya, kamu bisa dapat laki-laki mana pun. Tapi aku? Aku butuh dia untuk bertanggung jawab!" ratap Juwita dengan sandiwara yang sangat rapi.

Luna menatap wanita di bawahnya dengan tatapan dingin namun tenang.

Ia tidak lagi lemah seperti saat diculik tempo hari.

Luna menarik napas panjang, menahan rasa nyeri yang sesekali masih berdenyut di bekas lukanya.

Ia tidak berteriak atau menjambak rambut Juwita.

Sebaliknya, ia justru melepaskan pegangan tangan Pratama sejenak dan berdiri tegak di hadapan wanita yang sedang bersimpuh itu.

Luna menatap mata Juwita dalam-dalam, menggunakan teknik observasi yang pernah didiskusikannya dengan Pratama.

"Juwita, lihat saya," suara Luna terdengar tenang namun penuh otoritas.

Juwita mendongak, air mata buatannya masih mengalir.

"Dalam psikologi, ada yang disebut dengan manipulasi emosional melalui peran korban. Kamu sedang melakukannya sekarang," ujar Luna dingin.

"Kamu datang dengan narasi kehamilan tepat saat Mas Pratama sudah berada di puncak kesuksesannya. Secara mikro ekspresi, mata kamu terus melirik ke arah mobil mewah dan rumah ini, bukan ke arah perutmu atau wajah Mas Pratama dengan penuh kasih."

Juwita tertegun, tangisnya mendadak terhenti karena terkejut dengan analisis tajam Luna.

"Jika benar kamu hamil, secara logis dan medis, Mas Pratama sudah menjelaskan bahwa itu bukan anaknya karena kalian tidak pernah berhubungan. Maka, kamu sedang melakukan projection—melemparkan kesalahan atau tanggung jawab orang lain kepada pria yang menurutmu paling mampu secara finansial," lanjut Luna.

Luna membungkuk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan Juwita.

"Melepaskan pria sehebat Mas Pratama hanya karena sebuah kebohongan murahan? Kamu salah orang, Juwita. Aku bukan wanita yang mudah goyah oleh drama. Aku tahu persis siapa suamiku, dan aku tahu persis jenis manusia seperti apa kamu ini: seseorang yang hanya mencintai hasil, tapi menghina prosesnya."

Pratama menatap istrinya dengan rasa kagum yang luar biasa.

Ilmu yang ia ajarkan ternyata diserap dengan sempurna oleh Luna.

"Sekarang, bangunlah," perintah Luna tegas.

"Berhenti merendahkan dirimu sendiri dengan bersimpuh di sini. Jika kamu butuh biaya persalinan karena kamu benar-benar kesulitan, aku bisa memberikannya sebagai sedekah. Tapi jika kamu datang untuk mengambil suamiku, pintu gerbang itu masih terbuka lebar untuk kamu keluar sekarang juga."

Juwita gemetar, bukan karena sedih, tapi karena malu kedoknya dibongkar habis-habisan oleh wanita yang ia anggap lemah.

Juwita berdiri dengan sisa harga diri yang hancur. Ia menyambar tas mahalnya dan melangkah cepat keluar dari halaman rumah mewah itu dengan wajah merah padam.

Suara sepatunya yang beradu dengan aspal terdengar penuh amarah, namun tak satu pun orang di sana yang menoleh untuk menahannya.

Begitu gerbang otomatis tertutup rapat, suasana menjadi sunyi kembali.

Pratama segera merangkul pundak Luna, menuntunnya masuk ke dalam rumah dengan sangat hati-hati.

Ia merasa sangat bersalah karena di hari kepulangan istrinya, justru drama masa lalunya yang menyambut.

"Maaf ya, Dik," bisik Pratama pelan saat mereka sudah duduk di sofa ruang tamu yang nyaman.

"Baru saja keluar dari rumah sakit, bukannya istirahat tenang, kamu malah harus bertemu dan berurusan dengan Juwita."

Pratama menggenggam tangan Luna, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan istrinya.

"Mas tidak menyangka dia akan senekat itu datang ke sini dan mengarang cerita sekonyol itu."

Luna menyandarkan kepalanya di bahu Pratama, menghirup aroma maskulin suaminya yang menenangkan.

Rasa nyeri di dadanya sedikit mereda karena kehangatan yang diberikan Pratama.

"Tidak apa-apa, Mas. Justru aku senang," sahut Luna sambil tersenyum tipis.

"Senang? Senang karena diserang mantan istri Mas?" tanya Pratama heran.

"Senang karena aku jadi punya kesempatan untuk membuktikan pada diriku sendiri—dan pada wanita itu—bahwa aku tidak akan pernah melepaskan pria sehebat kamu. Dan terima kasih sudah mengajarkan aku ilmu psikologi itu, Mas. Ternyata sangat ampuh untuk membungkam orang-orang manipulatif seperti dia," jawab Luna tulus.

Papa Jati yang berdiri tidak jauh dari mereka berdehem sambil tersenyum bangga.

"Sudah, sudah. Urusan wanita itu biar Papa yang urus lewat pengacara kalau dia berani muncul lagi. Sekarang, Pratama, bawa istri kamu ke kamar. Dia harus istirahat total supaya jahitannya benar-benar kering."

Melihat suasana yang mulai tenang setelah drama Juwita, Arini dengan sigap mencairkan suasana.

Ia tidak datang dengan tangan kosong; di tangannya sudah ada beberapa kantong plastik besar yang aromanya langsung memenuhi ruang tamu mewah itu.

"Sudah, jangan bahas wanita itu lagi. Perut lapar tidak bisa diajak kompromi," ujar Arini sambil tersenyum ceria.

Ia meletakkan bawaannya di atas meja makan.

"Ayo, kita makan siang dulu! Aku bawa bakso urat dan lontong kikil kesukaan Papa Jati dan Luna."

Bau gurih dari kaldu kikil yang kental dan aroma bawang goreng dari bakso seketika membangkitkan selera makan semua orang.

Papa Jati yang tadinya masih nampak kesal dengan kedatangan Juwita, langsung berubah cerah wajahnya.

"Wah, ini dia! Lontong kikil langganan kita, kan?" seru Papa Jati sambil mendekati meja makan.

"Arini memang yang paling tahu cara memperbaiki suasana hati."

Pratama membantu Luna berdiri perlahan dan menuntunnya menuju meja makan.

Meskipun Luna tadi merindukan soto buatan suaminya, melihat lontong kikil dengan potongan kikil yang empuk dan kenyal tetap saja membuatnya tergiur.

"Terima kasih ya, Mbak Arini. Tahu saja kalau di rumah sakit kemarin aku cuma makan bubur hambar," ucap Luna sambil duduk dengan hati-hati.

"Sama-sama, Sayang. Ayo Pratama, duduk juga. Kamu harus makan yang banyak supaya kuat jaga Luna," sahut Arini sambil menyiapkan mangkuk untuk mereka semua.

Mereka pun makan siang bersama dengan penuh kehangatan.

Pratama dengan telaten memotong-motong kikil di piring Luna agar lebih mudah dikunyah oleh istrinya yang masih lemas.

Di ruang makan, tidak ada lagi bahasan soal masa lalu, yang ada hanyalah denting sendok dan tawa kecil di antara keluarga besar yang semakin solid itu.

1
Yuli Yulianti
cerita nya bagus 👍👍
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Ellya Muchdiana
kenapa ga talak 3 aja sekalian, biar Pratama ga bisa balikan lagi sama si Juwita
🇮🇹 25
❤️❤️❤️❤️❤️
Murni Binti sulaiman
cerita yg menyentuh serta menginspirasi
👍👍👍👍
my name is pho: terima kasih 🥰
total 1 replies
tiara
terima kasih karyanya thor sehat selalu semangat berkarya
my name is pho: terima kasih 🥰
total 1 replies
awesome moment
marathon y, thor. but...thx a lot. udh nukis cerita bgitu indah. menghurakan
my name is pho: terima kasih sudah menjadi pembaca setia 🥰🥰
total 1 replies
awesome moment
2 bulan yg menguji kesabaran
awesome moment
hangatnya mrk
tiara
bahagianya Pratama dan Luna,apakah papa Jati punya anak dari mama baru🤭🤭
awesome moment
jd pengusaha soto yg dri hilir smp akhir
tiara
wah Pratama mau jadi bos soto nih,lanjuut thor semangat upnya
awesome moment
knpnisinya hnya terhuar mulu c smp😭 kn jd.nya
tiara
akhirnya Pratama ditemukan
tiara
wah bener-bener pa Wandi samaJuwita ga punya hati nurani.semoga mereka lekas tertangkap dan Pratama cepat ditemukan
awesome moment
luna serius dgn keinginan bhw anaknya lahir hrs di lingk yg baik
awesome moment
msh brp chapter lg utk edisi terhura, thor. smg pahala g berkurang n gegara terhura mulu. es moci kek diblender. /Grimace/
awesome moment
bacanya sambil 😭😭😭betapa kuat ikatan batin luna dan pratama. betapa hebat cara papa jati menghargai pertolongan org. betapa sopannya ucapan terima kaish yg diberikan
awesome moment
smg sgra ktemu. jgn diisengi lg y, thor. ikutan gempa n
Erna Wati
akhirnya mrka bisa brkumpul kmbali. prtama pasti senang kalo tau Luna hamil.
awesome moment
gmn klo juwita dan wandi dihukim mati dicelupin dlu ke sungai smp megap2 butuh oksigen, angkat, biar napas dlu 60 dtk, lalu ulangi lagi. smp juwita dan wandi pilih meninggoy drpd hidup. jd dia bisa ngerasain kesakitan pratama. alternatif lain, seblm smp saatnya dihukum mokat, biarkan mrk mengalami p yg dialami pratama dri napi lain. setiap hari. jgn smp mokat. ckp dihajar. udh hmp mokat, tinggal, biar shat, abis tu layak dihajar, hajar lg. jgn napi yg sama tp napi yg ganti2. biar mrk milih sgra meninggoy drpd diprodeo. gmn? keyen kn?😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!