NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Gulungan Teknik.

Senja di Kota Shen menimbulkan bayangan panjang di antara dojo dan bambu hijau yang bergoyang pelan diterpa angin.

Tiba-tiba, BBOOOOM! suara ledakan mengguncang dojo, getarannya merambat hingga lantai kayu berderit.

Ayah Xiaouman menoleh dengan mata melebar, tangannya mengepal di udara:

“A… ada apa ini?!”

Chika menyipitkan mata, aroma panas dan asap masuk ke hidungnya.

“Baiklah… ayo kita lihat di luar! Perasaan ku… tidak enak.”

Princes kecil, masih berpegangan di lengan Chika, menatap ke halaman dojo.

“Chika… pakaian mereka…”

MK.99, yang berdiri tegap di samping mereka, memutar kepalanya dengan suara mekanik:

“Sistem mendeteksi… target: klan naga. Bahaya tingkat ekstrem.”

Chika menoleh ke ayah Xiaouman dengan panik tapi tenang.

“Paman panda! Di mana kau meletakkan pedang dan perisai ku?”

Ayah Xiaouman menunjuk ke arah ruang penyimpanan belakang.

“Di belakang. Cepat ambil!”

Chika mengangguk, mengangkat perisai Lumina ke pundaknya dan memegang pedang yang berkilat biru muda.

Percikan listrik kecil menari-nari di ujung pedang, seakan sadar bahwa tuannya akan beraksi.

“Baiklah, aku dan Princes akan mengurus bagian belakang… MK.99, kau tetap jaga paman naga di sini.”

MK.99 mengangguk datar, tangannya terbuka dan sebuah pedang futuristik biru muda muncul dengan suara mekanik: VWWWOOSH!

“Laksanakan perintah… unit aktif.”

Princes melompat ke pundak Chika dengan antusias.

“Aku ikut, Chika! Aku akan menolong mereka!”

Chika tersenyum sambil menegakkan pedangnya.

“Baiklah… aku percaya padamu… Princes!”

Ayah Xiaouman mengangkat bambu panjangnya, menatap musuh yang mulai menyerbu dojo.

“Mereka menyerang klan panda… tidak akan aku maafkan!”

RRTTSSHH! MK.99 melesat ke depan seperti kilat, bayangan birunya menembus barisan musuh.

Setiap serangan pedang futuristik presisi memotong tubuh mayat hidup klan naga, tanpa menimbulkan darah, hanya debu abu-abu beterbangan.

“Aku… hebat…” suara mekanik MK.99 datar, tapi efek visual dari cahaya pedangnya menakutkan.

Ayah Xiaouman menebas dengan bambu panjangnya.

SWOOSH! Lima anggota klan naga terlempar ke udara, bambu menghancurkan tubuh mereka menjadi serpihan.

Seorang murid berkaki kucing berteriak:

“Sensei! Mereka datang tanpa henti!”

Murid lain dengan telinga panjang menambahkan, suaranya panik:

“Mereka… bukan manusia lagi… itu mayat hidup!!”

Ayah Xiaouman menatap jauh, menajamkan matanya.

“Baiklah… kalian memang berniat membangkitkan Orochi.”

“Semua pertahanan klan ini! Jangan biarkan kepemimpinan Kota Shen jatuh ke tangan mereka!!”

Di halaman belakang, Chika memutar pergelangan tangannya, menyalakan percikan listrik di pedang Lumina: ZZZZAP!

“Eh… aku kira nggak ada pertarungan di sini… tapi ya udah…”

Princes menatap musuh di depannya, tangannya menggenggam tongkat baseball.

“Chika… aku akan menolong mereka sebisa ku!”

Ia melompat ke pundak Chika, mengayunkan tongkat dengan gaya spin swing, tepat mengenai kepala mayat hidup pertama. THWACK!

Chika menatap perkembangan Princes dengan bangga.

“Baiklah… aku percaya padamu, Princes!”

Mayat hidup mulai menyerang bersamaan.

Chika mengayunkan pedang Lumina ke kanan dan kiri, percikan biru menerangi wajahnya, sambil menahan serangan suriken yang melesat dengan cepat.

Ia melakukan gerakan akrobatik, meloncat ke belakang dengan salto sambil menangkis suriken dengan perisai. CLANG! CLANG!

Princes, meski masih kecil, memanjat mayat hidup dan menghantam kepala mereka dengan tongkat baseball. BANG! Ekspresinya lucu tapi fokus.

Saat sebuah serangan suriken menghantam dekat kakinya, ia melompat ke pundak Chika, memutar tubuhnya di udara, lalu mendarat dengan sempurna di tanah.

“Hebat… kalian berdua!” Chika berteriak sambil menebas dua mayat hidup sekaligus dengan gerakan pedang membentuk lingkaran biru yang mengalir. ZZZZZZAP!

Suara pertarungan memenuhi halaman dojo: dentuman bambu, percikan listrik, benturan suriken, teriakan mayat hidup.

Di langit senja, cahaya oranye menembus asap debu, membentuk siluet Chika dan Princes yang beraksi kompak, meski Princes masih menggunakan metode uniknya: memanjat, melompat, dan pukul chaotic yang malah lucu tapi efektif.

Momen itu terasa epik: Chika dengan ekspresi tegas tapi penuh energi, Princes dengan semangat nakal tapi taktis, dan tanah di bawah mereka bergetar dari tiap benturan.

Di atas, bamboo dan atap dojo bergoyang diterpa angin, menambah dramatis.

Chika berteriak ke Princes:

“Jangan sampai satu pun lolos, Princess!”

Princes mengangguk, melompat memutar di udara, tongkat baseballnya memancarkan kilatan cahaya, menandakan pukulan yang menghancurkan kepala mayat hidup dengan presisi.

Di sisi lain, suara ledakan kecil terdengar: mayat hidup baru muncul dari balik reruntuhan.

Chika mengangkat perisai, bersiap melakukan serangan Lightning Strike Slash—pedang Lumina membentuk pola listrik biru melingkar sebelum menebas ke arah sekelompok musuh. ZZZZAP! SWISH! THUD!

Princes, dengan gaya acro-spin swing, menahan dua mayat hidup sekaligus, lalu mendarat di pundak Chika, tersenyum lebar tapi napas terengah.

“Chika… lihat! Aku bisa!”

Chika tersenyum sambil mengatur posisi.

“Ya… hebat, Princes! Kita tim yang tak terhentikan!”

Di langit senja Kota Shen, debu dan percikan cahaya biru memenuhi halaman dojo.

Pertarungan epik ini baru saja dimulai, namun koordinasi mereka berdua—pengalaman Chika dan kreativitas Princes—membuat mayat hidup klan naga kewalahan, sementara getaran senja dan aroma bambu yang patah menambah ketegangan dramatis.

 

Senja di halaman Dojo Kota Shen berubah menjadi pekat dengan aroma asap dan debu yang beterbangan. Mayat hidup klan naga yang tersisa perlahan terkikis, tapi dari arah yang lain, mereka terus bermunculan—tak kenal lelah.

Chika, dengan pedang Lumina yang berkilat biru muda, reflek menangkis satu mayat hidup yang hampir mencakar tangan Princes. Dengan gerakan lincah, ia menahan tubuh musuh itu dengan perisai, lalu membantingnya ke tanah dengan CRASH! debu beterbangan.

“Wah!” Chika menghela napas sebentar, matanya berkilat.

“Latihan di dojo kemarin… benar-benar berguna untuk kita!”

Princes, yang berpegangan di pundak Chika, terengah-engah sambil menatap mayat hidup terakhir yang tersisa.

“Chika! Kenapa nggak habis-habis! Aku udah capek banget!”

Tiba-tiba, dari langit senja, terdengar suara angin yang mendesing cepat, seperti badai mendekat. Xiaouman mendarat dengan kedua tangannya menempel keras ke tanah: THOOM! Bambu runcing dari tanah meledak ke udara, menusuk seluruh mayat hidup di sekitarnya.

Matanya lembab, namun tegas, ia menatap Chika dan Princes.

“Chika… Princes… kalian… nggak apa-apa kan? Huaahh…”

Chika mengangguk, tersenyum penuh keyakinan.

“Kami baik-baik saja. Latihan kita nggak sia-sia!”

Xiaouman menunduk sebentar, menahan napas, suaranya serak.

“Maaf… aku terlambat. Mereka… mereka juga menyerang warga di luar dojo…”

Chika mengernyit, wajahnya berubah marah.

“Eh! Keterlaluan banget klan naga ini!”

Sekonyong-konyong, BBOOOOM! dentuman keras bergema dari halaman utama dojo. Cahaya ungu dan merah meledak ke udara, mengaburkan langit senja yang mulai gelap.

Xiaouman menatap, wajahnya berubah pucat.

“Ayah…”

Tanpa menunggu, ia melesat ke arah halaman utama, diikuti Chika dan Princes. Angin memukul rambut mereka, debu beterbangan.

Di depan mereka, pemandangan mengerikan terbentang. MK.99 berdiri tegap di tengah huru-hara, mesil laser di punggungnya menyala biru. Puluhan pasukan dengan rambut putih panjang seperti tanduk, tubuh kekar, dan aura gelap menyerang bersamaan.

“AAHH!” Chika menelan ludah, matanya melebar saat melihat ayah Xiaouman, tangan sebelahnya hilang, tubuhnya berdarah tapi masih tegar.

“A… Ayah…” Xiaouman berteriak, wajahnya memerah setengah marah setengah takut.

Chika menatap Princes.

“Princes… Xiaouman! Bawa Paman Panda ke tempat aman!”

Xiaouman, masih gemetar karena takut pada kondisi ayahnya, berlari menahan tubuh panda besar, diikuti Princes yang memegang bambu untuk membantu. Mereka masuk ke dojo, menutup pintu kayu dengan keras.

Sementara itu, Chika mengangkat pedang Lumina dan menatap MK.99.

“Baik… kita lakukan ini bersama…”

MK.99 menyalakan mesil laser, cahaya biru memancar.

“Unit 99 siap… eksekusi maksimal.”

Pertarungan epik pun dimulai. Musuh yang mereka hadapi kini mengeluarkan aura gelap berwarna ungu, setiap langkahnya menimbulkan getaran. Chika mengayunkan pedang Lumina dengan gerakan spiral, Lightning Spiral Slash! percikan biru menerjang ke arah musuh yang menyerang dari samping, tapi lawan itu melompat, menghindar dengan gesit.

Chika melakukan akrobatik salto ke belakang, membalik tubuhnya sambil menangkis serangan lain yang melesat, CLANG! CLANG! suara benturan logam terdengar menggelegar.

MK.99 menyerang dari sisi lain, laser biru menyapu barisan pasukan, menebas mereka satu demi satu dengan presisi mematikan.

“Tetap di tempat… target harus terkontrol…” suara mekanik MK.99 terdengar dingin namun fokus.

Namun, musuh mereka—tubuh kekar dengan tanduk putih panjang—memperkenalkan diri dengan suara berat yang mengguncang tanah:

“Aku Orochi… meski belum sepenuhnya bangkit, kalian akan merasakan kekuatanku!”

Orochi mengangkat tangan, gelombang energi merah ungu memancar ke sekeliling, memaksa Chika dan MK.99 terlempar ke belakang. WHOOM! Debu dan pecahan tanah beterbangan, suara benturan menggelegar di udara.

Chika berguling di tanah, pedang Lumina menancap di tanah untuk menahan jatuhnya tubuhnya, wajahnya memerah karena tekanan, napasnya terengah-engah.

“MK… kita… ini… kuat banget…”

MK.99 mencoba melesat maju lagi, namun serangan Orochi membuatnya terhuyung, laser biru terpantul ke udara.

“Unit 99… target… terlalu kuat…”

Orochi melesat dengan kecepatan tinggi, menendang tanah dan menimbulkan guncangan besar, Chika harus menghindar sambil melompat dari sisi ke sisi dojo, percikan debu dan serpihan kayu beterbangan di udara.

Setiap serangan Chika—Lightning Slash, Volt Spin, Arc Strike—meleset atau dihindari oleh Orochi, yang tampak bermain-main sambil menatap mereka dengan mata menyala.

Chika menatap MK.99, napasnya masih berat.

“Kita… kalah…”

MK.99 menoleh, suara mekaniknya terdengar dingin tapi datar:

“Analisis… kekuatan lawan… superior. Strategi saat ini gagal…”

Debu dan cahaya ungu-merah menyelimuti halaman dojo, aura ancaman Orochi semakin memuncak. Chika menegakkan tubuhnya, wajahnya penuh tekad meski terluka, matanya hijau muda berkilat:

“Ini belum selesai… tapi… kita harus mundur untuk saat ini…”

Di atas halaman, suara langkah Orochi bergaung keras, menimbulkan getaran yang membuat tanah retak dan bambu patah di mana-mana. Chika dan MK.99 saling menatap, sadar bahwa pertarungan ini akan menjadi ujian terbesar mereka.

 

Di dalam dojo yang remuk, Xiaouman dan Princes menahan napas.

Dari celah pintu kayu yang retak, mereka melihat Chika dan MK.99 terpental oleh gelombang aura ungu-merah Orochi. Tanah di halaman utama terbelah seperti kulit yang disayat pisau raksasa.

DUUUMM… KRAAASSH…

Chika terguling, perisainya terlempar beberapa meter. MK.99 menancap di tanah dengan satu lutut, mesinnya berderit keras.

Princes mencengkeram lengan Xiaouman.

“X-Xiaouman… Chika…!”

Mata Xiaouman yang pink terang bergetar hebat. Napasnya memburu.

Tubuhnya gemetar—bukan karena takut… tapi karena amarah yang tertahan terlalu lama.

“Aku…”

Tangannya mengepal sampai kuku menancap ke telapak.

“…aku nggak bisa diem aja…”

Ayahnya, dengan satu tangan tersisa, segera menarik bahunya.

“JANGAN!” suaranya pecah.

“Kau sudah lihat kekuatannya! Kau mau mati juga?!”

Xiaouman menoleh tajam.

Air mata mengambang di matanya, bercampur cahaya giok yang mulai muncul.

“Selalu begitu…”

Suaranya bergetar.

“Selalu nahan aku… selalu anggap aku lemah…”

“Ayah cuma nggak mau kehilanganmu!” teriak ayahnya.

Xiaouman menggertakkan gigi.

“Justru karena itu aku nggak pernah berkembang!”

Ia melepaskan diri dengan kasar.

“Aku bukan bayi lagi!”

“Aku bukan boneka dojo!”

“Aku HERO KELIMA!!!”

Tanah di bawah kakinya mulai retak.

Aura hitam dan hijau giok berputar dari tubuhnya seperti dua naga yang saling melilit.

FSSSSHHH… KRRRZZZZT…

Princes terbelalak.

“X-Xiaouman… matamu…”

Mata Xiaouman bersinar pink menyala, pupilnya mengecil seperti retakan kaca.

“Yin…”

Energi hitam menyebar di sisi kanan tubuhnya.

“Yang…”

Hijau giok bercahaya di sisi kiri.

“KEKUATAN TERLARANG KLAN PANDA —

GIANT JADE DUALITY MODE ”

BOOOOOOM!!!

Ledakan aura menghantam dojo, membuat pintu kayu terlempar keluar.

Xiaouman melesat ke halaman utama seperti peluru.

 

DUEL: XIAOUMAN VS OROCHI

Chika yang berdiri tertatih menoleh.

“Xiaouman?! Jangan!!”

MK.99 langsung memutar tubuh.

“Peringatan… entitas baru memasuki medan tempur.”

Orochi tersenyum miring.

“Oh? Anak panda… dengan segel takdir…”

Xiaouman mendarat di tanah, bambu tumbuh di sekelilingnya seperti tombak altar.

“Aku akan menghentikanmu…”

“…meski sendirian.”

Orochi mengangkat tangan.

“Cobalah.”

 

SERANGAN PERTAMA

Xiaouman menghentakkan kaki.

“JADE ROOT CATASTROPHE!”

Bambu raksasa meledak dari tanah seperti tombak hijau berkilau, menusuk ke arah Orochi dari segala arah.

BLAKK! BLAKK! BLAKK!

Orochi menangkis dengan satu tangan.

KRRAAAANG!

Energi ungu menghancurkan bambu jadi serpihan.

Namun Xiaouman sudah melompat ke udara.

Tubuhnya berputar seperti roda.

“YIN WIND BREAKER!”

Ia menendang udara, menciptakan sabit angin hitam yang menghantam wajah Orochi.

WHOOOOOSH!!!

Orochi terdorong setengah langkah.

“Menarik…”

Ia membalas dengan pukulan.

Xiaouman memutar tubuh di udara, menghindar dengan jungkir balik, lalu mendarat di bambu.

“YANG JADE PUNCH!”

Tinju hijaunya menghantam dada Orochi.

DOOOM!!

Tanah di belakang Orochi retak sepanjang lima meter.

Chika terbelalak.

“Dia… kuat banget…”

 

SALING BERADU

Orochi menggeram.

“Kekuatan mentah… tanpa kendali.”

Ia menghantam tanah.

“BLOOD SERPENT WAVES.”

Gelombang energi merah-ungu menjalar seperti ular raksasa.

Xiaouman melompat dari bambu ke bambu, tubuhnya ringan seperti daun.

THAP! THAP! THAP!

Ia memutar di udara.

“JADE CYCLONE CRUSH!”

Putaran tubuhnya menciptakan pusaran hijau-hitam yang menabrak Orochi.

BOOOOM!!

Debu menyelimuti halaman.

Namun dari balik asap—

Orochi muncul tepat di depan Xiaouman.

Terlalu dekat.

“Kesalahan.”

BAM!!!

Satu tinju menghantam perut Xiaouman.

Tubuhnya terbang menabrak tembok dojo.

KRAAASH!!!

 

KEKALAHAN

Xiaouman jatuh berlutut.

Darah menetes dari sudut mulutnya.

Aura yin-yangnya mulai bergetar tak stabil.

“N…nggak…”

“Aku… belum…”

Ia mencoba bangkit.

Orochi mengangkat tangan.

“UNFINISHED ASCENSION STRIKE.”

Satu gelombang energi menghantam Xiaouman.

DOOOOOOM!!!

Tubuhnya terpental jauh, menghancurkan bambu dan batu.

Mode gioknya padam perlahan.

Mata pinknya redup.

Chika berteriak:

“XIAOUMAN!!!”

Princes menjerit sambil menangis:

“JANGAN LUKAI DIAAA!!!”

Ayahnya berlutut, wajahnya hancur oleh rasa bersalah.

“…maaf… Ayah salah…”

Orochi berdiri di tengah reruntuhan.

Langit berwarna merah dan ungu.

Angin membawa debu dan daun bambu seperti hujan abu.

 Xiaouman mencoba menggerakkan kakinya.

Namun…

lututnya gemetar,

telapak kakinya terasa seperti tertanam ke tanah.

Tubuhnya condong ke depan—lalu jatuh berlutut.

“Hah… hah…”

Napasnya berat, matanya yang pink berkabut air.

Mode gioknya sudah padam, hanya menyisakan kilau redup di urat-urat lengannya.

Chika langsung berdiri di depannya, membuka posisi bertahan.

Perisai Lumina terangkat, pedang bergetar mengeluarkan listrik biru pucat.

MK.99 melangkah ke sisi kanan Xiaouman, bahunya terbuka, senjata futuristik mengarah ke Orochi.

Chika berteriak, suaranya pecah oleh debu dan asap:

“APA TUJUANMU SEBENARNYA?! Menghancurkan dojo ini?!”

Orochi tersenyum tipis, matanya menyipit seperti ular yang baru bangun tidur.

“Oh… bertanya ya?”

Ia melangkah santai di atas puing bambu.

“Baiklah. Aku datang untuk mengambil sesuatu.”

Ia menunjuk ke arah bangunan utama dojo yang hampir runtuh.

“Gulungan teknik…

yang dulu pernah melukaiku.”

“Sebuah teknik ciptaan…”

“…ayah dari gadis malang itu.”

Mata Xiaouman melebar.

“Aku… tidak akan memaafkanmu…”

suaranya gemetar, bukan karena takut—tapi karena marah.

“Kau…”

“Kau sudah mengambil satu tangan ayahku!!”

Orochi menoleh padanya.

Ekspresinya dingin.

“Hm.”

“Masih ingin melawan… meski bahkan tak bisa berdiri?”

Chika langsung mengayunkan pedangnya.

⚡ “LUMINA SHOCK WAVE!” ⚡

Ia menebas udara.

Gelombang listrik biru menyambar seperti petir horizontal.

ZZZRAAAAK!!!

Serangan itu menghantam dada Orochi—

Namun Orochi mengangkat tangan.

PAK!

Energi itu pecah seperti kaca.

“Aku belum selesai berbicara!!”

Ia menepukkan kedua telapak tangannya.

💥 “REPELLING DOMINION.” 💥

BOOOOM!!!

Gelombang tekanan tak terlihat menghantam Chika dan MK.99 sekaligus.

Chika terpental, terguling di tanah.

MK.99 meluncur mundur, menciptakan parit kecil di halaman.

Orochi kini berdiri tepat di depan Xiaouman.

Bayangannya menutup cahaya.

“Jadi…”

“ini anak dari sahabat lamaku…”

Ia menunduk, menatap mata pink Xiaouman.

“Yang ditakdirkan mewarisi kekuatan terlarang itu.”

Xiaouman mendongak.

Wajahnya pucat.

Tangan gemetar mencoba menyangga tubuhnya.

Dari dalam dojo terdengar suara parau ayahnya:

“JANGAN SENTUH ANAKKU!!!

JANGAN SENTUH DIA!!!”

Orochi bahkan tidak menoleh.

“Jika aku membiarkanmu hidup…”

“…kau akan menjadi ancaman bagi klan naga.”

Tangannya terangkat.

Energi merah gelap berputar di telapak tangannya, seperti bola matahari berdarah.

“EXECUTION CORE.”

Cahaya merah itu memantul di mata Xiaouman.

“Aku akan mengeksekusimu.”

---

💔 PENGORBANAN

“TIDAAAAAK!!!”

Ayah Xiaouman melompat keluar dari dojo.

Tubuhnya pincang, satu tangan terputus, darah membasahi jubahnya—

namun matanya penuh tekad.

Ia berdiri di depan Xiaouman, membuka kedua lengannya.

“Kalau kau ingin membunuh…”

“…lewati aku dulu!!”

Orochi terdiam sejenak.

“Masih hidup rupanya…”

Ayah Xiaouman merogoh ke dalam bajunya.

Mengeluarkan sebuah gulungan tua, terikat tali hijau.

“Ini yang kau cari, kan…?”

Gulungan itu bergetar, seolah hidup.

“Kau tak akan pernah menggunakannya…

selama aku bernapas!”

Ia menghantamkan gulungan itu ke tanah.

💥 “JADE SEAL: FINAL BARRIER!” 💥

Lingkaran hijau giok muncul di antara Xiaouman dan Orochi.

Namun Orochi tertawa pelan.

“Pengorbanan yang sia-sia.”

Ia menghantam penghalang itu.

KRRAAAAAKKK!!!

Segel giok pecah.

Pukulan berikutnya menghantam tubuh ayah Xiaouman.

DUUUUM!!!

Tubuhnya terlempar, menghantam pilar dojo.

Xiaouman menjerit:

“AYAAAH!!!”

Orochi mengambil gulungan itu dari tanah.

“Tujuanku tercapai.”

Ia menoleh sekilas pada tubuh ayah Xiaouman yang tergeletak tak bergerak.

Xiaouman masih terkapar di tanah.

Debu bambu dan pecahan batu menempel di pipinya yang basah oleh keringat dan air mata. Dadanya naik turun tak teratur. Mata pink-nya terbuka setengah, tetapi tubuhnya tak lagi mau menurut.

Langkah kaki berat terdengar.

…duk… duk…

Orochi berjalan mendekat, bayangannya menelan tubuh Xiaouman yang kecil.

Chika dan MK.99 langsung bergerak.

“Xiaouman!” teriak Chika sambil memaksa berdiri, pedangnya terangkat walau lengannya gemetar.

MK.99 mengaktifkan pendorong di punggungnya.

“Unit 99: intersepsi target.”

Namun Orochi hanya mengangkat satu tangan.

Aura ungu meledak seperti dinding tak terlihat.

BOOOOM!!

Tubuh Chika dan MK.99 terhempas ke belakang.

Chika membentur dinding dojo.

“UGH—!”

Darah hangat menyembur dari sudut bibirnya.

MK.99 terpental lebih jauh. Pelindung dadanya retak, satu bahu logamnya hangus dan berasap.

“Sistem rusak… daya tempur… 37%…”

Dari dalam dojo terdengar suara kecil.

“CHIKA!!”

Princes berlari keluar beberapa langkah, matanya membesar melihat tubuh Chika tergeletak.

Namun Orochi kini berdiri tepat di depan Xiaouman.

Ia menunduk, menatap gadis panda itu dengan ekspresi dingin.

“Hm… kupikir akan kubiarkan kau hidup.”

“Tapi sekarang… aku rasa…”

“…lebih baik kau mati di sini.”

Xiaouman mengangkat wajahnya dengan susah payah.

“Heh…”

“Nggak…”

“Aku tidak akan mati… sebelum klan naga… hangus di kota Shen…”

Orochi tersenyum miring.

“Jangan bermimpi, anak kecil.”

Aura merah terkumpul di tangannya, memadat, memanjang…

membentuk sebuah tombak bercahaya seperti kristal darah.

Energinya berdesis, memotong udara.

“Crimson Judgement Spear.”

Chika berteriak dari kejauhan:

“JANGAN!!!”

Orochi mengayunkan tombaknya lurus ke bawah.

Namun—

Sosok lain bergerak lebih dulu.

“Ayah?!”

Ayah Xiaouman muncul dari samping, tubuhnya pincang, satu tangan hilang, tapi matanya penuh tekad.

Ia berdiri tepat di depan Xiaouman.

Tombak itu menembus tubuhnya.

DUAAAK!!

Ujung tombak keluar dari punggungnya.

Darah menetes ke tanah bambu.

“A… AYAH…?”

Xiaouman membuka mata lebar-lebar.

Tubuh ayahnya bergetar, lalu perlahan runtuh ke depan, masih menutupi Xiaouman.

“A… yah…”

Tangannya gemetar menyentuh punggung ayahnya yang dingin.

“T…tidak…”

“AYAAAAHHH!!!”

Princes membeku di tempat.

Air matanya jatuh tanpa suara.

“Kenapa…”

“Kenapa aku…”

“…tidak bisa melakukan apa-apa…”

Chika terduduk lemas, matanya kosong.

Tubuhnya gemetar.

“Ini…”

“ini cuma mimpi… kan…?”

Lingkaran cahaya biru pucat muncul di sekitar Princes.

Suaranya pecah oleh tangis.

“Kenapa… KENAPA…!”

Empat rantai cahaya muncul dari udara.

CLANG— CLANG— CLANG— CLANG!

Rantai itu menusuk ke punggung Chika.

Tidak melukainya…

melainkan mengalirkan sesuatu ke dalam tubuhnya.

Energi.

Kenangan.

Amarah.

Chika terhuyung, lalu berdiri.

“Ini…”

“hanya mimpi… kan…?”

Hero Sword muncul di tangannya.

Kristal kecil di gagangnya keluar perlahan.

Warnanya berubah—

biru bercampur merah gelap.

Darah vampir dari Hero pertama, Selena, meresap ke bilah pedang.

Aura biru menyala seperti api dingin di sekeliling tubuh Chika.

Matanya bergetar.

“Ayah panda…”

“…tidak mungkin mati semudah itu…”

Ia mengangkat pedang.

“Aku akan…”

“MENGHANCURKANMU!!!”

Pedang bersinar biru dan merah bersamaan.

“BLOOD ART: SELENA.”

“VAMPIR SWORD.”

Chika mengayun.

Tebasan itu menciptakan gelombang bulan sabit dari darah padat bercampur listrik biru.

Udara terbelah.

SHRRRAAAAAKKK!!

Gelombang itu melesat seperti komet.

Orochi terkejut.

“Apa—?!”

Ia tidak sempat menghindar.

Gelombang itu menghantam tubuhnya, menembus bangunan di belakangnya, menghancurkan gerbang dojo.

Tubuh Orochi retak seperti keramik pecah.

Ia melompat ke atas puing gerbang.

“Jangan sombong, gadis knight…”

“Kekuatanku belum pulih sepenuhnya…”

Namun ketika ia menoleh—

Chika sudah tidak ada di tempatnya berdiri.

“Apa…?”

Jejak asap merah tertinggal di udara.

Chika muncul tepat di depan Orochi.

Mata kirinya hijau muda,

mata kanannya tertutup kabut merah gelap.

“Blood Step.”

Ia menebas.

Namun—

Orochi menghilang.

FWOOSH!

Serangan Chika menghantam gerbang.

Bangunan itu runtuh sepenuhnya.

Chika terjatuh ke belakang, napasnya tersengal.

Energi dalam tubuhnya habis.

Princes berlari memeluknya.

“Chika… Chika…”

Tangisnya pecah.

Chika membuka mata perlahan.

Pandangan kabur.

Ia melihat Xiaouman…

dan para murid dojo yang tersisa.

Mereka berusaha menekan luka ayah Xiaouman.

Darah terlalu banyak.

Tidak mungkin disembuhkan.

Xiaouman memegang tangan ayahnya, wajahnya kosong, air mata mengalir tanpa suara.

Di halaman dojo yang hancur, hanya tersisa:

tubuh yang lemah,

tangis yang tertahan,

dan kebencian yang mulai tumbuh.

...----------------...

Siang hari itu terasa terlalu terang untuk sebuah perpisahan.

Pemakaman kota Shen terletak di atas bukit kecil, menghadap hamparan atap rumah dan dojo-dojo yang masih berasap tipis akibat pertempuran kemarin. Angin gunung berhembus pelan, menggerakkan dedaunan pohon tua yang berdiri tepat di atas makam baru itu. Daunnya berdesir lirih, seperti bisikan doa yang tak sempat terucap.

Sebagian besar murid dan warga telah pergi.

Kini hanya tersisa tiga sosok kecil di depan gundukan tanah yang masih merah kecokelatan.

MK.99 sudah dipulangkan ke Havenload pagi tadi, tubuh mekanisnya terlalu rusak untuk berdiri lama. Keheningan yang ditinggalkannya terasa janggal—biasanya selalu ada suara sistem, bunyi servo, atau omelan mekanisnya.

Di depan makam itu, Xiaouman berdiri kaku.

Matanya yang berwarna pink kosong, menatap papan kayu sederhana bertuliskan nama ayahnya. Tangannya mengepal, kukunya menekan telapak sendiri sampai memerah, seakan rasa sakit kecil itu bisa menahan sesuatu yang lebih besar agar tidak meledak.

“...Ayah… telah tiada…”

Suaranya serak, hampir tak terdengar.

“Gulungan teknik itu juga diambil…”

“Kenapa…”

“Kenapa semuanya jadi begini…”

“…Ini semua salahku…”

Bahunya bergetar. Ia menunduk, rambutnya menutupi wajah.

Princes melangkah pelan mendekat.

Anak kecil itu mengangkat tangannya yang mungil, lalu menggenggam tangan Xiaouman yang gemetar.

“Xiaouman…”

“Jangan nangis…”

“Nanti… ayah kamu… nggak tenang di atas sana…”

Suaranya polos, terbata-bata, tapi jujur.

Xiaouman menoleh ke bawah.

Melihat wajah kecil itu—mata besar yang masih merah karena menangis semalam, tapi berusaha tersenyum.

Hatinya seperti diremas.

Ia berlutut perlahan, lalu memeluk Princes erat-erat.

“Princes…”

“Maafkan aku…”

“Aku gagal…”

“Sebagai Hero kelima…”

“…dari takdir Hero Sword milik Chika…”

“Aku… gagal…”

Tangisnya pecah di bahu Princes.

Chika berdiri di samping makam.

Ia menaruh bunga liar berwarna putih dan biru di atas tanah. Tangannya ragu-ragu sesaat, lalu ia merapikan tanah di sekitarnya dengan telapak tangan, seolah ingin membuatnya terlihat lebih layak untuk seseorang yang telah mengorbankan segalanya.

Ia menepuk pundak Xiaouman pelan.

“Xiaouman…”

“Kamu tidak gagal.”

Xiaouman mengangkat wajahnya sedikit.

“Maaf, Chika…”

“Aku sudah menyusahkanmu dengan urusan kota Shen…”

“Kamu datang ke sini cuma untuk memastikan aku adalah Hero yang ditakdirkan…”

“Tapi malah…”

“Ayahku mati…”

“Aku juga menyusahkan Princes…”

Chika menggeleng cepat.

Ia tersenyum dengan senyum khasnya—agak bodoh, agak canggung, tapi anehnya terasa tulus.

“Ini tugas seorang knight.”

“Melindungi orang yang dalam bahaya.”

“Justru aku…”

“yang tidak bisa apa-apa.”

“Aku tidak bisa menyelamatkan ayahmu…”

Ia menunduk sebentar.

“Maaf…”

Lalu ia mengangkat kepala lagi.

“Tapi sekarang…”

“Tujuan kita masih sama, kan?”

Princes mengangguk kuat-kuat.

“Iya…”

“Kita harus mengalahkan Orochi…”

“Dan menyapu habis klan naga…”

“Kamu harus kuat, Xiaouman…”

Xiaouman menatap mereka berdua.

Matanya basah, tapi kini ada cahaya kecil di dalamnya.

Ia memeluk mereka sekaligus.

“Aku…”

“tidak tahu harus bilang apa lagi…”

“Kalian selalu membantuku…”

“Terima kasih…”

“Terima kasih…”

Chika dan Princes hanya mengusap punggungnya pelan, membiarkan tangis itu keluar sampai habis.

Beberapa saat kemudian, mereka berdiri.

Chika menatap ke arah kota.

“Ayo…”

“Kita kembali ke dojo ayahmu.”

“Kita perbaiki dojo itu.”

“Murid-murid ayahmu pasti menunggu kamu.”

Xiaouman mengangguk pelan.

Mereka bertiga berjalan menuruni bukit, meninggalkan makam di bawah pohon itu.

Angin kembali berdesir.

…srrrsshh…

Beberapa menit setelah mereka pergi—

Udara di samping makam berputar.

Sebuah pusaran ungu muncul perlahan, seperti robekan di dunia.

Dari dalamnya keluar seorang pria bertopeng paruh putih.

Kaden.

Ia berdiri diam, menatap makam sahabat lamanya.

“…Dan sekarang…”

“Kau telah tiada…”

“Koko…”

Nada suaranya rendah, tertahan.

“Aku bahkan tidak sempat mengatakan padamu…”

“bahwa gulungan yang dibawa Orochi itu…”

“…palsu.”

Ia mengepalkan tangannya.

“Namun…”

Ia menoleh ke arah dojo di kejauhan, yang tampak kecil dari bukit itu.

“Suatu hari nanti…”

“Kau akan melihat…”

“dunia yang damai…”

Nada suaranya berubah dingin.

“Dengan caraku.”

“Aku akan menghancurkan Hero Sword…”

“yang memaksa dunia ini…”

“…terus mengulang takdir yang sama.”

Pusaran ungu kembali terbuka.

Kaden menghilang.

Yang tersisa hanya makam sunyi di bawah pohon tua,

dan rahasia yang belum diketahui siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!