Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Sekolah dan Berubah
Seminggu telah berlalu sejak Arsa kembali sekolah. Hari ini adalah hari Senin, seperti biasa Asha datang lebih pagi untuk menunggu Arsa di depan kelas.
Ia berdiri di sana dengan senyuman lebar, berharap bisa melihat Arsa datang dan menyapanya seperti kemarin-kemarin.
Tak lama kemudian, sosok Arsa terlihat berjalan di koridor. Asha langsung melambaikan tangannya dengan semangat.
"Arsa! Pagi!" sapa Asha dengan suara yang riang.
Arsa yang melihat Asha hanya tersenyum tipis dan mengangguk. "Pagi, Asha."
Kemudian ia berjalan melewati Asha begitu saja dan masuk ke kelas, duduk di kursinya tanpa banyak bicara.
Senyuman Asha sedikit memudar. Biasanya, meskipun Arsa tidak ingat, ia akan berhenti sebentar untuk mengobrol dengan Asha.
Tapi hari ini... Arsa terlihat berbeda.
Asha masuk ke kelas dan duduk di kursinya. Matanya sesekali melirik ke arah Arsa yang tengah membaca buku dengan serius.
'Ada apa ya dengan dia?' batin Asha dengan perasaan cemas.
🌷🌷🌷🌷
Saat istirahat pertama, Asha menghampiri Arsa seperti biasa.
"Arsa, makan bareng yuk" ajak Asha dengan senyuman.
Arsa mengangkat kepalanya sebentar, lalu menggeleng pelan. "Maaf Asha, aku lagi gak nafsu makan. Kamu makan sendiri aja ya."
Hati Asha langsung mencelos mendengar penolakan itu. Tapi ia berusaha tetap tersenyum.
"Oh... Oke deh. Kalau kamu berubah pikiran, bilang ya."
Arsa hanya mengangguk tanpa menatap mata Asha. Ia kembali fokus pada buku yang ia baca.
Asha duduk kembali di kursinya dengan hati yang sedikit sakit. Ia mengeluarkan bekalnya dan makan sendirian, sesekali melirik ke arah Arsa.
'Kenapa dia jadi dingin gini sih?' batin Asha dengan kebingungan yang luar biasa.
Di sisi lain, Cinta yang melihat itu semua langsung menghampiri Asha.
"Sha, kenapa Arsa jadi dingin gitu sama lu?" tanya Cinta dengan nada penasaran.
Asha menggeleng pelan. "Aku juga gak tau, Cin. Padahal kemarin-kemarin dia baik-baik aja."
"Mungkin dia lagi banyak pikiran kali?" tebak Cinta.
"Mungkin..." jawab Asha dengan nada tidak yakin.
🌷🌷🌷🌷
Hari-hari berikutnya, sikap Arsa semakin dingin kepada Asha. Ia jarang mengobrol, jarang membalas chat, dan bahkan mulai menghindar dari Asha.
Setiap kali Asha mencoba mendekat, Arsa selalu punya alasan untuk menjauh, entah dia harus belajar, harus ke perpustakaan, atau harus mengerjakan tugas.
Asha mulai merasa frustasi. Ia tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya.
'Apa gw salah ngomong? Apa gw terlalu memaksa?' batin Asha dengan ribuan pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
Suatu hari, saat pulang sekolah, Asha memberanikan diri untuk menghampiri Arsa yang tengah berkemas.
"Arsa, bisa kita ngobrol sebentar?" pinta Asha dengan suara yang pelan.
Arsa menghentikan kegiatannya sejenak, lalu menatap Asha. "Ngobrol apa?"
"Aku... Aku cuma pengen tau, apa aku salah ngomong sesuatu ke kamu? Atau... Atau aku terlalu memaksa?"
Arsa terdiam sejenak, lalu menggeleng. "Enggak kok. Kamu gak salah apa-apa."
"Terus kenapa kamu jadi dingin gini sama aku?" tanya Asha dengan nada yang sedikit tinggi karena sudah tidak tahan lagi.
Arsa menarik nafas panjang. "Asha... Aku lagi banyak pikiran. Aku harus fokus belajar karena aku udah ketinggalan banyak pelajaran."
"Aku tau, tapi... Tapi kamu gak perlu sampe ngindarin aku kan?" bantah Asha dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Arsa tidak menjawab. Ia hanya menatap Asha dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Arsa... Kumohon jangan gini. Aku... Aku udah berusaha keras buat—"
"Asha, dengerin aku" potong Arsa dengan nada yang tegas.
"Aku... Aku appreciate usaha kamu. Tapi aku juga punya tanggung jawab. Aku harus belajar, aku harus mengejar ketertinggalan aku."
"Aku gak bisa terus-terusan fokus ke hubungan kita kalau nilai aku jeblok."
Asha terdiam mendengar ucapan Arsa. Hatinya terasa begitu sakit mendengar kata-kata itu.
"Jadi... Jadi aku ini ganggu kamu gitu?" tanya Asha dengan suara yang bergetar.
Arsa menggeleng cepat. "Bukan begitu maksud aku—"
"Terus apa dong maksud kamu?" potong Asha dengan air mata yang sudah mulai jatuh.
"Kamu bilang kamu mau mulai dari awal lagi sama aku. Tapi sekarang kamu malah ngindarin aku. Apa... Apa kamu sebenarnya gak mau sama aku?"
Arsa menutup matanya sejenak. Ia merasa begitu tertekan dengan pertanyaan Asha.
"Asha, ini bukan soal aku mau atau gak mau. Ini soal prioritas."
"Prioritas?" ulang Asha dengan nada tidak percaya.
"Iya. Cita-cita aku untuk jadi dokter itu lebih penting dari hubungan. Lagian... Lagian aku bahkan gak ingat perasaan aku yang dulu ke kamu."
Deg.
Ucapan Arsa bagaikan pisau yang menusuk jantung Asha. Gadis itu terdiam dengan mata yang membulat.
"Arsa... Kamu... Kamu serius ngomong gitu?" tanya Asha dengan suara yang nyaris berbisik.
Arsa tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya.
Asha tertawa pahit. "Jadi... Jadi selama ini aku cuma buang-buang waktu doang ya?"
"Bukan begitu Asha—"
"Terus apa?" potong Asha dengan suara yang mulai nyaring.
"Kamu bilang mau mulai dari awal, tapi kamu malah gak pernah kasih kesempatan sama aku! Kamu sibuk, kamu banyak pikiran, kamu harus fokus belajar... Itu semua cuma alasan kan?"
"Sebenernya kamu cuma gak mau repot sama aku kan? Kamu gak mau pusing mikirin perasaan aku kan?"
Arsa mengangkat kepalanya dan menatap mata Asha yang sudah penuh air mata.
"Asha... Dengerin aku dulu—"
"Enggak!" tolak Asha sembari mundur beberapa langkah.
"Aku udah cukup denger ocehan kamu. Aku cape Arsa... Cape banget..."
Asha menghapus air matanya dengan kasar.
"Aku cape nunggu kamu inget. Aku cape berusaha bikin kamu jatuh cinta lagi sama aku. Aku cape diperlakukan kayak gini..."
Arsa terdiam tidak tau harus berkata apa. Ia merasa bersalah, tapi di sisi lain ia juga merasa bahwa pilihannya tidak salah.
"Arsa... Aku cuma mau tau satu hal" kata Asha dengan suara yang pelan.
"Apa?"
"Kamu... Kamu masih mau lanjutin hubungan kita atau enggak? Jujur aja."
Arsa terdiam sangat lama. Ia menatap mata Asha dengan tatapan yang penuh dilema.
Di dalam hatinya, ia bingung. Ia tidak tau apa yang ia rasakan terhadap Asha.
Hangat? Iya. Nyaman? Iya. Tapi cinta? Ia tidak tau.
"Asha... Aku... Aku butuh waktu untuk mikir" jawab Arsa akhirnya dengan suara yang pelan.
Asha tertawa pahit. "Waktu... Waktu lagi..."
"Oke deh. Aku kasih kamu waktu."
Asha lalu berbalik dan berjalan menuju pintu kelas. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Tapi Arsa... Aku gak bisa terus-terusan nunggu. Aku juga punya batas."
Setelah itu, Asha pergi meninggalkan Arsa yang terdiam di tengah kelas.
🌷🌷🌷🌷
Asha berlari keluar dari sekolah dengan air mata yang terus mengalir. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihatnya.
Ia terus berlari hingga kakinya membawanya ke taman kota—tempat di mana Arsa dulu menembaknya.
Asha duduk di bangku taman yang sama, memeluk lututnya, dan menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa... Kenapa harus sesulit ini?" isak Asha.
"Gw udah berusaha keras... Gw dah sabar... Tapi kenapa dia malah jadi kayak gini?"
Asha mengingat kembali Arsa yang dulu, Arsa yang selalu tersenyum hangat kepadanya, Arsa yang selalu perhatian, dan Arsa yang selalu membuat hatinya berbunga-bunga.
Tapi Arsa yang sekarang... Arsa yang sekarang dingin, cuek, dan seperti tidak peduli dengan perasaannya.
"Apa... Apa Arsa yang dulu udah bener-bener hilang?" gumam Asha dengan suara yang parau.
Kring...
Hp-nya berdering. Cinta menelepon.
Asha mengangkat telpon dengan tangan yang bergetar.
"Halo..." sapa Asha dengan suara serak.
"Sha! Kamu di mana? Gw udah cari kemana-mana!" tanya Cinta dengan nada panik.
"Aku... Aku di taman."
"Taman? Taman yang mana?"
"Taman kota. Tempat... Tempat Arsa dulu nembak aku."
Terdengar helaan nafas dari seberang telpon.
"Oke. Tunggu di situ. Gw dateng sekarang."
Tidak sampai setengah jam, Cinta sudah tiba di taman. Ia langsung menghampiri Asha yang masih duduk memeluk lututnya.
"Sha..." panggil Cinta dengan nada lembut.
Asha mengangkat kepalanya. Wajahnya berantakan dengan mata sembab, pipi basah, dan bibir yang pucat.
Cinta langsung duduk di samping Asha dan memeluknya.
"Nangis deh sepuasnya. Gw di sini."
Dan Asha pun menangis di pelukan Cinta. Ia mengeluarkan semua rasa sakit, kecewa, dan lelah yang selama ini ia pendam.
Setelah tangisan Asha mereda, Cinta melepaskan pelukannya dan menatap mata Asha.
"Cerita ke gw. Apa yang terjadi?"
Asha lalu menceritakan semuanya, yaitu bagaimana Arsa berubah menjadi dingin, tentang pertengkaran mereka tadi, dan tentang dilema yang ia hadapi sekarang.
Cinta mendengarkan dengan seksama. Setelah Asha selesai bercerita, Cinta menghela nafas panjang.
"Sha... Gw mau nanya. Lu masih sayang sama Arsa?"
Asha mengangguk tanpa ragu. "Sangat..."
"Terus kenapa lu nyerah?"
Asha terdiam mendengar pertanyaan Cinta.
"Lu bilang lu cape, lu bilang lu udah gak kuat. Tapi Sha... Cinta itu emang gak gampang. Apalagi lu lagi berusaha bikin dia jatuh cinta lagi sama lu."
"Tapi Arsa udah berubah, Cin. Dia bukan Arsa yang dulu lagi..." sanggah Asha dengan suara lemah.
Cinta menggeleng. "Arsa emang berubah. Tapi bukan berarti perasaan lu ke dia juga harus berubah kan?"
"Lagian... Lu yakin Arsa bener-bener gak punya perasaan sama lu?"
Asha menatap Cinta dengan tatapan bingung. "Maksud lu?"
"Gw perhatiin nih ya... Setiap kali lu deket sama cowok lain, Arsa pasti sedikit lebih perhatiin lu. Setiap kali lu sedih, Arsa juga ikut gak enak."
"Mungkin... Mungkin dia sebenernya punya perasaan, tapi dia sendiri gak nyadar."
Asha terdiam memikirkan ucapan Cinta. Benarkah begitu?
"Terus gw harus gimana, Cin?" tanya Asha dengan nada putus asa.
Cinta tersenyum tipis. "Kasih dia waktu. Tapi jangan nyerah."
"Tunjukin ke dia kalau lu itu bener-bener sayang sama dia. Bukan dengan cara memaksa, tapi dengan cara yang bikin dia nyaman."
Asha mengangguk pelan. Meskipun hatinya masih sakit, tapi ucapan Cinta sedikit memberinya harapan.
"Makasih Cin... Makasih udah selalu ada buat aku."
Cinta memeluk Asha lagi. "Sama-sama Sha. Gw bakal selalu ada buat lu."
🌷🌷🌷🌷
Sementara itu, di rumahnya, Arsa duduk termenung di kamar. Ia memikirkan pertengkarannya dengan Asha tadi.
'Apa aku terlalu kejam ke dia?' batin Arsa dengan perasaan bersalah.
Ia mengingat kembali wajah Asha yang menangis, mata yang penuh kekecewaan, suara yang bergetar, dan air mata yang terus mengalir.
Hatinya terasa sesak mengingat itu semua.
'Tapi... Tapi aku juga gak bisa terus-terusan fokus ke dia. Aku punya tanggung jawab. Aku harus bisa masuk kedokteran.'
Arsa memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
Setiap kali ia memikirkan Asha, kepalanya selalu terasa nyeri. Seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam kepalanya, tapi tertahan.
Kring...
Hp-nya berbunyi. Sebuah notifikasi dari Asha.
Arsa ragu untuk membukanya, tapi akhirnya ia membuka juga.
Asha
Arsa, aku minta maaf kalau tadi aku terlalu emosional. Aku cuma... Aku cuma gak mau kehilangan kamu lagi.
Aku tau kamu butuh waktu. Aku juga tau kamu punya prioritas.
Tapi kumohon... Jangan jadikan aku beban. Kalau kamu butuh bantuan, aku siap bantuin. Kalau kamu butuh temen, aku ada.
Aku cuma pengen kamu tau... Aku sayang banget sama kamu, Arsa.
Arsa menatap pesan itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa tersentuh dengan ketulusan Asha. Tapi di sisi lain, ia merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaan itu.
Jari-jarinya mengetik balasan, tapi ia menghapusnya lagi. Ia tidak tau harus membalas apa.
Pada akhirnya, ia menutup hp-nya dan merebahkan diri di kasur.
'Asha... Maafin aku...'
'Aku... Aku bener-bener gak tau harus gimana.'
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
Waduh makin rumit nih hubungan Asha sama Arsa 😭 Arsa yang berubah jadi dingin, Asha yang udah cape... Kira-kira mereka bisa balik lagi gak ya?
Atau jangan-jangan... Ada orang ketiga yang muncul? 👀
Penasaran kan? Stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
Follow ig author ya!
@Jaaparr.
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku