NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

—Inspired by a true story. Some feelings never really leave, they just become stories.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31 - Tidak Benar-Benar Pergi

...Cinta tidak selalu pergi dengan membenci. Kadang ia tinggal, hanya saja tidak lagi bisa dimiliki....

Happy Reading!

...----------------...

Ujian akhir selesai tanpa seremoni.

Tidak ada pelukan lega berlebihan. Tidak ada teriakan senang. Hanya suara kursi yang bergeser pelan, kertas jawaban yang disusun bertumpuk di meja guru, dan rasa capek yang menempel di bahu seperti beban yang baru terasa setelah semuanya selesai.

Dan bersamaan dengan itu—kami resmi selesai.

Tidak ada lagi alasan ke sekolah. Tidak ada lagi dalih tugas, rapat, atau kegiatan kelas. Semua yang biasanya memaksa kami bertemu, hilang begitu saja. Seolah hidup ikut membantu mempercepat jarak yang sudah lebih dulu ada.

Hari-hari setelahnya terasa ganjil.

Aku bangun pagi tanpa notifikasi darinya. Tidak ada pesan “udah bangun?” atau “jangan lupa makan.” Ponselku tetap berbunyi—dari Nara, dari grup, dari notifikasi tak penting. Layarnya berkali-kali menyala di samping bantal, tapi tidak pernah menampilkan satu nama yang dulu paling sering muncul di sana.

Anehnya, aku tidak membencinya.

Aku kira setelah putus, aku akan marah. Kecewa. Menyalahkan. Tapi yang tersisa justru perasaan yang sama—hanya tidak lagi punya tempat.

Aku masih mencintainya. Dengan cara yang lebih diam. Dan mungkin itu yang paling melelahkan.

Hari-hari berlalu cepat, lalu tiba-tiba—acara perpisahan sekolah sudah di depan mata.

Terlalu cepat.

Gedung sekolah dihias sederhana. Balon warna pastel menggantung tidak rata di langit-langit, spanduk besar dengan tulisan Selamat Jalan Angkatan terbentang miring sedikit. Kursi berbaris rapi, sebagian sudah berderit setiap kali seseorang duduk tergesa.

Semua terlihat sama seperti acara-acara lain, tapi rasanya berbeda. Karena kali ini, kami benar-benar akan pergi.

Aku datang bersama Nara. Kami duduk berdampingan, mengenakan pakaian yang sudah disepakati bersama. Rambut Nara dibiarkan tergerai, wajahnya tampak cerah, meski matanya sesekali terlihat kosong.

“Kok cepet banget ya,” gumamnya.

Aku mengangguk. “Iya.”

Arkan lewat di depan kami, menyapa dengan senyum lebar. “Gila, bentar lagi kita bukan anak sekolah lagi.”

“Keliatan tua nggak sih kita?” celetuk Fadly sambil ikut duduk di baris depan.

“Lu doang,” balas Keno cepat.

Tawa kecil muncul. Normal. Seperti biasa.

Tapi ada sesuatu yang hilang.

Raven duduk beberapa baris di depan. Di sebelahnya ada Nafiz. Posisi mereka masih sama seperti dulu—bahu nyaris bersentuhan, kepala sedikit condong satu sama lain saat bicara pelan. Duo yang dari jauh selalu terlihat utuh.

Aku tidak berniat menatap lama-lama. Tapi saat pandanganku tanpa sengaja naik, Nafiz sudah lebih dulu menoleh ke arahku.

Tatapan kami bertemu.

Tidak lama. Tidak juga canggung.

Hanya satu detik—cukup untuk membuatku tahu: dia sadar.

Nafiz tidak tersenyum. Tidak melambaikan tangan. Ia hanya mengangguk kecil, satu gerakan singkat yang nyaris hilang di tengah keramaian, tapi terasa seperti isyarat pelan—gue tau, dan gue nggak nanya.

Aku membalasnya dengan anggukan tipis.

Setelah itu, ia kembali menghadap ke depan, menepuk bahu Raven seperti biasa, melanjutkan obrolan mereka seolah tidak ada apa-apa yang berubah.

Tapi aku tahu, dari caranya tidak menoleh lagi, dari jarak kecil yang ia jaga setelahnya—Nafiz sedang membantu Raven dengan caranya sendiri.

Dan tanpa diminta, ia juga menjaga aku.

Aku menarik napas pelan, lalu kembali menatap ke depan. Beberapa orang memang tidak perlu ikut campur untuk peduli. Cukup paham, lalu memilih diam.

...----------------...

Acara dimulai. Sambutan demi sambutan. Kata-kata tentang masa depan, kenangan, perjuangan. Semua terdengar seperti rekaman lama yang diputar ulang.

Aku menoleh ke kiri dan kanan. Teman-temanku tertawa, berbisik, sesekali mengusap mata.

Aku tahu—mereka peka.

Mereka tahu aku dan Raven tidak lagi seperti dulu. Tidak ada lagi duduk berdampingan. Tidak ada lagi saling menoleh kecil tanpa sadar. Tapi tidak satu pun dari mereka bertanya.

Seolah ada kesepakatan tak tertulis: biarkan kami sendiri dengan luka masing-masing.

Saat acara resmi selesai, suasana berubah ramai. Orang-orang berdiri, saling memeluk, tertawa sambil menangis. Kamera diangkat. Nama dipanggil. Momen diabadikan.

“Sha, foto yuk!” teriak Nara.

Aku tersenyum, berdiri, lalu merangkulnya. Jepretan pertama. Kedua. Ketiga.

“Lengkapin sama cowok-cowok,” kata Arkan.

Kami berkumpul. Tertawa. Berisik. Seperti ingin menahan waktu agar tidak cepat habis.

Di sela-sela itu, aku melihat Raven berdiri agak jauh, bersama Keno. Mereka tertawa kecil. Normal. Terlalu normal.

Dadaku mengencang.

Setelah satu per satu mulai berpencar, aku berdiri sendiri. Menggenggam ponsel. Ragu.

Ini mungkin kesempatan terakhir.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah mendekat.

Aku melihat beberapa orang sudah mulai pulang. Musik latar berganti lagu yang entah kenapa terdengar lebih sendu dari sebelumnya. Tanganku dingin menggenggam ponsel.

Kalau bukan sekarang, mungkin tidak akan pernah lagi.

“Raven,” panggilku pelan.

Ia menoleh. Wajahnya terlihat kaget sebentar, lalu tenang. “Iya?”

Aku menelan ludah. “Foto… boleh?”

Hanya satu kalimat. Tapi rasanya seperti meminta terlalu banyak.

Raven diam beberapa detik. Lalu mengangguk. “Boleh.”

Kami berdiri berdampingan. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Ada jarak setengah langkah di antara kami—jarak yang dulu tidak pernah ada, tapi sekarang terasa seperti batas yang kami pahami tanpa perlu dibicarakan.

Nara memegang ponselku. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya mengangguk kecil, seolah bilang, aku di sini.

“Siap ya,” katanya.

Aku menatap kamera. Raven juga.

Di detik itu, aku ingin mengatakan banyak hal. Tapi yang keluar hanya senyum kecil. Senyum yang tidak utuh.

Klik.

Satu foto.

“Udah?” tanya Raven pelan.

“Iya,” jawabku.

Kami saling menatap sebentar. Tidak lama. Tidak cukup lama.

Tanganku tanpa sadar merapikan lipatan baju di sisi tubuhku, hanya untuk memberi diriku sesuatu untuk dilakukan selain menatapnya terlalu lama.

“Makasih,” kataku.

Ia mengangguk. “Sukses ya.”

Aku tersenyum kecil. “Kamu juga.”

Raven melangkah pergi lebih dulu. Aku berdiri di tempat, menatap punggungnya yang semakin jauh, hingga akhirnya menyatu dengan keramaian.

Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada tangisan besar.

Hanya satu foto. Dan satu perasaan yang akhirnya tahu—beberapa hal memang tidak perlu dibawa pulang.

Malam itu, aku membuka galeri ponsel. Menatap foto terakhir itu lama.

Kami berdiri berdampingan. Tersenyum. Terlihat baik-baik saja.

Padahal kami tahu—itu adalah perpisahan paling jujur yang bisa kami lakukan.

...----------------...

Hal lain datang beberapa hari setelah acara perpisahan.

Hari-hari setelahnya terasa datar. Tidak sepenuhnya kosong, tapi seperti berjalan di ruang yang sudah dikenal tanpa tahu harus berhenti di mana. Aku menghabiskan waktu di rumah, membuka buku-buku persiapan ujian masuk kuliah. Stabilo berwarna-warni berserakan di meja belajar, tapi beberapa halaman hanya kuberi garis tanpa benar-benar kubaca.

Sampai suatu sore, ponselku bergetar.

Satu notifikasi. Satu nama.

Raven.

Aku menatap layar cukup lama sebelum membukanya. Bukan karena kaget—lebih karena aku tidak tahu harus menaruh perasaan ini di mana.

"Udah keluar pengumuman SNBP. Kamu lolos Sha?"

Kalimatnya singkat. Tidak ada basa-basi. Tidak ada emot. Tapi justru itu yang membuat dadaku terasa sesak.

Aku menarik napas, lalu membalas.

"Nggak. Jadi harus ikut SNBT nanti."

Titik. Selesai. Jujur. Tanpa drama.

Balasan tidak langsung datang. Aku sempat meletakkan ponsel, membuka buku, membaca satu paragraf yang sama berulang kali tanpa benar-benar masuk ke kepala.

Getaran kedua.

"Oh…"

"Kamu pintar. SNBT pasti bisa dikejar."

Aku tersenyum kecil. Bukan senyum senang. Lebih ke senyum orang yang sudah tahu kalimat itu datang dari niat baik—meski jaraknya terasa jelas.

"Iya. Lagi mulai belajar pelan-pelan."

Beberapa detik hening lagi.

Tanda “typing…” muncul, hilang, lalu muncul lagi.

Lalu pesannya masuk.

"Aku lolos."

Dadaku mengencang, tapi tidak sakit seperti yang kukira.

"Selamat, Raven."

Balasan itu kuketik tanpa ragu. Karena memang begitu rasanya—aku benar-benar ikut senang.

"Makasih, Shaira."

Aku menunggu. Tidak tahu apa yang kutunggu. Mungkin penjelasan. Mungkin cerita panjang. Mungkin alasan.

Pesan berikutnya datang.

"Aku ambil Balikpapan."

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Balikpapan.

Dua jam dari Samarinda. Dekat—tapi tetap bukan “bersama”.

"Oh."

"Itu pilihan yang bagus."

Dan aku sungguh-sungguh mengatakannya.

"Iya. Paling oke buat sekarang."

Aku bisa membayangkan wajahnya saat mengetik itu. Tenang. Yakin. Seperti Raven yang kukenal.

Aku ingin bertanya banyak hal. Tentang perasaannya. Tentang keputusannya. Tentang apakah sebagian dari pilihannya juga memikirkan aku.

Tapi aku tidak melakukannya.

Karena aku tahu—percakapan ini punya batas.

Beberapa detik kemudian, pesan terakhir masuk.

"Kamu jaga diri ya. Jangan terlalu capek."

Aku menatap layar. Lama.

Kalimat itu sederhana. Tidak berlebihan. Tidak melewati garis. Tapi cukup untuk menunjukkan satu hal:

Dia masih peduli. Hanya saja, dengan cara yang lebih jauh.

"Kamu juga."

"Semoga lancar semuanya."

Ia membaca. Tidak membalas lagi. Dan percakapan itu berhenti di sana.

Tidak ada penutup manis. Tidak ada lanjutan keesokan hari. Tidak ada janji akan bertemu.

Hanya satu titik kecil yang menegaskan sesuatu yang sudah lama kupelajari:

Kadang, orang tidak benar-benar pergi. Mereka hanya memilih untuk berhenti tinggal.

Aku meletakkan ponsel, menatap buku di depanku, lalu mulai membaca lagi—kali ini dengan air mata yang jatuh pelan, tanpa suara.

Bukan karena aku tidak bahagia untuknya. Tapi karena aku akhirnya paham…

Perhatian yang datang dengan jarak

tetap perhatian—tapi tidak lagi bisa kupeluk.

Kadang yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan, tapi tetap dipedulikan dari jarak yang tak lagi bisa didekati.

Di luar jendela, langit Samarinda mulai gelap. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, memantul redup di kaca jendela kamarku.

Dan untuk pertama kalinya, aku sadar—hidupku juga sedang berganti lampu, pelan-pelan, tanpa menunggu siapa pun.

...----------------...

...Shaira — menyimpan kenangan, tanpa memintanya kembali....

1
Lilyyanaa
tim raven sih aku🥲😍
Lilyyanaa
lahhh kocak luu alden
SarSari_
ini kyaknya diem2 suka, tapi gengsi buat ngakuin...

hai kak aku mampir lagi...🤗
Lilyyanaa
aw lucu sih…🤭
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Berasa dunia milik kalian berdua😭

Senyum" sndiri ak baca nya🙏😍
Dilo: emg gemeshh mereka
total 1 replies
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Alden ga memaksa Shaira buat 'jalanin' bareng dengannya..

iya ga si..?

Ngerti brrti ya🙏😍

Cm.. ini masih awal, masih blm kenal lama, Shaira wajar kn bilng takut..🙏

Aku sndiri aja takut🙏😌

Raven?..
masih bingung plih yg mna😭
Dilo: HAHAHAH bener buangett, kecepatan kl mau milih soalnya alden... hehe/Chuckle/
total 1 replies
Lilyyanaa
eh bagus loh cwo bgnii… ga bkin risih👍
Lilyyanaa
modusnyaa keliatan bgt
Lilyyanaa
haloo aldenn
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Benar.. 😌

Dari awal Alden komunikasi sm Shaira, spertinya tipe cwok soft spoken?🙏❤


Btw, Cieee doi akhirnya muncull😌
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧: Wkwkw/Curse/
total 2 replies
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Terdengar singkat..
tapi sangat cukup nyesek buatku,
serius.. bener" nyesek in dada..?
kenapa ya😭
huaa sakit ini dada😭
serius sumpah😭
ak nangis.. hha.. nyesek😭

Ngebayangin shaira pegang fto nya, trus bilng gitu..🙏😭
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧: Truee/Sob/
total 2 replies
Lilyyanaa
asikk, ga sabar bab selanjutnya🤭 gimana kira-kira doi barunya
Dilo: hihi ketemu besok yah/Slight/
total 1 replies
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Hmm...
Doi baru shaira masih mistery/Slight/
Dilo: /Chuckle//Chuckle/ oke si doinya ntar
total 1 replies
Lilyyanaa
fotonyaa pas yaa pake baju abu haha lucuu cantik bgt shaira
Dilo: /Joyful//Kiss/iyakan cantikk..
total 1 replies
Lilyyanaa
sempat”nya ngelucuu
Lilyyanaa
sedih bacanya🥲🥲🥲
Lilyyanaa
tumben jujur, kmren” bilangnya gatau
Dilo: denial kak...😭
total 1 replies
Lilyyanaa
lucu bgt lg wkwkkwkw😭🤣
Lilyyanaa
dikit banget atau dikit banyak?
Lilyyanaa
resiko satu circle ya gini, dapat terus infonya😭
Dilo: bener bangett ihh.. tanpa nanya jg dapat info😔😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!