Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 32
Setibanya di rumah sakit, Mutiara dan juga Anjar akhirnya memberikan sampel darahnya untuk di tes DNA. Sebenarnya tes DNA itu memerlukan waktu 2 hari sampai dua minggu, tetapi karena rumah sakit tersebut adalah rumah sakit milik keluarga Pramudya, hasil tes dna-nya dapat diambil esok hari.
"Besok hasil tes dna-nya akan keluar. Apakah mau langsung ke rumah sakit bersama-sama atau mau aku antarkan hasil tes dna-nya ke kediaman kalian?" tanya Anjar.
"Kita bertemu di rumah sakit saja besok, sesuai dengan jadwal keluarnya hasil tes DNA," jawab Arkan.
"Baiklah, besok kita bertemu lagi di sini pukul delapan," ucap Anjar.
Arkan akhirnya pulang ke rumah bersama dengan Mutiara, wajah pria itu begitu gelisah. Mau pergi ke manapun Mutiara, dia pasti akan menempel seperti takut kehilangan.
Mutiara sampai merasa risih, dia sempat meminta suaminya itu untuk menjauh, tetapi Arkan tetap tidak mau menurut.
"Kamu itu kenapa sih?"
"Nggak apa-apa, cuma takut saja kalau misalkan kamu sudah bertemu dengan keluarga baru kamu, kamu akan meninggalkan aku."
"Nggak akan, percaya sama aku."
"Kalau misalkan keluarga kamu tak setuju kita menikah karena aku sudah tua bagaimana?"
"Udah, jangan mikir yang aneh-aneh. Cepat tidur," ujar Mutiara yang langsung memeluk Arkan agar pria itu cepat terlelap.
Arkan menurut, dia memejamkan matanya sambil menikmati usapan lembut dari tangan mungil istrinya. Tak lama kemudian pria itu tidur juga, Mutiara bahkan bisa mendengar dengkuran halus dari mulut suaminya itu.
Setelah memastikan suaminya tertidur pulas, Mutiara keluar dari dalam kamar itu dan menemui nenek Mia. Dia pun menceritakan apa yang sudah terjadi.
Nenek Mia tentunya merasa senang karena akhirnya Mutiara bisa menemukan keluarganya, setelah mengobrol dengan nenek Mia, wanita itu kembali ke kamar dan segera mengistirahatkan tubuhnya.
Keesokan harinya.
"Bagaimana hasilnya, Dok?"
Semuanya sudah berkumpul di sebuah ruangan khusus yang ada di rumah sakit Pramudya, nenek Mia bahkan ada di sana, seorang dokter datang dengan membawa hasil tes DNA yang masih tersegel.
"Sebentar," ujar Dokter sambil membuka hasil tes DNA itu. "Hasilnya Nona Mutiara adalah putri kandung anda."
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan putriku. Allah ternyata sangat baik kepadaku," ucap Anjar penuh syukur.
Anjar yang begitu bahagia akhirnya memeluk Mutiara dengan penuh kasih sayang, dia bahkan sampai menangis. Arkan sempat menghalangi, tetapi dengan cepat Abidzar menepis tangan Arkan.
Dia berharap agar pria itu bisa membiarkan ayahnya melepas rindu dengan kakaknya tersebut, setelah puas berpelukan dengan Anjar, Mutiara berpelukan dengan Cia. Anak dan ibu itu berpelukan sambil menangis.
"Bunda senang sekali karena akhirnya bisa menemukan kamu, Sayang. Maaf karena sangat lama untuk bisa bertemu kembali," ujar Cia sambil terisak.
"Tidak apa, yang penting Mutiara bisa bertemu dengan Bunda kembali. Mutiara juga senang karena bisa tahu kalau Mutiara tidak dibuang."
"Mana ada dibuang, kamu itu adalah Mutiara dia dalam hidup kami. Kamu kesayangan kami, selama ini Ayah kamu selalu saja berusaha mencari."
Arkan dan nenek Mia ikut terharu, mereka bahkan ikut menangis. Padahal tadinya Arkan yang bersikeras kalau istrinya tak boleh berpelukan dengan pria lain, tapi kali ini dia malah setuju dan ikut terharu.
"Kakak, jangan berpelukan sama Bunda terus. Aku juga rindu," ucap Abidzar yang langsung merentangkan kedua tangannya.
Mutiara mengurai pelukannya dengan Cia, kemudian dia hendak memeluk Abidzar, tetapi cepat-cepat Arkan mendahului pria itu.
"Dasar pencemburu. Aku hanya ingin memeluk kakakku, bukan ingin merebutnya darimu. Minggir," ucap Abidzar yang langsung mendorong bahu Arkan.
Arkan cemberut, tapi dia melepaskan pelukannya dari istrinya. Mutiara tertawa kecil, lalu dia berpelukan dengan Abidzar. Ruangan tersebut terasa hangat sekali, penuh haru dan penuh kebahagiaan.
"Nek, terima kasih karena selama ini Nenek sudah merawat putriku dengan sangat baik. Sebagai bentuk terima kasih, kami ingin meminta Nenek untuk tinggal bersama kami. Bagaimana?" tanya Anjar dengan begitu sopan.
Sebenarnya nenek Mia tidak ingin ikut tinggal bersama dengan Anjar, dia takut merepotkan. Dia takut disangka memanfaatkan situasi, karena sudah mengurus Mutiara selama ini.
Namun, jika menolak dia juga takut tidak akan bertemu dengan Mutiara lagi. Karena walau bagaimanapun juga dia begitu menyayangi wanita yang sudah dianggap cucu kandungnya itu.
"Baiklah, Nenek setuju."
"Karena hari ini adalah hari bahagia, bagaimana kalau kita rayakan kebahagiaan hari dengan makan malam bersama di rumah?" ucap Cia.
"Itu adalah hal yang harus dilakukan, karena ini adalah pertama kalinya keluarga kita bertemu kembali. Kita harus berkumpul bersama di rumah dengan penuh sukacita," ucap Abidzar.
"Kalau begitu kita langsung ke rumah saja, bagaimana? Kamu setuju, Sayang?" tanya Cia kepada Mutiara.
"Tentu saja aku setuju," jawab Mutiara.
Akhirnya mereka semua pergi ke kediaman Pramudya, Arkan mengobrol santai dengan Abidzar, sedangkan Mutiara terus saja bermanja-manjaan bersama dengan Cia dan juga Anjar.
Walaupun sudah menikah, tetapi wanita itu terlihat seperti anak kecil di depan kedua orang tua kandungnya itu. Walaupun mereka sudah lama tidak bertemu, tetapi ikatan darah sangatlah kuat.
Saat waktu dzuhur tiba, Anjar, Abidzar dan juga Cia melakukan salat berjamaah di mushola yang ada di rumah itu. Arkan, Mutiara dan juga nenek Mia yang merupakan non muslim tentu saja tidak ikut salat berjamaah.
Mereka hanya diam memperhatikan, setelah mereka bertiga selesai salat, Mutiara menghampiri ibunya.
"Tadi Bunda, Ayah sama adik melakukan apa?"
"Kami melakukan salat kewajiban sebagai umat muslim yang dilakukan 5 waktu dalam satu hari," jawab Cia.
"Oh," ujar Mutiara.
Sebenarnya Cia merasa miris karena putrinya itu tidak menganut agama yang sama dengan dirinya, tetapi walau bagaimanapun juga dia merasa bahagia. Walaupun Mutiara diasuh oleh nenek Mia yang berbeda agama dengan dirinya, tetapi Mutiara tumbuh dengan baik.
Walaupun memang serba kekurangan, dalam hati dia berdoa semoga pintu hati putrinya terketuk dan akan menganut agama yang sama dengan dirinya.