Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Malam ulang tahun Arcelia sudah berakhir. Tamu-tamu pulang dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Lampu-lampu hias dimatikan satu per satu. Balon masih tergantung, tapi suasana hangatnya sudah hilang.
Arcelia berdiri sendirian di ruang tamu. Karpet yang tadi terasa hangat kini terlihat biasa. Seolah apa yang terjadi tadi hanyalah imajinasi.
Namun ia tahu bukan, Ia masih bisa merasakan sisa getaran itu di telapak kakinya.
Kaelion belum pulang. Ia berdiri dekat jendela besar, memperhatikan halaman yang mulai kosong. Hening di antara mereka bukan canggung.
Tapi berat.
“Apa kau juga merasakannya sekarang?” tanya Arcelia pelan tanpa menoleh.
Kaelion menjawab setelah beberapa detik, “Ya.”
Satu kata.
Tapi cukup.
Arcelia berjalan mendekat. “Bukan cuma getaran. Ada sesuatu yang… seperti memanggil.”
Kaelion akhirnya menatapnya. Tatapannya tidak lembut, tidak kasar.
Serius.
“Segel Inti tidak retak begitu saja. Ia bereaksi.”
“Bereaksi terhadap apa?”
“Terhadap keberadaan jangkar.”
Kata itu lagi.
Arcelia menghela napas panjang. “Kau terus menyebut itu. Jangkar. Seolah aku ini benda.”
“Bukan benda,” jawab Kaelion tenang. “Tapi penyeimbang.”
Angin malam menyusup melalui celah jendela yang sedikit terbuka. Tirai bergerak pelan.
Arcelia memeluk lengannya sendiri. “Kalau aku penyeimbang… berarti ada sesuatu yang tidak seimbang.”
Kaelion mendekat satu langkah. “Sudah lama tidak seimbang.”
Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jas sekolahnya. Sebuah liontin kecil berwarna perak. Di tengahnya terukir simbol yang sama dengan yang Arcelia lihat berulang kali.
Lingkaran.
Retakan di tengah.
Arcelia menatapnya. “Kenapa kau punya itu?”
“Ini milik keluargaku. Diturunkan setiap generasi.”
“Dan sekarang?”
Kaelion menggenggam liontin itu. “Sekarang simbolnya mulai bercahaya.”
Seolah menjawab ucapannya, garis retakan pada liontin itu berpendar samar.
Arcelia menahan napas. Udara di sekitar mereka berubah lagi.
Bukan seperti tadi.
Lebih dalam.
Lebih berat.
Lantai bergetar tipis, tapi bukan seperti gempa... Lebih seperti denyut.
Deg
Deg
Deg
Seirama dengan detak jantung Arcelia.
Ia memegang dadanya, “Kaelion…” Suaranya melemah.
“Ada apa?”
“Aku bisa mendengarnya.”
“Apa?”
“Suara.”
Hening.
Lalu,,,, Retak.
Suara itu tidak berasal dari luar... Tapi dari bawah, seperti batu besar yang pecah perlahan.
Arcelia terhuyung. Kaelion refleks menangkap lengannya. Sentuhan mereka bukan romantis... Tapi penuh urgensi.
“Fokus padaku,” katanya tegas.
Arcelia mencoba menatapnya. Tapi pandangannya kabur..... Di sekelilingnya, ruang tamu rumahnya berubah.
Dinding-dinding tampak seperti bayangan.
Lampu redup, dan lantai di bawahnya… Tidak lagi lantai rumah.
Ia melihat sesuatu yang lain. Batu hitam raksasa. Lingkaran simbol menyala terang.
Retakan di tengahnya melebar. Dan dari dalam retakan itu,
Cahaya.
Bukan cahaya hangat.... Tapi cahaya yang terasa… lapar.
“Arcelia!”
Suara Kaelion terdengar jauh.
Ia menarik napas tajam.
Penglihatan itu hilang.
Ruang tamu kembali normal.
Namun napasnya tidak.
Kaelion masih memegang bahunya. “Jangan biarkan ia masuk terlalu dalam.”
“Masuk?” Arcelia menatapnya dengan mata yang masih bergetar. “Tapi itu bukan mimpi.”
“Aku tahu.”
“Kaelion, aku melihatnya, bukan bayangan, bukan simbol. Aku melihat sesuatu yang terkunci.”
Kaelion terdiam. Lalu perlahan berkata, “Itu inti kota.”
Arcelia menggeleng. “Tidak. Itu lebih tua dari kota.”
Tatapan mereka bertemu. Dan untuk pertama kalinya, Kaelion terlihat… ragu.
“Kalau kau benar,” ucapnya pelan, “maka yang retak bukan hanya segelnya.”
“Lalu apa?”
Kaelion menurunkan tangannya. “Batas antara dunia.”
Hening.
Di luar rumah, angin berhenti total.
Arcelia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Kenapa sekarang?”
Kaelion menjawab tanpa ragu, “Karena kau mulai sadar.”
Ia melangkah sedikit menjauh, memberi ruang.
“Selama kau menolak, segel itu stabil. Tapi kesadaran adalah pemicu.”
Arcelia tertawa getir, “Jadi ini salahku begitu?”
“Bukan salah. Tapi takdir.”
“Aku tidak percaya takdir.”
Kaelion menatapnya lebih dalam. “Maka anggap ini pilihan.”
Arcelia terdiam.
Degup itu masih ada.
Lembut... Tapi nyata.
Seolah ada sesuatu di bawah kota Lumin yang sedang… bangun.
“Kalau ini bangkit,” tanya Arcelia pelan, “apa yang terjadi?”
Kaelion tidak langsung menjawab.
Lampu ruang tamu berkedip satu kali.
Kemudian stabil.
“Perusahaan ayahmu bukan satu-satunya yang akan runtuh.”
Udara terasa lebih dingin.
“Dunia yang kau kenal mungkin hanya lapisan.”
Arcelia memejamkan mata.
Ia tidak ingin takut. Tapi, untuk pertama kalinya ia merasa, Ini bukan sesuatu yang bisa ia hadapi sendirian.
Saat ia membuka mata kembali, tatapannya berbeda.
Lebih tegas.
“Kalau aku jangkar,” katanya pelan, “maka aku harus tahu cara menahannya.”
Kaelion mengangguk tipis, “Besok malam.”
“Apa?”
“Aku akan membawamu ke tempat di mana segel pertama kali dibentuk.”
Arcelia menatapnya.
“Dan kalau aku menolak?”
Kaelion menatap balik tanpa senyum.
“Segelnya tetap retak.”
Hening kembali menyelimuti mereka.
Malam terasa lebih panjang dari biasanya. Dan jauh di bawah kota... Retakan itu melebar sedikit lagi.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....