NovelToon NovelToon
Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: hairil

SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT

SINOPSIS SEASON 2

Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.

Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: SEKUTU YANG TAK TERDUGA

 

Waktu seakan berhenti di dalam ruang kerja Pak Hidayat. Putri dan Rizky saling bertatapan dengan wajah pucat pasi, jantung mereka berdegup kencang seolah ingin meledak. Dokumen-dokumen penting masih tersebar di meja, dan pintu brankas masih terbuka lebar. Mereka tertangkap basah.

Suara Bang Rio terdengar lagi dari balik pintu, kali ini lebih tegas dan sedikit cemas. "Pak Rizky? Bu Putri? Saya tahu kalian ada di dalam. Pintunya terkunci dari dalam. Tolong buka, atau saya terpaksa memanggil orang lain dan melaporkan ini pada Pak Hidayat."

Putri merasa kakinya lemas. Ini adalah akhir. Bang Rio adalah tangan kanan Pak Hidayat yang paling setia. Dia pasti akan melaporkan mereka, dan Pak Hidayat tidak akan segan-segan menghukum mereka—atau bahkan membunuh mereka—karena pengkhianatan ini.

Rizky dengan cepat menyadari situasi. Dia melihat ketakutan di mata Putri, lalu menatap pintu dengan tekad yang kuat. Tidak ada gunanya bersembunyi lagi.

"Tunggu sebentar, Bang Rio. Kami membukanya," teriak Rizky, suaranya berusaha tetap tenang meski terdengar sedikit bergetar.

Dengan gerakan cepat, Rizky menyimpan dokumen-dokumen yang ada di meja ke dalam tas ransel yang dia bawa, tapi dia tidak menutup brankas sepenuhnya—dia tahu itu tidak akan berguna. Dia memberi isyarat mata pada Putri untuk tetap tenang, lalu berjalan mendekati pintu dan membuka kuncinya.

Pintu terbuka. Wajah Bang Rio tampak kaget melihat Rizky, dan matanya langsung membelalak saat melihat ke dalam ruangan—melihat brankas yang terbuka dan tumpukan dokumen yang berantakan. Tangan kanan Pak Hidayat itu langsung meraih gagang pistol yang terselip di pinggangnya, tapi dia tidak langsung mencabutnya. Dia tampak bingung dan syok.

"Pak Rizky... Apa yang kalian lakukan?" tanya Bang Rio, suaranya berat dan penuh ketidakpercayaan. "Ini ruang kerja Pak Hidayat. Dan brankas itu... kalian membukanya? Ini pengkhianatan besar!"

"Bang Rio, tolong dengarkan kami dulu," kata Rizky cepat, mengangkat kedua tangannya tanda tidak bermusuhan. "Kami tidak bermaksud jahat pada keluarga ini. Kami hanya..."

"Tidak bermaksud jahat?" potong Bang Rio tajam, matanya menatap tajam ke arah Putri, lalu kembali ke Rizky. "Membuka brankas pribadi bos tanpa izin adalah pengkhianatan, Pak Rizky! Kalian tahu konsekuensinya. Kalian bisa mati karena ini!"

Putri yang tadinya diam, kini melangkah maju, berdiri di samping Rizky. Dia tahu ini saatnya. Dia mengingat percakapan dia dengan Bang Rio di ruang penyimpanan beberapa hari lalu, saat pria itu mengatakan dia ragu dengan cara Pak Hidayat dan menawarkan bantuan kecil. Mungkin itu bukan sekadar bualan.

"Bang Rio," ucap Putri pelan namun tegas. "Bapak bilang kalau Bapak ingin keadilan. Bapak bilang kalau Bapak tahu rasanya kehilangan orang yang dicintai karena kekejaman dunia ini. Apakah itu semua hanya omong kosong? Atau apakah Bapak benar-benar punya hati nurani?"

Bang Rio tertegun mendengar kata-kata Putri. Tangannya yang masih di gagang pistol melonggar sedikit. "Apa maksud Ibu?"

"Maksud kami, kami tidak mengkhianati keluarga Adinata," sela Rizky, mengambil alih pembicaraan dengan lebih percaya diri. "Kami justru berusaha menyelamatkan nama baik keluarga ini dari kejahatan yang selama ini terjadi. Bang Rio, Bapak orang pintar. Bapak pasti tahu bisnis apa yang sebenarnya dijalankan Ayah. Bapak pasti tahu banyak darah yang tumpah demi uang dan kekuasaan itu."

Bang Rio menunduk, tampak bergumul. "Itu urusan bisnis, Pak Rizky. Itu cara dunia ini bekerja."

"Bukan!" seru Putri tegas. "Itu bukan cara dunia bekerja. Itu kejahatan. Dan kejahatan itu menelan korban yang tidak bersalah. Seperti orang tuaku. Seperti istri dan anak Bapak yang Bapak ceritakan padaku dulu."

Wajah Bang Rio berubah pucat mendengar itu. Dia menatap Putri lekat-lekat. "Ibu... Ibu ingat?"

"Aku ingat semuanya, Bang Rio," jawab Putri lembut. "Dan aku tahu Bapak bukan orang jahat. Bapak hanya terjebak, sama seperti kami. Sekarang, lihat ini."

Putri mengambil satu dokumen dari tas yang baru saja diisi Rizky—sebuah dokumen yang menunjukkan kesepakatan pengiriman senjata ilegal tiga tahun lalu yang menyebabkan kematian banyak warga sipil, termasuk beberapa anak. Dia menyerahkannya pada Bang Rio.

"Baca ini, Bang Rio. Ini bukti nyata kejahatan yang disembunyikan di brankas itu," kata Putri. "Kami tidak mencuri ini untuk dijual atau untuk musuh. Kami mencuri ini untuk menghentikan kekejaman ini. Kami ingin mengubah keluarga ini menjadi lebih baik, menjadi keluarga yang tidak lagi menumpahkan darah orang tak bersalah."

Bang Rio mengambil dokumen itu dengan tangan gemetar. Dia membaca baris demi baris, tanda tangan Pak Hidayat terlihat jelas di sana. Wajahnya semakin pucat, dan tangannya mulai bergetar hebat. Dia tahu betul kejadian yang dimaksud dalam dokumen itu. Dia bahkan ikut mengawasi operasi itu dan melihat sendiri mayat-mayat anak-anak yang menjadi korban sampingan. Selama ini dia mencoba mematikan nuraninya, tapi sekarang bukti itu ada di depan matanya, tertulis hitam di atas putih.

"Jadi... ini yang sebenarnya terjadi..." bisik Bang Rio parau. Dia menurunkan tangannya dari pistol, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding, tampak hancur. "Aku tahu itu salah, tapi aku tidak pernah tahu detailnya seburuk ini. Pak Hidayat... dia benar-benar sudah melampaui batas."

Rizky dan Putri saling bertatapan, merasa ada harapan. Pria ini tidak akan melaporkan mereka.

"Bang Rio," ucap Rizky lembut. "Kami tidak meminta Bapak untuk mengkhianati Pak Hidayat secara langsung. Tapi kami meminta Bapak untuk memihak kebenaran. Kami butuh waktu. Kami butuh kesempatan untuk mengumpulkan semua bukti ini dan menyerahkannya ke pihak yang berwenang, supaya kejahatan ini bisa berhenti selamanya. Dan juga... ada ancaman dari Pak Darmawan yang ingin menggunakan bukti ini untuk menghancurkan Ayah dan menyakiti orang-orang yang tidak bersalah, termasuk adik istriku."

Bang Rio mengangkat kepalanya, matanya kini terlihat jelas: dia sudah mengambil keputusan. Dia melipat dokumen itu dan mengembalikannya pada Putri.

"Kalau begitu, kalian harus cepat," ucap Bang Rio, suaranya rendah namun tegas. "Pak Hidayat membatalkan pertemuannya dan dia sedang dalam perjalanan pulang. Dia mendapat kabar ada gerakan mencurigakan dari orang-orang Pak Darmawan di sekitar rumah, jadi dia memutuskan untuk kembali lebih awal. Dia mungkin akan sampai di sini dalam satu jam lagi."

Putri dan Rizky terkejut. "Apa? Kenapa Bapak tidak bilang dari tadi?!" seru Rizky panik.

"Aku baru tahu dari radio komunikasi tadi saat berjalan ke sini," jawab Bang Rio. "Dengar, aku akan mengalihkan perhatian penjaga di depan. Aku akan bilang kalau aku memeriksa seluruh rumah dan semuanya aman. Tapi kalian harus segera membereskan kekacauan ini. Kembalikan semua dokumen ke tempat semula, tutup brankas, dan keluar dari sini seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi..." Bang Rio menatap mereka lekat-lekat. "Simpan salinan semua bukti itu. Kalau kalian benar-benar berniat menghentikan ini, aku akan membantu sebisa aku. Tapi hati-hati. Kalau kalian gagal, aku tidak bisa menyelamatkan kalian dari kemarahan Pak Hidayat."

Rasa lega luar biasa menyergap Putri dan Rizky. Mereka mendapatkan sekutu yang paling berharga—tangan kanan Pak Hidayat sendiri.

"Terima kasih, Bang Rio. Terima kasih banyak," ucap Putri tulus, matanya berkaca-kaca.

"Tidak perlu berterima kasih. Lakukan yang harus dilakukan," jawab Bang Rio. "Aku akan menjaga pintu ini. Kalian punya waktu 15 menit sebelum penjaga lain berpatroli ke sini lagi."

Bang Rio berbalik dan berdiri di depan pintu, membelakangi mereka, menjadi tameng manusia bagi Putri dan Rizky.

Dengan tergesa-gesa namun tetap hati-hati, Putri dan Rizky bekerja. Rizky mengambil foto-foto semua dokumen di dalam brankas menggunakan ponselnya dengan cepat, sementara Putri mencatat lokasi dan susunan dokumen asli agar bisa dikembalikan dengan sempurna. Mereka tidak bisa membawa dokumen aslinya sekarang—itu akan terlalu mencolok dan langsung ketahuan. Tapi foto-foto itu sudah cukup sebagai bukti awal, dan mereka tahu di mana menemukan aslinya nanti jika diperlukan.

Setelah semua didokumentasikan, mereka mengembalikan dokumen-dokumen itu ke dalam brankas dengan urutan yang sama persis seperti yang mereka temukan. Rizky menutup pintu brankas dan memutar tombol kodenya kembali ke posisi acak. Putri mengembalikan buku harian ke laci meja, mengembalikan kunci ke balik pot bunga, dan merapikan tumpukan kertas agar terlihat tidak tersentuh.

"Sudah selesai," bisik Rizky setelah memeriksa sekeliling ruangan sekali lagi. Tidak ada jejak yang tersisa, kecuali pengetahuan yang kini mereka miliki.

Bang Rio menoleh ke belakang. "Bagus. Keluar sekarang lewat pintu samping menuju dapur. Seolah-olah kalian baru saja membuat minuman. Aku akan memastikan tidak ada yang melihat kalian."

Putri dan Rizky mengangguk cepat. Mereka berjalan keluar ruangan dengan langkah ringan namun waspada. Berkat bantuan Bang Rio, mereka berhasil melewati koridor tanpa terlihat oleh siapa pun dan sampai di dapur dengan selamat.

Sesampainya di dapur, mereka baru berani menarik napas panjang. Adrenalin masih memompa deras di pembuluh darah mereka. Mereka baru saja melakukan hal yang mustahil—membobol brankas bos mafia, mendapatkan bukti kejahatan, dan lolos tanpa cedera, bahkan dengan mendapatkan sekutu baru.

"Kita berhasil, Putri," ucap Rizky, memeluk istrinya erat. "Kita berhasil."

"Iya, kita berhasil," jawab Putri, membalas pelukan itu. "Tapi ini belum berakhir, Rizky. Pak Darmawan masih menunggu dokumen asli itu dalam dua hari lagi. Kita tidak bisa memberikannya padanya, tapi kita juga tidak bisa membiarkan dia menyakiti Rara."

Rizky melepaskan pelukannya dan menatap mata Putri dengan tekad yang bulat. "Kita tidak akan memberikannya padanya. Kita akan menggunakan bukti yang kita punya ini untuk menjebak Pak Darmawan sekaligus. Kita punya foto-foto dokumen itu. Kita punya rekaman penyadapan. Dan sekarang kita punya Bang Rio yang membantu kita. Kita punya semua yang kita butuhkan untuk menghentikan mereka berdua."

"Tapi bagaimana caranya?" tanya Putri. "Kita butuh rencana yang matang. Kita tidak bisa gegabah."

"Kita akan menemui Nina malam ini," kata Rizky. "Dia bisa membantu kita mengatur pertemuan dengan pihak berwenang yang bisa dipercaya—polisi yang tidak terlibat dengan suap atau koneksi mafia. Kita punya bukti, Putri. Ini adalah kesempatan kita untuk mengakhiri semua ini."

Malam itu, setelah memastikan Rara tidur nyenyak di rumah sakit dan Pak Hidayat kembali di rumah namun tidak mencurigai apa-apa, Putri dan Rizky bertemu dengan Nina di sebuah apartemen kecil milik Nina yang sepi dan aman.

Nina mendengarkan dengan takjub saat Putri dan Rizky menceritakan semua kejadian hari itu—mulai dari pengakuan satu sama lain, pembobolan brankas, hingga bantuan tak terduga dari Bang Rio.

"Gila... Ini seperti film aksi," komentar Nina sambil menggelengkan kepala, tapi matanya berbinar semangat. "Tapi kalian benar-benar berani. Dan beruntung sekali Bang Rio mau membantu."

"Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi," kata Rizky, meletakkan ponselnya di meja yang berisi foto-foto dokumen dan rekaman audio. "Nina, bisakah kau menghubungi Detektif Rian yang pernah kau ceritakan dulu? Polisi yang jujur dan sedang menyelidiki jaringan ayahku tapi tidak punya bukti cukup?"

Nina mengangguk cepat. "Bisa. Aku kenal orang yang bisa menghubunginya secara rahasia. Tapi ini berbahaya, Rizky. Kalau ayahmu tahu, kalian mati."

"Kita sudah berada di garis depan bahaya sejak awal, Nina," jawab Putri tegas. "Lebih baik kita berani melawan daripada terus hidup dalam ketakutan dan kebohongan. Demi Rara, demi orang tuaku, dan demi masa depan kita."

Nina menatap kedua sahabatnya itu dengan penuh kekaguman. "Baiklah. Aku akan menghubungi Detektif Rian besok pagi. Aku akan bilang kalau kalian punya bukti kuat yang bisa menjatuhkan Hidayat dan Darmawan sekaligus. Tapi kalian harus siap. Begitu kalian menyerahkan bukti ini, tidak ada jalan kembali."

"Kami siap," jawab Putri dan Rizky serempak.

Malam itu, mereka menyusun rencana akhir. Rencana yang akan menentukan nasib mereka semua. Mereka akan memancing Pak Darmawan dengan janji memberikan dokumen asli, lalu pada saat yang bersamaan, menyerahkan semua bukti kepada polisi untuk menangkap Pak Darmawan dan Pak Hidayat sekaligus.

Ini adalah taruhan tinggi. Satu kesalahan kecil, dan semuanya akan hancur. Tapi Putri merasa tenang. Untuk pertama kalinya, dia tidak berjuang sendirian. Dia memiliki Rizky, dia memiliki Nina, dia memiliki Bang Rio. Dan yang terpenting, dia memiliki kebenaran di pihaknya.

Namun, di tengah perencanaan itu, ponsel Putri bergetar lagi. Pesan dari nomor tidak dikenal—Pak Darmawan.

[Hitung mundur dua hari. Jangan coba-coba bermain licik, Putri. Aku tahu setiap gerak-gerikmu. Ingat, nyawa adikmu ada di tanganku. - D]

Putri mengepalkan tangannya. Dia tidak akan membiarkan pria itu menang lagi. Kali ini, giliran Putri yang akan memburunya.

 

[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri dan Rizky berhasil mendapatkan bukti dari brankas Pak Hidayat berkat bantuan Bang Rio, dan kini berencana bekerja sama dengan polisi untuk menjatuhkan Pak Hidayat dan Pak Darmawan sekaligus. Namun, Pak Darmawan mengirim pesan ancaman lagi dengan hitung mundur dua hari. Jika kamu jadi Putri, bagaimana strategi yang akan kamu buat untuk memancing Pak Darmawan agar tertangkap basah oleh polisi tanpa membahayakan nyawa Rara dan dirimu sendiri?

1
Iril
semoga suka
Iril
halo KK mohon atas dukungannya saya penulis pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!