Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertekan
Indira pun berusaha dengan cepat untuk bisa menyelesaikan pekerjaan rumahnya itu, agar nantinya tidak kemalaman apabila sampai dirumah Wisma. Ia membersihkan lantai rumah, mencuci piring, dan bahkan memasak sekaligus ia lakukan saat itu. Setelahnya Indira langsung pergi membersihkan tubuhnya, dan berganti pakaian.
Tak beberapa lama kemudian, akhirnya Indira sampai juga dirumah Wisma, Wisma belum pernah berkunjung kerumah Indira karena Indira melarangnya. Indira tidak mau jika Wisma datang kesana justru akan memperkeruh keadaannya, sehingga Indira sama sekali tidak mengizinkan Wisma untuk datang kesana dengan alasan takut di gerebek sama warga sekitar.
"Ada masalah apa?" Tanya Indira setelah sampai dirumah Wisma dan mendapati Wisma yang tengah duduk sendirian di ruang tamu untuk menunggu kedatangan dari Indira.
"Duduk dulu lah, masak cerita sambil berdiri kayak gitu. Duduk dulu baru aku ceritain," Ucap Wisma.
"Baiklah."
Indira langsung duduk didekat Wisma untuk bisa mendengarkan cerita dari Wisma, Wisma sendiri pun langsung memeluk Indira ketika Indira sudah duduk didekatnya. Indira hanya bisa diam membisu tanpa berkata apa apa, entah apa yang terjadi dengan lelaki itu saat ini, dan apa yang sebenarnya ia alami ditempat kerja barunya.
"Kenapa? Ada apa?" Tanya Indira bingung.
"Kangen kamu," Jawab Wisma.
"Hem..." Indira hanya bisa berdehem mendengar jawaban dari Wisma, bukan hal itu yang ingin Indira dengar saat ini, melainkan apa yang terjadi ditempat kerja barunya.
Indira takutnya telah terjadi hal yang besar sehingga membuat Wisma kehilangan pekerjaannya seperti ini, bahkan Wisma sendiri tidak cerita kepada Indira mengenai hal yang terjadi kepadanya, justru dirinya langsung memeluk Indira dengan eratnya sambil mengatakan bahwa ia sangat merindukan Indira karena tidak bertemu Indira beberapa hari yang lalu.
"Sudah, mau cerita apa?" Tanya Indira sambil melepaskan pelukannya itu.
"Kerjanya itu enak nggak terlalu berat, terus teman temannya juga ramah disana," Ucap Wisma.
"Terus kenapa keluar?"
"Ya gimana lagi Dira, orang yang nyari pegawai nggak cuma satu, jadi pas datang kemarin langsung ada empat orang. Mandor sini bawa satu, mandor sana bawa satu, dan seterusnya begitu. Jadi terpaksa satu bagian harus dibagi menjadi empat orang,"
"Enak dong, jadi cepet selesainya kalo begitu,"
"Enak katamu, ya nggak enak lah. Seharusnya dapat gaji full jadi gajinya juga harus dibagi jadi empat orang,
Indira pun terdiam mendengar penjelasan dari Wisma tersebut, Indira mencoba untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Wisma saat ini, dan ia merasa heran dengan keputusan dari pihak pabrik itu sendiri. Jika hanya membutuhkan satu orang saja, lantas kenapa mereka tidak melakukan sebuah seleksi didalamnya, dan kenapa tidak dicarikan bagian yang lain jika masih kosong.
Padahal mereka juga sudah bekerja beberapa hari, namun kenapa pihak pabrik tidak mencarikan mereka bagian yang kosong ataupun memberhentikan satu persatu diantara mereka ketika wawancara. Keputusan itu membuat Wisma mengundurkan diri karena tidak mau bersaing dengan yang lainnya, ia sendiri juga tidak mau apabila gajinya harus dibagi menjadi empat orang.
Oleh karenanya Wisma pulang sebelum waktunya, dan bahkan Wisma pulang sebelum waktunya gajian. Wisma menyerahkan pekerjaannya itu kepada orang lain, dan hal itu membuat Indira hanya bisa menanggung rasa kecewa terhadap apa yang dilakukan oleh Wisma saat ini. Bukan karena hal apa, melainkan karena hutang Wisma kepada Indira sudah mencapai jutaan.
Indira lelah jika harus berpikir bagaimana cara dirinya bisa makan untuk seterusnya, karena Wisma berhasil menguras seluruh uang tabungan Indira tanpa Indira sadari. Hampir belasan uang jutaan diambil oleh Wisma, uang hasil jerih payahnya segitiga lenyap begitu saja tanpa tahu Ke mana arahnya.
"Kamu beli jaket baru ya?" Tanya Indira ketika Wisma memakai jaket yang seperti belum pernah Wisma pakai sebelumnya.
"Iya dong, jaket yang dibelikan oleh wanita paling cantik," Ucap Wisma bangga.
"Siapa? Kamu punya wanita lain ya?"
"Iya lah, dia aja belikan aku jaket baru."
"Oh seperti itu,"
Terdengar nada kecewa yang diberikan oleh Indira kepada Wisma, Indira merasa sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Wisma dengan menerima jaket pemberian dari orang lain tanpa izin dari Indira. Entah mengapa Indira merasa sakit hatinya, apalagi dirinya telah menganggap Wisma sebagai lelakinya dan ia sangat mencintainya.
"Kamu gitu loh yang membelikannya," Jawab Wisma.
"Kapan aku beli? Aku nggak pernah beli itu buat dirimu,"
Indira pun dibuat bingung oleh jawaban yang diberikan Wisma, Indira sendiri belum pernah membelikan jaket apapun kepada Wisma dan ia sendiri kekurangan uang untuk makan. Indira saja butuh uang sehingga tidak memungkinkan bahwa dirinyalah yang membelikan jaket itu untuk Wisma, entah mengapa Wisma bisa berkata hal seperti itu.
"Ya setiap uang yang kamu berikan aku tabung buat beli jaket ini, jadi ini kan jaket dari kamu,"
Deg...
Indira langsung merasa begitu sakit hati mendengar jawaban tersebut, dengan gampangnya Wisma mengatakan hal tersebut kepadanya. Inilah sendiri kesulitan untuk makan hanya demi memberikan uang kepada Wisma agar Wisma tidak kelaparan, namun justru hal inilah yang diberikan oleh Wisma kepadanya, ia bahkan tidak mempedulikan hal itu.
Indira merasa sangat tertekan dengan hal tersebut, ia harus memutar otak agar gajinya cukup untuk makannya sebelum gajinya keluar lagi. Inilah benar benar harus berhemat untuk bisa menyambung hidupnya, sementara Wisma dengan seenaknya berbuat semaunya tanpa memikirkan tentang bagaimana cara Indira bisa bertahan hidup.
Benar benar sama sekali tidak memperhatikan bagaimana kesusahannya Indira selama ini, Wisma mengatakan peduli kepada Indira namun sama sekali tidak ada tindakannya yang mengatakan seolah olah peduli dengan Indira. Setiap kali Indira keluar bersama Wisma, Indira yang harus menanggung biayanya entah itu bensin ataupun uang makan Indira sendiri yang tanggung.
"Kamu kok tega sama aku?" Tanya Indira.
"Tega kenapa?" Tanya Wisma seolah olah tidak merasa bersalah sama sekali.
"Iya tega, aku aja menghemat untuk bisa makan setiap harinya, kamu malah gunakan uangku buat beli jaket begini. Kamu nggak pernah apa mikirin perasaanku gimana?"
"Jadi kamu nggak ikhlas buat bantu aku begitu?"
"Bukannya nggak ikhlas, tapi kenapa kamu sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaanku? Bagaimana caranya aku bertahan hidup? Bagaimana caranya aku bisa makan?"
"Kan aku udah bilang kalo ada apa apa itu bilang sama aku, jangan kamu pendam semuanya sendirian, jadinya kan aku nggak tau soal itu,"
"Seharusnya kamu tanya dulu dong. Kamu kan juga tau kalo aku tinggal sendirian dan jauh dari orang tua, seharusnya kamu bisa mikir lah bagaimana caranya jadi aku,"
Indira benar benar kesal dengan apa yang dilakukan oleh Wisma saat ini kepadanya, ia lalu pulang begitu saja tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Wisma. Wisma mencoba untuk mencegahnya agar tidak pergi, karena Wisma sendiri masih membutuhkan Indira disampingnya karena Wisma menganggap bahwa Indira adalah mesin ATM berjalan untuknya.
******
Beberapa hari kemudian, Indira pun merasa kesepian karena tidak memiliki teman untuk sekedar diajaknya mengobrol, teman temannya sendiri juga tengah sibuk dengan urusannya masing masing. Bahkan ketika diajak main oleh Indira mereka selalu tidak bisa, dan banyak hal yang harus mereka lakukan dengan pacar mereka masing masing.
Indira ingin menghubungi Wisma dan meminta maaf kepadanya karena telah marah, namun Indira tidak mau melakukan hal itu karena dirinya memang tidak bersalah. Hati dan pikiran Indira tidak dapat diajak untuk bekerja sama, sehingga keduanya seperti tengah bertarung untuk mengalahkan satu sama lainnya.
Ternyata Indira begitu membutuhkan seorang teman untuk menemani hari harinya yang hampa ini, ia tidak memiliki siapapun yang bisa diajaknya untuk mengobrol ataupun main. Ternyata seber pengaruh itu kehadiran sosok Wisma didalam kehidupan Indira, sehingga Indira tidak mau kehilangan sosok lelaki itu saat ini.
"Enaknya ngapain ya hari ini, aku juga nggak tau. Biasanya Wisma nyuruh aku datang kerumahnya kalo aku lagi gabut begini, tapi sekarang nggak."
Indira pun beberapa kali melihat kearah ponselnya dan berharap bahwa ada notif yang masuk kedalam ponsel miliknya itu, namun setelah sekian lama menunggu Indira sama sekali tidak mendapatkan notifikasi apapun. Indira hanya bisa menghela nafas, dan mengisi kekosongan harinya dengan bermain game di ponselnya.
Hingga tanpa terasa bahwa air matanya langsung mengalir begitu saja, hal bodoh yang dilakukan oleh Indira selanjutnya adalah langsung mengirimkan pesan meminta maaf kepada Wisma. Ia tidak tahan dengan kesepian, sehingga ia pun langsung mengirimkan pesan kepada Wisma tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
Indira tidak mengira bahwa hal tersebut lah yang membuatnya tidak berarti sama sekali di mata Wisma, sehingga Wisma bisa kembali berbuat semaunya tanpa harus takut jika akan kehilangan Indira nantinya. Mencintai seseorang yang meremehkan dirimu adalah hal yang sangat menyakitkan bagimu, dan orang yang kamu cintai akan berbuat semau mereka tanpa memperhatikan bagaimana posisimu.
Setelah mengubungi Wisma, Indira pun mengutuk dirinya sendiri karena melakukan itu tanpa ia sadari, dan Wisma pun membalas pesan tersebut dengan gampangnya. Seolah olah dirinya sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun kepada Indira, dan dirinya mau berbuat apapun semaunya tanpa harus takut jika nanti Indira pergi menjauh darinya.
Kehidupan pun kembali seperti sebelumnya, bahwa Wisma masih menganggap Indira adalah mesin ATM untuknya dan kemana mana Wisma selalu mengandalkan Indira untuk hal itu. Entah sampai kapan Indira akan terus berada diposisi seperti ini, Indira ingin keluar dari zona tersebut namun ia sama sekali tidak bisa melakukannya.
Ia berusaha untuk terus bersabar karena ia tau bahwa kehidupan seperti ini akan berakhir secepatnya, ia masih berharap bahwa ketika Wisma mendapatkan pekerjaan maka kehidupannya akan berubah. Oleh karenanya Indira terus berusaha untuk mencarikan Wisma sebuah pekerjaan, sehingga Wisma tidak lagi bergantung kepadanya.
Indira sendiri mencoba untuk menyembunyikan gajinya seminimal mungkin agar tidak dicurigai oleh Wisma, dengan cara seperti itu Indira bisa keluar dari zona dimana dirinya kekurangan uang. Indira benar benar harus bisa mengatur semua pengeluaran dan pemasukannya tanpa Wisma ketahui, karena ia takut apabila Wisma mengetahui bahwa Indira punya uang maka uang tersebut akan diambil olehnya.
"Besok ada waktu apa?" Tanya Wisma dari balik sambungan telepon vidio.
"Kayaknya ada, soalnya besok aku libur," Jawab Indira.
"Yaudah besok ikut aku ke Mojokerto, dirumah Kakak sepupuku ya,"
"Baiklah,"
Keduanya pun mengobrol santai saat itu, seakan akan tidak pernah terjadi masalah sebelum sebelumnya. Mereka saling bercanda gurau dibalik telpon tersebut, Indira pun merasa senang karena ada teman untuk mengajaknya mengobrol, walaupun obrolan mereka sama sekali tidak menyambung satu sama lain karena keduanya memiliki pikiran yang berbeda.
Inilah definisi mencari penyakit tanpa diketahui, sudah tau bahwa Wisma adalah penyakit untuk Indira, namun Indira sendiri terus mencarinya.
******
Indira dan Wisma saat ini berada dirumah saudaranya Wisma, mereka pun mengobrol dengan santainya satu sama lainnya. Hingga akhirnya mereka pun mengajak Wisma dan Indira untuk makan diluar karena dirumah belum masak, mau tidak mau Indira pun menyetujuinya, dan mereka pun langsung berangkat untuk mencari warung dipusat kota sambil melihat pemandangan yang ada.
masih jd pacar ae di Peres mau saja 🤣. pa lagi dah di nikahi di jadi kan BABU gratisan pun mau di indira ini.
cewek kok bego mau di manfaat kan laki.
Aku ae orang kampung kurang kasih sayang Dr ortu pun gk sebego itu kok, gk bucin ma laki.
bikin indira nya jd perempuan yg kuat, tegas dan pintar jd gak mudah diperalat oleh laki2 sperti wisnu
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.