NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7: gerhana merah di atas seoul

Langit Seoul tidak lagi memiliki warna biru yang dikenal manusia. Di atas Distrik Gangnam, realitas seolah-olah telah disobek secara paksa oleh tangan raksasa yang tak terlihat. Lubang hitam raksasa dari Gerbang Abyss tingkat SSS—yang oleh para ilmuwan disebut sebagai 'The Great Collapse'—terus berputar, menciptakan tarikan gravitasi yang mulai menyedot benda-benda ringan di permukaan. Mobil-mobil yang ditinggalkan pemiliknya di jalan raya mulai melayang perlahan, kaca-kaca gedung yang pecah beterbangan di udara seperti jutaan kunang-kunang maut, dan suara dengungan frekuensi rendah dari lubang tersebut sanggup membuat jantung manusia biasa meledak jika terpapar terlalu lama.

Di puncak atap SMA Gwangyang, angin badai menderu dengan kecepatan yang mampu merobek kulit. Namun, di tengah pusaran udara yang kacau itu, Arkan berdiri tegak bagaikan pilar yang menopang langit. Jubah Sanguine-nya yang hitam legam kini sepenuhnya aktif, memancarkan garis-garis merah bercahaya yang berdenyut selaras dengan detak jantungnya yang tenang. Di sekelilingnya, lima bawahan setianya—lima kepingan maut yang ia kumpulkan dari ambang kematian—berdiri dengan formasi tempur yang sempurna.

Bastian, sang Vanguard, berdiri paling depan. Tubuhnya yang sekeras porselen kini memancarkan aura emas kemerahan, otot-ototnya menegang saat ia menahan tekanan gravitasi yang jatuh dari langit agar tidak meremukkan gedung sekolah tempat mereka berdiri. Di sampingnya, Hana, sang Phantom, tampak seperti bayangan yang terdistorsi; tubuhnya bergetar dalam frekuensi yang membuatnya hampir tidak terlihat oleh mata telanjang. Rehan, sang Plague, telah melepaskan kabut ungu pekat dari pori-porinya, menciptakan kubah pelindung yang menetralisir spora beracun yang mulai bocor dari gerbang. Elara, sang Seer, berdiri di belakang Arkan dengan mata merah silangnya yang terus berputar, memberikan data transmisi langsung kepada Julian yang berada di pusat kendali markas.

"Target inti gerbang berada di kedalaman tiga ratus meter di dalam lubang hitam tersebut, Tuan," suara Elara terdengar jernih di pikiran Arkan melalui jaringan Blood-Link. "Ada perisai dimensi yang sangat tebal. Jika kita menghancurkannya dengan paksa, ledakan energinya akan meratakan seluruh kota Seoul dalam radius lima puluh kilometer."

Arkan menatap lubang hitam itu dengan mata merah delimanya yang menyala. "Julian, hitung probabilitas stabilisasi menggunakan teknik 'Sanguine Seal'."

Proyeksi hologram Julian muncul di samping Arkan, jemarinya bergerak cepat di atas barisan data virtual. "Probabilitas keberhasilan adalah 89,4%, Ayah. Namun, itu membutuhkan Vanguard untuk masuk ke titik nol gravitasi dan menahan beban dimensi selama tiga detik. Itu adalah tekanan yang bisa menghancurkan molekul baja sekalipun."

Bastian menoleh, seringai liar muncul di wajahnya yang kaku. "Tiga detik? Berikan aku tiga menit, dan aku akan memegang gerbang itu sampai ia memohon untuk ditutup, Tuan."

"Lakukan," perintah Arkan singkat.

Bastian meraung, suara teriakannya mengalahkan deru badai. Ia melompat ke udara, bukan dengan terbang, melainkan dengan menendang molekul udara hingga meledak. Ia melesat lurus menuju pusat lubang hitam SSS. Di bawah sana, jutaan mata warga Seoul yang sedang berlindung di bunker dan stasiun bawah tanah menatap layar ponsel mereka melalui siaran langsung satelit yang berhasil meretas gangguan mana. Mereka melihat sesosok pria berzirah putih-merah yang menantang kiamat sendirian.

"Lihat! Siapa pria itu?!" teriak seorang reporter dari helikopter berita yang terombang-ambing di kejauhan. "Dia bukan dari tim Hunter Nasional! Dia... dia seperti pahlawan dari legenda!"

Saat Bastian menyentuh bibir gerbang, tubuhnya seketika dihantam oleh tekanan gravitasi jutaan ton. Tulang-tulangnya yang telah ditempa Arkan mengeluarkan suara berderak nyaring, namun tidak patah. Ia mencengkeram tepi retakan dimensi tersebut dengan tangan kosongnya, urat-urat di lengannya menonjol seperti akar pohon purba.

"SEKARANG, SEER! TENTUKAN TITIKNYA!" teriak Bastian melalui komunikasi darah.

Elara mengangkat busur tulangnya, menarik tali busur yang tidak memiliki anak panah fisik. Energi merah darah terkumpul di ujung jarinya, membentuk sebuah tombak cahaya yang bergetar hebat. "Koordinat terkunci pada sumbu X-409, Y-112. Phantom, bersihkan jalannya!"

Hana menghilang. Dalam waktu kurang dari satu detik, ia sudah berada di dalam celah gerbang, bergerak di antara ribuan monster 'Abyss Harpies' yang mulai keluar. Ia tidak menebas satu per satu; ia bergerak dengan frekuensi yang membelah molekul udara, menciptakan ribuan sayatan tak terlihat yang membuat monster-monster itu hancur menjadi debu sebelum sempat menyentuh Bastian.

"Plague, kunci oksigen di area ledakan!" perintah Julian.

Rehan mengangkat kedua tangannya. Kabut ungu di sekeliling sekolah tiba-tiba melesat ke langit, membungkus Bastian dan mulut gerbang dalam sebuah kapsul isolasi. Kabut ini bukan hanya racun, tapi juga berfungsi sebagai penyerap kejut energi.

Arkan melangkah maju ke tepi atap gedung. Ia mengangkat tangan kanannya, dan seketika, seluruh darah yang tumpah dari monster-monster yang dibunuh Hana di langit mulai berkumpul menuju telapak tangannya. Darah ungu monster itu dimurnikan secara instan oleh api Sovereign milik Arkan, berubah menjadi warna merah murni yang sangat panas.

"Sanguine Art: Heaven’s Judgment."

Arkan melesatkan gelombang energi merah raksasa dari tangannya. Energi itu berbentuk seperti naga merah yang mengaum, menembus kabut Rehan, melewati celah yang dibuka Hana, dan menghantam tepat di inti gerbang yang dijaga Bastian.

BOOOOMMM!!!

Ledakan cahaya merah membutakan seluruh kota Seoul selama beberapa detik. Gelombang kejutnya begitu dahsyat hingga awan-awan di langit tersapu bersih, menyisakan langit yang kosong. Lubang hitam raksasa itu bergetar hebat, lalu mulai menciut secara tidak wajar. Tekanan dimensi yang tadinya ingin menelan bumi kini berbalik arah, tersedot masuk ke dalam inti yang telah hancur oleh kekuatan Arkan.

Bastian melompat keluar dari mulut gerbang tepat satu milidetik sebelum celah itu tertutup total dan meledak dalam keheningan dimensi. Ia mendarat kembali di atap sekolah dengan lutut yang sedikit bergetar, namun wajahnya penuh dengan kemenangan.

"Kerja bagus, anak-anakku," ucap Arkan. Aura merah di sekelilingnya meredup, jubah Sanguine-nya menghilang, dan ia kembali mengenakan hoodie sekolahnya yang biasa. Ia kembali memakai kacamatanya yang tebal, menyembunyikan mata sang raja di balik lensa kaca.

"Gerbang tertutup sempurna, Tuan," Julian melaporkan. "Namun, kita punya masalah baru. Seluruh satelit dunia telah menangkap gambar kelima anggota. Meskipun wajah Anda berhasil saya samarkan dengan gangguan visual, dunia kini mengenal nama 'Crimson Eclipse'. Asosiasi Hunter Dunia baru saja mengeluarkan status siaga satu untuk melacak keberadaan kita."

Arkan menatap ke bawah, ke arah lapangan sekolah di mana Liora dan siswa lainnya mulai keluar dari bunker dengan wajah bingung dan takjub. Mereka menatap ke langit yang kini telah bersih kembali, mencari-cari sosok pahlawan yang baru saja menyelamatkan mereka.

"Biarkan mereka mencari hantu," ucap Arkan datar. "Hana, Rehan, Bastian, Elara... kembalilah ke markas. Jangan tinggalkan jejak mana sedikit pun. Julian, hapus semua rekaman CCTV di area sekolah ini dalam radius dua kilometer yang mencatat pergerakan kita di atap."

"Siap, Ayah," jawab mereka serempak sebelum menghilang ke dalam bayangan dan udara tipis.

Arkan menarik napas panjang, merapikan rambutnya yang berantakan karena badai. Ia berjalan menunju tangga, namun langkahnya terhenti saat pintu atap terbuka dengan kasar.

Liora berdiri di sana, terengah-engah. Wajahnya dipenuhi keringat dan matanya merah karena tangis ketakutan. Ia menatap Arkan yang berdiri tenang di tengah atap yang hancur berantakan.

"Arkan...?" bisik Liora. Ia melihat ke sekeliling, melihat bekas retakan di lantai beton atap dan aroma belerang yang masih tersisa. "Apa yang... apa yang kamu lakukan di sini? Di mana orang-orang tadi? Aku melihat kilatan merah dari bawah... aku melihat seseorang berdiri di sini!"

Arkan berjalan mendekati Liora dengan wajah polosnya yang biasa. "Orang-orang? Aku tidak melihat siapa-siapa, Liora. Aku baru saja sampai di sini karena kupikir atap adalah tempat paling aman untuk melihat apakah gerbangnya sudah tutup. Dan syukurlah, sepertinya para Hunter elit berhasil membereskannya."

Liora menatap Arkan dengan tajam. Instingnya sebagai calon Hunter kelas C memberitahunya bahwa pemuda di depannya sedang berbohong. Namun, aura Arkan saat ini begitu lemah, begitu 'biasa saja', hingga ia ragu pada penglihatannya sendiri tadi.

"Jangan bercanda, Arkan! Kamu hampir mati kalau berdiri di sini!" Liora tiba-tiba memeluk Arkan dengan erat, tubuhnya gemetar. "Aku benar-benar takut sesuatu terjadi padamu... jangan pernah lakukan hal bodoh seperti ini lagi."

Arkan tertegun. Tangannya menggantung di udara, ragu untuk membalas pelukan itu. Untuk sesaat, Sang Sovereign yang telah hidup ribuan tahun itu merasakan detak jantung manusia yang begitu tulus. Ia perlahan menepuk punggung Liora.

"Aku baik-baik saja, Liora. Aku tidak akan pergi ke mana pun."

Markas Besar Hunter Association (KHA), Seoul.

Choi Ha-neul menatap layar monitor raksasa yang menampilkan potongan gambar kabur dari atap SMA Gwangyang. Ia memutar ulang detik-detik sebelum ledakan merah terjadi. Meskipun wajah sang pemimpin tertutup oleh gangguan cahaya merah, ia bisa melihat postur tubuhnya.

"Periksa daftar siswa di sekolah itu," perintah Ha-neul pada bawahannya. "Cari siapa pun yang memiliki catatan mana yang aneh, atau siapa pun yang tidak berada di bunker saat serangan terjadi."

"Tapi Ma'am, sekolah itu adalah wilayah sipil. Jika kita melakukan investigasi agresif, media akan menyerang kita," sahut sang asisten.

"Aku tidak peduli," mata Ha-neul berkilat penuh ambisi. "Kelompok 'Crimson Eclipse' ini bukan Hunter resmi. Mereka memiliki kekuatan yang melampaui logika mana. Jika mereka musuh, kita dalam bahaya besar. Jika mereka adalah sekutu... aku ingin tahu siapa 'Tuan' yang mereka sebutkan di siaran radio yang berhasil kita sadap."

Ha-neul mengambil sebuah folder foto dari mejanya. Itu adalah foto koin perak kuno yang ditemukan di berbagai lokasi pembersihan monster sebelumnya. "Sanguine Sovereign... siapa kau sebenarnya?"

Sementara itu, di sebuah kedai ramen kecil di pinggiran Seoul, Arkan duduk sendirian sambil menikmati semangkuk mie hangat. Ia membaca berita di ponselnya yang penuh dengan spekulasi tentang Crimson Eclipse. Dunia sedang gempar, namun ia justru merasa tenang.

Strateginya telah berhasil. Dengan memunculkan bawahannya ke publik, perhatian dunia akan terfokus pada Bastian, Hana, dan yang lainnya. Mereka akan menjadi perisai dan pengalih perhatian yang sempurna, sementara ia bisa terus hidup sebagai murid SMA biasa, mengawasi setiap pergerakan musuhnya dari balik bayangan.

Namun, Arkan tahu bahwa kedamaian ini hanya sementara. Julian baru saja mengirimkan laporan bahwa di dasar Samudra Atlantik, sebuah gerbang yang jauh lebih besar sedang mulai berdenyut.

"Biarkan mereka berpesta sejenak," gumam Arkan sambil menyeruput kuahnya. "Karena saat gerbang berikutnya terbuka, aku tidak akan hanya mengirimkan bawahanku. Aku akan memastikan seluruh peradaban manusia tahu, bahwa darah mereka adalah milikku."

Arkan bangkit, membayar makanannya, dan berjalan pulang ke apartemennya di bawah cahaya bulan yang kini kembali pucat. Langkah kakinya tenang, namun setiap injakannya di aspal seolah mengirimkan getaran ke seluruh kota—sebuah pengingat bahwa sang penguasa tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya sedang menunggu saat yang tepat untuk mengambil kembali takhtanya.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!