Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan Embun
Raka terbangun dengan kilauan sinar matahari di muka, tidak dengan cahaya lampu neon, langit-langit putih rumah sakit tapi sinar asli, dari jendela yang terbuka membawa bau kopi dan disinfektan sesuatu yang lebih manis—mawar?
Tidak, ini hanya khayalan. Ia terlalu sering mengira dan menghayal.
"Ra."
Ia melihat tubuh ringkih itu duduk di kursi kulit usang, dengan selimut kusut di pangkuannya, matanya masih merah, rambut berantakan, pakaian yang sama sejak kemarin—atau sejak kemarin a tidak tahu berapa lama tidur.
"Lo udah bangun, Ra" katanya lemah.
"Gue... gue tidur berapa lama, May?"
"Mungkin delapan belas jam, " balasnya mengulas senyum sedikit lega. "Dokter bilang itu baik, tubuh lo... butuh istirahat bukan cuma tidur tapi benar benar Istirahat."
Raka menatap disekelilingnya, seperti bangsal kamar bersama—tiga tempat tidur, dua kosong, satu miliknya. Tirai hijau pudar, lantai linoleum mengkilap di bawah sinar matahari.
"Laras?" tanyanya tidak tahu kenapa atau tahu.
"Laras mandi, gue yang maksa dia pulang.." Ia berdiri, merapikan selimut di pangkuannya "Awalnya dia nggak mau tapi gue bilang kalau kita berdua ada di sini, lo akan stres melihatnya, karena Lo butuh... ketenangan."
Raka mengangguk perlahan kepalanya masih berat, tapi tidak berputar lagi.
"Thanks, ya May."
"Jangan berterima kasih kepada gue," Ia berjalan ke arah jendela, menutup sedikit—sinar terlalu terang menerpa. "Gue di sini tidak untuk lo berterima kasih, tapi karena...Kinan dan gue sendiri yang mau."
Diam.
Raka menatap punggung kurusnya, seseorang yang selalu ada, bahkan ketika ia tidak meminta.
"May," panggilnya. "Gue... gue minta maaf untuk semuanya, pilihan gue yang salah membuat Lo lelah."
Ia berbalik tidak menangis ataupun marah, wajahnya terlihat ringkih, sama lelahnya dengan Raka."Gue juga capek, Ra dengan gue sendiri. Karena gue nggak bisa... nggak bisa berhenti berharap. Padahal gue tahu, harapan itu berat, sangat berat.
Ia duduk lagi di kursi dengan jarak yang sama."Tapi gue sudah putusin," lanjutnya "Di sini, semalam, waktu lo tidur. Gue nggak akan berharap lagi bukan karena gue nggak sayang Tapi gue ingin Lo bebas dengan diri Lo sendiri"
Raka memandang kuyu —bukan seperti orang menunggu, berharap, tapi memilih. untuk dirinya sendiri."Gue ngerti, May, gue... gue juga senang bukan karena lo pergi. Tapi lo lebih kuat"
Ia mengulas senyum, "Gue selalu lebih kuat, Ra, Lo aja nggak pernah liat."
---
Dokter datang siang itu, pria muda dengan kacamata tebal dan senyuman sering dipakai untuk pasien sering melihat kematian.
"Pneumonia ringan," katanya menatap hasil rontgen. "Tapi kelelahan ekstrem lebih mengkhawatirkan. Anda... anda tidak istirahat sama sekali, ya? Dalam beberapa bulan terakhir?"
Raka mengangguk. Ia tidak bisa menjelaskan—tidak bisa bilang bahwa ia tidak tidur karena pilihan tidak bisa dibuat. Bahwa ia lebih memilih kelelahan daripada mimpi yang mengingatkan dari apa yang hilang.
"Saya tulis surat cuti," lanjutnya. "Dua minggu. minimal. Istirahat total. Tidak kerja, tidak pikir kerjaan, tidak... tidak stres."
"Dok...sepertinya mustahil," gumamnya
" Apa yang anda pikirkan?"
" Tidak ada, Dok."
" Saya tidak mau anda kembali lagi ke sini," katanya masih tersenyum. Tapi mata di balik kacamata—tajam, serius. "Dan kali berikutnya, mungkin tidak ada yang menunggu anda bangun." Ia pun pergi
Laras masuk dengan kopi dan roti—menatap Raka. Dua wanita, satu pilihan yang masih menggantung di awan.
Tapi kali ini, ia berbeda dari pada biasanya, rasa tanggung jawab pada tubuhnya sendiri, orang-orang yang menunggu, pada hidup yang masih berjalan, meski ia sempat berhenti.
---
Malam, Ibu Rini datang dari kampung, dengan keranjang berisi jamu, pakaian bersih, dan sesuatu yang lebih berharga—tangan yang menggenggam erat, mata yang menatap dengan cinta tidak pernah meminta balasan.
"Nak," katanya duduk di kursi yang ditinggal Maya. "Kenapa nggak bilang kalau kamu sakit. Nggak bilang kalau kamu sendirian menghadapi semuanya."
Raka menatap ibunya, wanita yang ia tinggalkan di kampung, yang ia kunjungi hanya saat Lebaran, yang ia telepon hanya butuh uang atau nasihat yang tidak pernah ia jalani.
"Raka nggak sendirian, Bu," katanya berbohong tapi juga benar adanya. "Raka masih punya teman."
Ibu Rini mengusap rambutnya seperti dulu, sebelum Kinan, sebelum Laras, sebelum Maya saat hanya ada mereka berdua didalam dunia sederhana.
"Teman," ulangnya ragu "Temen yang mana, Nak? Yang bawa sup, atau yang menangis di lorong, atau yang nggak bisa masuk karena nggak punya hubungan keluarga?"
Raka terdiam kaku, tiga wanita, tiga cara mencintai. Dan ibunya—yang selalu tahu, selalu lihat, selalu mengerti tanpa perlu dijelaskan.
"Raka nggak tahu, Bu," ucapnya jujur pahit. "Raka nggak tahu yang mana, tidak tahu... tidak tahu apa-apa lagi."
Ibu menghela napas pengertian yang datang dari tahun-tahun mengenal anaknya— keras kepala, terlalu cinta, terlalu takut kehilangan hingga kehilangan dirinya sendiri.
"Kamu nggak harus tahu sekarang, tapi kamu harus hidup satu hari, satu jam, satu napas sampai kamu mengerti, atau sampai kamu nggak perlu tahu lagi."
Raka menangis di pangkuan ibunya saat dulu sebelum ia menjadi dewasa, bingung, lelah setengah mati."Raka kangen Kinan, Bu," bisiknya terisak "Raka kangen dia, tidak tahu lagi caranya hidup."
Ibu Rini mengusap punggungnya perlahan berirama." Ibu juga kangen dia, Nak, Kinan anak baik, sayang dengan mu apa adanya, menemanimu dalam suka dan duka. Tapi, Nak... dia sudah pergi dan kamu masih di sini. Perempuan itu menarik napasnya, "Kamu harus menjalani hidup sendiri ada atau tanpa dia."
Raka tersedu dengan mata bengkak, hidung berair, tapi sesuatu—sesuatu yang sangat kecil, mulai terbuka di dadanya. " Raka nggak tahu caranya, Bu, nggak tahu menyayangi diri sendiri."
"Nanti Ibu ajarin pelan-pelan sama seperti Ibu mengajar kamu berjalan sewaktu kecil, jatuh bangun bisa jalan sendiri."
---
Di Ruang Tunggu, Kinan melihat dari jendela yang hampir tidak bisa ia buka lagi.
Ibu Rini, wanita itu menggenggam anaknya, mengusapnya, mengatakan hal-hal yang Kinan ingin katakan tapi ia tidak mampu.
"Mas Raka akan baik-baik aja, dengan ibunya. Dengan... dengan semua yang masih hidup."
" Ya, Aku mengerti dan ini sebuah jalan bagimu untuk pergi."
Kinan menatap semua yang tidak terlihat, diruang hampa. " Aku masih menunggu, satu kali lagi saat terakhir untuk memastikan."
"Memastikan apa?"
"Bahwa dia akan hidup, benar-benar hidup tanpa aku."
" Kamu yakin dengan kondisi nya saat sekarang ? Atau..."
" Atau apa ?"
" Sebenarnya kamu ingin membawanya pergi, tapi hatimu tidak sanggup berkata-kata."
" Bu..."
" Terlalu banyak yang ia pikirkan, Nak, terlalu sulit keputusan yang akan di ambil, jiwanya akan terombang ambing."
" Masih ada aku."
" Ya masih ada dirimu, tapi ...aku seperti tidak yakin, karena dirimu masih juga menunggu."
Kinan menangis seperti titik embun yang tidak menetes di dedaunan.
---
mampir 🤭