NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Dosen Killer

Istri Rahasia Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Dosen / Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:28.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Desy Puspita

Niat hati mengejar nilai A, Nadine Halwatunissa nekat mendatangi kediaman dosennya. Sama sekali tidak dia duga jika malam itu akan menjadi awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.

Cita-cita yang telah dia tata dan janjikan pada orang tuanya terancam patah. Alih-alih mendapatkan nilai A, Nadin harus menjadi menjadi istri rahasia dosen killer yang telah merenggut kesuciannya secara paksa, Zain Abraham.

......

"Hamil atau tidak hamil, kamu tetap tanggung jawabku, Nadin." - Zain Abraham

----

Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 01 - Awal Petaka

Niat hati mengejar nilai A, Nadine Halwatunissa nekad mendatangi kediaman dosennya. Sama sekali tidak dia duga jika malam itu akan menjadi awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.

Cita-cita yang telah dia tata dan janjikan pada orang tuanya terancam patah. Alih-alih mendapatkan nilai A, Nadin harus menjadi istri rahasia dosen killer yang telah merenggut kesuciannya secara paksa, Zain Abraham.

"Hamil atau tidak hamil, kamu tetap tanggung jawabku, Nadin." - Zain.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Dasar kejam, apa mungkin hidupnya tidak pernah susah sampai begitu semena-mena?"

Memang benar kata orang, hari sial itu tidak ada di kalender, begitulah yang di alami Nadin. Seorang mahasiswi jurusan Psikologi semester empat yang tengah diuji kesabaran sejak beberapa bulan lalu. Tiga semester Nadin lalui dengan baik-baik saja, tiba di semester ini dia dipertemukan dosen paling tak bersahabat bahkan terkenal Killer di kampusnya, Zain Abraham.

Namanya bagus memang, begitu juga dengan tampangnya. Hanya saja, sifatnya tidak demikian karena hampir seluruh mahasiswa semester empat ke atas telah merasakan bagaimana sepak terjang dosen tak berperasaan tersebut.

Sejak awal Nadin sudah amat berhati-hati agar tidak bermasalah. Sebelum ini dia belum pernah telat, Nadin sampai rela tidak sarapan pagi demi bisa mengikuti kelas Zain tepat waktu.

Sialnya, tepat di hari ujian tengah semester nasib sial justru menghampiri Nadin. Setelah tadi malam dia sampai kelelahan menyelamatkan barang-barangnya yang hampir terendam akibat banjir di kosan, pagi ini dia kembali sial ternyata.

Padahal, Nadin sudah menyiapkan diri jauh-jauh hari untuk ujian tersebut. Namun, takdir berkata lain keesokan harinya. Jangankan diberikan kesempatan untuk ikut ujian, Nadin memohon masuk kelas saja tidak diizinkan hanya karena telat 27 detik.

Kejam, tak punya hati dan tidak berperikemanusiaan adalah tiga kata yang pantas disandang Zain. Dosen dengan ketampanan paripurna, tapi tidak ada baik-baiknya. Tidak peduli sesedih apa Nadin memohon tadi pagi, pintu kelas tetap tertutup dan dia tampak santai melanjutkan ujian walau salah-satu mahasiswinya menangis di luar kelas.

Sudah satu jam berlalu, dan selama itu pula Nadin menunggu demi kembali memohon kala Zain keluar nanti. Persetan dengan harga diri, Nadin sudah menyiapkan kata-kata untuk meluluhkan dosennya.

"Semua akan baik-baik saja, kita coba memohon sekali lagi." Nadin berusaha meyakinkan diri.

Dalam keadaan hati yang berdegub tak karu-karuan pintu kelas terbuka dan Nadin gelagapan dibuatnya. Belum apa-apa dia sudah gugup, telapak tangannya sampai dingin hingga semua kalimat yang dia tata sebelum ini hilang seketika.

Tajamnya tatapan Zain membuat gadis itu sejenak terpana. Pesona pria itu memang tak bisa ditolak, selalu saja berhasil membuat lawan bicaranya diam tanpa kata.

Kelamaan berpikir, Zain segera mengambil langkah untuk melewati Nadin dari sisi kanan. Seketika itu pula Nadin mengikuti langkah Zain dan berusaha merayunya agar luluh kali ini saja.

"Tidak!! Kamu tidak sebodoh itu untuk memahami bahasa manusia, jelas?"

"Ayolah, Pak, kostan saya banjir tadi malam jadi terpaksa tidurnya di kost teman saya dan kebetulan jauh jadi terlambat, tolonglah kasihani saya sekali saja ... Bapak tahu, 'kan kalau mempersulit hidup orang lain itu dos_ aduh kenapa jadi gini?" Nadin menepuk bibir kala sadar jika ucapannya mulai kemana-mana.

Berdasarkan rencana, sebenarnya bukan begitu kalimat yang sudah dia tata. Sebelum melihat Zain dia sampai hapal, tapi anehnya begitu di hadapan pria itu otak Nadin seketika beku dan kecerdasan yang dia miliki seolah tak ada artinya.

Berkat ucapan asalnya, Zain berhasil berhenti dan menatap ke arahnya sekilas. Bukan untuk berbaik hati, pria itu justru melontarkan sebuah perkataan yang sungguh menyebalkan di telinga Nadin.

"Simpan ceritamu, kebetulan saya tidak peduli."

Seketika itu juga Nadin terdiam, hatinya sempat tersayat mendengar ucapan Zain yang dengan tegas mengatakan jika tidak peduli. Sekali lagi, dia tetap memberanikan diri menatap punggung Zain yang mulai menjauh.

Harapannya pupus, entah harus bagaimana dia memohon pada dosen yang satu itu. Baru kali ini Nadin bingung hendak bagaimana menyelesaikan masalah.

Hendak berdiam diri juga percuma, Nadin tidak ingin bunuh diri karena jika usahanya berhenti maka bisa dipastikan nilai akhir yang nanti dia dapatkan adalah E. Mungkin bagi anak-anak lain hal semacam itu bukan masalah, mereka bisa mengulang kembali di tahun depan.

Sayangnya, hal itu tidak berlaku untuk Nadin yang merupakan penerima beasiswa di kampus itu. Salah-satu syarat beasiswa itu bertahan adalah nilai, cacat satu saja maka tamatlah beasiswa Nadin.

Ditengah kebimbangan itu, seseorang menepuk pundaknya dan membisikkan sebuah saran yang bisa Nadin lakukan untuk menyelamatkan beasiswanya.

"Apa tidak terlalu berisiko, Han? Tahu sendiri pak Zain di kampus gimana?"

"Setidaknya dia tidak akan bisa menolak."

"Iya, tapi 'kan?"

"Mending coba dulu atau nilainya E? Mending cobain, 'kan? Udah sana ... nih alamatnya, dan aku rasa kamu bisa pergi sendiri, deket sini soalnya."

.

.

Sempat ragu di awal, pada akhirnya Nadin tetap mengikuti saran Jihan untuk mendatangi Zain ke apartemennya secara langsung saat pulang kuliah. Harap-harap cemas, Nadin hanya ingin semuanya segera selesai.

Cukup lama dia menunggu, sudah hampir empat jam jika Nadin ingat-ingat. Dia berdiri di depan pintu apartemen tanpa harapan, dia juga tak yakin dimana Zain berada. Yang jelas, dia sudah menekan bel berkali-kali, andai nanti pria itu merasa terganggu pasti keluar sendiri.

Jangan ditanya bagaimana perasaan Nadin menunggu selama itu, jelas saja lapar dan juga dingin bersatu padu. Dua roti yang tadi ada di tasnya sama sekali tidak berhasil mengganjal perutnya.

Telanjur berjuang, Nadin tidak ingin pulang tanpa hasil. Dia tetap sabar menunggu hingga tepat jam sembilan, penantian Nadin terbayarkan dengan kepulangan Zain. Senyumnya terbit, tak bisa dipungkiri melihat pria itu mendekat ada secercah kebahagiaan di hati Nadin, padahal belum tentu juga dia akan luluh.

"Selamat malam, Pak Zain."

Semakin dekat, Nadin baru merasa jika dosennya terlihat aneh. Tidak ada Zain yang garang di sana, yang ada justru Zain dengan penuh kelembutan bahkan sampai berani menyentuh pipinya hingga membuat Nadin mundur seketika.

"Kenapa tidak bilang? Kan aku bisa jemput, Sayang," ucap Zain lembut seraya menatap Nadin penuh damba.

Sebuah tatapan mengerikan, matanya terlihat memerah dan aroma alkohol menguar ketika dia berbicara. Detik itu juga Nadin sadar jika Zain sedang dibawah pengaruh alkohol.

Dalam keadaan kalut, Nadin menepis tangan Zain secepatnya. Seketika, dia lupa tentang tujuan awal datang ke tempat ini. Satu-satunya keinginan Nadin sekarang ialah pergi dari hadapan Zain.

"Lepaskan saya, bapak jangan mace_"

"Shuut, jangan berteriak kepalaku sakit."

Sekuat tenaga dia berusaha melepaskan diri, tapi tenaga Zain jauh lebih mendominasi dan berhasil membawa Nadin masuk dengan begitu mudah.

Tubuh Nadin yang begitu mungil dibanding Zain membuatnya seolah tak berdaya dan terhempas di atas sofa. Dosennya sangat amat berbeda dan tak lagi dia kenali, tatapan dan ucapan Zain begitu menakutkan bagi Nadin.

Matanya seketika membola dan semakin sadar jika kini tengah terancam ketika pria itu melempar jas seenaknya. Tidak ingin berakhir konyol, Nadin berusaha meraih tas yang jatuh di atas lantai.

Secepat kilat dia bangkit dari sofa dan mencari celah kala Zain sibuk sendiri membuka kancing kemejanya. Tidak pernah Nadin merasakan dunianya semenakutkan ini, terlebih lagi ketika gelak tawa Zain terdengar diiringi dengan derab langkah yang kian dekat saat dia berusaha menghubungi Jihan, sahabatnya.

"Ayolah angkat, Jih_aaaarrrggghh!!" pekik Nadin kala tangan kekar itu tiba-tiba melingkar di perutnya.

"Mau kemana? Kita bahkan belum memulainya."

.

.

- To Be Continued -

1
Nizar Ayesha
ya Allah, ngekek terus dari tadi 🤣🤣
Marlina Prasasty
A++
Marlina Prasasty
aduh mau menghindar mala tdk bisa🤦
Maya Ratnasari
hepi aku Baca novel ini, semua straight to the point, mengedepankan kejujuran dengan lugas, meski kadang memalukan, hehehee. masalah juga segera diurai satu persatu. keren lah Thor, bisa memberikan insight buat kita pembacanya.
Maya Ratnasari
qiqiqii, pilih Salah satu aja kak: have a nice day, atau have a good day. kalo have a nice good day jadi salfok menikmati kopi good day
Nurul Aisyah
nah loh ditagih kan wkwkwk 🤣
Zaara
aska bikin bengek mulu🤣🤣🤣
Zaara
serius q bacanya ngakak ga jdi sedih 🤣🤣🤣
Nurul Aisyah
cie cie wkwkwk
Bucinnya Baekhyun🐶
bener bener sih zain 🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙡𝙞𝙢 𝙩𝙥 𝙣𝙜𝙪𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙝𝙚𝙬𝙖𝙣 𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖𝙝𝙞𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙜...
mira maryati
kerennnn musibah membawa berkah 🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙚𝙩 𝙩𝙥 𝙨𝙚𝙜𝙖𝙡𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙖𝙡𝙞𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙤𝙫𝙚𝙧 𝙠𝙚𝙥𝙤𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙜𝙖 𝙪𝙨𝙖𝙝 𝙩𝙧𝙨2𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙣𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙜𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙗.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙮𝙪𝙠𝙪𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙡𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙗𝙡𝙤𝙠𝙞𝙧 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙝 𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖𝙞𝙣𝙨𝙝 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙤 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙙𝙨𝙤𝙨𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙖𝙢𝙖2 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝, 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙝 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙣2 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙢𝙖𝙚𝙣 𝙟𝙖𝙢𝙗𝙖𝙠 𝙩𝙧𝙨 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞𝙗𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙟𝙜𝙣 𝙖𝙥𝙖2 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙡𝙚 𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨/𝙣𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙞𝙟𝙖𝙠 𝙣𝙮𝙞𝙠𝙖𝙥𝙞 𝙥𝙙 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙤𝙬𝙝 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙬𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙝 𝙣𝙖𝙙.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙚𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙞 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙙𝙜𝙣 𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙖𝙬𝙖 𝙙𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙡𝙚𝙡𝙪𝙘𝙤𝙣 𝙖𝙥𝙖, 𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙖𝙪𝙩𝙤 𝙣𝙜𝙖𝙢𝙪𝙠 𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙥𝙖𝙠 𝙖𝙥𝙖... 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙪𝙩𝙢𝙪 𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙧𝙩𝙖 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙙𝙪𝙠𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙙𝙤𝙨𝙚𝙣 𝙜𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙖𝙠𝙝𝙡𝙖𝙠𝙢𝙪.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙗𝙞𝙖𝙧𝙥𝙪𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙩𝙥 𝙪𝙩𝙠 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙜𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙭 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙫𝙖𝙨𝙞.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠 𝙗𝙤𝙘𝙖𝙝 𝙮𝙜 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙞𝙞𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙬𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙘𝙤𝙠𝙡𝙖𝙩 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙜𝙚𝙠𝙣𝙮𝙖.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙪𝙝𝙝𝙝 𝙨𝙚𝙧𝙚𝙢 𝙖𝙢𝙚𝙩 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖.😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!