Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hiduplah Untuk Diriku
Di Ruang Tunggu, waktu tidak berjalan seperti di dunia nyata. Tidak ada matahari, tidak ada jam, hanya cahaya putih yang tetap—tidak pernah terang, tidak pernah gelap. Kinan duduk di "jendela" menatap dunia yang ia tinggalkan dengan tubuh semakin transparan.
Ia melihat segalanya bukan karena ingin karena tidak bisa tidak.
---
Hari pertama, ia melihat Raka di kamar berbaring dengan bantalnya—bantal yang sudah ia ganti tiga kali sejak sakit, karena bau vanila yang menempel sudah tidak tahan. Raka menatap langit-langit, berbicara pada udara kosong bukan kepadanya, tapi pada bayangan, kenangan yang sudah ia edit sedemikian rupa sehingga lebih manis dari pada kenyataan.
"Mas rindu," bisiknya."Tapi mas juga capek. Mas bingung, Nan. Kamu denger?"
Kinan ingin menjawab, ingin turun tapi jiwanya lemah—bergetar sayup, cahaya Ruang Tunggu berdenyut seperti lampu yang akan padam.
"Diam, Kinan, tubuhmu sudah terlalu banyak, cukup."
---
Hari kedua, ia melihat Laras.
Wanita itu duduk di kafe sendirian—tempat yang pernah ia datangi dengan Raka, tiga tahun lalu. Laras menatap ponsel, mengetik, menghapus, mengetik lagi pesan yang tidak terkirim. Atau terkirim tapi tidak dijawab.
Kinan melihat sesuatu yang familiar. Dirinya sendiri, dulu saat menunggu Raka pulang kerja menatap ponsel, berharap nama itu muncul. Saat hidupnya begitu kecil, begitu sempit, hanya berputar pada satu orang, Raka.
"Dia cinta dia, sama seperti aku."
"Tidak sama," Perempuan tua itu menyela, " kamu mencintai dengan memberi. Dia... dia mencintai dengan mengambil pelan pelan, langkah strategis. Tapi tetap mengambil."
" Aku dulu juga begitu mengambil waktunya, perhatiannya. Aku... aku egois, cuma aku nggak sadar, karena aku sakit. Sakit itu bikin egois seperti kebutuhan."
Ini memang benar adanya, sakit membuat semua orang egois termasuk dirinya yang telah pergi.
---
Hari ketiga, ia melihat Maya sangat berbeda tidak menangis di taman atau berteriak di kafe. Maya duduk di rumah ibunya, menatap foto masa kecil, berbicara pada gambar yang tidak bisa menjawab.
"Gue benci lo, Nan," katanya pada foto. "Bukan karena lo cinta dia. Bukan karena lo duluan pergi, bukan. Gue benci karena gue harus jagain dia, melihatnya hancur. Gue yang harus... harus jadi orang kedua, lagi dan lagi."
Kinan ingin menangis menatap dari Ruang Tunggu. Tapi air matanya tidak bisa keluar—karena di sini, air mata hanyalah kabut, menjadi bagian dari ruangan itu sendiri.
"Maaf kan gue, May," bisiknya. "Gue nggak tahu. Gue pikir... kalau gue pergi, lo akan... lo akan bisa menjaga, ternyata gue salah, selalu salah."
Maya menatap fotonya tersenyum getir.
"Tapi gue juga sayang lo, Nan," katanya "Karena lo yang bikin dia hidup. Waktu lo ada, dia... dia benar-benar hidup. Dan gue... gue cuma bisa liat dari jauh seperti sekarang."
Kinan merasa sesuatu—sesuatu yang tidak seharusnya ada di Ruang Tunggu—menyempit di dadanya rasa rugi, perasaan yang terlambat.
---
Hari keempat, ia melihat semuanya.
Raka di kantor, berusaha normal tertawa pada lelucon Dika yang tidak lucu, menyetujui proposal yang tidak ia baca. Hidup, tapi seperti boneka—digerakkan oleh tali yang tak terlihat.
Laras berada di dekatnya terlalu dekat. Tangannya di lengan saat berbicara, bahu bersentuhan saat berjalan. Raka tidak mundur. Tapi Kinan lihat—di sudut matanya, ada suatu keraguan, jarak, tubuhnya ada, tapi pikirannya di tempat lain.
Maya di luar radius di meja pojok, sendirian. menatap tidak cemburu atau marah, hanya... mengamati seperti perawat terhadap pasien. Seolah tahu—tahu—bahwa jika ini akan berakhir Raka akan runtuh lagi.
Dan runtuh lah Raka di toilet kantor, jam tiga sore. Muntah. Bukan karena makanan, tapi sesuatu yang menyekat didalam hatinya, tidak bisa dikeluarkan.
Kinan melihat dengan tangan hampir tidak terlihat, ia menekan "jendela"—mencoba meraih, mencoba menolong.
"Aku bisa," bisiknya. "Aku bisa turun. Sekali lagi. Untuk dia."
"Kamu akan punah dan lenyap bukan mati—kamu sudah mati. Tapi lenyap dari segalanya dari kenangan dan hatinya."
"Kalau aku lenyap, dan dia hidup—itu sudah cukup."
Perempuan tua itu melepaskan perlahan. seakan memberi restu pada kegilaan terakhir.
---
Malam itu, Kinan turun bukan ke dunia mimpi, ataupun bayangan tapi ke dunia nyata, dengan energi yang tersisa seharusnya cukup untuk satu sentuhan, satu kata, satu detik.
Raka rumah duduk teras menatap tanaman mati yang dulu hidup—krisan putih, mawar, lavender. Semua yang Kinan tanam, semua yang tidak bisa ia selamatkan.
"Ra," bisiknya
Laki laki itu menoleh, tidak melihatnya tapi ikut merasakan kehangatan bau bunga mawar putih, vanila tiba-tiba menyengat, lalu hilang.
"Sayang?" panggilnya. "Kamu di sini?"
Kinan berdiri di sampingnya tidak terlihat, —hanya goresan cahaya di udara malam. Ia mencoba meraih tangannya tapi hanya menggapai angin dan udara.
Raka merasakan sesuatu di tubuhnya, dingin tapi hangat, jauh, tapi dekat.
"Hidup lah sayang," bisiknya hampir tidak terdengar—seperti angin dan kenangan. "Bukan untuk Kinan, bukan untuk Kinan, untuk Mas, untuk... untuk yang bisa mas sentuh, yang bisa mas pegang, dan tumbuh."
Raka menatap kekosongan dengan mata berkaca-kaca."Mas tahu kamu di sini, Nan," bisiknya. "Mas selalu tahu, nggak akan bisa lepas."
"Bukan lepas," bisiknya dengan tubuh semakin tipis, semakin transparan. "Bawa, Bawa di sini." Ia menepuk dadanya—hampir tidak tersentuh, tapi Raka merasakan getarannya "Di sini. Jangan di sini." Ia menunjuk ke tanaman mati, ke makam, ke tempat-tempat yang diam penuh tangisan.
"Mas nggak ngerti," Raka akhir nya menangis sesenggukan. "Mas nggak ngerti, Nan. Mas gak bisa, mas cinta sampai...mati."
"Kinan tahu," bisiknya semakin jauh. "Dan itu... itu cukup untuk Kinan. Tapi untuk mas cinta itu harus hidup, tumbuh dan berubah."
Ia mencium keningnya tidak tersentuh, seperti embun pagi menetes didada.
Laki laki itu terus menangis, air matanya jatuh berderai membasahi lantai.
" Jangan menangis lagi sayang, Kinan nggak pergi cuma pindah ke sini." Ia menepuk dadanya sekali lagi. " I love u sayang."
Lalu hilang.
---
Raka duduk di teras sendiri dengan bau bunga mawar yang sudah hilang, sesuatu yang baru—entah apa.
Pagi itu, untuk pertama kalinya, ia menyiram tanaman bukan berharap istrinya kembali. Hanya karena... karena itu yang dapat ia lakukan dan jika ia berhenti berarti benar-benar mati.
Dan sesuatu—mungkin kebetulan, mungkin bukan—terjadi.Di pangkal batang lavender yang kering, satu tunas kecil hijau dan hidup.
Raka menatapnya tidak menangis hanya... melihatnya
"Oke, Nan," bisiknya. "Mas akan coba."
---
Di Ruang Tunggu, Kinan terbaring, jiwanya hampir tidak terlihat—hanya bayangan tipis, seperti kabut pagi hilang tersentuh matahari.
"Kamu memberikan yang terakhir."
"Belum terakhir, satu lagi untuk... untuk memastikan."
"Kamu tidak punya 'satu lagi.' Kamu punya ini sekarang. Dan itu sudah cukup terlalu banyak, bahkan."
Kinan tersenyum hampir tidak terlihat.
"Cinta, tidak pernah cukup, itu masalahnya dan itu.. juga keindahannya."
Raka di taman, menatap tunas hijau dengan wajah yang berbeda siap untuk segala kemungkinan.
"Dia akan baik-baik saja"
Kinan mengangguk perlahan sebelum lenyap sepenuhnya."Karena dia... dia selalu lebih kuat dari apa yang aku pikirkan, sama seperti... sama seperti aku."
mampir 🤭