"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 - Perhatian Arfan ke Bunda
Malam itu, setelah telepon dengan Arfan berakhir, Aura tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan wajah merah padam Kak Bima dan pesan-pesan almarhum Ayah tentang kesabaran terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ada sesak yang tertinggal di dadanya.
Keesokan Paginya...
Suara adzan Subuh berkumandang syahdu dari masjid seberang. Aura mengerjap, menyadari dirinya masih bersimpuh di atas sajadah dengan mukena yang masih melekat. Ia baru saja menyelesaikan tahajud dan berdoa lama sekali, meminta ketenangan hati yang sempat hilang diterjang emosi semalam.
Pukul tujuh pagi, Aura turun ke meja makan dengan langkah pelan. Suasana terasa kaku, hanya ada denting sendok yang beradu dengan piring. Bima sudah duduk di sana, fokus pada ponselnya tanpa menoleh sedikit pun, seolah-olah Aura adalah angin lalu.
Bunda Syakirah yang menyadari kedua anaknya sedang dalam perang dingin, akhirnya angkat bicara. Beliau meletakkan teko air di meja, lalu menatap Bima dan Aura bergantian dengan tatapan teduh yang selalu menenangkan.
"Bima, Aura... kalian ingat kan pesan almarhum Ayah?" suara Bunda lembut, sanggup membelah kesunyian yang mencekam itu.
Aura langsung menunduk. Ia tahu arah pembicaraan ini.
"Ayah selalu bilang, sabar itu separuh dari iman. Jangan sampai emosi yang pegang kendali atas lisan kita. Sekali ucapan kasar keluar, itu kayak paku yang ditancap ke kayu. Biarpun pakunya dicabut, bekasnya tetap ada," lanjut Bunda sambil menatap Aura dengan tulus.
Aura menelan ludah yang terasa mengganjal di kerongkongan. Ia memberanikan diri menoleh ke arah Bima. Hatinya mencelos melihat kakaknya yang biasanya jahil dan cerewet, kini hanya diam membisu dengan wajah datar.
"Kak Bima..." suara Aura pelan, hampir pecah.
Bima mendongak sedikit, matanya bertemu dengan mata Aura yang mulai berkaca-kaca.
"Aku minta maaf ya, Kak. Aku nyesel banget udah ngomong kasar kemarin di kamar. Harusnya aku nggak boleh ngerendahin Kakak kayak gitu. Aku sayang Kakak... maafin aku ya?" Aura mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar di atas meja.
Bima terdiam sejenak. Ia teringat betapa kerasnya ia membanting pintu semalam, dan sekarang adiknya yang lembut ini justru yang merendahkan hati untuk meminta maaf duluan. Ego Bima runtuh seketika. Ia menarik napas panjang, lalu menyambut tangan Aura dan menjabatnya sebentar.
"Iya, Ra. Gue juga minta maaf udah kasar semalam. Gue cuma... ah, sudahlah," Bima mengacak pelan puncak kepala adiknya, kebiasaan lama setiap kali mereka baikan.
"Udah, jangan nangis. Jelek tahu, nanti London nggak mau terima lo kalau cengeng begini."
Aura tertawa kecil di tengah isaknya. Bunda Syakirah tersenyum lega. "Nah, gitu dong. Anak-anak Bunda harus rukun."
Namun, di tengah rasa lega itu, ponsel Aura di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi muncul di layar.
Kak Arfan: Selamat pagi, Aura. Sudah sarapan? Semangat ya, saya sebentar lagi sampai buat jemput kamu.
Aura tersenyum kecil tanpa sadar, ada binar bahagia yang kembali muncul di matanya. Namun, di seberang meja, Bima menangkap kilatan itu. Rahangnya mengeras seketika. Ia menggenggam sendoknya erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Pasti pesan dari cowok sok kalem itu lagi. Gimana caranya gue singkirin dia, biar nggak bisa deket-deket sama Aura lagi? batin Bima tajam. Rasa was-wasnya kini berubah menjadi tekad yang dingin. Gue nggak akan biarin bajingan itu ngerusak adek gue.
Baru saja Aura hendak beranjak dari meja makan, suara motor yang sangat ia kenali berhenti tepat di depan pagar. Tak lama, suara ketukan pintu terdengar sangat sopan dan teratur.
"Assalamualaikum," suara bariton Arfan terdengar begitu tenang dari luar.
Bima mendengus keras, rahangnya mengeras. Sementara Aura langsung berdiri dengan wajah yang mendadak cerah. "Itu pasti Kak Arfan."
Saat pintu dibuka, Arfan berdiri di sana dengan kemeja rapi yang lengannya digulung sesiku, tipikal cowok idaman yang terlihat bersih dan mapan. Di tangannya, ia menenteng dua kantong plastik.
"Eh, Arfan? Mari masuk, Nak," sambut Bunda Syakirah yang ikut berjalan ke depan dengan senyum lebar.
Arfan menyalami tangan Bunda dengan sangat takzim menundukkan kepalanya sedikit lebih lama sebagai tanda hormat. "Maaf mengganggu pagi-pagi, Bun. Tadi Arfan lewat tukang bubur langganan yang antrinya panjang banget, ingat Bunda belum sarapan, jadi Arfan belikan. Sekalian ini... obat sendi buat Bunda yang kemarin Bunda bilang sudah habis."
Mata Bunda berbinar haru. "Ya Allah, Fan... kamu ini perhatian sekali. Padahal Bunda bisa minta Bima yang beli di apotek nanti."
"Nggak apa-apa, Bun. Kasihan Bima kalau harus bolak-balik. Kebetulan Arfan searah jalan mau jemput Aura ke sekolah," jawab Arfan rendah hati. Ia melirik sedikit ke arah Bima yang berdiri di sudut ruang tamu dengan tangan bersedekap, menatap Arfan seolah ingin menerkamnya.
"Pagi, Kak Bima," sapa Arfan datar, tapi tetap terlihat sopan di depan Bunda.
Bima tidak menjawab. Ia hanya menatap kantong obat itu dengan sinis. Pinter banget cari muka pake bawa-bawa obat segala, batin Bima pahit.
"Sini Kak, biar aku yang pindahin buburnya ke mangkuk," ucap Aura riang, mengambil kantong plastik dari tangan Arfan.
"Terima kasih ya, Ra. Oh iya, diminum ya Bun obatnya habis makan bubur. Arfan nggak mau Bunda sakit-sakitan terus," Arfan berkata sambil menatap Bunda dengan tatapan yang begitu tulus. Bagi Bunda, Arfan adalah sosok pemuda sholeh yang sangat peduli.
Bima yang sudah tidak tahan lagi melihat drama itu akhirnya bersuara. "Berapa harganya? Biar gue ganti sekarang. Gue nggak mau keluarga gue punya utang budi sama lo."
Suasana mendadak kaku. Bunda Syakirah menatap Bima dengan tatapan peringatan yang tajam. "Bima! Apa-apaan kamu ini? Arfan itu niatnya baik."
Arfan hanya tersenyum tenang, sama sekali tidak terpancing. "Nggak usah, Bim. Saya ikhlas. Lagipula, saya sudah anggap Bunda seperti ibu saya sendiri."
Jawaban itu telak menghantam Bima. Arfan tidak hanya mengambil hati Aura, tapi dia sudah berhasil menjajah posisi di hati Bundanya.
Aura keluar dari dapur membawa tasnya, tidak menyadari ketegangan yang baru saja terjadi. "Yuk Kak, nanti aku telat. Bunda, Aura berangkat dulu ya!"
Arfan berpamitan dengan sopan, sekali lagi menyalami Bunda. Saat melewati Bima di ambang pintu, Arfan sempat berhenti sejenak. Tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang ramah, ia membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Bima.
"Jagain Bunda ya, Bim. Biar Aura saya yang jagain di jalan," bisik Arfan dengan penekanan yang sangat dingin.
Bima mengepalkan tangan kuat-kuat sampai buku jarinya memutih, menatap punggung Arfan yang menuntun Aura menuju motornya. Bima tahu, ini bukan sekadar jemputan sekolah. Ini adalah cara Arfan menunjukkan siapa yang lebih berkuasa atas kebahagiaan Aura sekarang.
Bima masih berdiri mematung di ambang pintu, matanya menatap tajam ke arah motor Arfan yang perlahan menghilang di tikungan jalan. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak oleh amarah yang tertahan.
Bunda Syakirah menghela napas panjang melihat gelagat putra sulungnya. Beliau berjalan mendekat, lalu menyentuh bahu Bima dengan lembut.
"Bima, sudah. Kenapa kamu ketus sekali sama Arfan? Dia itu anak baik, sopan, bahkan peduli sama kesehatan Bunda," ucap Bunda pelan, mencoba menenangkan.
Bima berbalik dengan cepat, menatap Bundanya dengan tatapan frustrasi. "Bunda... Bunda jangan gampang percaya sama bungkus luar. Arfan itu nggak bener, Bun!"
Bunda mengerutkan kening, wajah teduhnya tampak bingung. "Maksud kamu apa, Nak? Arfan itu sholeh, dia selalu jaga sikap. Bunda malah tenang kalau Aura dijagain sama orang sesabar dia."
"Sabar?" Bima tertawa pahit, tawa yang terdengar getir. "Bunda tahu nggak? Semalam Bima liat dia lagi. Jam dua pagi, Bun! Dia berdiri di depan pagar rumah kita cuma buat mandangin jendela kamar Aura. Orang normal macam apa yang ngelakuin itu? Dia itu punya obsesi yang aneh sama Aura, Bun!"
Bunda Syakirah terdiam sejenak, namun kemudian beliau tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. "Mungkin kamu salah lihat, Bima. Lagipula, Arfan kan memang pelukis, mungkin dia sedang mencari inspirasi atau apa. Jangan berprasangka buruk dulu, itu dosa."
"Ini bukan soal prasangka buruk, Bun! Ini soal firasat Bima sebagai kakak," suara Bima mulai bergetar karena emosi. "Dia pinter banget ambil hati Bunda pake bubur sama obat. Itu taktik supaya kita nggak curiga. Bima nggak mau Aura kenapa-kenapa. Aura itu masih polos, dia nggak bisa bedain mana tulus, mana modus."
Bunda memegang kedua tangan Bima, menatap mata anaknya dengan dalam. "Bima, Bunda tahu kamu sayang sama Aura. Tapi jangan sampai rasa sayang kamu itu jadi kebencian yang nggak berdasar. Arfan sudah banyak bantu keluarga kita sejak Ayah nggak ada. Cobalah untuk membuka hati sedikit, ya?"
Bunda kemudian berlalu menuju meja makan untuk merapikan sisa sarapan, meninggalkan Bima yang masih terpaku di sana. Bima merasa suaranya sama sekali tidak didengar. Ia merasa seperti sedang berteriak di dalam ruang hampa.
"Bunda nggak percaya sama Bima..." gumamnya lirih.
Bima mengambil kunci motornya dengan gerakan kasar. Jika Bunda dan Aura tidak bisa ia sadarkan dengan kata-kata, maka ia sendiri yang harus mencari bukti untuk menjatuhkan topeng Arfan.
Bersambung.......
Assalamualaikum. jangan lupa like dan komen yaaa, thank you semuanyaa🫶🏻.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰