NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30 - Yang Tetap Tinggal

...“Kadang yang menyembuhkan bukan waktu, tapi orang-orang yang tetap tinggal saat kita belum siap berdiri lagi.”...

Happy Reading!

...----------------...

Hari berikutnya datang tanpa permisi.

Shaira bangun dengan perasaan yang tidak bisa ia beri nama. Ia berkedip beberapa kali menatap langit-langit kamar, dadanya terasa ringan tapi aneh—seperti ruangan kosong yang terlalu luas untuk ditinggali sendirian.

Ia menatap langit-langit kamar beberapa detik lebih lama dari biasanya, mencoba mengumpulkan tenaga untuk sekadar duduk, jari-jarinya menggenggam ujung selimut sebelum akhirnya mendorong tubuhnya bangun. Kepalanya terasa berat, matanya sembap meski ia sudah mencuci wajah berkali-kali semalam.

Sekolah tetap harus didatangi. Ujian tetap menunggu. Hidup, seperti biasa, tidak pernah memberi jeda hanya karena seseorang sedang patah hati.

Shaira akhirnya bangun, bergerak pelan menuju kamar mandi, lalu bersiap dengan gerakan otomatis. Seragam disetrika, rambut disisir rapi, sepatu dipakai seperti rutinitas yang sudah ia hafal di luar kepala. Semua terlihat normal. Terlalu normal.

Ia turun ke ruang makan.

Mama menoleh sebentar. “Sarapan dulu.”

“Iya,” jawab Shaira singkat.

Ia duduk, memegang sendok, mengaduk nasi goreng di piring tanpa benar-benar berniat makan. Sendoknya berputar pelan, memisahkan butiran nasi tanpa arah.

Mama tidak banyak bicara, hanya sesekali menggeser piring minumannya mendekat ke Shaira, gerakan kecil yang seolah ingin memastikan anaknya tetap duduk di sana lebih lama. Sesekali tetap melirik, seolah mencoba membaca sesuatu yang Shaira sendiri berusaha sembunyikan.

Setelah beberapa suap yang terasa hambar, Shaira berdiri.

“Berangkat dulu, Ma.”

“Hati-hati di jalan.”

Shaira mengangguk, lalu keluar rumah.

...----------------...

Motor maticnya kembali melaju menyusuri jalanan yang mulai ramai oleh aktivitas pagi. Matahari sudah naik, memantul di kaca toko-toko yang baru buka. Udara masih menyimpan sisa dingin malam, tapi tidak cukup untuk menenangkan pikirannya.

Biasanya, di perjalanan seperti ini, ada satu pesan yang selalu muncul sebelum ia sampai sekolah.

Sekarang, tidak ada apa-apa.

Shaira menarik napas panjang di balik helm, mencoba menenangkan detak jantungnya yang sejak semalam seperti lupa cara berdetak dengan tenang.

Saat gerbang sekolah mulai terlihat, dadanya tiba-tiba mengencang.

Ia tidak takut masuk sekolah. Ia hanya takut kemungkinan bertemu seseorang yang dulu menjadi alasan ia ingin datang lebih cepat setiap hari.

Motor diparkir. Helm dilepas. Ia berdiri beberapa detik, menatap halaman sekolah yang dipenuhi murid-murid dengan suara tawa dan obrolan yang terdengar terlalu keras di telinganya.

Semua berjalan seperti biasa.

Hanya Shaira yang merasa ada sesuatu yang berubah.

...----------------...

Koridor sekolah terasa lebih panjang pagi itu.

Shaira berjalan sambil menatap lantai, berusaha tidak terlalu banyak melihat sekitar. Ia menyapa beberapa teman yang menyapanya lebih dulu, tersenyum seperlunya, lalu terus melangkah.

Saat hampir sampai kelas, langkahnya sempat terhenti.

Raven ada di dalam.

Ia duduk di kursinya seperti biasa, punggung tegak, satu tangannya menahan buku terbuka, seolah benar-benar fokus membaca sesuatu yang mungkin tidak masuk ke kepalanya. Wajahnya terlihat tenang, terlalu tenang.

Shaira menelan ludah. Jari-jarinya tanpa sadar menggenggam tali tas lebih erat sebelum ia akhirnya melangkah masuk.

Ada banyak hal yang ingin ia rasakan—marah, sedih, kecewa—tapi yang muncul justru kosong. Ia menarik napas, lalu masuk kelas tanpa menatap ke arah Raven.

Ia duduk di bangkunya. Membuka buku. Menatap halaman tanpa benar-benar membaca.

Beberapa menit berlalu dalam sunyi yang terasa lebih berat dari biasanya.

“Lo kenapa?”

Suara itu datang dari samping.

Shaira menoleh. Nara berdiri di sebelah mejanya, satu alis terangkat, tangannya bertumpu santai di meja—sikap yang selalu ia pakai setiap kali mencium sesuatu yang tidak beres.

“Kenapa apanya?” jawab Shaira ringan, mencoba tersenyum.

“Lo kelihatan kayak orang yang semalam habis begadang mikirin hidup,” kata Nara datar.

Shaira terkekeh kecil, tapi senyumnya cepat pudar. “Lebay.”

Nara menyilangkan tangan. “Gue kenal lo dari kelas sepuluh, Shaira. Jadi jangan bohong.”

Shaira terdiam. Tangannya refleks merapikan ujung buku yang sebenarnya sudah rapi.

Nara menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas pelan.

“Nanti istirahat ikut gue,” katanya.

“Gue—”

“Ikut,” potong Nara tegas, tapi nadanya tetap lembut.

Shaira tidak menjawab. Tapi ia juga tidak menolak.

...----------------...

Bel istirahat akhirnya berbunyi.

Shaira sebenarnya ingin tetap duduk di kelas, berpura-pura sibuk dengan buku. Tapi Nara sudah berdiri di sampingnya sebelum ia sempat mencari alasan.

“Ayo.”

Nara berjalan keluar kelas tanpa menoleh. Shaira menatap punggung sahabatnya itu beberapa detik sebelum akhirnya berdiri dan mengikuti.

Mereka tidak menuju kantin utama. Nara justru berjalan ke arah tangga samping gedung, menuju area yang jarang dilewati murid lain. Di sana ada bangku semen panjang yang setengah tertutup pohon ketapang besar. Bayangan daun bergerak pelan di permukaan bangku, membentuk pola cahaya yang berubah setiap kali angin lewat.

Tempat yang sunyi, tapi tidak terasa sepi.

Nara duduk lebih dulu. Lalu menepuk bangku di sebelahnya.

Shaira ikut duduk.

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Angin bergerak pelan, menjatuhkan beberapa daun kering ke lantai.

Nara membuka kantong plastik kecil, mengeluarkan dua roti dan satu minuman kotak, lalu menyodorkan satu ke Shaira.

“Makan.”

“Gue nggak lapar,” jawab Shaira pelan.

Nara menatapnya datar. “Itu bukan pertanyaan.”

Shaira menghela napas, lalu menerima roti itu tanpa protes lagi. Ia membuka bungkusnya, menggigit sedikit, mengunyah lama seolah mencoba mengingat rasa lapar yang sejak semalam tidak benar-benar datang.

“Sekarang cerita,” kata Nara.

Shaira menunduk. “Cerita apa?”

Nara diam sebentar. Lalu berkata pelan, “Kalian putus ya?”

Pertanyaan itu jatuh begitu saja. Tanpa dramatis. Tanpa nada kasihan. Tapi cukup membuat tenggorokan Shaira terasa kering.

Ia menatap roti di tangannya.

“Iya,” jawabnya akhirnya.

Satu kata. Pelan. Tapi terasa berat.

Nara mengangguk kecil. Tidak terlihat terkejut. Seolah ia sudah menduganya.

“Kapan?”

“Kemarin sore.”

“Yang mutusin?”

Shaira tersenyum tipis. “Kita berdua... mungkin.”

Sunyi lagi.

Shaira menatap lantai. Matanya mulai panas, tapi ia menahannya. Ia sudah menangis cukup banyak semalam.

“Aneh ya,” katanya lirih. “Nggak ada yang ribut. Nggak ada yang marah. Kita cuma… selesai.”

Kata terakhir itu keluar lebih pelan, hampir seperti bisikan yang ia sendiri tidak yakin ingin mendengarnya.

Nara memutar minuman kotaknya pelan. “Kadang yang paling sakit emang yang paling tenang.”

Kalimat itu membuat dada Shaira terasa sesak lagi.

“Gue ngerasa kosong,” lanjut Shaira, suaranya semakin kecil. “Bukan cuma kehilangan dia. Tapi kehilangan kebiasaan. Kehilangan rutinitas yang bahkan dulu gue anggap sepele.”

Nara mendengarkan tanpa memotong.

“Gue tadi pagi refleks mau kirim pesan pas berangkat sekolah,” kata Shaira sambil tertawa kecil, getir. “Terus gue baru inget… gue nggak punya siapa-siapa buat dikabarin lagi.”

Air matanya akhirnya jatuh. Satu. Pelan.

Nara tidak buru-buru menenangkan. Ia hanya menggeser duduknya sedikit lebih dekat, cukup untuk memastikan bahu mereka hampir bersentuhan.

“Gue takut masuk kelas tadi,” aku Shaira jujur. “Takut lihat dia. Takut lihat diri gue sendiri yang harus pura-pura biasa.”

“Dan lo berhasil masuk,” kata Nara pelan.

Shaira menoleh.

“Lo datang ke sekolah. Duduk di kelas. Itu udah usaha besar, tau.”

Shaira menghela napas, menatap langit yang terlihat di sela-sela daun ketapang.

“Gue capek, Nar,” katanya lirih.

“Iya,” jawab Nara.

“Capek ngerasa harus kuat terus.”

Nara tersenyum kecil. “Siapa yang nyuruh lo kuat hari ini?”

Shaira terdiam.

“Lo boleh sedih,” lanjut Nara. “Boleh bingung. Boleh nangis. Dunia nggak bakal berhenti cuma karena lo lagi nggak baik-baik aja.”

Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa membuat bahu Shaira terasa sedikit lebih ringan.

“Takutnya,” kata Shaira pelan, “gue terlalu lama sedih.”

Nara menoleh, menatapnya lurus. “Sedih itu bukan lomba cepat-cepatan, Sha.”

Shaira tertawa kecil di sela air matanya.

Beberapa menit berlalu. Mereka duduk dalam diam yang tidak lagi canggung. Angin sore mulai bergerak pelan, membawa aroma tanah dan daun kering.

“Gue kangen lo yang dulu,” kata Nara tiba-tiba.

Shaira mengernyit. “Yang dulu gimana?”

“Yang bisa ketawa cuma karena hal receh. Yang suka tiba-tiba ngajak jajan cuma karena lagi pengin. Yang punya dunia sendiri sebelum Raven masuk ke dalamnya.”

Shaira menatap sahabatnya itu lama.

“Gue takut dunia itu hilang,” katanya pelan.

Nara menggeleng. “Nggak hilang. Cuma ketutup sebentar.”

Shaira menelan ludah. Pandangannya jatuh ke daun kering yang berputar di lantai, mengikuti arah angin tanpa melawan.

“Lo nggak sendirian, Sha,” lanjut Nara. “Lo masih punya gue. Masih punya hidup yang nggak semuanya tentang satu orang.”

Air mata Shaira jatuh lagi. Tapi kali ini tidak terasa seberat sebelumnya.

Ia mengangguk kecil.

“Makasih ya,” katanya lirih.

Nara mengangkat bahu. “Jangan lebay. Gue cuma nemenin makan roti.”

Shaira tertawa kecil. Tawa yang pelan, tapi jujur.

...----------------...

Bel masuk berbunyi. Mereka berdiri bersamaan.

Saat berjalan kembali ke kelas, langkah Shaira masih terasa berat. Luka itu masih ada. Kenangan itu juga belum pergi. Raven masih akan ia lihat setiap hari.

Tapi untuk pertama kalinya sejak kemarin, Shaira merasa ada sesuatu yang tetap tinggal—langkah lain yang berjalan seirama dengannya, tanpa mencoba menariknya ke arah mana pun.

Seseorang yang berjalan di sampingnya tanpa menuntut apa pun. Seseorang yang tidak mencoba menggantikan siapa pun. Hanya memastikan ia tidak berjalan sendirian.

Dan mungkin, pikir Shaira, healing tidak selalu tentang melupakan.

Kadang, healing hanya tentang belajar melangkah lagi… dengan orang-orang yang memilih tetap ada.

...----------------...

...Shaira — Tidak semua kehilangan harus diisi dengan pengganti. Kadang, cukup dengan seseorang yang memastikan kita tidak jatuh sendirian....

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!