Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah paham
Annette membiarkan Leon memeluknya dengan erat. Sebisa mungkin ia menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh sebab sejak tadi ia berjinjit. Leon dengan postur tubuh yang tinggi dan tubuhnya kekar.
"Ah maafkan aku, aku pasti membuat mu jijik ," kata Leon melepas pelukan itu lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Di saat itu, lagi-lagi Annette terpesona dengan ketampanan Leon. Wajah yang memerah, matanya tajam namun penuh kelembutan, rambutnya yang acak-acakan benar-benar tipe Annette sejak dulu.
'Hiduplah dengan nyaman disini, Luna. Sebab suamimu tampan,' jeritnya dalam hati.
"Aku tau aku tampan," kata Leon. Sembari mencolek dagu Annette. Annette tertawa kecil. Leon selalu tau saat ia dikagumi.
"Kalau aku bagaimana ?" tanya Annette.
"Apanya yang bagaimana ?" tanya Leon tidak mengerti.
"Apa aku cantik ?" tanya Annette dengan nada genitnya. Leon membuka mulutnya, tidak menyangka kalau Annette yang terkenal dingin dan galak bisa menanyakan hal ini.
"Oh tidak ya ?" kata Annette dengan suara tinggi. Wajahnya pun sudah mengkerut dan bibirnya maju satu senti.
"Tidak ada duanya," bisik Leon lalu mencium kening Annette. Membuat Annette terdiam seketika.
Leon menahan senyumnya saat melihat semburat merah mulai muncul di wajah Annette. Istrinya itu tidak bicara lagi dan hanya matanya saja yang berkedip-kedip.
"Tapi kau tidak menyukaiku kan ? Kau menyukai Emilie kan ?" kata Annette mencari gara-gara.
"Iya. Tapi dulu. Lagi pula aku tidak menyukainya secara spesifik. Aku hanya sekedar menyukai karena kagum saja," kata Leon membela diri.
"Aku tidak percaya," sewot Annette. Padahal ia yang menyebut nama Emilie untuk memancing Leon. Tapi saat teringat malah ia sendiri yang kesal.
"Bagaimana caraku membuktikannya ?" tanya Leon.
"Tidak tau," balas Annette. Kali ini ia berusaha agar tidak tergoda lagi dengan Leon. Ia ingin tau perasaan Leon sebenarnya.
Leon sangat tampan dan lumayan mapan. Apalagi perlakuan nya juga sangat manis. Sangat mudah mencintai seorang pria seperti itu. Jadi ia harus tau siapa saat ini yang ada dihati Leon.
Leon ingin tertawa melihat tingkah Annette. Ia membelakangi Leon dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kalau begitu cari tau sendiri," kata Leon tepat di telinga Annette. Lalu tanpa aba-aba, Leon memutar tubuh Annette dan menabrakan nya pada dada bidangnya yang keras.
Ia menunduk, mencium bibir Annette dengan pelan. Menyesapnya lalu masuk lebih dalam. Leon memejamkan matanya agar sentuhan itu terasa sampai ke hatinya.
Berbeda dengan Leon yang santai dan memejamkan matanya, Annette justru terkejut dan membuka matanya lebar-lebar. Ia tidak bisa bergerak. Hanya diam dan pasrah saat bibirnya diobrak-abrik oleh Leon.
Jantung keduanya berdebar sangat cepat. Annette hampir jatuh jika Leon tidak memegangi punggungnya.
Setelah beberapa saat, Leon melepaskan ciuman itu. Dapat ia lihat wajah tegang Annette. Sungguh lucu baginya.
"Kau.."
Belum sempat Annette melanjutkan ucapannya, Leon segera menyerangnya lagi. Kali ini ciumannya lebih dalam dan brutal. Tidak hanya itu. Kedua tangan Leon sudah berani menjelajahi tempat-tempat yang sekiranya bisa membakar api asmara.
Ciuman itu terhenti saat Annette dengan sekuat tenaga menginjak kaki Leon.
"Kenapa tidak memberiku waktu bernafas ? Bagaimana kalau aku mati sebelum tau isi hatimu ? Apa kau berencana ingin menikahi Emilie. Begitu ?" omel Annette dengan cepat
Leon mengusap telinganya yang terasa sakit. Suara Annette tidak tanggung-tanggung kerasnya dan itu di dekat telinga nya pula.
"Bukan seperti itu. Tapi... Ah sudahlah, aku malu menjelaskannya padamu. Ayo kita pergi," kata Leon segera menggandeng tangan Annette dan mengajaknya keluar rumah.
Annette hanya tersenyum kecil. Sebenarnya ia yang merasa malu. Sebelah tangannya menutupi wajahnya yang masih menyisakan rasa panas.
'Apa akau terlihat menikmatinya ?' gumamnya dalam hati.
Halaman rumah Leon juga sangat luas. Banyak sekali tanaman tapi sebagian sudah mati dan tidak terawat. Di depan gerbang ada keranjang berisi bungan tulip segar.
"Kau dapat dari mana ?" tanya Annette mengambil setangkai bunga tulip tersebut lalu menciumnya sambil tersenyum.
"Dari seseorang. Dia juga yang membantuku membelikan pakaian dan sepatu untukmu,"jelas Leon.
"Seorang perempuan ?" tanya Annette dengan nada ketus lagi.
Leon menatap Annette kemudian menganggukkan kepalanya. Lalu ia membuka pagar rumahnya tanpa memperhatikan wajah Annette yang cepat sekali berubah.
"Kau mau naik..."
"Jalan kaki saja," kata Annette memotong ucapan Leon dengan cepat. Lalu ia mengembalikan bunga yang ia ambil sebelumnya dan keluar dari pagar tanpa menunggu Leon.
Annette berjalan cepat dengan mengerucutkan bibirnya. Tubuhnya panas dingin merasakan ada yang tidak beres dalam hatinya.
"Apa-apaan dia. Baru saja mencium ku sudah membicarakan perempuan lain," kata Annette fokus berjalan. Tidak diindahkan nya panggilan Leon dari belakang.
"Kenapa berjalan cepat sekali ? Dan sedang apa kau berjalan kearah sini ? Bukankah rumahmu ada di arah sana ?" kata Leon menunjuk arah sebaliknya. Ia memutuskan mengejar Annette sebab Annette tidak berhenti juga.
Mendengar jika ia salah arah, akhirnya Annette menghentikan langkahnya. Ia menatap Leon sekali lagi dengan perasaan malu.
"Rumahmu ada disana, Annette. Apa dua bulan kau sudah melupakannya ?" tanya Leon dengan nafas panjangnya. Pusing memikirkan istrinya dengan mood yang mudah berubah.
"Ayo, tidak apa-apa aku sudah memaafkan mu karena marah tidak jelas padaku," kata Leon menggandeng tangan Annette lagi dan berbalik arah.
Kali ini Annette hanya diam. Pasrah kemana Leon akan membawanya karena memang ia tidak ingat atau lebih tepatnya tidak tau apa-apa tentang rumahnya.
"Leon, kau mau kemana ?" teriak seorang wanita tua dari pagar rumah nya.
"Aku ingin pergi ke rumah Annette," jawab Leon. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan rumah wanita itu. Jadi mau tidak mau Annette pun melakukan hal yang sama juga.
"Kenapa tidak naik kereta saja ? Kasihan istrimu bisa kelelahan. Dasar kau ini," omel wanita tadi.
"Tidak apa-apa, Bibi. Ini memang keinginannya," jawab Leon sambil tersenyum.
"Annette, kenalkan. Ini Bibi Esther. Bibi Esther yang merawatku saat aku masih kecil. Dan ia juga yang tadi membantuku membelikan barang-barang mu," kata Leon mengenalkan wanita itu pada Annette.
Mendengar ucapan Leon, mata Annette membola. Ia merasa malu karena sudah salah paham pada Leon. Bagaimana caranya menjelaskan itu.
"Hai Bibi Esther. Senang bertemu denganmu," sapa Annette.
Bibi Esther tersenyum manis. Sebelah tangannya mengusap pipi Annette.
"Kau sangat cantik. Mirip sekali dengan Isabella. Ku doakan semoga kalian selalu bahagia," kata Bibi Esther.
"Bibi mengenal ibuku ?" tanya Annette terkejut. Pasalnya ia tidak mengenal sosok Bibi Esther ini.
"Tentu saja. Isabella adalah adalah wanita kaya yang murah hati. Ia senang berbagi dengan orang-orang miskin. Mana mungkin aku tidak mengenalnya," kata Bibi Esther tersenyum lagi.
Annette terdiam mendengar itu. Banyak hal tentang ibunya yang tidak diketahuinya. Ibunya memang baik namun misterius bahkan hingga menjelang kematiannya. Ia hanya berpesan agar Annette menjaga baik-baik semua barang peninggalan nya, kelak pasti Annette akan membutuhkan itu.
...
Jangan lupa dikasih love dan komen habis baca🤩🥰
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
❤❤❤💪💪💪
🤣😄😄❤💪💪
😍❤❤❤💪💪💪💪
🤣😄❤❤💪
❤❤😍😍💪