Sejak kecil Celine Attea selalu berdiri di sisi Ethan Solomon Montgomery, Presiden Direktur Montgomery Group sekaligus pemimpin organisasi dunia gelap Amox. Celine adalah satu-satunya perempuan yang mampu masuk ke semua pintu keluarga Montgomery. Ia mencintai Ethan dengan keyakinan yang tidak pernah goyah, bahkan ketika Ethan sendiri tidak pernah memberikan kepastian. Persahabatan, warisan masa kecil, ketergantungan, dan cinta yang Celine perjuangkan sendirian. Ketika Cantika, staf keuangan sederhana memasuki orbit Ethan, Celine merasakan luka bertubi-tubi. Max, pria yang tiba-tiba hadir dalam hidup Celine membawa warna baru. Ethan dan Celine bergerak dalam tarian berbahaya: antara memilih kenyamanan masa lalu atau menantang dirinya sendiri untuk merasakan sesuatu yang baru. Disclaimer: Novel ini adalah season 2 dari karya Author, “Falling in Love Again After Divorce"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Peduli
Ruang latihan Markas Amox tidak pernah terlihat seperti tempat latihan biasa. Dindingnya dilapisi baja hitam matte berlapis peredam suara kelas militer, berpadu dengan panel kaca antipeluru transparan yang memperlihatkan rak-rak senjata di baliknya.
Di sepanjang sisi ruangan, berbagai jenis senjata tertata seperti koleksi museum kelas dunia. Pistol edisi langka, senapan serbu kustom dengan scope militer terbaru, shotgun taktis, hingga senjata rakitan khusus yang bahkan tidak tercatat di pasaran. Setiap senjata memiliki tempatnya sendiri, dilengkapi kode biometrik dan pengaman digital.
Meja panjang di tengah ruangan dipenuhi magazen, peluru berbagai kaliber, alat perawatan senjata, serta layar sentuh yang menampilkan data balistik secara real-time. Lantai beton hitam mengilap dipoles sempurna, menyerap getaran setiap langkah dan dentuman tembakan.
Di ujung ruangan, deretan target otomatis berdiri tegak, bergerak acak mengikuti pola algoritma tempur. Sistem akan langsung menghitung kecepatan, akurasi, sudut tembakan, hingga potensi fatalitas. Semuanya ditampilkan di layar besar di dinding.
Ini bukan ruang untuk pamer kekuatan. Ini tempat orang-orang Amox menjaga naluri mereka tetap tajam.
Raga berdiri di sisi meja senjata, memasang peluru ke magazen pistolnya.
“Celine belum datang sejak kemarin,”
Klik, bunyi magazen terkunci.
Rega yang bersandar di dinding tertawa pendek.
“Mana mungkin dia mau datang sering-sering ke tempat ini,” sindirnya. “Bau darah dan besi bukan dunianya. Sejak awal dia ada di sini hanya untuk satu orang, orang yang bahkan tidak bisa menghargainya.”
Ethan tidak menanggapi. Ia berdiri beberapa meter di depan target, bahunya kaku, rahangnya mengeras. Tanpa aba-aba ia mengangkat pistol, lalu…
Dor.
Dor.
Dor.
Dor.
Dor.
Lima tembakan dilepaskan beruntun, cepat, presisi, nyaris tanpa jeda. Pelurunya menembus satu titik yang sama di tengah target, lubang kecil itu melebar sempurna, seolah kertas itu tidak pernah diberi kesempatan untuk bernapas. Bukan sekadar akurasi, itu kemarahan yang dikunci rapi dalam kontrol mutlak.
Raga menurunkan tangannya dari dada, matanya menyipit kagum.
“Wow.”
Ethan menurunkan pistol perlahan. Ia tidak bersuara, tapi jemarinya menegang di gagang senjata, buku-buku jarinya memutih. Napasnya terlalu tidak teratur untuk seseorang yang sedang baik-baik saja.
Raga memasukkan pistolnya ke holster, lalu menoleh ke Ethan.
“Setelah wanita itu sadar,” katanya hati-hati, “apa yang akan kau lakukan?”
Rega mendecak kesal.
“Kenapa harus menunggu sadar?”
Ethan menoleh sedikit, tatapannya dingin seperti baja.
“Berapa kali kukatakan padamu, dia tidak tahu apa-apa.” ucapnya rendah. Ia melangkah menjauh dari target. “Jangan melibatkannya dalam urusan kita dengan Barlex, Rega.”
Rega mencibir. “Aku tidak peduli.” ketusnya. Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruang latihan tanpa menunggu jawaban.
Suara pintu menutup keras. Raga meletakkan senjatanya perlahan di meja, lalu mendekati Ethan yang masih berdiri membelakangi target, pistol di tangannya belum diturunkan sepenuhnya.
“Ethan,” katanya lebih pelan. “Maaf harus mengatakan ini.”
Ia berhenti di sampingnya.
“Tapi setelah kupikir-pikir setelah semua yang terjadi…” Raga menatap lurus ke depan. “Kau terlalu berlebihan pada Cantika.”
Tidak ada jawaban.
“Sedikit banyak aku mengerti kenapa Celine memilih meninggalkanmu.” lanjut Raga, suaranya terdengar jujur. “Celine sudah berjalan sejauh ini untuk mengejarmu, pembatalan pernikahan bukan keputusan basa-basi.”
Ethan mencengkeram pistolnya lebih kuat. Suara logam yang berderit pelan di bawah tekanan tangannya.
Rega masih terus mendecak saat berjalan menyusuri lorong bawah tanah markas Amox. Ia berhenti di depan ruang Rose. Dari balik kaca observasi, Rega mengintip ke dalam. Tubuh Cantika terbaring diam di ranjang, tertutup selimut putih hingga dada.
Pintu terbuka dari dalam. Seorang perawat keluar sambil membawa kom berisi peralatan medis bekas pakai. Langkahnya tersentak saat hampir bertabrakan dengan Rega.
“T-tuan,” sapanya gugup, refleks menunduk.
Rega melirik ke kiri dan kanan lorong sekilas, memastikan tak ada orang lain. Tatapannya kembali pada perawat itu.
“Hai, cantik.” katanya mengedipkan mata.
Pipi perawat itu memerah, tersipu malu.
“Di mana Mike?” tanya Rega singkat.
“Dr. Mike sedang istirahat, Tuan,” jawab perawat itu cepat, tidak berani menatap.
“Keadaannya?” Rega menunjuk ke dalam ruangan dengan dagunya.
“Sudah stabil, Tuan,” jawab perawat itu hati-hati. “Tapi Tuan Ethan mengatakan dia belum boleh bangun sampai lukanya benar-benar bersih. Tidak boleh ada jejak.”
Rega mengangguk pelan.
“Pergilah istirahat, banyak tidur akan membuat wajahmu glowing.” katanya perhatian. “Aku yang akan berjaga untukmu.”
“T-tidak perlu, Tuan.”
Rega tersenyum manis, tapi tatapannya mulai tajam. “Aku bilang pergilah.” ucapnya datar.
Perawat itu tidak lagi membantah. Ia menunduk sekali lagi lalu bergegas pergi, langkahnya cepat menghilang di tikungan lorong.
Rega mendorong pintu ruang Rose dan masuk. Pintu tertutup otomatis di belakangnya dengan desisan halus. Ranjang Cantika dikelilingi peralatan medis, mesin obat penekan kesadaran mengalir lewat infus di tangan kanannya.
Rega menarik tirai tipis di sekeliling ranjang, menciptakan ruang tertutup yang hanya ada mereka berdua. Tangannya terulur tanpa ragu, jari-jari panjangnya menekan tombol off pada mesin. Bunyi bip terdengar, tanda aliran obat telah terhenti.
Ia lalu melipat kedua tangannya di dada dan duduk di sisi tempat tidur, sikapnya santai namun mata tajamnya mengamati setiap perubahan sekecil di wajah Cantika. Wajah polos itu tampak rapuh, tapi justru membuatnya muak. Rega memang tidak sebijaksana inti Amox yang lain, tapi soal kesetiaan ia bisa diuji. Rega tidak akan ragu untuk berperang, jika salah satu timnya disakiti orang lain.
“Shit,” gumam Rega pelan.
Sudah satu jam ia menunggu, namun kelopak mata Cantika masih tertutup rapat. Napasnya tetap stabil, tidak ada tanda-tanda ia akan sadar dalam waktu dekat. Ia mendecak kesal. Ia berdiri, lalu menendang roda tempat tidur itu dengan ujung sepatunya.
“Cepatlah bangun,” desisnya rendah, nyaris seperti ancaman. “Kau membuang-buang waktuku.”
Ranjang itu bergeser sedikit, berderit pelan.
Rega menatap wajah Cantika dengan sorot emosi, tatapan seseorang saat melihat variabel masalah yang belum terselesaikan.
“Ssshh…”
Cantika mengernyit pelan. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Pandangannya buram, kepalanya terasa berat seolah dihantam dari dalam. Bau antiseptik dan udara dingin langsung menyergap indra penciumannya.
“Di… mana ini?” suaranya serak.
Ia menoleh ke sekeliling, dadanya naik turun cepat. “Kenapa aku pusing sekali…”
Baru saat ia menggeser pandangan ke kiri, tubuhnya menegang. Seorang pria duduk di kursi di samping ranjang. Tatapannya tajam, dingin, dan sama sekali tidak ramah.
“Siapa kau?” tanya Cantika refleks, jantungnya berdegup keras.
Rega tidak menjawab. Ia hanya menatap Cantika seolah gadis itu adalah masalah yang harus diselesaikan secepat mungkin.
“Apa tujuanmu masuk ke dalam kehidupan Ethan dan Celine,” katanya dengan suara rendah namun menusuk, “dan menghancurkan hubungan mereka?”
Cantika terperanjat ketakutan.
semangat berjuang mendapatkan kepercayaan celine lagi etan.. 👍💪
siapa pemilik takdir mereka ..
menguji seberapa dalam hati kalian masing masing
keren karyamu Thor...ditunggu kelanjutannya..👍👍