Untuk mengungkap penyebab adiknya bunuh diri, Vera menyamar menjadi siswi SMA. Dia mendekati pacar adiknya yang seorang bad boy tapi ternyata ada bad boy lain yang juga mengincar adiknya. Siapakah pelakunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Setelah sidang putusan Novan selesai, Vera merasa beban yang selama ini menghimpitnya sedikit berkurang. Namun, dia tahu, meski keadilan telah ditegakkan, luka yang ada di hatinya tidak akan sembuh begitu saja dan Rhea juga tidak akan bisa kembali. Kota ini terlalu banyak menyimpan kenangan pahit baginya. Satu-satunya cara agar dia bisa benar-benar move on adalah dengan pergi. Pergi dan tidak kembali lagi.
Vera mulai mengemasi barang-barangnya. Rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat tinggalnya kini tampak kosong. Hanya ada beberapa koper dan kardus yang sudah tertata rapi di sudut ruangan. Dia tidak membawa terlalu banyak barang. Dia tidak menjual rumah peninggalan kedua orang tuanya dan akan membiarkannya kosong untuk sementara waktu.
Saat dia hendak menutup koper terakhirnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Dwiki.
"Gue otw ke tempat lo. Tungguin."
Vera belum sempat membalas ketika tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Dia terdiam sejenak, lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Dwiki berdiri dan menatap Vera. "Gue kira lo sudah pergi. Dari tadi gue udah chat, tapi centang satu."
"Iya, chat lo baru masuk. Ada apa?"
Dwiki hanya menatap Vera dan tersenyum. "Gue sudah memikirkan semua yang lo katakan. Ya, mungkin ini yang terbaik buat lo. Tapi jangan menghindar, jika suatu saat nanti kita bertemu."
Vera hanya tertawa mendengar perkataan Dwiki.
Dwiki meraih tangan Vera dan memasang gelang di pergelangan tangannya. "Kamu ingat gue."
Vera menyipitkan matanya. "Wah, jangan-jangan lo pasang gps di gelang ini."
"Iya, seharusnya gue pasang. Kenapa gue gak kepikiran."
Vera hanya menjotos lengan Dwiki. Kemudian pandangan matanya tertuju pada seseorang yang baru keluar dari mobilnya.
"Saga ...."
Sagara memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya sambil berjalan mendekat. “Selalu saja ketemu lo."
Dwiki mendengus. “Gue duluan sampai di sini. Lo yang ngikutin gue!"
Sagara menatap Dwiki dengan ekspresi datar. “Gue nggak ngikutin lo. Gue cuma mau pastiin Vera sampai dengan selamat.”
Vera menghela napas. Dia sudah bisa menebak ini akan terjadi.
“Antar saja gue ke terminal," kata Vera. Dia menutup kopernya lalu membawanya keluar.
Dwiki mengernyit. “Terminal?”
Sagara bersedekap. “Jadi lo beneran mau naik bus? Gue bisa antar lo sampai tempat lo."
“Nggak usah, gue bisa sendiri."
"Ya sudah, gue antar." Dwiki meraih koper Vera tapi Sagara menahannya.
"Gue bawa mobil." Sagara menarik koper itu dan memasukkannya ke bagasi mobil.
"Ya sudah, kalian berdua saja yang antar pakai mobil Saga." Vera berjalan menuju mobil itu dan masuk terlebih dahulu.
Buru-buru Dwiki masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Vera.
Sagara menatap tajam Dwiki. "Lo pikir gue sopir!"
Dwiki hanya tersenyum santai. "Cepat jalan, sopir!"
Sagara hanya berdecak kemudian dia melajukan mobilnya.
Dwiki terus menatap Vera yang hanya mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Setelah lulus kuliah, lo mau kerja apa?" tanya Dwiki.
Sagara melirik mereka lewat rear spion. "Lo jurusan apa? Bisa gue masukin ke perusahaan."
"Definisi orang dalam lebih berpengaruh. Ck, keluarga gue memang gak punya perusahaan besar sih, jadi gak bisa bantu, tapi gue tahu pekerjaan yang cocok buat lo."
Vera menoleh dan menatap Dwiki. "Apa?"
"Mending lo jadi intel."
Vera kembali membuang pandangannya.
"Lo bisa beladiri, lo bisa nyamar, lo juga ...."
"Ngaco! Gue aja salah duga pelaku. Kalian berdua pernah gue jadiin tersangka."
Dwiki hanya tertawa mendengarnya.
Begitu mereka sampai di terminal, Vera membuka pintu mobil dan turun. Dwiki dan Sagara ikut turun.
Sagara mengambilkan koper Vera dan memberikannya pada Vera. Dia menatap lama pada Vera. "Jaga diri lo baik-baik. Kapanpun butuh bantuan, jangan ragu hubungi gue."
Vera hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Terima kasih, ya, udah mau nganterin.”
Tiba-tiba Dwiki memeluk Vera.
"Ngapain lo peluk gue!" Vera melepas pelukan Dwiki tapi terlalu berat.
Dwiki semakin mengeratkan pelukannya. "Makasih atas semuanya."
Vera tersenyum dan menepuk punggung Dwiki. "Iya, sama-sama."
Sagara hanya tersenyum miring lalu dia membalikkan badannya dan pergi begitu saja.
Vera melepas pelukan Dwiki dan melihat mobil Sagara yang melaju. "Lo ditinggal Saga."
"Sial tuh anak! Ya udah, gue bisa ngojek. Hati-hati ya."
Vera melambaikan tangannya sambil berjalan masuk ke dalam terminal.
Dwiki masih menatap punggung Vera yang telah menghilang. Dwiki tak juga pergi. Dia berjalan menuju tempat bus berangkat dan menunggu di sana sampai bus yang ditumpangi Vera berangkat.
Dia melambaikan tangannya saat melihat Vera yang tengah duduk di dalam bus.
Vera terkejut melihat Dwiki yang masih menunggunya. Dia membalas lambaian tangan Dwiki. "Ternyata bad boy satu itu manis sekali. Sampai jumpa."
Ayooo semangat Dwiki cari dalangnya😥