Dia bukannya tidak sayang sama suaminya lagi, tapi sudah muak karena merasa dipermainkan selama ini. Apalagi, dia divonis menderita penyakit mematikan hingga enggan hidup lagi. Dia bukan hanya cemburu tapi sakit hatinya lebih perih karena tuduhan keji pada ayahnya sendiri. Akhirnya, dia hanya bisa berkata pada suaminya itu "Jangan melarangku untuk bercerai darimu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Jadi, Deril membutuhkan sekertaris pribadi seperti ini?
Pikir Shima jijik. Dia duduk dengan anggun menunggu gilirannya dan ternyata, dia orang dipanggil terakhir.
Shima duduk dengan tenang, punggungnya tegak menunjukkan keseriusan. Dia tersenyum tanpa memberi kesan menggoda sedikit pun.
Shima bisa menjawab beberapa pertanyaan tentang hal dasar mengenai perusahaan.
“Apa motivasi kamu melamar di perusahaan kami? Di sini bukan tempat untuk batu loncatan atau tempat untuk cari pengalaman, kalau kamu tidak sungguh-sungguh bekerja, kami masih punya banyak peminat serius dengan bakat yang luar biasa!” kata kepala HRD. Itu adalah pertanyaan terakhirnya.
Dia adalah orang yang sudah mendapat perintah dari Candra. Meskipun begitu, dia tetap menguji Shima secara profesional dan justru menambah tekanan. Semua demi Grup Pratama.
Pegawai dengan dukungan orang dalam seperti Shima, sebaiknya tidak bekerja secara sembarangan. Itulah yang dia harapkan dari wawancaranya.
Perusahaan harus tetap menjadi yang terbaik karena semakin bagus perusahaan dan produk buatannya. Maka akan semakin sejahtera pula seluruh pegawainya.
“Terima kasih atas kesempatannya! Saya sebenarnya punya kemampuan, tapi sayangnya saya tidak kuliah dan tidak punya gelar,” kata Shima sopan.
Shima tidak cemas kalau orang-orang di sekitarnya menindas, karena sekali mereka berbuat buruk, maka dia akan keluar. Dia akan mencari cara lain untuk tahu dan memancing dalang.
Pada intinya Shima tidak butuh pekerjaan atau uang.
Ada seorang perempuan paruh baya, di sebelah kepala HRD. Dia menatap Shima lurus dan memintanya mengisi formulir entah untuk apa. Sementara Shima menyerahkan CV-nya.
“Bekerjalah mulai besok, datang tepat waktu dan lakukan tugasmu dengan baik, di bagian pemasaran!” kata perempuan itu setelah Shima selesai menuliskan data dirinya.
“Baik, terima kasih!” Shima melangkah keluar ruangan setelah menundukkan kepalanya dengan hormat, pada kedua petugas wawancara.
“Apa yang istimewa dari dia sampai asisten Candra meminta kita melakukan wawancara ini?” kata perempuan itu, sambil membaca formulir yang ditulis Shima.
“Entahlah, lihat saja pekerjaannya nanti!”
“Lihat, dia menulis pernah pengalaman mengurus perusahaan Wisra, kamu masih ingat dengan perusahaan yang bangkrut itu, kan?”
“Ya! Apa dia anaknya?”
“Hmm ...!”
“Oh, pantas! Tapi ... Apa iya, anak dari keluarga Wisra gak mampu kuliah? Yang benar saja!”
“Entahlah!”
Mereka pergi dari ruangan itu, setelah selesai diskusi dan memberikan hasil wawancara pada Candra.
Shima mulai bekerja sesuai perintah pada keesokan harinya. Namun, dia mengalami nasib yang tidak bagus karena kedatangan Karina, di hari yang sama.
Shima baru saja melangkah menuju pantry saat Karina memasuki lift. Tidak ada orang yang tahu kalau mereka punya keterkaitan yang rumit. Shima melihat Karina, tapi dia tidak tahu apakah perempuan itu melihatnya.
Lalu, beberapa orang yang melihat Karina, bergosip di ruangan divisi pemasaran.
Di mejanya, Shima baru saja duduk setelah mengambil air minum. Itu adalah meja yang disiapkan Candra semalam khusus untuk dirinya. Namun, yang Shima tahu, saat masuk ke kantor sesuai arahan kepala HRD, meja itu sudah ada di sana.
Shima memperkenalkan diri dengan ramah, dan semua teman-teman yang ada di sana menyambut sinis.
Bagaimana mungkin anak yang hanya lulusan SMA bisa masuk ke bagian pemasaran dengan mudah?
Pasti ada orang atasan yang mendukung di belakangnya!
Gayanya selangit, tas, sepatu, bajunya juga bermerek, jelas dia bukan orang biasa.
Dia mungkin bekerja karena mengisi waktu senggang saja.
Semua orang harus bekerja sama demi perusahaan. Walaupun dia cari kegiatan untuk mengisi waktu luang, tetap harus bekerja seperti kita!
Shima duduk mengerjakan tugas yang diarahkan manajer pemasaran. Itu tugas yang ringan tapi butuh ketelitian.
“Masukkan semua data dari tools ini, ke tabel yang ini, kamu tinggal kopi paste lalu klik begini, oke?” kata manajer.
“Oke!”
“Baguslah, kalau kamu cepat mengerti! Ingat, jangan sampai ada yang salah dari masing-masing angka karena ini, akan jadi acuan data di pasar kita!”
“Baik! Aku mengerti!”
Manajer langsung pergi setelah memastikan Shima bisa memasukkan semua data, melalui laptop dan aplikasi di dalamnya.
Shima mengerjakannya dengan santai, dalam pikirannya, dia tidak harus terlalu serius. Sebenarnya dia sedikit kecewa karena tidak menjadi sekertaris hingga, bisa dekat dengan Deril. Namun, di divisi pemasaran juga lumayan dari pada tidak.
“Eh, aku ketemu sama Nona Karina tadi!” kata seseorang yang memperkenalkan diri secara langsung pada Shima, dia bernama Lela.
Lela masih pegawai baru dan yang paling ramah dari pada pegawai yang lainnya.
“Kamu minta tanda tangan gak? Bodoh kalau kamu gak minta! Kudengar dia jadi aktris pendukung di film terbaru, garapan sutradara Ben!” kata wakil manajer, dia wanita yang berusia 40 tahun, tapi masih suka bergosip.
“Wah, apa iya? Karir Karina memang meroket sejak pulang dari luar negeri!”
“Dia jadi siapa di film itu? Kalau aktingnya bagus, dia bakal lebih terkenal lagi!” kata yang lainnya.
“Jadi aktris utama sih, katanya, sekarang syutingnya masih berlangsung, kok!” sahut wakil manajer.
“Beruntung, ya Bos kita punya pacar aktris ternama! Sudah cantik, kaya raya pula! Mudah-mudahan mereka cepat menikah!” kata Lela.
Shima yang mendengar teman-temannya bergosip, hanya bisa mencibir pada dirinya sendiri.
“Mereka tidak tahu sja siapa sebenarnya Karina, tapi gak ada gunanya juga ngomong sama mereka kalau Karina itu pelakor, pasti mereka gak akan percaya, justru mereka akan heran kalau orang seperti aku pernah menikah dengan direktur Pratama!” kata Shima pada dirinya sendiri.
Secara tidak sengaja dia tersenyum sendiri.
“Eh, Shima! Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Apa kamu sudah lulus tes kejiwaan sebelum bekerja di sini?” kata seorang teman, yang mananya tidak diingat oleh Shima.
“Apa salah tersenyum sendiri? Yang penting gak gila kehormatan atau gila-gila yang lainnya!” jawab Shima tegas.
**Jangan lupa like!😊**
semoga mendapatkan lelaki sederhana walaupun tidak kayak raya tapi hidup bahagia
aku cuma bisa 1 bab sehari😭