Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERSIMPUH DIKAKI MAAF.
Gedung rumah sakit itu menjadi saksi bisu kecemasan seorang suami yang baru saja menemukan kembali dunianya. Ariya tidak membuang waktu. Meski tubuhnya sendiri masih butuh pemulihan pasca operasi, ia bersikeras mendampingi Arumi menjalani serangkaian pemeriksaan menyeluruh. Ia memanggil Dokter spesialis saraf terbaik, rekan sejawatnya yang paling ia percayai.
"Bagaimana hasilnya? Apa ada kerusakan permanen pada otaknya?" tanya Ariya dengan nada bicara yang tidak bisa menyembunyikan getaran ketakutan.
Dokter spesialis itu mengamati hasil pemindaian kepala Arumi dengan seksama sebelum melepaskan kacamatanya. "Ada bekas benturan yang cukup keras di lobus temporal, kemungkinan terjadi saat dia terhantam material banjir. Namun, secara fisik, pemulihannya berjalan baik."
Ia terdiam sejenak, menatap Ariya dengan pandangan yang dalam. "Dalam kasus seperti ini, amnesia tidak selalu murni karena cedera fisik. Terkadang, otak secara tidak sadar memilih untuk melupakan memori tertentu sebagai bentuk mekanisme perlindungan diri. Sederhananya, pasien mungkin ingin melupakan sesuatu yang dirasanya terlalu menyakitkan untuk diingat."
Kalimat itu menghantam ulu hati Ariya lebih keras daripada benturan fisik mana pun. Ia tertegun, bahunya merosot seketika. Ingatannya melayang pada lima tahun penuh kebencian yang ia tujukan pada Arumi. Ia teringat tatapan terluka Arumi saat ia memaki, serta rasa panas di pipi istrinya saat ia melayangkan tamparan terakhir kali.
"Dia ingin melupakanku karena aku adalah lukanya," batin Ariya dengan rasa sesak yang menghimpit dada.
Setelah prosedur medis selesai, Ariya memutuskan untuk membawa Arumi pulang ke kediaman keluarga Ferdiansyah. Kakek dan Nenek pun turut serta, menempati paviliun yang nyaman yang sudah disiapkan khusus oleh Heny. Sambutan hangat kembali diberikan oleh kedua orang tua Ariya, namun suasana tetap terasa canggung bagi Arumi yang kehilangan pijakan memorinya.
"Bawalah Arumi ke kamar untuk istirahat, Arya. Dia butuh suasana tenang agar fisiknya pulih benar," ujar Ferdiansyah lembut setelah jamuan makan siang berakhir.
Ariya mengangguk dan menuntun Arumi menuju lantai atas. Sesampainya di depan pintu kamar mereka, Arumi mendadak menghentikan langkahnya. Matanya menatap daun pintu itu dengan perasaan aneh yang bergejolak di dadanya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul tanpa ia tahu apa penyebabnya.
"Ada apa? Kamu takut?" tanya Ariya pelan.
Arumi menggeleng ragu. "Tidak tahu. Perasaanku hanya terasa... sedikit tidak enak saat melihat kamar ini. Seperti ada sesuatu yang berat di sana."
Ariya menghela napas panjang, ia menelan ludah dengan susah payah. Ia kemudian membimbing Arumi masuk dan mengajaknya duduk di tepi ranjang besar mereka. Bukannya duduk di samping sang istri, Ariya justru merosot ke lantai dan bersimpuh tepat di hadapan Arumi. Ia meraih kedua tangan Arumi, menggenggamnya dengan jari-jari yang gemetar.
"Eh, apa yang kamu lakukan? Ayo duduk di atas sini, jangan di lantai," seru Arumi kaget sambil berusaha menarik tangannya.
Ariya menggelengkan kepala dengan kuat. Matanya mulai berkaca-kaca menatap wajah polos istrinya. "Biarkan aku begini, Rumi. Aku merasa tidak pantas duduk sejajar denganmu saat ini."
"Sebenarnya ada apa? Apa kita dulu tidak akrab?" tanya Arumi dengan nada penasaran yang kental.
Ariya menundukkan kepalanya dalam-dalam, setetes air mata jatuh mengenai punggung tangan Arumi. "Kita sangat akrab, bahkan sejak kita masih kecil. Kita adalah sahabat terbaik yang pernah ada di dunia ini. Tapi semua berubah sejak ayahmu menikah lagi dengan ibu Lusi."
Suara Ariya terdengar parau saat ia mulai bercerita. "Aku pria yang paling bodoh di dunia ini, Rumi. Aku lebih percaya pada fitnah orang yang baru kukenal daripada dirimu yang sudah ada bersamaku sepanjang hidupku. Aku memelihara kebencian selama lima tahun dan menjadikannya tameng untuk menyakitimu setiap hari."
Ariya terisak, tubuhnya bergetar hebat karena rasa bersalah yang selama ini ia tahan. "Mungkin karena itulah kamu melupakan semuanya. Kamu masuk ke kamar ini dan merasa aneh, karena di sinilah aku sering mengucapkan kata-kata kasar padamu. Otakmu melupakan aku agar hatimu tidak perlu lagi merasa sakit."
Arumi tertegun. Ia menatap pria yang kini menangis tersedu-sedu di kakinya itu. Meskipun ia tidak ingat apa pun, melihat kesedihan yang begitu hebat terpancar dari diri Ariya, hatinya perlahan melunak. Sisi lembut seorang Arumi ternyata tetap ada meski ingatannya telah sirna.
"Rumi, maafkan aku. Aku mohon, maafkan atas kebodohanku ini. Maukah kamu memberiku kesempatan untuk menebus semuanya? Maukah kamu memaafkan aku?" tanya Ariya berkali-kali di sela tangisnya.
Arumi terdiam cukup lama, memandangi langit-langit kamar sebelum kembali menatap Ariya. Ia kemudian menarik napas panjang dan mengusap air mata di pipi suaminya itu dengan ibu jarinya.
"Aku memang tidak ingat apa yang kamu lakukan, tapi melihatmu seperti ini, aku tahu penyesalanmu tulus," jawab Arumi lembut. "Tentu saja aku memaafkanmu."
Ariya mendongak tak percaya, matanya yang merah menatap Arumi dengan binar terkejut. "Bagaimana bisa semudah itu? Bagaimana kalau nanti ingatanmu kembali dan kamu menyadari betapa jahatnya aku dulu? Kamu pasti akan membenciku lagi."
Arumi tersenyum kecil, sebuah senyuman yang begitu menyejukkan hati Ariya. "Siapa aku hingga tidak bisa memaafkan? Sedangkan Allah saja Maha Pemaaf bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh bertaubat. Jika aku mengingat semuanya nanti, biarlah itu menjadi masa lalu. Yang penting adalah apa yang kita bangun mulai sekarang."
Mendengar itu, Ariya langsung memeluk Arumi dengan sangat erat. Ia menangis di bahu istrinya, bukan lagi tangis keputusasaan, melainkan tangis syukur yang amat sangat. Ia berjanji di dalam hatinya bahwa ia akan melindungi Arumi dari segala hal, termasuk dari kenangan buruk yang mungkin suatu saat akan menghantui wanita itu kembali.
"Terima kasih, Rumi. Terima kasih sudah memberiku kesempatan kedua," bisik Ariya.
Arumi mengusap rambut Ariya, meski ia masih merasa asing dengan sentuhan itu, ada sebuah getaran hangat yang mulai tumbuh di hatinya. Keheningan kamar itu kini tidak lagi terasa mencekam. Namun, di balik kedamaian sesaat itu, Ariya tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang. Bagaimana jika Lusi kembali datang dan mencoba menghancurkan ketenangan ini saat Arumi sedang dalam kondisi rapuh tanpa ingatan?
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra