NovelToon NovelToon
The Librarian'S Midnight Guest

The Librarian'S Midnight Guest

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Wanita / Harem
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Kehadiran yang Tak Terelakkan

Genevieve menatap sosok di depannya dengan pandangan yang berkabut. Logikanya mencoba memberontak; ia ingat betul betapa keras ia mencoba mengusir bayang-bayang ini semalam, bagaimana ia telah mengunci pintu dan menyemprotkan racun kimia ke seluruh sudut ruangan. Seharusnya, Valerius adalah bagian dari kegelapan yang telah ia kunci di luar.

Bagaimana bisa kau di sini? Pertanyaan itu tertahan di ujung lidahnya yang kelu. Namun, setiap kali ia mencoba menyusun kata-kata, denyut di pelipisnya terasa seperti dentuman godam yang mematikan segala argumen.

Kesadarannya seolah terseret arus deras antara kenyataan dan delusi akibat suhu tubuh yang kian meninggi.

Valerius tidak menjawab kebingungan di mata Genevieve. Ia justru mengulurkan tangan pucatnya, menyentuh dahi Genevieve yang membara.

Sentuhan itu terasa sangat kontras—dingin bagai es namun menenangkan secara magis, seolah rasa panas di kepala Genevieve terserap masuk ke dalam telapak tangan sang vampir.

"Kau terlalu sibuk mencoba mengusirku hingga kau lupa bahwa aku telah menjadi bagian dari napasmu, Genevieve," bisik Valerius dengan nada yang nyaris terdengar seperti belaian.

Ia menarik selimut yang tadi sempat tersingkap, menutupi tubuh Genevieve yang masih mengenakan gaun tidur dengan kancing terbuka. Valerius tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi; sebaliknya, ia meraih botol berisi cairan biru di atas nakas.

"Jangan banyak bicara. Tubuhmu sedang menderita karena mencoba menolak apa yang sudah digariskan," lanjut Valerius. Ia menuangkan cairan itu ke kain kompres, lalu dengan gerakan yang sangat posesif, ia mulai mengusapkannya ke leher Genevieve—tepat di atas jejak-jejak ungu yang meradang.

Genevieve hanya bisa memejamkan mata, membiarkan dirinya dirawat oleh makhluk yang seharusnya ia takuti.

Rasa nyeri yang tadi menyiksa perlahan mulai mereda begitu cairan dingin itu menyentuh kulitnya, namun di balik rasa lega itu, ada ketakutan baru yang muncul: jika Valerius bisa masuk sekehendak hatinya, maka tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang benar-benar aman bagi Genevieve.

Meskipun pikirannya berkabut karena demam, keraguan tetap menyelinap di hati Genevieve. Ia menatap wajah Valerius yang dingin namun terlihat sangat tenang, mencari sedikit saja tanda pengakuan di sana.

Apakah benar dia yang melakukan semua ini? batinnya ragu.

Logikanya mencoba mencari pembelaan lain.

Mungkin ia benar-benar alergi terhadap debu buku-buku tua, atau mungkin serangga yang ia cari-cari itu benar-benar ada dan menyerangnya secara brutal.

Namun, pola jejak yang membentuk memar ungu itu tampak terlalu... simetris, seolah dibuat oleh bibir manusia, bukan gigitan serangga.

Valerius, di sisi lain, adalah aktor yang sempurna. Ia melihat keraguan di mata cokelat Genevieve dan justru merasa sangat puas.

Ia menikmati bagaimana gadis itu tersiksa di antara rasa takut dan ketidaktahuan. Baginya, ada kenikmatan tersendiri melihat Genevieve merasa kotor dan bingung oleh reaksi tubuhnya sendiri tanpa bisa menuding siapa pelakunya secara pasti.

"Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Valerius pelan. Jemarinya masih telaten mengompres leher Genevieve. "Kau pikir aku yang membuatmu sakit? Aku baru saja datang saat mencium aroma sakitmu dari kejauhan."

Kebohongan itu meluncur begitu halus dari bibir pucatnya.

Sambil berbicara, tangannya bergerak turun, seolah-olah hendak membetulkan letak kancing baju Genevieve yang terbuka. Namun, jari-jarinya sengaja menyentuh pinggiran bra atau kulit payudara yang sudah ia beri tanda semalam—sebuah sentuhan singkat yang membuat Genevieve berjengit karena rasa sensitif yang luar biasa.

"Kau meradang, Genevieve. Seluruh kulitmu terasa sangat panas dan... sensitif," bisik Valerius dengan senyum tipis yang penuh rahasia.

Genevieve menggigit bibir bawahnya, merasa malu sekaligus bingung. Jika Valerius baru saja datang, lalu siapa yang mengganti bajunya? Siapa yang membuatnya merasa sangat "basah" saat bangun tadi?

Sentuhan dingin dari kain kompres yang telah diberi ramuan oleh Valerius perlahan-lahan mulai bekerja.

Rasa panas yang membakar di dahi dan leher Genevieve perlahan menyurut, digantikan oleh sensasi sejuk yang merambat ke seluruh sarafnya. Ketegangan di otot-ototnya melonggar, dan denyut di kepalanya kini hanya menjadi ketukan samar yang menjauh.

Di bawah pengaruh "obat" yang diberikan sang vampir, Genevieve tak lagi mampu menahan berat kelopak matanya. Ia merasa seolah tubuhnya sedang dibalut oleh awan yang dingin namun lembut.

Ketakutannya, keraguannya, bahkan rasa malunya tentang kondisi tubuhnya yang "basah" pagi itu, semuanya perlahan tenggelam dalam kegelapan yang menenangkan.

Genevieve terlelap dengan sangat tenang, sebuah tidur yang lebih dalam daripada sebelumnya.

Valerius berhenti mengompres. Ia menatap wajah gadis itu yang kini tak lagi meringis kesakitan. Senyum tipis yang tampak haus sekaligus memuja muncul di bibirnya. Ia meletakkan kain itu di atas meja, lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke telinga Genevieve.

"Tidurlah, Genevieve," bisiknya, suaranya seperti desau angin di antara nisan. "Teruslah ragu. Teruslah berpikir bahwa ini hanyalah mimpi. Itu akan membuat momen saat kau menyadarinya nanti menjadi jauh lebih manis."

1
Yusry Ajay
semangat trus kk Thor 🤗
May Maya
lanjut Thor
May Maya
baru kali ini aku baca novel ada kata2 kiasan sekuat batu nisan biasanya kan sekeras n sekuat baja atau beton 🤭
May Maya
kacian velerius 😄
Afri
alur cerita nya bagus. . tidak buru buru .. mengalir dgn perlahan
keren
Afri
aku suka karya mu thor ..
cerita nya manis
May Maya
suka dgn genre ini
May Maya
vieve di dekati vampir tampan tp namanya makhluk gaib pasti takut jg ya vie🤭
May Maya
mulai baca Thor
treezz: semoga suka kakak🤭
total 1 replies
Afri
bagus
Afri
cerita nya bagus thor
fe
mantapp
anggita
👍👆 sip.,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!