NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Tatapan Kaisar

Langkah Kaki Sang Penguasa

Bau besi yang teroksidasi parah dan kelembapan udara penjara yang menyesakkan terasa semakin menekan fungsi paru-paru. Aurelia—yang kini terperangkap dalam struktur biologis Elara—duduk memeluk lutut di sudut sel yang paling gelap, membiarkan suhu rendah dari lantai batu meresap tanpa hambatan ke dalam kulitnya yang pucat dan malnutrisi. Seluruh badannya terasa remuk dan kaku. Meditasi Void yang ia lakukan sebelumnya telah menguras cadangan glukosa dan energinya hingga ke titik nadir, membuat otot-otot Elara yang memang sudah ringkih terasa seperti baru saja dihantam benda tumpul secara sistematis.

Namun, ia menolak untuk tumbang. Benang-benang takdir balas dendamnya sedang ia tarik satu per satu dengan ketelitian seorang penenun maut.

Tiba-tiba, derap langkah sepatu bot dari kulit berkualitas tinggi bergema di sepanjang lorong batu yang sunyi. Langkah itu memiliki ritme yang sangat spesifik; berat, konstan, dan membawa frekuensi wibawa yang menekan secara psikologis. Para penjaga yang tadinya bersikap arogan dan berisik mendadak mengalami kepanikan massal. Suara mereka bergetar hebat melalui dinding-dinding sel, kehilangan seluruh keberanian yang biasanya mereka pamerkan di hadapan para tawanan yang tidak berdaya.

"K-Kaisar! Hormat hamba, Yang Mulia! Kami tidak mengira Anda akan turun ke tempat rendah ini!"

Aurelia membeku seketika. Jantungnya berdenyut kencang hingga telinganya berdenging menyakitkan, menciptakan kebisingan internal yang menyiksa kognisinya. Ia sangat menghafal frekuensi langkah kaki itu. Langkah yang dulu selalu bergerak dengan kelembutan yang menipu menujunya di paviliun permaisuri Asteria. Valerius. Pria yang dengan bibir yang sama telah memberikan perintah absolut untuk membakarnya hidup-hidup di atas panggung eksekusi.

"Buka sel ini sekarang juga," suara Valerius terdengar datar, tajam, dan memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah oleh hukum apa pun.

"T-tapi Yang Mulia, orang di dalam ini sangat berbahaya. Selir Utama Elena secara khusus memperingatkan bahwa—"

"Aku bilang buka," desis Valerius pendek, nadanya turun satu oktav yang mematikan. Penjaga itu langsung terdiam, tidak berani membantah atau sekadar bernapas dengan keras lagi.

Denting kunci besi yang diputar dan derit pintu sel yang dipaksa terbuka lebar membuat Aurelia refleks menunduk sedalam-dalamnya. Ia membiarkan rambut kotor dan kusut milik Elara menutupi seluruh profil wajahnya. Ia harus terlihat seperti sampah yang hancur dan ketakutan di mata mereka semua. Harga dirinya sebagai penguasa Asteria terasa perih luar biasa karena harus melakukan sandiwara bersujud begini, tapi ia sadar bahwa dalam posisinya yang sekarang, kerendahhatian yang palsu adalah perisai paling kuat.

Valerius melangkah masuk ke dalam ruang sel yang sempit. Aroma cedarwood (kayu aras) dan kasturi yang mewah serta maskulin langsung menabrak indra penciuman Aurelia. Ini adalah kontras yang menjijikkan dan menyakitkan dengan bau busuk limbah penjara di sekitarnya. Dulu, ia sangat mencintai wangi ini di balik selimut sutra, namun sekarang aroma itu terasa seperti racun korosif yang membuat perutnya mual—jejak polusi sihir hitam Elena yang masih melilit jiwa kaisar itu seperti tanaman parasit.

"Jadi, ini adalah individu yang mampu memicu kemarahan Elena secara luar biasa?" Valerius bertanya dengan nada malas. Namun, Aurelia bisa merasakan tatapan pria itu sedang membedah struktur raganya di tengah kegelapan sel dengan ketajaman yang tidak lazim.

"Benar, Yang Mulia. Dia adalah residu Asteria yang dituduh mencoba meracuni makanan Selir Utama dengan sengaja," lapor penjaga itu dengan cepat, mencoba mencari muka.

Aurelia menahan napasnya secara manual. Badannya mulai bergetar pelan, sebuah reaksi alami dari kondisi raga Elara yang lemah terhadap tekanan aura penguasa. Ia mencoba memicu sedikit sisa energi Void untuk mengintip pendar aura pria di depannya tanpa memicu respon sensorik sihir hitam yang mungkin ditanam Elena di sana.

"Angkat kepalamu," perintah Valerius dengan nada dingin.

Aurelia perlahan mengangkat wajahnya yang pucat, menatap lantai sebentar untuk menunjukkan ketundukan, lalu dengan sengaja mencuri pandang ke arah pupil mata Valerius selama fraksi detik sebelum buru-buru menunduk lagi dengan gerakan yang tampak panik. Ia sempat melihat sesuatu di sana—sebuah kilatan keraguan yang samar namun sangat nyata di balik pengaruh sihir hitam.

"Siapa namamu?" tanya Valerius. Suaranya sedikit merendah secara tidak sadar, kehilangan nada angkuhnya sejenak saat melihat wajah di depannya.

"E-Elara, Yang Mulia," bisik Aurelia. Suaranya sengaja ia buat parau, tipis, dan bergetar hebat, meniru frekuensi ketakutan absolut Elara yang asli yang mungkin akan mati jika berada di posisi ini.

Valerius terdiam membisu. Ia maju satu langkah lebih dekat, membuat hawa kehadirannya yang dominan semakin menekan raga Elara yang lemah. Udara di dalam sel seolah tersedot habis oleh kehadiran pria itu.

"Matamu... dan frekuensi aromamu..." Valerius bergumam sangat pelan, hampir seperti sedang berbicara pada hantu dalam ingatannya sendiri. "Mirip sekali dengan seseorang yang seharusnya sudah tiada."

Aurelia merasakan dadanya sesak luar biasa. Valerius, meski terpolusi sihir, ternyata masih mengenali sisa-sisa esensi jiwanya yang tertinggal dalam wadah biologis ini. Ini adalah celah emosional dan kognitif yang ia butuhkan untuk meruntuhkan pertahanan pria itu dari dalam.

"Yang Mulia? Apa yang Anda maksud?" bisik Aurelia, memerankan kebingungan tulus dengan sangat sempurna di bawah remang cahaya obor.

Valerius menatapnya dengan pandangan yang aneh—sebuah persimpangan antara obsesi yang sakit dan ketakutan primordial. "Tidak. Itu mustahil. Kau bukan dia. Dia sudah menjadi abu di langit Asteria karena pengkhianatannya sendiri."

Aurelia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru memberikan satu tatapan berani yang sangat singkat—tatapan seorang permaisuri yang tersembunyi di balik topeng budak—lalu buru-buru menundukkan kepalanya lagi hingga menyentuh lantai. Sebuah gertakan mental kecil untuk memancing rasa penasaran pria itu agar terus memikirkannya bahkan setelah ia meninggalkan sel ini.

"Berani sekali kau menatap Kaisar dengan cara begitu, sampah!" penjaga itu membentak keras, hendak melangkah maju untuk memberikan hukuman fisik.

"Diamlah," potong Valerius tajam pada anak buahnya. Matanya masih tertancap pada Aurelia, seolah sedang mencari pola yang tersembunyi di balik kemiskinan raga tawanan itu.

Valerius mendekat hingga jarak antara mereka sangat tipis, hampir bersentuhan. Aurelia bisa mencium bau cedarwood itu makin kuat di dekat pangkal lehernya, sebuah aroma yang memicu memori-memori lama yang menyakitkan. Ia mencoba merasakan aliran energi di tubuh Valerius lebih dalam lagi. Sihir hitam Elena melilit pria ini seperti akar parasit yang mencekik pohon inangnya hingga ke inti sel.

"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan di balik wajah malang ini?" tanya Valerius penuh selidik, matanya menyipit mencari kebohongan.

Aurelia merasakan kepalanya mulai pening luar biasa akibat resonansi trauma masa lalu yang bertabrakan dengan realitas saat ini. Rasa dingin dari Void merambat cepat di sepanjang tulang punggungnya, mencoba menetralkan radiasi panas ingatan yang mulai membakar kognisinya tanpa kendali.

Sihir hitam itu... Elena telah mengikatmu dengan sampah energi yang sama denganku dulu, Valerius, batin Aurelia dengan dingin, meratapi betapa jatuhnya martabat sang kaisar.

"Saya... saya tidak sembunyikan apa-apa, Yang Mulia. Hamba hanyalah debu yang tidak berarti," jawab Aurelia, mencoba mengatur frekuensi suaranya agar tidak pecah oleh emosi kebencian yang meluap-luap.

Valerius menatapnya lama sekali, seolah ingin menembus masuk ke dalam isi kepalanya. "Elena bilang kau adalah penyihir jahat yang berbahaya bagi kekaisaran."

"Selir Utama mungkin salah menilai, Yang Mulia. Saya hanyalah tawanan yang bahkan tidak punya daya untuk berdiri tegak," Aurelia membalikkan tuduhan itu dengan nada yang sangat menyedihkan, menggunakan kelemahannya sebagai senjata manipulasi yang tajam.

Valerius tertawa kering, sebuah bunyi yang tidak mengandung kegembiraan. "Semua orang yang membusuk di penjara ini selalu mengatakan hal yang sama untuk mencari belas kasihan."

Ia mengulurkan tangan besarnya, mencoba menyentuh pipi Aurelia untuk memastikan tekstur kulitnya. Saat jari dingin yang dulu pernah ia puja itu hampir mengenai kulitnya, memori api di panggung eksekusi mendadak meledak hebat di kepala Aurelia. Proyeksi visual tentang panas yang menghanguskan dagingnya kembali muncul dengan kekuatan penuh.

Manipulasi di Ujung Jari

Sentuhan Valerius terasa seperti besi panas yang baru saja dikeluarkan dari tungku, ditempelkan secara paksa ke wajahnya. Bau cedarwood yang mewah itu mendadak terdistorsi, berganti menjadi bau hangus yang menyengat di indra penciuman Aurelia. Jantungnya berpacu liar, menciptakan dentuman yang seolah ingin merobek rongga dadanya. Badannya mengalami kejang saraf sesaat; ia tidak bisa menahan reaksi otonom dari raga Elara yang menderita trauma fisik hebat akibat penyiksaan sebelumnya.

Aurelia membiarkan tubuhnya lunglai sepenuhnya dan jatuh menghantam lantai batu yang keras dengan suara gedebuk yang nyata, berakting pingsan akibat ketakutan dan tekanan aura yang luar biasa. Ini adalah manuver Third Option untuk memutus kontak fisik tanpa harus melakukan perlawanan yang akan membongkar identitas sihirnya.

"Yang Mulia! Dia pasti cuma pura-pura untuk mencari simpati!" penjaga itu panik, tangannya sudah memegang gagang cambuk, bersiap untuk memberikan hukuman fisik.

Valerius berdiri mematung, menatap raga Elara yang tergeletak diam tak bergerak seperti boneka rusak. Wajah sang kaisar menunjukkan komplikasi ekspresi—rasa jijik yang murni sekaligus kebingungan yang mendalam yang merayap di balik sihir hitamnya. Ia menarik tangannya kembali dengan gerakan cepat, seolah-olah baru saja menyentuh bara api yang menyengat alih-alih kulit seorang gadis lemah.

"Cuma sampah Asteria yang lemah dan tidak berguna," desis Valerius, namun nadanya terdengar sangat tidak stabil, kehilangan otoritasnya yang biasanya absolut. "Elena benar-benar terlalu berlebihan dalam menanggapi keberadaan orang macam ini. Dia tidak layak mendapatkan perhatian kaisar."

"Hamba mohon ampun, apakah hamba harus menyeretnya ke pojok sel agar tidak menghalangi jalan Anda, Yang Mulia?" tanya penjaga itu dengan nada menjilat.

"Tidak usah. Biarkan saja dia di sana dalam kotorannya," perintah Valerius sambil berbalik pergi dengan jubah yang berkibar tertiup angin koridor. "Pastikan saja dia tidak mati sebelum waktunya. Aku ingin melihat berapa lama raga sekecil itu tahan menghadapi ketakutannya sendiri sebelum jiwanya menyerah."

Pintu sel besi itu ditutup dengan bantingan keras dan dikunci dengan dentingan besi yang menggema tajam di sepanjang lorong bawah tanah. Sunyi kembali berkuasa, hanya menyisakan aroma parfum Valerius yang mulai memudar.

Aurelia menunggu dengan kesabaran seorang predator, menghitung setiap detik hingga suara langkah kaki kaisar benar-benar hilang dari jangkauan pendengarannya sebelum ia membuka mata. Seluruh badannya terasa sangat sakit, napasnya tersengal-sengal akibat lonjakan adrenalin yang belum reda. Namun, di balik rasa sakit itu, ia tahu ia telah berhasil. Valerius tidak membunuhnya, dan benih keraguan yang paling beracun kini sudah tertanam kuat di kepala pria itu.

"Dia tahu... jauh di dalam alam bawah sadarnya, dia mengenali esensi jiwaku," bisik Aurelia pada kegelapan sel. "Dia mengenal aromanya, tapi egonya terlalu pengecut untuk percaya pada instingnya sendiri."

Ia mencoba duduk pelan-pelan, menyandarkan punggungnya yang penuh luka ke dinding batu yang dingin untuk meredakan denyut panas di sarafnya. Sisa-sisa analisis auranya tadi memberikan data yang menggembirakan: ikatan sihir hitam Elena pada Valerius mulai menunjukkan retakan mikro. Kehadirannya sebagai "Elara" adalah anomali yang tidak bisa diproses oleh sihir manipulasi Elena.

Elena... kau mungkin mengikatnya dengan obsesi yang gelap, tapi kau lupa bahwa obsesi adalah senjata bermata dua yang bisa berbalik menusuk jantungmu sendiri saat objek obsesinya kembali muncul, batinnya dengan senyum dingin.

Ia menatap tangannya yang masih bergetar hebat. Trauma masa lalu tadi hampir saja membuatnya kehilangan kendali logis dan menjadi gila, tapi justru rasa sakit itu yang membuat tekadnya mengkristal semakin keras. Valerius mungkin adalah korban manipulasi sihir, tapi dialah yang memberikan perintah eksekusi itu. Jiwa pria itu harus dihancurkan secara sistematis sebelum badannya diperbolehkan mati.

Pesan dalam Kegelapan

Beberapa saat kemudian, setelah suasana penjara kembali ke ritme normalnya yang membosankan, Rina datang lagi membawa nampan berisi makanan sisa dari pesta dapur. Wajah pelayan itu terlihat pucat pasi, matanya sembab saat melihat Aurelia duduk bersandar di pojokan setelah kunjungan mendadak sang kaisar.

"Nona... apakah benar Kaisar sendiri yang turun ke sini? Nona tidak apa-apa? Mereka tidak menyiksa Nona lagi, kan?" bisik Rina dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan.

Aurelia menatap Rina dengan sepasang mata yang sekarang sudah kembali tenang, jernih, dan sangat tajam. "Dia cuma mau memastikan bahwa aku hanyalah seorang tawanan yang lemah dan hancur, Rina. Dan aku memberikan pertunjukan yang sangat dia inginkan."

"Tapi... Penjaga di depan tadi bilang bahwa Kaisar keluar dari sel ini dengan wajah yang sangat terganggu. Beliau bahkan membentak ajudan pribadinya."

"Itu bukan karena dia marah padaku, Rina. Itu adalah rasa takut," koreksi Aurelia pendek, suaranya mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. "Dia takut pada apa yang dia lihat di balik mataku yang dia anggap sudah menjadi debu."

Rina tampak tidak memahami maksud metafora tersebut, tapi ia tidak berani bertanya lebih lanjut karena aura Elara saat ini terasa sangat asing dan menekan. "Maksud Nona...?"

Aurelia tersenyum tipis—sebuah senyum yang terlalu berwibawa dan sarat akan rahasia untuk wajah Elara yang pucat. "Lupakan saja percakapan ini. Mana informasi strategis yang aku minta sebelumnya?"

Rina mengangguk cepat dan memberikan secarik kertas kotor yang diselipkan di bawah potongan roti. Kertas itu berisi coretan denah kasar lorong-lorong istana. "Ini, Nona. Saya mencurinya dari meja pengawas dapur. Tapi tolong... hamba mohon, jangan seret hamba lebih jauh ke dalam masalah ini. Saya punya keluarga yang harus dilindungi."

Aurelia mengambil kertas itu dengan gerakan cepat dan menyelipkannya di balik lipatan kain bajunya yang kotor. "Terima kasih, Rina. Kau akan tetap aman selama kau mengikuti setiap perintahku tanpa bertanya. Kesetiaanmu akan dibayar dengan martabat."

Rina pergi dengan tergesa-gesa, seolah-olah ia baru saja melakukan transaksi dengan iblis. Aurelia kembali sendirian dalam kegelapan selnya. Ia membedah denah itu dengan mata yang sangat teliti, menghafal setiap sudut dan celah pertahanan sebelum Elena mengirimkan pembunuh bayaran lain untuk menghabisinya secara diam-diam.

"Valerius... permainan catur ini baru saja dimulai, dan kali ini aku tidak akan menjadi bidak yang kau korbankan," batin Aurelia. Ia menatap api obor di koridor yang bergoyang ditiup angin. Kali ini, ia tidak gemetar. Energi Void-nya terasa makin stabil mengalir di nadinya, siap untuk dilepaskan pada waktu yang tepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!