"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He! Pokoknya Papa tidak mau tahu, setuju atau tidak kamu tetap harus menikah dengannya." Zhu Guan
"Tidak! Lian tidak mau Pa. Sampai kapanpun Lian tidak mau menikah dengan lelaki lumpuh itu. Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki itu, jangan aku Pa!" Zhu Lian
"Kenapa harus aku? Bukankah kakak yang harus menikah, tapi kenapa semua orang menumbalkanku untuk menggantikannya?" Zhu Yiyue
Seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang, tak ada opsi lain selain menuruti keinginan keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat. Dengan teganya dia menumbalkan salah satu putrinya sebagai penebus hutangnya. Tanpa memikirkan perasaan putrinya, dia justru mendorong putrinya ke sebuah jurang keputusasaan.
Mampukah Yiyue menerima takdirnya sebagai alat penebus hutang? Menikah dengan seorang lelaki yang tak dia kenal, terlebih lelaki itu adalah Tuan Muda lumpuh yang terkenal sangat dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMDTML 24
"Aku Shenyi, apa kau ingat?"
"Shenyi ...." Tampak Yiyue berpikir, mengingat sosok lelaki di hadapannya. Dari namanya seperti familiar, tak lama bola mata Yiyue membulat sempurna saat dirinya terus menyebut nama Shen.
"Oh jadi Dokter ini Kak Shen tetangga rumahku dulu?" Tanya nya yang baru saja ingat akan sosok Dokter Shen.
Dokter Shen mengangguk sambil tersenyum menatap wajah cantik Yiyue. "Iya benar. Kau masih ingat aku bukan?"
Yiyue memegang dagunya tampak berpikir, sebelum kemudian dia kembali bersua. "Mmmm ... iya kakak dulu yang sering bermain ke rumah ku bukan? Lalu dengan jahilnya kakak mendorongku sampai aku jatuh."
Dokter Shen terkekeh mendengar ucapan Yiyue. Dia tak menyangka jika gadis di hadapannya ini adalah gadis yang sudah lama dia cari.
"Benar, kau masih saja mengingat hal itu. Aku saja sudah lupa."
"Tentu saja aku mengingatnya. Dan sampai kapan pun kejadian itu akan terekam di otakku," sahut Yiyue yang diakhiri dengan kekehan kecil.
"Oh iya, bagaimana kabarmu?" tanya Dokter Shen.
"Aku baik-baik saja kak," jawab Yiyue tersenyum.
Keduanya pun larut dalam obrolan santai, bernostalgia beberapa tahun yang lalu. Tanpa mereka tahu, ada seseorang yang menyorot tajam pada keduanya. Siapa lagi kalau bukan Qiaoyan, tampak lelaki itu wajahnya memerah, rahangnya mengeras, bahkan kedua tangannya mengepal kuat sampai buku-buku jarinya pun memutih.
Ehem ....
Qiaoyan berdehem berusaha membuat keduanya sadar jika di ruangan itu ada dirinya. Tentu saja Qiaoyan tak ingin jika sang istri berbicara terlalu lama dengan lawan jenisnya. Tak bisa dipungkiri jika hatinya saat ini tengah terbakar melihat pemandangan di hadapannya, rasanya begitu sakit tak berdarah.
Beberapa detik kemudian, Dokter Shen pun tersadar dan menyambut kedatangan Qiaoyan, salah satu pasiennya hari ini sekaligus dia yang mengambil alih untuk perawatan Qiaoyan yang dulu di rawat oleh Dokter Choi.
Dokter Shen tersenyum lembut, "Selamat siang Tuan Qiaoyan. Bagaimana kabar anda?" tanya Dokter Shen sambil sesekali dia mencuri pandang pada Yiyue yang duduk di samping Qiaoyan tentu saja hal itu diketahui oleh Qiaoyan. Bagaimana tidak? Sedari tadi kedua netra Qiaoyan menatap lurus ke arah Dokter Shen.
Qiaoyan tak bergeming, justru lelaki itu malah menyorot tajam istri kecilnya. Kini, wajah ceria mendadak pudar tergantikan oleh wajah kanebo seperti setelan awal.
Susah payah Yiyue menelan salivanya, sungguh tatapan itu seperti predator yang siap menerkam mangsanya hidup-hidup. Yiyue yang menyadari perubahan mimik wajah suami kulkasnya itu langsung membuka suara. "Eeehh ... kenalkan kak dia suamiku."
DEG!
Jantung Shen seolah berhenti itu juga saat mendengar fakta tersebut dari bibir Yiyue. Sedangkan Qiaoyan sendiri terkejut dengan pengakuan istri kecilnya itu. Qiaoyan tak menyangka jika sang istri mau mengakuinya sebagai seorang suami di hadapan orang lain.
Mata Shen membulat sempurna, tapi sebisa mungkin dia menetralkan perasaannya. "S- suami?" tanya Shen memastikan. Siapa tahu dia salah dengar atau justru Yiyue lah yang salah berucap, begitu pikir Shen.
Yiyue mengangguk membenarkan. "Iya kak, ini suamiku. Aku sudah menikah satu bulan yang lalu. Maaf aku tak memberitahumu karena kita sudah lama tak bertemu. Ini juga mendadak kok," ucap Yiyue kembali tersenyum. Gadis cantik itu sama sekali tidak malu mengakui Qiaoyan sebagai suaminya, karena memang Qiaoyan adalah suaminya.
Di sisi lain, Shen masih menatap Yiyue yang memperkenalkan suaminya itu, notabenenya salah satu pasiennya. Air mata Shen hampir saja mencelos dari pelupuk matanya. Jika saja dia tak berusaha kuat, sudah pasti dia menangis. Ternyata penantiannya selama ini sia-sia tak sesuai dengan ekspektasinya. Ingin rasanya Shen meminta penjelasan pada Yiyue, jika saja hanya ada mereka berdua di ruangannya.
"Kak ...," panggil Yiyue membuyarkan lamunannya.
"I- iya," sahut Shen terbata. Mendadak suara lelaki itu berubah jadi serak seperti orang bangun tidur.
"Kak, kedatanganku kemari selain kontrol ... aku juga ingin jika suamiku melakukan terapi akupunktur," ungkap Yiyue sesuai keinginannya.
"Akupunktur?" Shen berkerut alis menatap Yiyue kemudian beralih pada wajah dingin Qiaoyan yang sama menatapnya.
Shen mengangguk pelan. "Oh, baiklah. Ayo masuk," ajak Shen berusaha ramah pada Qiaoyan. Dia tak ingin jika perasaannya ini bisa berimbas hanya karena cemburu dengn lelaki lumpuh seperti itu.
"Ayo Tuan." Yiyue kembali menampilkan senyumnya yang begitu manis pada suaminya. Sebelum kemudian Yiyue mendorong kursi roda suaminya tanpa mempedulikan tatapan sang suami.
Sementara Fan Zhi hanya tersenyum simpul melihat pemandangan di hadapannya itu. Fan Zhi begitu bangga pada Nona Mudanya yang memiliki hati tulus dan juga jujur.
"Berbaringlah," seru Dokter Shen pada Qiaoyan.
"Ayo sayang," ucap Yiyue yang tanpa sadar jika ucapannya berhasil membuat Qiaoyan terkejut.
Lagi dan lagi dia dibuat menghangat hatinya oleh istri kecilnya. Qiaoyan tak menyangka jika sang istri memanggilnya dengan kata suami di hadapan orang lain
Sedangkan Shen pun membuang muka, berusaha tak melihat pemandangan yang begitu menyesakkan dada.
Ya, mereka saat ini berada di dalam ruangan Qiaoyan. Dimana sang suami hendak melakukan terapi akupunktur sesuai keinginan istri kecilnya itu.
Perlahan Yiyue mengangkat tubuh besar Qiaoyan, mendudukkannya tepat di bibir brankar, sebelum kemudian Yiyue membantunya berbaring. Saat Qiaoyan yang hendak memulai terapinya, mendadak tubuh Qiaoyan menegang, takut dengan adanya jarum yang dibawa oleh Shen di tangannya.
Secepat kilat Qiaoyan menggenggam tangan mungil istri kecilnya, seolah meminta agar sang istri tetap berada di sisinya selama proses terapi.
"Tenanglah Tuan, aku tetap disini, disampingmu. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja." Yiyue tersenyum menatap lekat wajah tegang suaminya yang telah dipenuhi oleh keringat dingin.
"Jangan pergi! Temani aku disini," pinta Qiaoyan yang masih setia menggenggam erat tangan istrinya.
Yiyue mengangguk, tangan satunya terulur menepuk punggung suaminya dengan lembut. "Semangat suamiku. Aku yakin secepatnya kau akan sembuh."
"Berbaringlah yang baik, jangan tegang. Aku menunggumu disini." Yiyue duduk di samping dekat brankar dimana Qiaoyan terbaring.
Tak hentinya sorot mata Qiaoyan menatap lurus ke arah istrinya. Tampak lelaki itu begitu takut jika istri kecilnya pergi meninggalkannya.
"Arrrgggh ...." Qiaoyan meringis saat jarum kecil ditusukkan tepat di area kulit kepala.
"Tuan, tenanglah." Yiyue mengusap lembut punggung tangan Qiaoyan yang masih menggenggam erat tangan mungil istri kecilnya.
Penusukan jarum dilakukan pada tiga titik yang sering digunakan untuk kesembuhan kelumpuhan kaki, meliputi titik kaki, titik kepala, dan titik tambahan (tangan).
Tak lama proses penusukan jarum pun telah selesai namun, harus menunggu beberapa menit untuk per sesi.
"Sudah selesai. Akupunktur memerlukan tiga puluh menit, sebaiknya anda beristirahatlah sebentar," ucap Dokter Shen pada Qiaoyan.
"Hem." Qiaoyan hanya berdehem saja menyahuti.
Setelah mengatakan itu, Dokter Shen pun keluar menuju kursi kebesarannya. Sementara Yiyue masih setia menunggu suami kulkasnya di dalam, dimana tangannya masih digenggam erat oleh Qiaoyan.
'Kau adalah orang pertama yang membuatku merasa dimiliki. Terima kasih istriku, aku berjanji akan sembuh demi menjagamu. Bertahanlah di sampingku, aku mencintaimu,' batin Qiaoyan.
.
.
.
🥕Bersambung🥕